
Suasana menjadi sunyi diantara mereka berdua, Ran dan Tim kembali bertemu di atas pohon raksasa yang jauh dari kebisingan.
Hanya ada suara angin yang berhembus di antara mereka berdua yang mengisi kesunyian.
Orang pertama yang menghancurkan kesunyian itu adalah Tim, "Hei Ran, dari ekspresimu sepertinya kau tidak terlalu terkejut melihatku yah?"
"Tentu saja, sejak awal kita bertemu, aku memang sudah merasakan ada yang aneh denganmu."
"Hmm~ Benarkah? Kulihat kau tampak nyaman saat aku bertemu denganmu pertama kali."
"Tch, kuakui, kau memang memberikan rasa aman dan nyaman yang tidak bisa kuketahui. Tapi di akhir, saat kau membicarakan tentang kemampuanku, disaat itu aku sudah tahu kau itu mencurigakan."
Tim tersenyum kecut mendengar jawaban Ran, "Pfftt... Kau cukup lamban yah Ran, ah... Atau cukup cepat? Biasanya orang tidak akan sadar sampai kuberitahu."
"Jangan senyum-senyum kau!"
"Ya ampun, jangan terlalu kaku dong Ran, santai saja."
"Bagaimana aku bisa santai jika di depanku ada seseorang yang membawa crossbow yang bisa melubangi badanku dalam sekejap?"
"Hmm...? Hoo~ Rupanya kau takut dengan crossbow ini? Ya ampun tenang saja Ran, nih sudah kubuang."
Tim malah membuang senjatanya dengan begitu santainya, seolah-olah itu bukan apa-apa.
Ran tentu saja sangat terkejut dengan tindakan aneh Tim.
"Apa yang kau rencanakan Tim?"
"Aku hanya ingin bercakap-cakap ringan saja Ran, kau tahu, aku lumayan tertarik denganmu, ah! Sedikit salah, lebih tepatnya 'Orang itu' tertarik denganmu, dan 'Orang itu' memintaku untuk mengajakmu bergabung."
"Orang itu? Siapa maksudmu?"
"Maaf, kau tidak boleh tahu untuk sekarang, tapi nanti akan kuberitahukan jika kau mau ikut denganku."
Glek
"Memang, apa yang bisa kudapatkan?"
Tim tersenyum licik mendengar pertanyaan Ran, "Banyak! Ada banyak sekali keuntungan yang bisa kau dapatkan Ran, bahkan kau bisa mendapatkan gelar Ranker tanpa perlu bersusah payah seperti ini! Kekayaan? Jabatan? Uang? Itu hanya hal kecil Ran! Nah.... Mari bergabung denganku Ran." Tim mengulurkan tangannya, seakan-akan hendak menyambut Ran ke dunia yang baru.
Semua tawaran Tim, bagi Ran itu, sangatlah, menggiurkan. Itu bagaikan surga yang bisa didapatkan secara instan, Ran tidak perlu bersusah payah seperti ini lagi, tidak akan ada lagi orang yang akan merendahkannya.
Tapi, tawaran semenggiurkan itu, tentu tidak bisa didapat tanpa adanya bayaran besar di baliknya.
"Lalu, apa bayaran yang diperlukan untuk mendapatkan itu semua? Aku tahu jika itu pasti tidak didapatkan secara cuma-cuma kan?"
"....." Tim hanya diam dan tersenyum.
"Benar kan? Sudah kuduga, tawaran sebesar itu tidak mungkin kau berikan secara cuma-cuma, pasti ada bayarannya, dan aku yakin itu tidak menyenangkan."
"Ya ampun~ Aku senang kau cukup pintar Ran, dengan begitu aku tahu bahwa aku tidak sedang mencoba merekrut seorang idiot. Tapi... Kepekaan terhadap hal ini, sedikit berbeda, ini menjadi menyebalkan." Senyum Tim langsung lenyap, wajahnya yang terus berekspresi ramah berubah dalam sekejap menjadi datar dan dingin.
Deg
Ran langsung merinding melihat wajah Tim, perasaan tidak mengenakkan datang begitu saja ketika melihat wajah Tim.
Bahaya... Pikir Ran.
Bzzzttt....
Ran langsung menciptakan belati sebanyak mungkin, dan tanpa keraguan sedikit pun, Ran langsung melempar semua belatinya ke arah Tim.
Syuunggg.....
Tim hanya diam di tempat tanpa bergerak, dia tampak tidak takut dengan semua belati yang mengarah padanya. Tim mengangkat tangannya, kemudian ia ayunkan untuk menepis semua serangan belati.
__ADS_1
Prang...
Semua belati yang dilempar Ran hancur berkeping-keping.
Namun, Ran sama sekali tidak terkejut, ia sadar dengan perbedaan level antara ia dengan Tim. Tujuan aslinya adalah saat belatinya hancur.
Ran mengarahkan tangan kanannya ke depan dengan posisi telapak tangan terbuka, ia terlihat seperti ingin meraih sesuatu yang tidak terlihat.
"Hmmmp..." Ran menutup telapak tangannya, seperti sedang menarik tuas tak kasat mata.
Bummm...
Semua serpihan belati yang sudah dihancurkan Tim meledak, bukan ledakan besar, tapi ledakan itu menciptakan tabir asap yang menutupi pandangan Tim.
Ini adalah trik baru yang dipelajari oleh Ran setelah lulus sekolah, ia belajar dari pak Bob untuk mengendalikan senjata buatannya. Secara teknis, setiap senjata ciptaan Ran merupakan energi Mana yang dipadatkan dan dibentuk.
Melalui fakta itu, Ran mengembangkan kemampuan untuk memisahkan kembali energi Mana yang sudah dipadatkan menjadi senjata menjadi energi tidak berbentuk.
Proses dari itu akan menyebabkan ledakan kecil, tidak cukup kuat untuk melukai seseorang, tapi itu cukup untuk membuat tabir asap yang dapat menutupi pandangan, apalagi jika meledak dalam bentuk serpihan.
Disaat pandangan Tim tertutupi, Tim akan syok sejenak, disaat itulah Ran langsung berlari ke dahan yang dipijak oleh Tim untuk menyerangnya.
Ran tidak melompat karena jaraknya yang terlalu jauh, sebaliknya, ia memanfaatkan permukaan dari batang pohon yang tidak rata, dan memiliki banyak benjolan sebagai pijakan untuk berlari di atasnya.
Namun, cara itu cukup ekstrem karena ada beberapa permukaan yang rata, sehingga Ran harus berlari dengan kemiringan yang sangat ekstrem dan meningkatkan resiko jatuh. Tapi, Ran dengan berani mengambil resiko itu.
Tap... Tap... Tap...
Ran berlari sekencang mungkin ke arah batang pohon, melihat ada benjolan di permukaannya, Ran memanfaatkan itu sebagai pijakan untuk berlari, Ran lari sekencang mungkin, ia cukup beruntung karena menemui beberapa pijakan yang cukup untuknya. Tapi, semakin lama Ran semakin sulit menemukan pijakan.
Tak mau berlama-lama, Ran mengabaikan resiko jatuh, ia berlari sekencang mungkin tanpa pijakan di atas batang pohon raksasa ini dengan sudut kemiringan yang sangat ekstreme.
Namun di akhir, dengan jarak yang tinggal beberapa centimeter lagi...
Slippp
Di kondisi berbahaya itu, insting bertahan hidup Ran naik, tanpa berpikir, Ran memanfaatkan satu kakinya yang masih menapak di batang pohon raksasa itu sebagai pendorong untuk tubuhnya yang hampir jatuh.
Tap
Walau lemah, dorongan itu cukup untuk mendorong tubuh Ran naik sedikit, Ran langsung memeluk dahan pohon raksasa di depannya.
Dengan bersusah payah, Ran naik ke atas dahan pohon tersebut. Namun, Ran terlalu banyak menyia-nyiakan waktu, musuh di depannya bukanlah orang yang akan menolerir musuhnya dengan membiarkan musuhnya mendekatinya.
Syunggg.... Stab
Sebuah panah cahaya terbang ke arah Ran, panah itu menancap ke pundak Ran, namun, bukannya meledak, panah itu hanya menancap dan mendorong tubuh Ran ke batang pohon di belakangnya.
Brak
Panah itu sekaligus menancap di batang pohon juga, membuat Ran tidak bisa bergerak, Ran seperti di paku ke batang pohon oleh panah itu.
Di depan Ran, Tim tampak memegang crossbow yang ia pakai untuk menembakkan panah cahaya, padahal seharusnya crossbow itu sudah dibuang oleh Tim saat awal.
"Khhhkkkk..." Ran meringis kesakitan.
Tim dengan ekspresi bosan mengomentari kondisi Ran, "Hahhh.... Aku kecewa Ran, kukira kau pintar, tapi ternyata bodoh juga. Keputusanmu untuk mempersempit jarak dengan tipe petarung jarak jauh memang sudah benar. Tapi harus sadar juga dengan tempatnya dong, memangnya kau pikir dengan kecepatan dan trik murahanmu, kau bisa mencapai tempatku sebelum aku siap hah!?"
Ran meringis menahan sakit, bahunya terasa terbakar oleh panah cahaya ini, ia mencoba mencabutnya, tapi justru tangannya malah terbakar.
Ekspresi Tim yang awalnya memberikan kesan nyaman, berubah menjadi rasa takut. Ia tersenyum, tapi bukan senyuman yang terasa hangat, sebaliknya justru senyumannya membuat merinding hingga seluruh bulu kuduk berdiri.
"Kau.... Berbohong! Kau bilang akan membuang senjatamu, tapi kau berbohong kan? Aku tidak tahu trik apa yang kau pakai, tapi kau pasti hanya berpura-pura membuang senjatamu."
"Umm... sepertinya kau belum tahu tentang 'Artefak Dunia Lain' yah?"
__ADS_1
Ran memasang ekspresi kebingungan di wajahnya ketika mendengar istilah tersebut.
Tim langsung paham melihat wajah kebingungan Ran, "Haha! Sudah kuduga, kau memang tidak tahu kan. Heh, yah kah tahu kan tentang peristiwa 'Monster Attack'. Pada peristiwa itu, banyak monster kuat yang muncul dengan membawa berbagai senjata mematikan. Kebanyakan hancur pada masa-masa perang, entah karena pertarungan sengit, atau ada juga yang ikut hilang saat monsternya dibasmi. Tapi ada juga senjata yang tidak hancur dan tersebar kemana-mana, itulah 'Artefak Dunia Lain'. Tidak hanya senjata, ada berbagai macam barang berguna yang masuk dalam klasifikasi ini. Tidak seperti senjata ciptaan blacksmith yang bisa berpindah tangan dengan mudah, senjata ini seperti memiliki kesadaran untuk memilih tuannya. Tidak peduli sejauh apa, aku bisa memanggilnya lagi dan ia akan muncul begitu saja. Ini mirip dengan pedang milik William."
Ekspresi terkejut dan kagum muncul pada wajah Ran, baru pertama kali ia mendengar tentang hal ini. Sejauh yang ia tahu, pemerintah hanya mengolah benda-benda yang tersisa untuk dijadikan barang lain seperti bahan bangunan atau senjata. Dan baru kali ini ia mengetahui ada senjata yang secara utuh didapatkan dari para monster.
"Kau sepertinya tertarik Ran, bagaimana? Jika kau mau bergabung dengan kami, kau bisa mendapatkan senjata-senjata yang bahkan lebih kuat dari ini. Itu lebih baik daripada memakai senjata yang tercipta dari kemampuanmu kan?"
Sekali lagi, Tim membujuk Ran untuk bergabung.
Tapi Ran masih tetap pada pendiriannya, "Haha, diam kau! Mau kau bisa memberikan seluruh dunia padaku pun, aku tidak akan bergabung denganmu."
Tim tampak kecewa dengan penolakan Ran, ia menarik crossbownya dan mengarahkannya pada Ran, "Yah sudah, toh kata 'orang itu', jika kau tidak mau gabung secara suka rela, aku tinggal membawamu dengan paksa."
Panah cahaya terbentuk di depan crossbow Tim.
Glek
Situasi ini sangat menegangkan, nyawa Ran berada di ujung tanduk, entah apa yang akan dilakukan Tim kepada Ran jika Ran dibawa pergi.
Tapi, untuk satu alasan, kecemasan Ran menghilang.
"Heh, sepertinya aku perlu berterima kasih padamu Tim, terimakasih sekali sudah repot-repot menjelaskan tentang senjatamu."
"Memangnya kenapa? Mau kau paham atau tidak pun, kau tidak akan bisa menggunakannya."
"Bukan itu, berkatmu, sang pahlawan bisa datang."
"Hah? Apa maksudmu?" Tim kebingungan dengan ucapan Ran.
Tapi sekejap kemudian, Tim merasakan aura yang sangat kuat dari belakangnya. Barulah ia paham apa maksud dari ucapan Ran.
Tang
Sebuah pedang terayun ke arah Tim, Tim dengan sigap menahannya memakai crossbow miliknya.
Di belakang, William telah datang.
"Wowww... Coba lihat ini, bukankah ini William Austin yang tersohor itu? Ada urusan apa kau datang kepadaku?" Ucap Tim dengan nada sinis walaupun mulutnya tersenyum.
"Saya datang untuk menyelamatkan teman saya"
"Cih, aku tidak sangka akan mendengar ucapan mengharukan seperti itu dengan ekspresi datar."
William dan Tim memutar posisinya, William menarik pedangnya dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"Kamu tidak apa-apa Ran?"
"Yah tidak begitu baik, tapi setidaknya masih bisa kutahan."
"Bertahanlah, akan saya kalahkan dia dengan cepat."
William memperkuat posisinya, ia menambahkan energi mana yang kuat ke dalam pedangnya, membuat pedangnya tampak lebih besar karena tertutupi oleh mana.
Tim juga ikut bersiap, ia memperbaiki posisi menembaknya dan memancarkan aura yang kuat sebagai penanda bahwa ia siap untuk bertarung.
"Jika kupikir-pikir, ini sedikit aneh, aku sudah sengaja memilih tempat yang sulit dicapai agar tidak mudah dideteksi, Ran bisa mencapai tempat ini karena aku memang sengaja menunjukkannya kepadanya. Tapi, bagaimana caramu mencapai tempat ini William? Apa kau menyuruh Ran memasang semacam tanda agar kau bisa datang kesini?"
"Tidak sepenuhnya salah, saya sudah meminta kepada Ran untuk mengeluarkan pancaran aura dari mana miliknya agar saya bisa ke tempatnya jika ada kejadian yang tidak diinginkan."
"Ahhh... Berarti trik kecil untuk meledakkan senjatanya sendiri hanya digunakan sebagai suar untuk penanda saja yah. Berarti bisa kusimpulkan bahwa sejak awal kau tidak percaya Ran bisa mengalahkanku kan? Sungguh kejam."
"Tidak, saya sepenuhnya percaya bahwa Ran bisa menemukan tempatmu."
"Ah~ Jawaban yang cukup mengesalkan, akan kuhancurkan kau."
__ADS_1
"Coba saja!"