Sword Ranker

Sword Ranker
Current News


__ADS_3

"Hufftt.... Huffttt.... Hufftt...."


Di dalam rumah yang reyot, di ruangan yang gelap tanpa cahaya matahari. Terlihat satu sosok kekar yang bergelantungan di gantungan lemari.


Ya! Dia adalah Ran.


Tinggal...... 10 detik lagi! 1... 2... 3... 4... 5... 6... 7... 8... 9... 10...! Akhirnya! Ran melepaskan pegangannya pada gantungan lemari.


Gedubrak! Ran langsung terguling keluar dari dalam lemari ketika melepaskan pegangannya.


"Hahhh.. Hahh... Hahh.... Hahhh... Sial! Capek banget. Tapi sekarang, harus langsung lanjut Push-Up."


Sudah 3 minggu berlalu setelah insiden penyerangan pada pak Aji.


Orang dari Departemen Pengawasan benar-benar membawa masalah ini dengan serius. Ia berniat memberikan hukuman kepada semua Hyper yang terlibat dengan insiden penyerangan tersebut, ditambah fakta karena melawan pegawai dari Departemen Pengawasan, hukuman yang diterima oleh para Hyper itu menjadi semakin berat.


Hukuman yang akan diterima oleh para Hyper yang terlibat dengan insiden penyerangan ini adalah di Black-list selama 2 tahun dalam ujian Ranker.


Itu membuat para Hyper tersebut akan mengulangi sekolah lagi selama 2 tahun lagi agar bisa mengikuti ujian Ranker.


Hal ini menjadi perdebatan besar dengan pihak orang tua yang tidak terima dengan hukuman yang akan diberikan kepada anak-anak mereka.


Tidak sedikit orang tua yang punya koneksi dengan Ranker besar, seperti misalnya Michael.


Karena itulah, sudah lebih dari 3 minggu masalah ini terus diperdebatkan tanpa henti.


Dan karena itulah ujian kelulusan Ran menjadi semakin tertunda.


Meski ditunda terus, bukan berarti aku bisa malas-malasan, aku harus berlatih lebih keras lagi, setidaknya itu bisa meningkatkan nilai ujianku Pikir Ran sembari Push-Up


Selama 3 minggu, Ran berlatih dengan keras, setiap hari, Ran setiap hari selalu jogging, Sit-Up, bergantungan di gantungan lemari 1 jam, Plank hingga Push-Up, ia bahkan keluar dari kerja sambilannya agar bisa fokus latihan.


Untuk sekarang, Ran bertahan hidup dengan tabungannya, setidaknya jika ia berhemat, uangnya akan cukup hingga akhir bulan nanti saat ayah Ran mengirimkan uang.


Teng Tung Tang Ting! Terdengar suara Ringtone Handphone Ran.

__ADS_1


"....?" Ran berhenti Push-Up. Ia berdiri dan mengambil handuk untuk mengelap keringatnya, baru kemudian ia mengambil Handphonenya.


Pak Aji? Ada apa menelpon pagi-pagi begini? Ran sangat heran melihat nama pak Aji di nomor yang menelponnya.


"Halo pak? Ada apa pagi-pagi menelpon?" Ran langsung bertanya tanpa basa-basi.


Tidak lama kemudian, suara pak Aji langsung terdengar untuk merespon pertanyaan Ran "Iya Ran, maaf karena pagi-pagi sudah menelponmu. Jadi begini, ada kabar baik untukmu."


"Tentang apa pak?"


"Persidangan terkait masalah penyerangan para murid kepada saya, sudah memasuki babak akhir setelah 3 minggu lebih, kabarnya, sidang akhir akan dilakukan 3 hari lagi."


"Lalu, siapa yang memenangkan kasus ini?"


"Saya tidak tahu karena tidak terlibat langsung, walau saya adalah pemeran utama dari kasus ini, saya tidak mendapat banyak peran dalam persidangan. Tapi dari pengamatan saya, para murid terlihat lebih unggul dari Departemen pengawasan, berkat koneksi orang tua mereka."


"Kalau begitu, ini bukan sepenuhnya kabar bagus pak, tidak, bahkan ini bisa dibilang kabar buruk, bagaimana bisa, para pelaku penyerangan dalam posisi yang lebih unggul dari korban. Bisa-bisa bapak tidak akan mendapatkan keadilan yang harusnya bapak dapatkan." Ran berseru marah mendengar kabar tersebut.


Bagi Ran, para teman sekelasnya adalah penjahat yang harus mendapat hukuman berat, ia tidak rela jika mereka bisa lepas dengan mudah tanpa hukuman.


Ran kembali marah mendengarnya "Pak! Itu sama sekali bukan kabar bagus, para monster itu harusnya mendapat hukuman berat, tapi, apa yang kudapat? Berita kalau mereka berada di posisi unggul!? Apanya yang bagus!? Itu adalah berita buruk, mendengar para monster itu bisa menang adalah hal terburuk!" Ran berteriak kencang, suaranya terdengar ke seisi rumah yang sepi.


"Hahhh.... Hahh.... Hahh...." Ran kehabisan napas setelah berteriak.


"Hufffftttt........" Pak Aji menarik napas dalam-dalam, kemudian berkata "Ran.... Ambillah sisi positifnya, jangan selalu melihat hal dari sisi negatif saja, coba kau li-"


"Tapi pak! Tidak mung-"


"Diam dulu Ran!" Pak Aji berkata dengan sangat tegas "Tolong dengarkan perkataan saya hingga selesai dulu, baru kamu boleh bicara"


Glup.... Ran menelan ludahnya, baru pertama kali ia mendengar pak Aji berkata dengan nada setegas itu. "Ba-Baik pak, maaf saya terbawa emosi"


"Bagus, dengar baik-baik Ran, kamu saat ini sedang berada di kondisi yang buruk, ujian kelulusanmu terus ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan, benar?"


"Iya."

__ADS_1


"Akibatnya, ijazahmu juga tertunda, saat ini kamu tidak bisa melakukan apa-apa, kamu tidak bisa ikut ujian Ranker, kamu juga tidak bisa mencari pekerjaan yang lebih layak bukan?"


"Maaf menyela pak, tapi saya masih bisa bekerja paruh waktu."


"Mau sampai kapan?"


"....?"


"Ran, kamu harus tahu, meski ini adalah kota kecil, tapi biaya hidup di tempat ini sangat mahal, Gate yang muncul terus membuat harga tanah dan berbagai barang kebutuhan menjadi semakin mahal setiap tahunnya, bahkan tahun ini, harga tanah di kota ini menjadi semakin melonjak."


"....." Ran hanya terdiam mendengar perkataan pak Aji


"Karena itu, memangnya sampai kapan pekerjaan paruh waktumu cukup untuk membiayai kehidupanmu Ran? Tidak mungkin kamu bisa menjadi pegawai tetap karena statusmu yang masih terikat sebagai pelajar. Kelulusanmu yang terus tertunda adalah hal yang sangat buruk, tapi dengan selesainya kasus penyerangan ini, kamu bisa semakin cepat ujian dan lulus Ran, karena itulah saya mengatakan kalau ini adalah kabar baik."


"Lalu, bagaimana dengan hukuman mereka?"


"Halah, sudahlah, hidup ini bagai roda, meski sekarang mereka yang terlihat akan menang, tapi siapa yang tahu jika mendadak mereka akan kalah. Kamu tidak perlu memusingkan hal seperti itu Ran, cukup fokus dengan ujianmu saja."


"Baik pak, saya mengerti" Ran menjawab dengan nada pelan


"Baguslah jika kamu mengerti, oh iya, sebagai tambahan, sidang akhirnya akan dilaksanakan di sekolah, kamu boleh melihatnya jika mau. Saya tutup dulu teleponnya, sampai jumpa Ran."


Tut Tut Tut....


Telepon terputus...


Ran melepaskan handphonenya dari telinga, walau dia bilang sudah mengerti, tapi dalam hatinya, dia tetap tidak bisa menerimanya kenyataan ini.


Mereka lebih unggul katanya? Sial! Pasti mereka menyuap orang-orang agar bisa menang, dasar orang-orang jahat!


Ran merasa sangat marah, handphonenya dicengkram dengan sangat kuat.


Ran sangat marah hingga berniat membanting handphonenya karena tidak bisa menahan amarahnya. Tapi ketika Ran hampir melempar Handphonenya, Ran langsung berhenti tepat sebelum Handphonenya dilempar.


"Hampir saja aku ngebanting Handphone, sayang banget kalo rusak, harganya mahal ini. Sabar sabar, harus hemat, jangan buang-buang uang." Ran mengelus-elus dadanya untuk menenangkan diri sambil memeluk Handphonenya

__ADS_1


__ADS_2