
Tak terasa Malam menjelang , Lampu lampu di mansion itu menyala benderang sacara otomatis ,tampak empat sosok tubuh di taman samping mansion itu masih serius membahas banyak hal seputar perusahaan.
Winda yang baru saja pergi mengantar makanan dan minuman Kaleng yang ia temukan di kulkas besar didapur mansion itu untuk mereka malah mendapat teguran halus dari Udin yang menyuruhnya beristirahat di kamar saja membuatnya merinding ngeri.
" Bukankah dia mengatakan aku sekertarisnya lalu kenapa dia tidak melibatkanku sedikitpun..?"
" Benar dugaanku ..aduh bagaimana ini..."
" sepertinya malam ini Aku akan.... " winda menepis ketakutannya menguatkan tekadnya lantas bergegas menuju ke kamar tidur dan bersiap menerima kenyataan sepahit apapun itu.
Di mansion itu ada banyak kamar tepatnya ada 10 kamar tidur sebagian adalah kamar tamu di lantai bawah dan ada 4 kamar utama di lantai 2,untuk lantai 3 merupakan fasilitas tambahan seperti mini bar ruangan olah raga dan lain lain tak lupa di atapnya ada kolam renang berukuran lebar,dengan langkah lesu Winda berlahan melangkah menuju kamar Adiknya lalu membuka pintunya berlahan mengintip adik kesayangannya tertidur nyaman di sebuah kasur besar di sudut kamar itu.
" Demi kamu kakak rela menjadi apapun " Ucapnya berlahan lalu beranjak menuju kamar tidurnya sendiri,tidak ada penyesalan di matanya saat ini.
" Baiklah Kurasa cukup untuk hari ini " ucap Udin menutup pertemuan itu,lalu menatap semua bawahannya di hadapannya.
" Bila ada yang kurang jelas jangan ragu bertanya kepadaku,aku tak ingin ada kesalahan .." sambungnya dengan tegas.
Bambang Darman Dan siska masi tertegun dengan visi dan misi tuan besarnya yang menurut mereka sangat visioner tak ada keraguan pada mereka , mereka seperti baru saja mendapatkan pelajaran akan arti dari dunia bisnis sebenarnya.
" Begitu muda cerdas dan tampan..." batin siska semakin mengagumi tuan besar nya. tak luput Dirman dan Bambang, mereka serasa tercerahkan saat ini.
" Kalian pulanglah beristirahat sekarang .."
setelah melihat bawahannya sepertinya mengerti apa yang dia sampaikan tadi udin segera berdiri dan beranjak meninggalkan tempat tersebut , dia ingin beristirahat dengan tenang malam ini, tentu saja godaannya kepada Winda tidak terlintas sama sekali dibenaknya.
sebelum memasuki mansion udin berbalik lalu mengatakan.
" Pak Darman utamakan apa yang ku katakan tadi..segera kirimkan orang terbaik utuk mencari informasi keberadaan mereka lalu secepatnya sampaikan padaku.."
" Baik Tuan saya akansegera melaksanakannya.."
jawab Dirman membungkukkan badannya seraya memohon diri untuk berpamitan.
" Update System " perintah Udin setelah merbahkan diri di sebuah kamar kosong di lantai 1 dia bahkan mau tahu dan juga tak perduli kamar yang dia tempat saat ini adalah kamar tamu, baginya kamar itu juga sangat mewah dan nyaman.
" Biiip...Baik Tuan "
Up date System ." .
" Data Pemilik.."
" Nama : UDIN MUNA ( Level 03 ) "
" Umur : 21 Tahun "
" Modal : Tidak terbatas. ( 2T /Day) Limit
" Skill : ** Ahli semua Bisnis. "
** Ahli pencak silat Kuno.
** Master tenaga dalam tingkat puncak.
** Tabib Kuno tingkat dewa."
System x : pencabut sukma Tingkat menengah "
__ADS_1
" Point : 89 ion "
" Keberkahan : 10"
" Toko : Terbuka ( Langit ) "
" Harta : 80% saham PT Djuram "
: vila taman indah residen."
: 100% kepemilikan PT surya indah
"Kotak Kejutan: none.
hari ini dia memang telah mentransfer 1 Triliun ke Bambang untuk proyek panti asuhan pribadinya ,1 Triliun lagi untuk Dirman guna mencari keberadaan keluarganya yang keberadaannya masih tidak pasti di pulau Kaltm yang Luas dan Jauh, uang buka masalah sama sekali untuknya sekarang ,dia juga tidak akan mencampur baurkan investasi pribadinya dengan dana Perusahaannya.
Tak lama ia tertidur hari ini cukup melelahkan baginya.
Pagi harinya Setelah mandi Udin membuka pintu kamarnya berniat membuat secangkir kopi lalu merokok di taman kemarin
" Pasti sangat Nikmat gumamnya "
Entah jam berapa para pekerja dan pelayan yang di persiaplan Bambang akan datang,toh dia sudah terbiasa hidup mandiri .
" Bruukk...! " tiba tiba sesosok tubuh yang berada di Dapur tertabrak olehnya.
" Aaaduuh .." Suara lembut terdengar.. dengan sigap udin menahan tubuh itu agar tidak terjatuh dengan meraih pinggang pinggang langsing itu.
" Praaang ..!! " secangkir kopi dengan air panas di dalamnya pecah dan berhamburan di lantai marmer dapur sebagian lagi mengenai betis putih itu sehingga nampak kulitnya melepuh berwarna kemerahan .
" Maaf Win aku tidak sengaja menabrak mu.. "
" Eheemm....ehemmm "
Tiba tiba ada deheman halus di belakang mereka,ya itu suara Fitri yang sedang melihat kakaknya sedang dipeluk seperti pasangan di drama drama yang ia tonton di TV.
Menyadari kesalahpahaman adiknya saat ini Winda bergegas menarik dirinya melepaskan tangan Udin yang masih berada di pinggangnya, menenangkan diri sebentar lalu berjalan menarik adiknya menjauh dari dapur.
" Maaf ya kak Udin Aku ga berniat menganggu... " ucap Fitri sambil tergesa gesa mengikuti tarikan tangan kakaknya...
" Sebaiknya kamu diam atau aku akan menghukumu " potong Winda sedikit ketus.
" Aku ga salah kok kak ...aku mendengar ada barang pecah jadi aku... " Firti tidak melanjutkan omongannya saat melihat winda melototkan matanya.
Udin sendiri masi terbengong di pintu dapur menggaruk ujung hidungnya yang tiba tiba terasa gatal.
" badan yang bagus...aroma tubuhnya juga membuat jantungku menjadi aneh.." batin udin "sudahlah sebaiknya kubersihkan pecahan gelas yang berserakan ini agar tidak mencelakai orang lain." lalu melangkah hendak mencari di mana sapu dan pel yang akan dia gunakan .
" Biar Fitri saja kak... kakak tunggu di taman saja dengan kak wanda nanti Fitri buatin kopi spesial buatan Fitri " Fitri segera pergi mengambil sapu dan mulai membersihkannya.
" OK terimakasih ya.." jawab udin kemudian melangkah ketaman tempat winda berada,dia ingin memastikan tumpahan kopi panas di betis winda tidak parah ,tentunya mudah saja bagi Udin mengobati hal sepele semacam itu.
" Sini biar ku periksa kakimu " ucap Udin berjongkok di depan winda yang sedang duduk di sebuah kursi kayu di taman itu.
tidak menunggu persetujuan si Pemilik kaki Udin menarik betis mungil dah halus itu kemudian dengan serius memperhatikannya.
" untung saja tidak parah...jangan hawatir ini tidak akan meninggalkan bekas, aku akan mengobatinya.."
__ADS_1
Winda yang hendak menolak perlakuan Udin menjadi terdiam saat merasakan perih di kakinya hilang di gantikan hawa hangat yang membuatnya berlahan mengalir naik menuju pangkal pahanya.. membuatnya tanpa sadar mendesah lembut..
" Hmmmm....." winda berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar di telinga udin.
" Ahhh...rupanya aku terlalu banyak Mengalirkan energi sejati kepadanya,pantas saja dia menggeram menahan sakit ,sepertinya aku perlu belajar lebih banyak untuk bisa mengontrol pemakaian inti sejati " ucap Udin tanpa sedikitpun rasa bersalah,ia tidak menyadari perlakuannya mengguncang ambang batas kesadaran gadis di hadapannya itu..
" Sudah selesai .." sejurus kemudian Udin melepaskan telapak tangannya yang sedari tadi menutupi betis Winda.,ajaibnya tidak ada bekas sama sekali ...kulit yang mengembung melepuh berwarna ungu kehitaman itu menghilang begitu saja.
Winda hanya terdiam seolah tidak perduli dengan apa yg di lakukan udin pada kakinya,dia masih berusaha menenangkan hasrat aneh yang bergejolak di tubuhnya...
" A..apa..yang kamu sebenarnya inginkan mas...?" tanya winda tidak bisa menahan luapan isi hatinya yang menumpuk dari semalam.bagaimana tidak semalam di kamarnya dia sudah siap menyerahkan dirinya,penantian yang akhirnya di kalahkan oleh kantuk yang mendera.
" Bukankah dia menginginkan itu ,lalu di mana bajingan itu " rutuk winda di penghujung sadarnya sebelum dia akhirnya tertidur pulas.
" Bukankah semalam kamu akan ..."
" Cukup..win...Kemarin aku hanya bercanda padamu ,aku tidak pernah berniat buruk .." potong Udin menyadari maksud ucapan winda. Udin juga lelaki normal , dia takut tidak bisa menahan diri apabila mendengar apa yang akan di ucapkan winda ,dengan posisinya yang berjongkok menatap wajah merona penuh kepasrahan di hadapannya apa lagi Dada bulat penuh yang terlihat berusaha berontak untuk keluar bergerak naik turun akibat nafas yang memburu,lelaki mana yang akan tahan.
" Apa... !! kamu bercanda..? " ucap winda melototkan matanya menahan emosi yang dia sendiri tidak tahu emosi karna apa..? ,bukankah dia seharusnya merasa lega..?
" Apakah dia tidak menyukaiku..?!" batin winda meradang...
" Plak..!! " sebuah tamparan mendarat di pipi Udin.. dia bisa saja menghindarinya ,tapi dia akhirnya membiarkan tamparan itu setelah melihat dua mata bening di hadapannya Mengeluarkan airmata.
" Mungkin bercandaku sudah keterlaluan " gumam Udin sambil menatap Winda yang berlari kedalaman mansion dengan linangan air mata.
" Bukankah jika aku benar melakukan apa yang ada di fikirannya itu Dia malah akan membenciku,lalu sebenarnya apa yang dia inginkan.." sambung udin semakin bingung dengan cara berfikir gadis itu.
" Aku benci kamu...!! " sebuah pesan masuk di posel udin dengan emot wajah bulat merah.. dia tidak tahu harus membalas apa.
" Ahh.. sudahlah " pungkas udin mengeluarkan sebatang rokok membakarnya lalu menghembuskan asap tebal dari mulutnya.
Tak lama Fitri datang membawa nampan berisi secangkir kopi hitam dan kue kue kecil di dalam toples kaca.
" Tadaaaaa... kopinya datang..silahkan di nikmati ". Suara riang itu seketika merubah suasana hati Udin.
" Nah sekarang baru lengkap..ada rokok dengan kopi " sahut udin lalu menyerumput kopi panas itu berlahan,memejamkan matanya menikmati momen indah itu.
tak lama kemudian memalingkan wajah memandang Fitri yang justru asik sendiri memainkan ponselnya.tampak beberapa bagian sudut ponsel itu sudah kusam , baginya saat ini Fitri seperti adiknya yang lama tidak dia temui.
" Fit... ponselmu sudah menjerit minta pensiun tuh..." sindir Udin bercanda.
" Ini masih bagus kok kak " balas Fitri tampak biasa..baginya memiliki ponsel itu saja sudah membahagiakannya ,dia tahu Winda kakaknya bekerja sangat keras untuk menghidupinya selama ini.
Udin seketika mendapatkan sebuah Ide.
" Mau ponsel baru..? "
Fitri mengangkat wajah mungilnya menatap Udin dari sorot matanya dia menginginkan itu ,tetapi kepalanya menggelang tidak setuju.
" Anggap hadiah dariku... asal kamu bisa mengajak kakakmu,kamu bebas memilih model ponsel yang kamu suka.."
" Beneran ni kak...syaratnya hanya itu..?! "
" Tapi..tunggu dulu..apa kalian bertengkar..?"
" Oh..oke aku mengerti sekarang , ga perlu ponsel baru ,asal kalian baikan aku sudah senang.."
__ADS_1
Ucap Fitri sibuk menjawab omongannya sendiri.
" Udin hanya mengangkat Bahu mengiyakan Ucapan Fitri tadi.