
Darman yang mendengar tuan mudanya telah sampai bergegas bersama Meilin keluar bermaksud menyambut dan melaporkan beberapa hal Penting padanya , Tentunya Meilin juga ingin menyampaikan mengenai kesalahan fahaman orangtua Udin mengenai hubungan mereka.
Sika dan Salman masih disebutkan dengan beberapa hal mengenai persiapan makan malam besar yang akan segera di mulai.
Sesaat keduanya menghentikan langkahnya menyaksikan adegan penuh keharuan Antar anak dan Orang tua itu , Mata Meilin sedikit berkaca kaca mendengar apa yang mereka bicarakan , tak berbeda jauh dengan Darman yang melihat begitu taat dan hormatnya Tuan mudanya kepada orang tuanya.
" Andai saja anakku setaat itu aku tidak akan meminta hal lainnya lagi di dunia ini " ucap Darmaji membatin penuh keharuan.
Meilin tak tahu lagi bersikap seperti apa saat melihat Udin yang nampak menurut saja saat Darmaji memintanya menyalami kakekknya , Dadanya berdegup kencang dengan wajah semerah Apel.
Darman berdehem lalu berjalan mendekati mereka .
" Rupanya kamu sudah kembali , Sebelum beristirahat sebaiknya kita makan malam dulu ,semua sudah di siapkan ..di ruang Makan, Nak Udin ayo ajak kedua orang tuamu beserta Tuan Tedjo untuk bersantap malam "
Darman menepuk pelan pundak Udin yang masih nampak sibuk dengan Fikirannya sendiri.
" Oh... baiklah Ayo ayah , ibu , kakek Kita bersantap malam dulu sebelum melanjutkan pembicaraan kita. "
Mereka kemudian berjalan mengikuti Darman menuju ruang Makan, Udin berjalan paling belakang masih mengaruk garuk kepalanya yang tidak gatal ,
" Mas ..ada yang ingin aku bicarakan padamu setelah makan malam.."
Meilin yang memang sengaja menunggu Udin berkata setelah Udin mendekat kearahnya.
" Apakah bisa di tunda besok.. ? .ada beberapa hal yang ingin kulakukan malam ini "
" Tidak bisa ...ini mengenai kita dan kakekku..."
" Kakek...? maksudmu beliau...? " Ucap Udin mengerling kearah Tedjo yang berada tidak jauh di depannya.
" Iya... itu kakekku Tedjo kusumo yang sengaja datang untuk membantu dan menemuimu. "
" Berarti... Kamu .... Ah sudahlah, mari kita bicara setelah jamuan makan selesai " Ujar Udin yang masih berusaha menggabungkan potongan potongan kejadian yang baru saja di alaminya.
" Aku sendiri tidak...."
" Pasangan Muda memang kurang melihat Situasi saat Berpacaran , kakiana bisa sepuasnya Berbicara dengan romantis saat makan malam selesai.."
Terdengar Suara Dina memotong percakapan kedua muda mudik yang berhenti di depan pintu ruang makan .
Udin Dan Meilin yang mendengar Ucapan Dina hanya bisa menunduk kemudian melangkah masuk.
Makan malam meriah dengan suasana kekeluargaan itu Memakan waktu hampir 1 jam di selingi kata kata yang membuat Meilin dan Udin merasa di duduk ruang sidang dengan mereka sebagai pesakitan.
__ADS_1
Bagaimana tidak mereka sudah membicarakan keinginan untuk segera saling mengunjungi untuk melamar Meilin , bahkan mengutarakan keinginannya memiliki cucu yang banyak ,
Tak urung sesekali kedua muda mudik itu terbatuk batuk spontan mendengar pembicaraan itu. Mata Meilin tak lepas menatap Udin yang tak sedikitpun mengucapkan pembelaan atau menjelaskan kejadian sebenarnya.
" Apa dia sebenarnya menyukaiku...? sampai sampai menerima begitu saja rencana rencana itu..?"
Batin meilin dengan degupan yang semakin kencang di dadanya , tak di pungkiri seandainya itu benar terjadi Meilin pun akan menerimanya dengan senang hati...
Padahal ke diaman Udin tak lebih hanya karna tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya yang nampak bahagia di hadapannya ,sudah
lama dia tak melihat senyum lebar ibu dan ayahnya saat membicarakan mereka berdua , di benaknya terbayang senyum manis Winda yang menunggunya kembali ,apalagi dia pe4nah berjanji untuk melamar dan mengenalkannyq dengan orang tuanya.
Setelah mengantarkan kedua orang tuanya beristirahat di kamar mewah yang di siapkan Udin sebelumnya ,kedua orang tua itu akhirnya mengijinkannya untuk keluar setelah Udin menceritakan secara singkat tentang apa yang di laluinya belakangan ini , tentunya dia mengakui Nyoman Arya sebagai guru dan penolongnya mencapai kesuksesan dengan cepat , tak mungkin bagi Udin menceritakan System kepada mereka.
Di Taman samping Villa yang nampak benderang oleh berbagi macam lampu berbagai ukuran dan warna warni yang indah nampak sangat Asri Bagai lukisan seorang maestro yang pernah Melihat surga.
Meilin sudah menunggu Udin cukup lama di sana tampak terlihat gusar dan tidak sabaran. Apalagi saat menceritakan sejujurnya apa yang terjadi pada kakekknya yang hanya di sambut senyum dan memerintahknaanya untuk memberi tahu Udin untuk menemuinya di Paviliun 1 tak jauh dari bangunan utama Villa. entah apa yang di rencanakan kakek tua itu .
" Akhirnya mas datang juga...Aku sudah menceritakan apa yang sebenarnya pada kakekku apa mas sudah..."
" Duduklah dulu baru berbicara " Potong Udin mengajak Meilin untuk duduk di sebuah bangku taman .
Meilin hanya bisa mengikuti keinginan Udin , banyak hal yang ingin dia sampaikan termasuk perihal perintah orang tua itu padanya.
" Aku juga tak akan memaksamu untuk mengakui yang sebenarnya Kepada mereka ,Hanya saja bisakah kau menundanya untuk beberapa hari saja ,sampai aku bisa menemukan waktu yang tepat untuk itu ." Lanjut Udin menatap mata Meilin yang nampak indah malam itu.tak di pungkiri keindahan di depannya memang selalu mengusik hatinya , jika bukan Winda yang telah mengisinya terlebih dahulu ,Udin Mungkin akan berusaha mengejar untuk mendapatkannya , apalagi situasinya sekarang sangat membuka peluang baginya untuk mendapatkan gadis di hadapannya itu.
" Aku ...Aku ... tidak akan mengatakan apa apa sampai mas sendiri yang akan mengatakannya pada om dan tante , hanya saja Kakekku bukan orang yang Mudah di tangani .."
" Saat ini beliau menunggumu di Paviliun satu , entah apa yang akan di bicarakannya , padahal aku sendiri sudah menceritakan yang sebenarnya.."
" Saat mas menemuinya berhati hatilah ...sikapnya bisa berbuah dengan cepat bila ada yang tak disukainya.."
Panjang lebar Meilin berbicara menjelaskan apa yang ada di hatinya membuat Udin sedikit mengerti watak orang tua itu , Sebelumnya Udin memang sudah merasakan tingkat tenaga dalam kakek Tedjo yang cukup tinggi , dengan Aura Sekuat itu tentu Menandakan bahwa kakek itu memang Pantas pernah menjadi seorang Mentri di pemerintahan.
" Kamu tenang saja , Aku bukan orang jahat ,tidak mungkin kakekkmu melukai atau bertindak keras padaku "
" Bolehkah aku menemanimu menemuinya...? "
Ucap Meilin masih dengan nada kekhawatiran.
" Kamu sebaiknya beristirahat...Dan terimakasih atas pengertianmu membantuku menyenangkan ayah dan ibuku , Kamu cantik dan baik hati.."
" Hanya cantik dan baik hati...? " Gumam meilin lirih tanpa di sadarinya di dengar Udin yang memiliki indra pendengaran sangat tajam .
__ADS_1
" Juga sexy..." Bisik Udin yang kemudian berjalan menuju Paviliun satu tempat Tedjo kusumo menunggunya.
Entah kenapa hati Meilin berbunga bunga saat mendengar pujian yang di bisikkan Udin padanya , menatap punggung pemuda yang fi kaguminya itu berlahan menjauh .
" Duduklah..." Tedjo yang melihat kedatangan Udin menunjuk sebuah kursi yang berada di depannya , Matanya terpejam saat menghirup Aroma kopi yang harum saat mendekatkan cangkir kopi di wajahnya.
" Kopi yang bagus... saat kamu ada waktu Luang mampirlah ke rumah kakek , nanti di sana aku akan mengajarimu cara membuat dan menyeduhnya agar bisa memaksimalkan rasanya. "
" Baik ...aku akan meluangkan waktu untuk menemui kakek di sana.."
" cukup berbasa basinya ...Katakan padaku siapa kamu sebenarnya..."
Tedjo nampak serius saat mengatakan hal itu yang di ikuti tatapan tajam menyelidik pada Udin.
" Bukankah Kakek sudah menyelidiki semua hal tentangku sebelumnya " Jawab Udin melihat sebuah Map besar di meja sebelah tedjo duduk.
" Orang orang bodoh itu hanya menggali permukaan saja , mereka tidak dapat menggali seperti apa yang aku inginkan... Aku pernah cukup lama di pemerintahan... Selain Presiden tidak ada lagi yang pernah kulihat memiliki Droid canggih yang menjaganya ..sedangkan kamu memiliki 5 droid di sekitarnu..Menurutmu apakah aku berlebihan menanyakanmu...?"
Udin yang Akhirnya mengetahui maksud pertanyaan itu menghembuskan nafas lega , dia sempat khawatir orang tua itu akan memakinya habis habisan karena mempermainkan Cucunya tanpa sengaja.
" Kalian.... Kemarilah...! " Perintah Udin Kepada Droid yang memang sedang mengatasi mereka dari kejauhan.
" Wuuuut....!!"
Kelima droid wanita itu muncul dengan kecepatan yang sukar diikuti mata biasa.
" Selamat malam Tuan ...Perintah apa yang akan Tuan berikan untuk kami.." ucap Droid terdepan menunduk Hormat pada Udin.
Melihat tampilan dan kecerdasan Droid itu membuat Tedjo semakin Heran dan tasa penasaran yang makin kuat ,Di bandingkan dengan Droid yang mengawal kepala negara yang pernah di lihatnya sangat jauh berbeda , tidak ada kesan Kaku atau menunjukkan ciri ciri bahwa mereka adalah Mesin.
" Perkenalkan diri kalian pada Tamuku..Serta jelaskan Fungsi dan kemampuan kalian padanya dengan singkat "
" Baik Tuan...saya Dina kami adalah Droid terbaru yang mengadopsi tenaga......... "
Cukup panjang penjelasan yang di sampaikan Droid itu yang membuat pusing Tedjo yang tidak menguasai teknologi robotik ,
" Cukup... !" Tedjo menatap Udin yang tersenyum kearahnya.
" Droid ini adalah pemberian seorang sahabat beberapa hari yang lalu , Aku sendiri baru mendengar secara ringkas seperti apa mereka "
" Kuharap Rasa penasaran kakek akan berkurang setelah ini , kalau kakek mau aku juga bisa memberi salah satu Droid ini pada kakek "
" Dan ada hal yang lebih penting dari ini yang ingin ku katakan pada kakek , mengenai sumbatan energi yang kakek alami di titik cakra Dada , Aku bisa membantu untuk melepas sumbatan itu.."
__ADS_1
" Apa...!! "