System Berbagi Keberkahan

System Berbagi Keberkahan
Saatnya mati ...


__ADS_3

Hanung mendekatkan ponselnya di telinganya lalu berkata dengan suara berbisik .


" Kamu di mana Nak , jangan bawa adik adikmu pulang dulu , ada pemuda yang mengaku saudara Elis dan Tiara , Ibu akan memastikannya dulu dengan Pak de Galih , takutnya Dia suruh Pamannya yang jahat.."


" Ibu tenang saja , Berapa kali sudah kukatakan tidak ada yang akan berani menyakiti keluarga kita lagi , Kalau memang Dia suruhan pamannya yang Bejat itu , aku sendiri yang akan menghadapinya , ibu tenang saja aku akan segera pulang dengan beberapa petugas polisi untuk menangkapnya.." Terdengar suara tegas seorang Gadis di ujung sana.


" Kamu ....!! ya sudah ... Asal kamu bisa membawa polisi itu akan lebih baik , Ibu juga akan memanggil Pak de galihmu untuk datang ."


Setelah menutup teleponnya Hanung Bergegas pergi melalui pintu belakang rumahnya untuk memanggil Galih yang rumahnya berada di samping tempat Tinggalnya.


Udin yang hendak menelepon Ayahnya membatalkan niatnya saat melihat Seorang pria yang datang dengan Hanung yang mengikuti di belakangnya.


" Tidak baik membiarkan tamu duduk di luar rumah... Mari nak kita bicara di dalam saja .." Ajak Galih menepuk pundak Udin dengan ramah.


Udin mangangguk sopan mengikuti langkah pria itu masuk kedalaman Rumah kemudian Duduk di sebuah sofa yang nampak masih Baru .


" Perkenalkan saya Galih Kepala kampung di sini , sedikit Bapak sudah mendengar maksud kedatanganmu ke kampung ini , Kedua kakak beradik yang kamu cari kebetulan dalam perlindungan Kami ....jadi sudah sepantasnya Bapak menanyakan lebih rinci tentang identitasmu..."


Mendengar Perkataan tetua kampung di hadapannya membuat Beban berat yang mengganjal di hati Udin serasa hilang begitu saja , bukankah itu menunjukkan kedua adik kesayangannya itu berada di tempat dan tangan yang aman...?.


" Terimaksih tuhan..." Batin Udin berucap sukur tak hentinya .


" Baik Pak ...perkenalkan nama saya..."


" Bajingan bejat itu ada di Dalam Pak Segera tangkap dan penjarakan Dia ...!!! "


Suara lantang seorang wanita terdengar dari luar memotong ucapan Udin yang hendak memperkenalkan Dirinya .


Udin dan Galih yang mendengar keributan itu segera keluar untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya.


" Kamu....! "


" Mas udin ..." Irawati sangat terkejut melihat Udin keluar dari rumahnya bersamaan dengan Pakde Galih yang muncul di belakangnya .


" Kakak....!!! "


Suara Elis nyaring Segera turun dari mobil patroli polisi yang datang bersamanya , Tiara akhirnya juga menyaydari itu segera ikut berlari menyusul begitu melihat sosok kakak yang sangat di rindukannya ada di sana .


" Kalian....!"

__ADS_1


Hanya itu kata kata yang terdengar dari tenggorokannya , selebihnya Hanya surau Sengau yang sulit di mengerti , entah kenapa tenggorokan Udin terasa kering , banyak kesedihan yang mengganjal di sana.


Ketiga kakak beradik itu Berpelukan , terdengar isak tangis penuh bahagia bersahutan ..Udin mengulas senyum berusaha untuk tidak meneteskan Air matanya , Dia sudah berjanji pada ayahnya untuk tidak pernah menangis lagi .


Irawati Masih termagu menyaksikan adegan Haru biru yang terjadi di depannya , Betapa sulit mencerna Informasi di kepalanya yang berusaha mengaitkan ngaitkan berbagai cerita sebelumnya dari kedua adik angkatnya yang Ternyata adalah Saudara dari penyelamat sekaligus Tuan besarnya itu.


Setelah menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi pada petugas polisi yang di bawanya Irawati berkali-kali membungkuk dan meminta maaf pada dua orang petugas tersebut yang di balas anggukan penuh pengertian dari mereka.


setelah cukup lama mereka berkumpul saling menceritakan cerita versi masing masing,akhirnya Semua menjadi jelas .


Sebelum Udin bertemu Irawati di pemerbangannya menuju Jatim , kedua adiknya rupanya sudah Di temukan dan tinggal bersama Hanung ibu irawati dan kedua adik kembarnya Hany dan Heny , setelah Irwati mendapat keberkahan dan di Percayakan Pekerjaan yang mapan Oleh Udin , ia lantas pulang mengunjungi ibunya untuk mengabarkan Kabar Bahagia itu , sekaligus mengungkapkan Keinginannya memboyong mereka semua ke Jatim dengan jabatan Irawati sekarang Fasilitas tempat tinggal dan yang lainnya tentunya sudah di siapkan perusahaannya .


Sampai akhirnya hari ini Udin Datang lebih dahulu menemui mereka ,


Udin yang tak sekalipun melepaskan Rangkulannya pada kedua adiknya itu Berkali-kali mengucapkan Terimakasihnya pada Keluarga yang tanpa pamrih mau membantu dam menerima kedua adiknya yang sedang dalam kesusahan , Irawati bahkan lebih sering Tertunduk saat pandangan mereka bertemu , membuat Hanung menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak gadisnya itu , sebagai seorang Ibu dia tahu apa yang terjadi dengan gadis itu .


Galih terlebih Dahulu berpamitan setelah menenggak tandas kopi dari cangkirnya . di susul Hanung yang mengajak kedua gadis kembarnya membantu Elis dan Tiara menyiapkan Barang bawaan yang akan mereka bawa kembali ke jatim . Saat ini hanya tertinggal Irawati dan Udin yang membahas beberapa Cerita Lucu tentang kelakuan Adik adiknya , di sambut tawa tengah Udin .


" Mas mau nambah kopi nggak...? "


" Sudah Cukup...nanti bisa kembung perutku kalau kebanyakan Ngopi.."


" Belum...nanti saja ... sekalian aku akan mengunjunginya..."


Tiba Tiba Udin meraih Tangaan Irawati, mengusapnya lembut , lalu Berkata ..


" Apapun yang kamu inginkan di masa depan , aku berjanji akan memenuhinya , Tanpamu Aku tak tahu akan seperti apa Hidupku .."


Irawati yang menerima perlakuan itu Menunduk tak berani Beradu pandang dengan Udin , Kalu saja dia tidak mengenal kak Winda Bukan tak mungkin dia akan Mengejar lelaki yang sedang membelai tangannya itu , Setelah menguatkan Hati dan mengubur perasaan itu dalam dalam Irawati mengangkat wajahnya kemudian berkata.


" Mas ... kamu adalah penyelamatku jadi tidak...."


 Irawati tidak melanjutkan ucapannya lalu segera menarik tangannya yang berada di genggaman Udin saat melihat Ibunya dan keempat Saudarinya nampak keluar dari kamar menuju Ruang tamu tempat mereka berada .


Bersamaan dengan itu Dua buah Jeep Wrangler Rubicon berwarna Abu abu berhenti Tepat di depan halaman Rumah Irawati. Dengan Cekatan Kedua Droid yang mengendarai masing masing Jeep tersebut mendatangi Udin yang rupanya terlebih dahulu memerintahkan mereka untuk datang menjemputnya ,


Setelah Berpamitan Dan berjanji akan menemui mereka saat Di jatim dan menitipkan Sebuah Kartu bank untuk di sampaikan kepada Galih sebagai Donasi biaya pembangunan Desa sebesar 5 miliar, Udin segera membawa kedua adiknya itu masuk dan berlahan pergi menjauh meninggalkan Irawati yang masih saja berdiri di pintu rumahnya .


"Apakah aku harus belajar bela diri untuk bisa menjadi seperti mereka yang bisa melihat dan menemanimu kemana saja " Batin Irawati iri mengingat wajah wajah cantik pengawal Udin Tadi , Andai saja Irawati tahunyang di cemburinya adalah Droid, tentunya dia akan menarik kata katanya .

__ADS_1


Di perjalanan Udin sudah mengabari ayahnya ,bahwa sebentar lagi dia dan kedua adiknya sampai , di sambut dengan suara bahagia ayahnya yang tak sabar lagi bertemu kedua gadisnya yan lama tak pernah di Temuinya .


 setelah mengantarkan Adiknya menemui ayahnya di lobi ,Udin menerima Berbagai laporan mengenai sindikat peredaran narkoba yang di kepalai Herman yang ternyata adalah sindikat besar bekerjasama dengan Gangster dari negara tetangga Maladita , mereka merupakan bagian dari mafia internasional yang bergerak di berbagai Bidang dari tentara bayaran sampai penjualan senjata di daerah daerah konflik yang menimbulkan banyak kekacauan , Sayangnya Herman hanya sebagai cabang kecil dari Pohon Besar itu.


 setelah menyimpan flash disck berisi berbagai informasi mengenai sidikat itu , Udin berdiri lalu memerintahkan Kedua Droid itu untu tetap berjaga di hotel tempat ayahnya menginap .


" Sudah saatnya kalian untuk Mati...!! "


 mengendarai Jeep dengan kecepatan tinghi menuju Bukit Hantu tempat markas besar Gangster yang dikenal dengan nama Tulang hitam itu berada .


" Duaar...Braaakk....!!! " jeep Miliaran itu tak berhenti setelah menabrak gerbang terbuat dari papan lebar dan tebal dengan Rangka baja , tentunya sangat aneh bagi orang awam yang melihatnya. Udin memang sudah memasang aray pelindung menggunakan tenaga murni inti sejati di sekitar jeep yang di kendarainya sehingga impact dari benturan keras itu sama sekali tak terasa di dalam aray itu , bahkan jeep itu tidak lecet sedikitpun .


Masih dengan kecepatan yang sama meluncur deras menuju pintu utama bangunan berlantai 3 itu Lalu berhenti tepat setelah pintu dua Daun itu hancur lebur.


Turun dan melangkah dengan santainya , Penghuni bangunan yang sempat Tercengang segera mengepung Udin yang berdiri dengan kedua tangan berda di saku celananya.


" Panggil Herman Kurap kemari ..katakan aku datang untuk mencabut nyawanya..."


suara Udin menggema keseluruhan Areal Markas itu , Bahkan bangunan besar itu turut bergetar ketika suara itu melewati dinding dindingnya.


" Bangsat ...!! Lancang sekali kamu , menerobos masuk dan mengancam Tuan besar Kami..!! "


Teriak seorang dengan otot otot menonjol di tubuh besarnya.


Ratusan orang masih berdatangan mengepung Udin dari dalam dan luar membawa berbagai macam senjata , bahkan ada beberapa di antaranya membawa senjata AK 47 berseragam layaknya militer .


" Saat ini hatiku sedang tidak senang , Jangan membuat aku menunggu , atau kalian semua akan Mati hari ini .."


 pancaran Aura kematian dengan Ekspresi dingin membunuh terpancar menyeruak saat udin mengeluarkan tangannya dari saku celananya.


Beberapa diantara pengepung yang tidak memiliki kemampuan Kultivasi langsung terduduk gemetaran merasakan Aura yang mematikan itu ,


" Banyak Bacot....!!! Seraang...!!!! " Entah suara siapa yang mengomadoi serentak Ratusan orang itu menyerang Udin dari segala Arah...


" Berhenti....!! " Sebuah suara menggelegar terdengar dari belakang Udin , membuat Gerombolan Gangster itu berhenti dan mundur teratur .


Tentu saja mereka mengenal Suara Herman pimpinan mereka .


" Bagus... aku suka pemuda Yang bernyali besar sepertimu ... Katakan apa Maksud kedatanganmu , sebelum aku mencabut satu persatu tulangmu untuk kugunakan sebagai Hiasan di dinding Gerbangku yang baru .."

__ADS_1


Herman melangkah masuk dengan gaya angkuh selayaknya seorang kaisar besar ..


__ADS_2