Tahta Akhir Dunia - Kisah I

Tahta Akhir Dunia - Kisah I
Prolog


__ADS_3

...~ ◊ ~...


Kematian...


Waktu yang tepat untuk mengistirahatkan jiwa dan pikiran. Hidup dalam dunia busuk dan penuh kebobrokan. Terkekang belenggu perbudakan dengan tekanan hidup tanpa kebebasan.


Omong kosong dengan keadilan, hukum pun tak lagi dibutuhkan. Kematianlah yang jadi akhir segala penderitaan.


Langkah kaki seorang pemuda melukis jejak merah di atas lantai marmer disebuah istana yang megah. Berjalan lunglai sembari menggurat lantai dengan ujung pedang ditangan sebelah yang terlihat lelah. Tangan lain menenteng potongan kepala bermahkota yang terus kucurkan darah.


Langkah demi langkah menaiki deretan anak tangga menuju kursi agung tahta Sang Raja diiringi suara deritan pedang dan tetesan darah ditengah kesunyian malam penuh amarah.


Terduduklah ia di kursi tahta dengan menenggerkan sebelah tangannya di atas gagang pedang dan mengangkat tangan lain yang memegang potongan kepala Sang Raja, mendekatkannya ke depan wajahnya dan menatap lekat pada mata kosong si kepala tak bernyawa.


“Sungguh beruntungnya dirimu, Yang Mulia. Dapat beristirahat dari semua kekacauan dan kehancuran ini. Tak perlu lagi melihat kekejian dan kebobrokan dunia, dunia yang sudah cukup tua untuk sampai pada ujung usianya.”

__ADS_1


Dijatuhkannya kepala sang raja diiringi dentingan mahkota yang menggelinding menuruni tiap anak tangga.


Sang pemuda merebahkan tubuh lelahnya pada punggung kursi yang agung itu dan mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit ruang tahta yang begitu megah dengan kerlap-kerlip permata di tiap sisinya, bagai gemerlap bintang dalam ruang sunyi dan hampa.


...~ ◊ ~...


Beberapa hari setelah insiden di istana, berita kematian Raja telah menyebar ke seluruh penjuru benua.


Di sebuah Bar, jauh dari istana, berkumpulah tiga orang Kaum Hayawan, makhluk bertubuh binatang: Lupus si Serigala abu-abu, Arctos si Beruang cokelat, dan Tigris si Harimau perak.


“Ya, aku sudah dengar,” jawab Tigris. “Aku dengar yang membunuhnya adalah salah satu Pengreksa-nya sendiri.”


“Aku dengar juga begitu,” sahut Arctos datang membawa tiga gelas minuman. “Ironis sekali. 30 tahun setelah penaklukan keenam Raja Bengis lainnya, akhir dari Sang Raja Serakah mati dipenggal kesatria pelindungnya sendiri.” Arctos meletakkan gelas-gelas itu diatas meja bersama beberapa hidangan daging.


“Kudeta, ya. Itulah busuknya para Bangsawan. Mereka saling tusuk dan berebut untuk mendapat harta dan kekuasaan,” kata Tigris sembari menusuk potongan daging dipiringnya dengan garpu.

__ADS_1


“Ya, tapi jangan lupa berebut wanita juga,” tambah Lupus sembari mulai meneguk minumannya. “Para bangsawan bahkan saling berperang dan mengorbankan banyak nyawa hanya untuk mendapat seorang pelacur untuk pajangan di istananya.”


“Benar juga, lalu bagaimana nasib si Ratu itu?” tanya Tigris sambil mengunyah daging dengan gigi-gigi tajamnya.


“Kudengar setelah Raja terbunuh, dia diperkosa beramai-ramai oleh para pemberontak dan sekarang dijual oleh seorang Bangsawan untuk dijadikan budak,” jawab Lupus.


“Wah, menyedihkan sekali,” sahut Arctos seraya ikut menyantap makan siangnya. “Sudah kehilangan suami, dihianati, diperkosa, dan sekarang malah dijadikan budak. Sangat disayangkan untuk wanita secantik dia.”


“Tak perlu dikasihani. Karena si j*l*ng itulah kita harus kehilangan banyak nyawa rekan-rekan kita karena perang antara Raja dan para Pangeran yang saling memperebutkannya,” kata Tigris setalah menggebrak meja dengan gelas lalu mengusap mulut dengan punggung tangannya.


“Karena para pangeran telah terbunuh saat Perang Sundal itu, sekarang Raja tak punya keturunan atau siapapun untuk melawan kudeta kali ini. Ratu pun tak lagi punya dukungan politik maupun militer untuk membebaskannya. Sekarang sudah dipastikan wangsa Raja Serakah sudah ada di akhir sejarahnya.” kata Lupus menyudahi makannya.


“Ya, tapi jangan lupa, para bangsawan yang sekarang berkuasa tak akan kalah jika dinilai dari keserakahannya.” tambah Tigris.


“Karena itulah tugas kita untuk menghentikan kekacauan dan kehancuran ini. Mengumpulkan informasi untuk menemukan sang Kaisar Akbar dalam ramalan yang akan mencegah kematian dunia,” kata Arctos sembari menumpuk dan merapikan sisa alat makan di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2