Tahta Akhir Dunia - Kisah I

Tahta Akhir Dunia - Kisah I
Penghabisan


__ADS_3

...~ ◊ ~...


Pemuda itu berjalan menghampiri sang Raja yang masih meneteskan deraian air mata di jenazah putranya. Lalu ia meletakkan telapak tangannya ke pundak sang Raja sembari berkata-


“Wahai Raja Bawika, lepaskanlah putramu dan sudahilah tangismu. Biarkan ia terbebas dari semua belenggu dan bertemu saudara dan juga sang ibu.”


Raja pun melepaskan dekapannya pada tubuh si Pangeran dan meletakkan kembali kepalanya pada tempat yang semestinya, lalu menutup tubuh tak bernyawa itu dengan jubahnya.


“Wahai Ratu Santika, kemarilah dan tenangkanlah suamimu yang tengah bersedih dan merana,” tutur pemuda itu, sang Kaisar Akbar.


Ratu pun datang mendekap si Raja dan mendudukkannya di tangga menuju kursi tahta. Menenangkan dan menghapus deraian air mata suaminya.


“Wahai para rekan dan sahabat Pangeran Adinata, kemarilah dan ucapkan selamat jalan pada panglima hebat kalian.”


Basita, Danendra, Bramanta, dan juga Antara (yang datang bersama Pasukan Armada Perak) datang mendekat pada jenazah sang Panglima mereka. Bubalis, Bovin, serta Lupus dan Arctos (yang juga datang bersama Antara) pun mengikuti dibelakang mereka.


“Berkatilah jiwa sang Panglima yang telah menyatukan dua bangsa setelah sekian lama. Dan tugas kalianlah untuk melanjutkan dan menunaikan sumpahnya dalam menghancurkan belenggu kenistaan dalam angkaranya dunia.”


Sang Kaisar menebarkan butiran-butiran perak pada mayat dihadapannya. Dengan begitu munculah cahaya terang dari sana.


“Aku, Kaisar Akbar memberikan berkatku pada Adinata. Jiwanya tak akan pernah pudar dan dengannyalah akan menerangi kembali Bangsa Manusia yang telah lama menjadi makhluk yang hina.”


Jenazah sang Pangeran Adinata pun ikut menjadi butiran-butiran perak bercahaya dan terhambur ke udara.


“Akbar!” panggil seorang gadis yang tengah menggendong Harimau berbulu perak di punggungnya.


“Baringkanlah dia, Ayasya.”


Gadis itu pun membaringkan si Putri Perak di lantai marmer istana.


Kaisar pun menempelkan telapak tangannya ke dahi si Harimau, Tigris. Kemudian ditariknya kembali telapak tangan itu dengan membawa serta butiran-butiran perak dari tubuh Tigris dan menghamburkannya ke udara.

__ADS_1


Setelah itu kelopak mata Tigris pun perlahan terbuka. Menampakkan iris biru cerah dari bola matanya yang perlahan menangkap kilatan permata dari langit-langit ruang tahta.


“Tigris!” panggil Lupus dan Arctos bebarengan lantas mendekat padanya.


“Lupus? Arctos? Dan siapa mereka? Dimana ini?” kata yang keluar dari Tigris setelah menegakkan tubuhnya untuk bangkit dari baringannya.


“Syukurlah kau baik-baik saja!” kata Arctos memeluk Tigris dan Lupus pun ikut melakukannya. Mereka bagai tiga saudara yang telah terpisah begitu lama.


“Ah! Lihatlah, Tigris! Itu adalah sang Kaisar Akbar. Beliaulah yang menyembuhkanmu,” kata Lupus gembira.


“Benarkah?! Jadi ramalannya sudah terpenuhi?!” kata Tigris sembari menatap pemuda dihadapannya kagum.


“Aku tidak menyembuhkanmu. Aku hanya mengambil kembali kelebihan energi perak yang ada di dalam tubuhmu,” sahut si Kaisar. “Dan kalian tak perlu terlalu bersikap hormat terhadapku. Lihatlah! Aku hanyalah seorang pemuda 18 tahun biasa.”


“Tepatnya 2043 tahun. Sadarilah bahwa kau sudah tua,” celoteh Ayasya dengan senyum mengejek.


“Hey! Aku tak benar-benar setua itu, tahu. Dan hitunganmu pun tak pasti akurat,” sahut Kaisar kesal.


“Tanggal 7 / Bulan 4 / Tahun 25 Angkara. Memangnya kenapa?” balas Arctos.


“Berarti sekarang aku sudah dewasa! Karena itu, jangan memperlakukanku seperti anak kecil lagi.” jawab Tigris dengan bangga.


“Benar juga. Kau sudah 13 tahun sekarang,” sahut Lupus.


“13? Dewasa?” gumam Ayasya kebingungan menanggapi percakapan tiga sahabat itu.


“Di dunia ini tidak mengenal istilah ‘remaja’. Setiap sudah mencapai usia mulai pubertas, mereka sudah dianggap dewasa,” jelas Kaisar pada Ayasya.


“Tapi, bagaimana waktu bisa berlalu begitu cepat? Seingatku sebelumnya ...


Tiba-tiba kata-kata Tigris terhenti. Ia seperti mengingat sesuatu yang luar biasa dalam memori ingatannya.

__ADS_1


“Astaga! Apa yang sudah kulakukan?!” jerit Tigris pelan.


“Ada apa Tigris?” tanya Lupus cemas melihat perubahan ekspresi Tigris.


“Bagaimana aku bisa melakukan semua itu?!” tanya Tigris entah pada siapa dengan bertambah makin histeris.


“Sepertinya ia mengingat apa yang terjadi padanya saat mengeluarkan kekuatan peraknya,” kata Ayasya.


“Tenanglah Tigris,” tutur Arctos. “Semuanya sudah baik-baik saja.”


“Ta-Tapi aku sudah mem-membunuh begitu banyak nyawa tak berdosa,” gumam Tigris gemetaran.


“Tak mengapa, Harimau kecil,” sahut Kaisar tiba-tiba. “Semuanya sudah ditakdirkan. Dan seperti itulah takdir yang akan kau emban setelah keluar dari Hutan Rintihan Buana. Takdir si Putri Perak.”


“Apa maksud Anda?” tanya Bubalis si Kerbau yang ikut cemas setelah mendengar jeritan Tigris.


“Seharusnya para Khan tahu apa yang menantimu dalam perang ini. Tapi bukan keputusan yang salah untuk tak memberitahu kalian akan hal itu,” tutur sang Kaisar.


“Ta-Tapi ... Antara, apa kau-


“Tak mengapa, Tigris. Meskipun ibuku juga menjadi korban atas bangkitnya kekuatanmu, itu pun tak jadi masalah buatku,” sahut Antara memotong.


“Korban? Apa kau tak salah menilai kemampuanku, putriku yang manis?”


Terdengar suara tiba-tiba dari pintu ruang tahta. Suara seorang wanita yang menjengkelkan. Itu Sodha sang Pinandita. Ia datang ke ruang tahta ini bersama si Kesatria lainnya, Wirasana.


“Ibu? Bagaimana bisa-


“A- A- A-. Keluar dari mara bahaya adalah keahlian seorang pengguna senjata penghancur masa, kau tahu itu,” potong Sodha sembari menggerak-gerakkan jari telunjuknya.


“Setelah ini, tak perlu ada penyesalan lagi. Siapa pun yang menjadi korban dalam perang kotor ini, baik dari pihak Raja Angkara ataupun Pangeran I, bahkan dari kubu Pangeran II dan Pangeran III, semuanya hanyalah korban dari manipulasi sang Roh Jahat, Niskala. Dan itu semua sudah dituliskan dalam ramalan dunia,” tutur Kaisar dengan segala wibawanya.

__ADS_1


__ADS_2