
...~ ◊ ~...
Setelah menceritakan semua kisah kebenaran itu, sang Pangeran tertunduk lesu, menitikan tangis pilu, dan memohon dengan suara yang tersendu-sendu.
Seluruh keluarga yang dikasihinya telah jatuh dalam kesesatan tipu dan rayu. Kehilangan akal sehat dan terbelenggu. Kini harus saling membunuh hanya untuk kepuasan sang Ratu pengganggu.
“Sementara ini, akan kuanggap ceritamu itu memang benar,” kata Nona Bubalis. “Lantas 4 orang inikah Kesatria yang ada dalam cerita itu?”
“Itu benar. Si Kesatria tua adalah Basita sang Murwa Kuncara; si Kesatria berkacamata adalah Danendra sang Mukti Wibawa; si gadis Kesatria adalah Antara sang Sumela Atur; dan si Kesatria berkulit gelap adalah Bramanta sang Lelana,” jawab Pangeran sembari mengenalkan keempat Kesatria yang duduk bersila di belakangnya.
“Lantas di mana ketiga Kesatria yang lain?” tanyaku.
“Sebelumnya, saat mendengar kemunculan Raja Angkara (orang yang berhasil menyatukan kembali seluruh benua), kami para Kesatria datang untuk mendukung tahta sah kerajaannya yang telah menguasai seluruh benua,” tutur Basita si Kesatria tua.
“Namun kami berpisah setelah merasakan kecurigaan atas segala kebusukan sang Ratu. Kami berempat memutuskan pergi bersama Pangeran I, sedangkan ketiga Kesatria yang lain (Kesatria Hamung Tuwuh, Pambuka Gapura, dan Pinandita) bersikeras untuk tetap mengabdi pada Raja Angkara.”
“Dan kami rasa jika mereka kini masih berada di pihak Raja Angkara dan menjadi bagian dari pasukan Pangreksa-nya,” tambah Bramanta si Kesatria berkulit gelap.
“Mungkin mereka telah jatuh dalam Sihir Pemikat si p*l*c*r laknat itu,” kata Antara si gadis Kesatria dengan wajah kesalnya.
“Jadi bisa diasumsikan bahwa dalang di balik semua kekacauan ini adalah sang Ratu,” kata Arctos tiba-tiba sembari mengelus-elus kepalanya. “Tapi siapakah dia sebenarnya? Dan bagaimana dia bisa menggunakan sihir yang harusnya hanya dimiliki Bangsa Jin?”
“Sepertinya dia adalah makhluk yang sejenis denganku,” sahut Danendra si Kesatria berkacamata.
Apa maksudnya itu? Bukankah dia juga manusia?
Ah! Benar juga! Pangeran tadi menceritakan bahwa Danendra sang Mukti Wibawa juga dapat menggunakan sihir dengan menyalin Sihir Perbudakan dari sang Ratu.
“Manusia setengah Jin, ya,” gumam Lupus. “Pantas saja hawa kehadiranmu tak terasa, bahkan oleh seorang ‘Bayangan’ sepertiku.”
“Ya, kulit pucatnya memang sangat mencirikan keturunan Bangsa Jin,” tambah Tuan Dirus.
Manusia setengah Jin? Tak kusangka akan bertemu salah satu dari mereka di zaman ini. Kukira mereka sudah punah setelah kepergian Bangsa Jin ke Alam Bawah.
“Meskipun Manusia setengah Jin dapat menggunakan sihir, tapi tak mungkin dapat memiliki energi magis sebesar sang Ratu. Kecuali mendapat berkah sebagai Kesatria sepertiku,” kata Danendra.
__ADS_1
“Lalu dari mana asal si wanita l*c*r itu?” tanyaku.
“Entahlah. Kami hanya mengetahui bahwa ia datang bersama rombongan wanita penghibur yang mendatangi kamp pasukan Raja Bawika setelah kekalahannya melawan pasukan Raja Amarah,” jawab Pangeran.
“Satu lagi hal yang sangat penting untuk kita ketahui: sebenarnya bagaimana cara kerja Sihir Perbudakan ini?” tanya Arctos penasaran.
“Sihir perbudakan ini tidak sepenuhnya mengendalikan korbannya,” jawab Danendra.
“Sihir ini hanya memberikan dorongan dan keinginan pada korbannya untuk melakukan apa yang diperintahkan pengendalinya, yaitu tunduk padanya dan saling bertarung dengan pasukan pengendali lainnya.
Itulah alasannya kalian (Bangsa Hayawan) tidak terpengaruh pengendalian ini, karena kalian tidak memiliki keinginan untuk tunduk ataupun berurusan dengan Bangsa Manusia.
Sejauh ini pengendali Sihir Perbudakan hanya ada 4 orang: yaitu Raja Angkara, Pangeran I, Pangeran II, dan Pangeran III. Namun semuanya menjadi boneka sang Ratu, kecuali Pangeran I. Situasi ini bagaikan boneka yang menjadi mainan dari boneka lain yang dikendalikan oleh satu dalang dibelakang semuanya.
Keempat kubu yang mengendalikan sihir ini dapat saling melakukan sihir pengawasan terhadap pasukan lainnya, namun tak bisa memberikan perintah. Karena perintah hanya bisa sampai pada orang-orang yang memiliki dorongan dan keinginan yang sama dengan si pemberi perintah.”
“Jadi meskipun Pangeran I dapat mengawasi semua orang yang terkena Sihir Perbudakan ini, tapi ia tak akan bisa mengendalikan mereka karena mereka tidak terikat keinginan untuk tunduk padanya. Dan kini orang-orang yang ada di bawah kendali Pangeran I adalah orang-orang yang benar-benar menginginkannya memimpin, ya.” tutur Arctos.
“Begitulah,” tegas Danendra. “Kami terpaksa menggunakan Sihir Perbudakan ini (dengan menyalin sihir sang Ratu) agar kami bisa mencegah orang-orang tak bersalah diperbudak Raja Angkara dan Pangeran lainnya (dengan mengikatkan sihir pada mereka dibawah Pangeran I), sekaligus untuk mengamati pergerakan pasukan lainnya agar kami bisa lebih mudah untuk bertahan dalam peperangan.”
“Semua masalah ini bermula dari keluarga dan kerajaannya, maka dialah orang yang paling berhak menyelesaikannya,” jawab Kakek Basita.
“Seperti yang telah diceritakan, Raja Bawika sebenarnya bukanlah orang yang jahat, begitu pula dengan anak-anaknya. Dan kami para Kesatria pun mau mengabdi padanya karena hal itu. Namun p*l*c*r itulah yang mencuci otak mereka.
Untunglah Pangeran I dapat lolos dari cengkramannya. Maka dialah orang yang kami anggap pantas untuk memimpin perlawanan kami padanya. Dan jangan lupa bahwa Pangeran I adalah muridku sendiri yang telah kudidik sedari ia masih muda. Aku dapat menjamin kebaikan dan kecakapannya.”
Benar juga. Pangeran I pun nampak bukan seperti orang yang jahat. Tak mungkin orang jahat dan angkuh akan mau jauh-jauh datang ke rawa kotor ini dan mempermalukan diri dengan menundukkan kepalanya pada Bangsa Hayawan seperti kami.
“Hmm... Tapi walaupun jika kami menyetujui permintaanmu untuk bekerja sama, bukankah Raja Angkara tetap akan mengetahui pergerakan kita menggunakan sihir pengawasan?” tanya Nona Bubalis.
“Jika kesepakatan itu benar-benar kalian setujui, aku akan menggunakan sihirku untuk menghalangi pengawasan Raja Angkara agar kita bisa bergerak dengan leluasa,” jawab Danendra dengan yakinnya.
Begitu rupanya. Pantas saja kubu Pangeran I yang memiliki jumlah pasukan paling sedikit dapat bertahan dalam peperangan, bahkan dapat mengalahkan kubu Pangeran II. Jadi mereka menggunakan sihir itu untuk bertahan dan menyerang kubu lainnya, ya.
“Untuk itu, sekali lagi kami memohon bantuan kalian untuk membantu kami melawan sang Ratu penista ramalan dan pengacau Benua Agung ini,” tutur sang Pangeran seraya kembali menundukkan kepalanya untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1
“Kurasa ini akan menarik. Dan sudah waktunya kita menyelesaikan ini semua, bukan?” kata Nona Bubalis.
“Yeah, sudah saatnya kau keluar dari kasur berlumpurmu dan kembali memimpin seluruh pasukanmu,” ejek Tuan Dirus.
“Terserah apa katamu. Setelah mendengar semua kebenaran ini, aku pun tak akan tinggal diam!” tegas Nona Bubalis.
“Tentu saja! Kami tak akan membiarkan sang penista ramalan agung yang selama ini kami junjung tinggi untuk terus hidup di atas tanah ini!” tutur Lupus.
“Itu benar! Kami akan menghancurkannya beserta sihir-sihirnya. Membebaskan semua orang dari belenggu perbudakan dan menghancurkan sihir yang mengelilingi kampung halaman kami!” kataku bersemangat.
“Maksudmu sihir teleportasi yang mengelilingi Hutan Rintihan Buana?” tanya Danendra. “Kami tak pernah tahu jika sang Ratu menggunakan sihir itu. Lagipula tak ada untungnya bagi 'Penyihir' itu untuk melakukannya.”
“Kami pikir para Khan Bangsa Hayawan lah yang sengaja memasang sihir itu agar terhindar dari pengaruh Sihir Perbudakan.” tambah Bramanta.
“Tentu saja tidak. Sihir Teleportasi itu pun menjadi bencana bagi kami. Dimana yang ada di dalam hutan menjadi terisolasi, sedangkan yang ada di luar hutan tak bisa kembali. Tak mungkin para Khan akan memasang sihir merugikan itu pada desa kami,” jawabku.
“Jika bukan si Ratu dan tentu saja bukanlah para Khan, lantas siapa yang memasang sihir teleportasi yang menutup Hutan Rintihan Buana itu?” tanya Arctos yang tak ada satupun dari kami dapat menjawabnya.
“Kupikir dengan kebenaran yang diceritakan Pangeran, kita telah menemukan jawaban dari semua misteri yang kita cari. Namun ternyata masih ada misteri yang belum berhasil kita dapatkan jawaban yang pasti,” kata Lupus dengan raut kesal.
Yah, benar sekali. Masih ada dua mesteri yang sangat ingin kami ketahui. Yaitu siapa yang memasang Sihir Teleportasi yang mengelilingi Hutan Rintihan Buana dan apa tujuan dari keinginan Tuan Dirus untuk menuju ke Pulau Angker?
“Mengesampingkan itu, apakah dengan begini Prajurit Bangsa Hayawan kini telah menyetujui kerja sama dengan pasukan Pangeran I?” tanyaku pada Nona Bubalis dan Tuan Dirus.
“Hmm... Kurasa begitu. Sudah waktunya kita berhenti bersembunyi. Kini saatnya kita melawan kenistaan yang telah melukai ibu pertiwi,” jawab Tuan Dirus.
“Namun sebelum itu, kita harus mengabarkan tentang kesepakatan ini dan semua kisah kebenaran di balik mala petaka ini kepada semua pasukan kita agar tidak terjadi kesalahpahaman,” tambah Nona Bubalis.
“Anda tak perlu memikirkan itu, Komandan.” Tiba-tiba kata itu terdengar muncul dari balik bayangan, itu adalah serigala mata-mata yang sebelumnya.
“Aku dan 'Unit Bayangan' yang lain telah mengabarkan segalanya kepada semua pasukan melalui kemempuan telepati kami,” lanjut serigala itu.
Seperti yang diharapkan dari para ‘Bayangan’. Kerja mereka sangat cepat, bahkan sebelum orang lain menyadarinya.
“Baguslah jika begitu. Kita akan berangkat sesegera mungkin untuk menghancurkan Raja Angkara dan si p*l*c*r yang dilindunginya,” tegas Nona Bubalis.
__ADS_1
“Kami sangat berterimakasih atas bantuan kalian, Bangsa Hayawan si bangsa yang paling setia,” kata Pangeran dengan gembira terukir di atas wajah paruh bayanya.