
...~ ◊ ~...
Setelah kemenangan Devisi III dan Devisi VI, kini Udhata sang Pambuka Gapura beserta sisa pasukannya ditangkap untuk menjadi tawanan perang.
Pasukan Devisi I yang dipimpin oleh Bubalis si Kerbau bersama dengan Pangeran I telah bergabung dengan Devisi III dan Devisi IV untuk melewati perbatasan utara wilayah Raja Serakah dan bersiap menuju ibu kota kerajaan. Sedangkan pasukan Devisi IV dan Devisi V juga telah berangkat menuju ibu kota melalui jalur timur.
Sejauh ini ‘Taktik Serangan 3 Arah’ berjalan dengan lancar. Pasukan gabungan Pangeran I dan Prajurit Bangsa Hayawan pun siap untuk melakukan serangan terakhir ke pusat kerajaan.
Namun sebelum berangkat ke ibu kota, mereka harus memastikan situasi Devisi II dan Devisi VII yang bertugas mengamankan jalur barat. Jika jalur barat tak juga diamankan, maka pengepungan ibu kota tak akan bisa dilakukan.
Tetapi telah beberapa hari tak kunjung ada laporan dari Devisi II ataupun Devisi VII. Pasukan yang harusnya ada di daerah gurun barat itu, tak bisa dihubungi sama sekali.
Dimanakah mereka saat ini? Bagaimanakah kondisi pertempuran di sana? Apakah mereka berhasil mengalahkan pasukan bantuan dari ibu kota?
Tak ada jawaban sama sekali. Tak satupun dari para Canis dari Devisi lain yang berhasil mengirim telepati kepada rekan mereka yang ada di gurun barat.
“Bagaimana?” tanya Arctos cemas menunggu kabar dari kedua sahabatnya yang ada jauh di seberang barat.
Wajah Beruang itu kian muram saat mendapati gelengan kepala dari seorang Serigala yang ditanyanya. Itu menandakan jika hingga saat ini pun pasukan yang ada di barat tak juga dapat dihubungi.
“Tenanglah, Arctos. Teman-tamanmu pasti akan baik-baik saja. Komandan Dirus si Serigala ada bersama mereka,” kata Bovin si Bison menenangkan si Beruang muda.
“Tapi jika kita tak kunjung mendapat kabar dari mereka, pengepungan ibu kota tak akan bisa terlaksana,” gumam Bubalis si Kerbau yang kini telah bergabung dengan mereka bersama dengan pasukannya, Devisi I dan sang Panglima Utama, Pangeran I.
“Sebaiknya kita mengirim tim pencari untuk memastikan kondisi mereka yang ada di barat,” kata Pangeran I.
“Biarkan aku ikut dalam tim itu, Tuan Pangeran. Aku tak akan bisa tenang disini jika aku tak bisa mengetahui kondisi kedua sahabatku,” kata Arctos masih dengan raut cemasnya.
“Baiklah. Berangkatlah ke barat dengan satu Batalyon kecil. Pastikan kalian melewati jalur luar perbatasan wilayah Raja Serakah, karena kita belum memastikan pengamanan jalur barat,” jawab sang Pangeran.
“Sebaiknya kau segera bergegas. Kita tak tahu apa yang terjadi di pertempuran bagian barat,” kata Bovin pada Arctos. “Kemarilah, aku akan menyiapkan Batalyon yang akan menemanimu kesana.”
__ADS_1
Dengan begitu Arctos bersama satu Batalyon kecil berangkat menuju gurun barat untuk memastikan kondisi Devisi II dan Devisi VII. Sedangkan pasukan lain (Devisi I, Devisi III, dan Devisi VI) berangkat melanjutkan perjalanan menuju pusat kerajaan untuk bersiap melakukan pengepungan ibu kota.
...~ ◊ ~...
Setelah beberapa hari perjalanan, kini Arctos bersama pasukan Batalyonnya telah sampai di tebing perbatasan yang seharusnya menjadi tempat Devisi VII berada.
Namun apa yang mereka lihat bukanlah hutan lebat di atas tebing curam yang tinggi, melainkan kawah besar yang menganga di tengah padang gurun yang luas.
Gurun yang kini mereka lihat pun tak seperti apa yang mereka bayangkan. Bukan gurun batu ataupun gurun pasir yang gersang, melainkan padang gurun yang diselimuti triliunan butiran perak yang gemerlapan bagai padang salju yang membentang.
“A-Apa yang terjadi di sini?” gumam Arctos kebingungan. Ia lantas mengambil segenggam butiran-butiran perak bercahaya itu ke dalam telapak tangannya.
Halus, tak seperti salju. Ringan, tak seperti pasir. Dan yang paling aneh, butiran-butiran ini begitu berkilauan. Bagai serbuk emas putih yang gemerlapan.
“Bagaimana, Tuan Serigala? Apakah ada yang bisa dihubungi?” tanya Arctos pada salah seorang Serigala berbulu hitam yang tengah mencoba mengirim telepati.
“Tak ada satupun,” jawab Serigala Hitam itu. “Aku juga sama sekali tak merasakan adanya tanda-tanda kehidupan disini.”
“Tapi ini jelas-jelas medan bekas pertempuran,” gumam Arctos. “Senjata? Sihir? Atau hal macam apa yang begitu dahsyatnya hingga dapat menghancurkan hutan dan tebing hingga menciptakan kawah sebesar ini?”
“Ini perak, bukan putih. Dan ini jelas-jelas bukan pasir,” kata si Serigala Hitam menaggapi.
“Lantas apa? Salju?” tanya si Sapi.
“Entahlah. Aku pun tak pernah melihat benda aneh seperti ini,” jawab si Serigala.
“Bukan pasir, juga bukan salju. Ringan dan sangat halus. Perak dan berkilauan... Perak? Putri Perak? Tigris!” gumam Arctos lantas tiba-tiba berteriak keras bagai muncul lampu terang di atas kepala berbulunya.
“Tuan Serigala, tolong sambungkan telepati dengan Devisi utama, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada Nona Bubalis!”
“Baiklah!” jawab Serigala Hitam itu lantas memejamkan matanya, mencoba mengirim telepati jarak jauh.
__ADS_1
“Tersambung! Apa yang ingin kau katakan pada Komandan Bubalis?” tanya si Serigala pada Arctos.
“Nona Bubalis, apa yang kau ketahui tentang ‘Putri Perak’?”
“Tanggapan: Putra dan Putri Perak adalah sebutan untuk Bangsa Hayawan yang memiliki kekuatan magis perak peninggalan Akbar sang Kaisar Perak. Memangnya kenapa?”
“Seberapa kuat kekuatan ‘Perak’ itu?”
“Tanggapan: Sangat kuat. Apa kau tahu kisah ‘Peristiwa Kera Raksasa’ yang menghancurkan Semenanjung Timur dan Barat hingga menciptakan Teluk Kera? Sang Kera dalam cerita memiliki kekuatan ‘Perak’ itu.”
“Jadi benar apa yang dikatakan Nona Ailur jika Tigris adalah sang Putri Perak,” gumam Arctos dengan raut yang rumit.
“Tigris? Bukankah itu nama teman Harimau yang kau cari?” tanya si Sapi.
“Ya. Dia Harimau berbulu putih keperakan,” jawab Arctos.
“Berarti si gadis Harimau Perak itulah yang menyebabkan ini semua terjadi? Tak heran jika kehancuran sebesar ini terjadi dengan kekuatan ‘Perak’ itu.” sahut si Serigala Hitam sembari memandangi kawah besar di hadapannya.
“Mungkin saja. Tapi dimana dia sekarang, juga rekan-rekan se-Devisinya atau orang-orang dari Devisi VII? Disini jelas nampak bekas-bekas pertempuran besar. Tapi dimana mereka semua, juga musuh-musuh mereka?”
“Semuanya bagai lenyap seketika,” sahut si Sapi.
Semua orang terdiam memandangi hamparan kilauan perak yang indah di hadapan mereka. Seakan terpana dengan kecemerlangan cahaya terang yang menyilaukan mata.
“Aku telah melaporkan apa yang kita temukan disini kepada Devisi utama melalui telepati,” Kata si Serigala Hitam memecah lamunan semua orang.
“Lalu apa tanggapan Komandan? Apa yang harus kita lakukan berikutnya?” tanya si Sapi kepadanya.
“Melanjutkan pencarian,” jawab si Serigala Hitam. “Kita tak benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini. Tapi kita harus tetap mencoba mencari keberadaan rekan-rekan kita.”
“Lalu apakah rencana pengepungan ibu kota akan dilaksanakan?” tanya Arctos. “Dengan hilangnya pasukan Devisi II dan Devisi VII, jalur barat sepertinya tak berhasil diamankan. Itu akan menambah risiko pengepungan.”
__ADS_1
“Mereka akan tetap melakukan pengepungan ibu kota dengan mengatur kembali rencana dan strategi barikade pengepungan,” jelas si Serigala.
“Kalau begitu tugas kita hanya harus fokus pada misi pencarian kedua Devisi yang menghilang.”