Tahta Akhir Dunia - Kisah I

Tahta Akhir Dunia - Kisah I
Perjalanan Tigris: Tiga Mahardika


__ADS_3

...~ ◊ ~...


Aku (Panthera Tigris) bersama Pasukan Perak Prajurit Hayawan lainnya tengah berjalan menyisiri pantai di sepanjang Teluk Kera Timur. Di sepanjang garis pantai, aku merasakan energi besar dari Sihir Teleportasi yang mengelilingi Hutan Rintihan Buana yang ada di sisi lain bibir pantai.


Hutan dengan pepohonan raksasa yang berkabut mengingatkanku pada kenangan masa lalu semasa aku hidup bahagia di dalamnya, tanpa mengetahui bahwa tengah terjadi kekacauan dan peperangan di dunia seberang hutan.


Telah beberapa hari berlalu sejak berlabuhnya kapal kami di daratan ini, namun kami tak kunjung menemukan satu celah kecil sebagai jalan untuk kembali ke kampung halaman kami.


Karena tak kunjung mendapatkan petunjuk apapun, kami memutuskan untuk menyudahi misi observasi ini dan akan kembali berlayar saat fajar esok hari. Seperti yang sudah direncanakan, tujuan kami selanjutnya adalah berlayar menyusul perginya Armada III dimana Arctos, Bovin, dan Nona Bubalis ada disana.


Dalam malam yang dingin dan sunyi, dimana angin bertiup sepi membawa sang ombak menari-nari. Rembulan nampak berpendar menerangi, dengan gemerlap bintang-gemintang yang mengiringi. Aku tengah terduduk di atas batu karang yang tinggi, untuk kembali mencoba melakukan meditasi.


Saat kekuatan Perak yang ada dalam diriku bangkit 5 tahun yang lalu, kekuatan itu terlalu besar untuk tubuh kecilku. Karena itu, sang Kaisar Akbar mengambil dan melepaskan sebagian energi Perak itu dari dalam tubuhku, agar aku bisa bertahan dalam energi dahsyat itu.


Namun meskipun jumlah energi Perak sudah disesuaikan dengan kapasitas tubuhku, energi itu akan terus beregenerasi sepanjang waktu. Karena itulah, Kaisar mengajariku bagaimana cara mengendalikan regenerasi energi Perak itu agar tidak kembali membebani tubuhku. Caranya yaitu dengan bermeditasi untuk menyeimbangkan tubuh dan pikiranku agar dapat menyetabilkan energi Perak yang beregenerasi.


Sang Kaisar mengatakan bahwa kekuatan Perak ini memiliki 3 unsur utama: yaitu Unsur Pereka Cipta, Unsur Pemelihara, dan Unsur Pelebur. Untuk bisa mengendalikan kekuatan Perak ini sepenuhnya, aku harus bisa menyeimbangkan ketiga unsur itu.


Jika aku menggunakan kekuatan dari salah satu Unsur Perak tanpa kesetabilan dan penguasaan terhadap Unsur Perak yang lain, itu akan berakibat fatal pada tubuh dan juga lingkungan yang ada di sekitarku.


Seperti hanya dalam Pertempuran penyerangan Bagian Barat 5 tahun lalu, aku yang kala itu tanpa sadar telah membangkitkan kekuatan Perakku dan menggunakan Unsur Pelebur untuk menghancurkan semua musuhku.


Karena hanya dengan satu Unsur saja tanpa adanya pembatas dari unsur-unsur lainnya, maka serangan Peleburku yang terlampau banyak menebarkan energi Perak hingga menghancurkan segala yang ada di dekatku hingga mengancam sendiri nyawaku. *(Episode 19)


Agar tak terulang kembali, aku harus terus berlatih agar bisa mengendalikan kekuatan Perak yang bagai pedang bermata dua bagi diriku ini. Bermeditasi dan menyatu dengan alam adalah salah satu jawabannya.


Setelah pertama kali aku berhasil mencapai meditasi sejati, aku dapat merasakan bahwa seluruh alam di dunia ini terikat pada energi Perak ini bersama dua energi lainnya yang tak kuketahui.


Karena pada dasarnya alam juga terikat pada kekuatan ini, maka mudah bagiku untuk melakukan singkronisasi dengan alam melalui meditasi. Kekuatan perak ini sudah seperti penopang bagi alam di dunia ini. Dan itu akan meningkatkan kemampuan Unsur Pereka Cipta dan Unsur Pemelihara yang kumiliki.


Kini aku masih dalam mode penuh konsentrasi menyingkronkan diri pada alam bawah sadar dalam gejolak energi alam yang mengitari. Di tengah meditasi ini, aku merasakan bukan hanya energi Perak yang bergejolak di dalam tubuhku. Namun juga terasa dua energi kuat lainnya, energi Emas yang Mulia dan juga energi Ametis yang Jelita.


Seakan tubuh dan pikiranku hanyut dalam tiga kuasa warna yang mahardika, yang membawaku dalam sebuah ruang damai dan hampa dengan cemerlang kirana Emas nan Lembayung ditangah hamparan Perak yang Agung.

__ADS_1


Dalam panorama elok nan menenangkan, ternampak tiga sosok yang berdiri tepat dihadapan. Kilauan Tiga Warna Mahardika terpancar dari ketiga sosok yang berwibawa.


“Salam Putri Perak!” sambut sosok pertama dengan kilau Lembayung yang mengitarinya. Ia adalah seorang wanita jelita yang anggun nan memesona.


“Panthera Tigris, putri angkat Khan Panthera: Shimha si Singa Pemangsa. Kelahiranmu telah kami tunggu-tunggu,” tutur sosok kedua dengan kilau Emas yang Mulia. Ia seorang pria tampan nan rupawan serta penuh kewibawaan.


“Penguasaan meditasimu sudah sangat baik, Harimau kecil. Kau berhasil sepenuhnya menyatukan alam dengan tubuh dan pikiran,” sahut sosok terakhir yang nampak begitu familiar dengan penuh kilau Perak memendar. Ialah sang Kaisar Akbar.


“Kaisar Akbar!” seruku. “Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana tiba-tiba aku ada di sini?”


“Tenanglah, Tigris. Kami hanya mampir sebentar dalam meditasimu untuk membicarakan suatu hal kepadamu," jawab sang Kaisar.


“Sebelum itu, alangkah baiknya kita memperkenalkan diri pada Harimau cantik ini bukan?” ujar si wanita Lembayung.


“Ah, tentu saja. Tak kenal maka tak sayang. Bukankah begitu?” sahut si pria Emas.


“Baiklah, Tigris, aku akan memperkenalkan siapa sebenarnya kami bertiga. Mungkin kau belum benar-benar sepenuhnya mengenalku dari kisah dan dongeng masa lalu. Untuk itu, perkenalkanlah:


Kami adalah Tiga Penguasa yang menjadi penopang Dunia. Si pria adalah Maharaja Emas sang Penguasa Bumantara, dan si wanita lembayung adalah Maharani Ametis sang Penguasa Samudra, serta aku adalah Kaisar Perak sang Penguasa Bentala.”


Dalam meditasiku selama ini, aku telah mengetahui bahwa bukan hanya energi Perak sang Kaisar yang menaungi seluruh alam di dunia ini, melainkan juga ada dua kekuatan dan energi yang lain. Yaitu energi kilauan emas bak logam mulia dan violet lembayung bak batu Ametis.


Tak kusangka semua pemilik Tiga Warna Mahardika itu: Emas yang Mulia, Perak yang Agung, serta Ametis yang Jelita bersama dengan kekuatan penopang dunianya, kini berdiri tepat dihadapanku. Lupus dan Arctos pasti iri mendengar kisah pertemuanku dengan Ketiga Penguasa Dunia ini.


“La-Lantas A-Apa yang ingin Anda semua bicarakan kepadaku?” tanyaku tergagap sembari gemetaran dihadapan tiga sosok besar ini.


“Kami ingin membicarakan tentang pembukaan kembali Sihir Teleportasi yang menyelimuti Hutan Rintihan Buana dan Istana Perak yang ada di dalamnya,” jawab sang Maharaja.


“Pembukaan kembali? Jadi selama ini...


“Ya, itu semua ternyata adalah ulah mereka berdua. Aku sampai tak habis pikir dengan kekacauan apa yang telah mereka timbulkan karena ini semua,” gerutu Kaisar Akbar.


“Hey, Akbar! Kau seharusnya berterimakasih pada kami, karena kami berdua sudah dengan susah payah berusaha mengisi kekosongan posisimu selama kepergian dirimu dalam 2000 tahun terakhir,” tukas sang Maharani menanggapi.

__ADS_1


“Benar sekali! Jika kami tidak melakukan itu semua, pasti akan terjadi kekacauan yang lebih besar,” sahut Maharaja. “Lagi pula itu adalah wilayah kekuasaan dan tanggung jawabmu. Kau harus berterimakasih karena kami mau menolong dan mengorbankan energi berharga kami untuk Bangsa kesayanganmu.”


“Baiklah~ Baiklah~ Aku sangat berterimakasih kepada kalian berdua, teman-teman lama,” kata Kaisar Akbar pasrah dengan menempelkan kedua telapak tangannya di depan muka menghadap ke arah kedua orang lainnya.


A-Aku sungguh tak mengerti bagaimana menanggapi perkataan dan kelakuan ketiga Penguasa di hadapanku ini. Sikap mereka nampak terlalu ‘biasa saja’ di balik segala kewibawaan mereka.


“Memangnya apa tujuan kalian memasang Sihir Teleportasi itu?” tanyaku.


“Tentu saja tujuan utamanya adalah menghindarkan wilayah Hutan Rintihan Buana beserta segala isinya dari Sihir Perbudakan yang dilakukan oleh si Ratu Santika dengan bantuan Roh Jahat Niskala,” jawab sang Maharaja. “Meskipun Sihir Perbudakan kini telah dihapuskan, namun masih ada para Roh Jahat yang menjadi ancaman. Karena itu kami belum bisa membukanya.”


“Baiklah. Kita sudah membuang terlalu banyak waktu. Kita lanjutkan saja apa yang menjadi tujuan kami menghubungimu kali ini, Tigris,” seru Kaisar Akbar.


“Tujuan kami adalah ingin meminta bantuanmu untuk menyampaikan Berita penting terkait keadaan terkini dunia di seberang hutan kepada para Khan dan Bangsa Hayawan yang masih ada di dalam hutan,” tambah sang Maharani.


“Tapi bagaimana aku bisa melakukannya jika Sihir Teleportasi masih menyelimuti seluruh hutan?”


“Kami akan memberikan kekuatan kami berdua kepadamu untuk sementara. Kekuatan itu dapat kau gunakan untuk membuka jalanmu menuju Hutan Rintihan Buana,” jawab Maharaja.


“Baiklah jikalau begitu. Aku akan melakukannya dengan senang hati!” seruku gembira. Akhirnya aku bisa kembali ke kampung halaman setelah sekian lama. Dan aku tak sabar untuk merasakan kakuatan Emas Maharaja dan kekuatan Ametis Maharani. Kuharap kekuatan pemberian itu tak menimbulkan efek samping pada tubuhku.


“Waktumu tidak banyak, karena kini para Roh Jahat dan pasukan Manusia sesatnya telah bergerak untuk menyerang Pulau Songar yang menjadi satu-satunya wilayah aman bagi kalian,” kata sang Kaisar Akbar.


“Beritakan semua kejadian yang kau alami di dunia luar hutan ini kepada para Khan dan minta mereka untuk mengobarkan perang dengan membantu melawan para Roh Jahat dan pasukannya dari belakang sebelum mereka bertolak dari Dermaga Utara wilayah Raja Malas,” tutur sang Maharaja.


“Maaf kami tak bisa berbincang lebih lama lagi denganmu, Harimau cantik. Kini saatnya dirimu mengemban tugas baru,” ujar sang Maharani. “Bergegaslah, karena kekuatan yang kami berikan padamu harus segera kau gunakan dan kau keluarkan dari dalam tubuhmu. Jika tidak, maka tubuhmu akan hancur karena tak kuasa menahan Tiga Kekuatan Mahardika sekaligus.”


Setelah kata terakhir itu, bulu-buluku berpendar Perak, Emas, dan Ametis bercampuran. Hamparan indah beserta ketiga sosok yang sebelumnya ada dihadapanku kini telah menghilang dan lenyap menjadi butiran-butiran berkilauan.


Seketika aku pun terbangun dari meditasiku dengan masih nampak cahaya berpendar dari bulu-buluku. Menyadari itu, aku lantas bergegas berlari untuk melintasi batas Hutan Rintihan Buana di sisi lain bibir pantai.


Berlari kencang melewati hampara pasir pantai yang membentang. Kemudian disambut barisan pepohonan lebat yang menunjukkan bahwa akhirnya aku berhasil memasuki batas Hutan Rintihan Buana.


Setelah itu cahaya di bulu-buluku pun perlahan meredup, meninggalkan hanya cahaya perak yang menerangi hutan lebat yang gelap.

__ADS_1


Dengan ini, akhirnya aku bisa kembali ke kampung halaman setelah sekian lama pergi meninggalkannya. Aku pun kembali bergegas mendaki puncak gunung, dimana Desa Hayawan dan Istana Perak berada diujung.


__ADS_2