Tahta Akhir Dunia - Kisah I

Tahta Akhir Dunia - Kisah I
Pertempuran: Bagian Utara


__ADS_3

...~ ◊ ~...


Kemenangan Basita sang Murwa Kuncara dalam duel satu lawan satu melawan Wirasana sang Hamung Tuwuh menjadi tanda keberhasilan Devisi IV dalam mengamankan jalur timur. Kabar kemenangan itu pun telah terdengar oleh Devisi utama yang tengah ada di perbatasan utara.


Setelah mendengar kabar itu, Devisi utama pasukan gabungan dari Pangeran I dan Prajurit Bangsa Hayawan: pasukan Devisi III yang dipimpin oleh Bovin si Bison dan pasukan Artileri Devisi VI dibawah pimpinan Danendra sang Mukti Wibawa, kini bergerak menuju ke selatan.


Tugas kedua Devisi ini adalah mendobrak pertahanan perbatasan utara wilayah Raja Serakah untuk membuka jalan bagi Devisi I untuk bersama-sama membobol ibu kota dan mengalahkan sang Ratu kenistaan.


Namun penyerangan ini tak semudah yang diperkirakan. Pertahanan perbatasan telah diperkuat dengan datangnya pasukan bantuan dari ibu kota. Yaitu 10.000 Artileri berat, 8000 Infanteri, 5000 Kavaleri, dan 2000 ekor gajah yang ada dibawah komando Udhata sang Pambuka Gapura.


Devisi III yang beranggotakan 3000 personil prajurit Atriodac dan Ursidae serta 7000 pasukan Artileri Devisi VI akan menjadi lawan Udhata dan pasukannya. Ini akan menjadi pertempuran adu kekuatan dobrakan dan gempuran dari kedua belah pihak.


Kaum Artiodac dan Ursidae yang terkenal akan kekuatannya yang luar biasa, ditambah Artileri dari Devisi VI akan menjadi dobrakan utama dalam melawan Artileri dan gajah-gajah lawan.


Di malam yang gelap dan sepi, terdengar benturan keras yang memecah sunyi. Genderang perang mulai berbunyi. Pertempuran besar pun diawali.


Batu-batu besar beterbangan di langit malam, untuk saling menggempur pasukan lawan. Tombak dan anak panah diluncurkan, untuk menghadang pasukan lawan yang berdatangan.


Para Beruang berlari menerjang, menggurat cakar besar pada tubuh musuh yang datang menyerang. Banteng-banteng pun mulai menyeruduk, menusuk perut musuh dengan tanduk.


Kuda-kuda lawan mulai ketakutan lantas kocar-kacir berantakan. Namun ribuan gajah datang menghadang, hempaskan tubuh para prajurit Hayawan. Hancurkan peralatan Artileri kawan, barisan pun mulai berantakan.


Bovin si Bison memerintahkan kaum Ursidae untuk menghadang dan menahan gerakan para gajah. Setelah pergerakannya berhasil ditahan, kaum Artiodac diperintahkan untuk membelah perut gajah-gajah itu dengan kapak besar mereka dari bawah.


Setelah mendengarnya, Arctos pun melaksanakan perintah itu dengan menahan belalai seekor gajah besar dengan tubuhnya. Tubuhnya sedikit terdorng kebelakang dan menggurat tanah dengan kedua kakinya, namun Bovin membantunya dengan merobek perut gajah itu.


Gajah dihadapan Artos pun jatuh tersungkur dengan mengeluarkan seisi perutnya bersama kucuran darah yang begitu deras.


Pasukan kaum Ursidae dan Artiodac lain pun juga melakukan hal serupa untuk menumbangkan pasukan gajah itu.


Namun jumlah mereka tak sepadan dengan kekuatan dan jumlah pasukan bergajah itu. Alat-alat Artileri Devisi VI pun satu per satu mulai dihancurkan oleh para gajah. Ditambah serangan terus menerus dari Artileri lawan yang begitu masiv membuat mereka kewalahan.


Danendra selaku komandan pasukan Artileri Devisi VI mengeluarkan sebuah sihir untuk memperkuat serangan Artileri pasukannya. Peluncur tombak pun disiapkan. Berbaris rapi siap menghadang gajah-gajah yang berdatangan.


Tombak-tombak magis mulai diluncurkan. Bagai tiada henti-hentinya menembak gajah-gajah lawan dengan tombak cahaya berkilauan. Satu per satu gajah-gajah lawan pun mulai berjatuhan.


Udhata yang melihat pasukan gajahnya dikalahkan tak bisa tinggal diam. Kini ia membalas dengan meluncurkan batu-batu api besar untuk membakar Artileri lawan. Dengan jumlah perlengkapan pelontar yang luar biasa, langit malam pun dipenuhi bola-bola api berterbangan bagai bintang bertaburan.


Batu-batu itu pun jatuh menghantam pasukan Bovin dan peralatan Artileri Danendra. Seluruh pasukan pun porak poranda. Kobaran api membara di sepanjang medan laga. Jeritan kesakitan terdengar dari orang-orang yang hangus terbakar dan terhantam batu-batu besar.


Bovin dan Arctos yang tengah ada di garis depan pun berusah menghindar dan bertahan. Pasukan pun diperintahkan untuk terus maju kedepan, mendekati barisan musuh yang ada dihadapan. Dengan begitu mereka tak akan terhantam batu-batu yang musuh lemparkan.


Pasukan Prajurit Hayawan telah sampai di barisan musuh, lantas bergegas menghancurkan pelontar-pelontar api itu. Meskipun banyak hadangan, namun dengan kekuatan Bangsa Hayawan yang melebihi Manusia, mereka masih mampu bertahan.


Artileri lawan pun satu per satu mulai dihancurkan. Namun Udhata sang komandan pasukan musuh datang bersama pasukan Infanterinya tuk mengadang para Prajurit Hayawan.


Mereka tidaklah seperti Manusia biasa. Mereka semua bertubuh besar dan kekar. Terutama sang pemimpin pasukan, yang juga salah seorang dari tiga Kesatria yang mengabdi pada Raja Angkara, Udhata sang Pambuka Gapura.

__ADS_1


Bentuk tubuhnya sangat cocok dengan gelarnya. Begitu besar dan kuat dengan gada besar ditangannya. Seakan ia benar-benar bisa mendobrak dan membuka gapura dengan tubuh raksasanya.


“Dimana Danendra?! Akan kuhancurkan ia dan sihir liciknya!”


Teriak Udhata sembari terus maju melangkah setelah menghempaskan para Prajurit Hayawan yang mencoba menghadang. Ia menghancurkan tubuh Prajurit Hayawan hanya dengan sekali gada diayunkan. Namun kini hantaman gadanya tertahan oleh kapak besar Bovin yang kini berdiri menghadang.


“Hei, Bison! Jangan menghalangi jalanku!” teriak Udhata.


“Akulah lawanmu, Tuan Raksasa! Tak akan kubiarkan kau menghancurkan rekan-rekanku lebih dari ini!” tukas Bovin sembari mengacungkan kapak besarnya.


“Huh! Baiklah jika kau memang ingin cari mati!”


Udhata kembali menghantamkan gada besarnya. Namun Bovin dapat menunduk menghindarinya, lantas ia membalas dengan mengayunkan kapak ke kaki Udhata.


Kapak itu berhasil mendarat di kaki kekar Udhata. Namun tak nampak adanya darah ataupun luka disana. Bahkan lecet sedikitpun tak ada. Bovin yang tercengang melihatnya tertendang oleh Udhata hingga terhempas kebelakang.


“Ho Ho Ho Ho... Kau tak akan bisa melukaiku, makhluk bertanduk! Hanya sang Kaisar dan manusia terkuat Basita yang bisa melukaiku.”


Udhata melangkah maju, mencoba menghantam Bovin yang masih berusaha kembali memasang kuda-kuda. Namun langkah Udhata terhenti ketika Arctos tiba-tiba menghadang laju langkahnya.


“Ho... Tak kusangka ada yang bisa menghentikan langkah hantamanku,” kata Udhata dengan seringai di wajah garangnya.


“Kurasa kau sudah terlalu tua, Tuan Raksasa,” ejek Arctos yang kini tubuhnya diselimuti energi besar bercahaya.


“Sihir Danendra rupanya. Keluarlah kau, penyihir pengecut!” teriak Udhata dengan lantangnya.


“Beginilah cara penyihir bekerja. Ingatlah itu, Tuan Raksasa!” Suara Danendra terdengar di udara tanpa terlihat ada dirinya.


Udhata mengayunkan gadanya ke arah Arctos yang ada dihadapannya. Melihat itu Arctos menyilangkan kedua lengannya ke depan. Terkena hantaman gada itu Arctos terdorong kebelakang, namun masih bisa menahan serangan dasyat itu.


“Huh... Kekuatan Suku Ursidae memang tak bisa diremehkan. Tapi bagaimana dengan yang ini.”


Udhata melompat tinggi dengan menggenggam gada dengan kedua tangannya di atas kepala. Terjun mengarah ke Arctos dengan tekanan dari lompatan dan hantaman gada yang diayunkan dengan kedua tangan, membuat Arctos terbenam ke tanah ketika menahannya.


Saat Udhata hendak sekali lagi menghantam Arctos dengan gadanya, Udhata diserang oleh Bovin dengan kapak yang mengarah ke lengan kanannya.


“Bukankah sudah kubilang jika kau tak akan bisa melukai-


Udhata tiba-tiba berhenti berbicara ketika menyadari lengan kanannya yang terserang oleh Bovin meneteskan darah segar.


“Apa-apaan ini? Bagaimana bisa?” gerutu Udhata kebingungan.


“Jangan remehkan seorang penyihir, Tuan Raksasa.” Kembali terdengar lagi suara Danendra dari udara.


“Huh... Jangan senang dulu, penyihir pengecut. Luka seperti ini tak akan bisa membunuhku.”


“Itu memang benar. Tapi luka tetaplah luka.”

__ADS_1


Setelah itu Bovin terus menerus melancarkan serangan kepada Udhata. Sedikit demi sedikit, luka demi luka mulai terbuka dari tubuh Udhata.


Arctos pun tak hanya tinggal diam. Dengan sihir Danendra, cakar-cakar besi di sarung tangan besarnya memunculkan api yang membara. Arctos memukul dan mencakar tubuh Udhata dengan kekuatannya yang dibarengi sihir api itu.


Pertarungan masiv jarak dekat itu memunculkan dentuman besar disetiap serangannya. Tubuh Udhata yang dilemahkan oleh sihir Danendra terus ditekan agar seimbang dengan kedua Bangsa Hayawan yang tengah ia lawan.


Pertarungan terus berlanjut. Pukulan demi pukulan terus dilakukan. Tebasan demi tebasan terus dilancarkan. Hantaman demi hantaman terus diluncurkan. Dentingan logam terdengar di sepanjang medan pertarungan. Namun kedua kaum Hayawan mulai kelelahan.


Udhata yang memiliki kekuatan dan stamina luar biasa, masih dapat bertahan. Bovin akhirnya sampai pada batasnya, ia pun terhantam gada Udhata hingga mematahkan sebelah tanduknya.


Arctos yang juga mulai kelelahan, api di tangannya pun perlahan mulai padam. Namun ia masih bisa menahan hantaman gada dari Udhata.


“Kurasa pertarungan telah usai,” kata Danendra yang kini memunculkan sosok aslinya.


“Akhirnya kau keluar juga, dasar pengecut,” kata Udhata sembari menyeringai. “Dengan begini pertarungan akan benar-benar selesai.”


“Aku kan memang sudah bilang. Lihatlah. Pertarungan malam ini memang telah usai dengan kemenangan ada ditangan kami.”


Danendra mengatakan itu sembari menunjuk lautan api di arah selatan. Lautan api dari benteng dan pasukan Udhata yang kini telah luluh lantak terbakar api yang membara.


“Bagaimana bisa?!”


“Selama kau sibuk bertarung dengan kami, Tuan Danendra telah melakukan serangan besar dengan sihir apinya untuk memusnahkan seluruh pasukanmu,” kata Arctos disertai seringai kepuasan.


“Arwah-arwah para prajurit yang mati dalam perang ini memang sangat kuat jika digunakan untuk bahan bakar sihir,” gumam Danendra.


“Kemenangan pemimpin juga akan menjadi kemenangan seluruh pasukannya. Namun kemenangan itu tak akan berarti jika sang pemimpin tak lagi memiliki pasukan,” kata Udhata. “Baiklah, kurasa sampai disini saja pertempuran kita. Aku sudah cukup puas dengan luka yang kudapatkan dalam pertarungan ini.”


“Dengan begini jalur perbatasan utara berhasil diamankan,” kata Bovin yang telah kembali bangkit.


“Yang tersisa hanya menunggu kabar dari Devisi II dan Devisi VII dari ujung barat gurun pasir. Kuharap Lupus dan Tigris baik baik saja di sana,” kata Arctos.


“Hah... Baiklah. Silakan lakukan apa yang kalian inginkan padaku. Yah, walaupun kalian tak akan bisa membunuhku,” gerutu Udhata.


“Ya ya... Sudahi saja omong kosongmu itu, otak otot.”


Danendra mengikat kedua tangan Udhata dengan sihir pengekang, lantas membawanya kembali kebarisan pasukan.


“Hey, Beruang muda! Siapa namamu?” tanya Udhata sebelum meninggalkan medan laga bersama Danendra.


“Ursidae Arctos. Murid Khan Ursidae: Ailur sang Ilmuan,” jawab Arctos dengan bangga.


“Kalau begitu, berkenanlah dirimu memiliki satu guru lagi. Otak saja tak akan membatumu. Kau juga perlu melatih ototmu.”


Udhata pergi setelah mengatakan itu. Arctos pun tersenyum mendengarnya. Diangkat menjadi murid dari salah satu Kesatria Piningit adalah suatu kebanggan baginya.


...~ ◊ ~...

__ADS_1


Dengan begini, pertempuran untuk membuka jalur penyerangan ibu kota pun menuai keberhasilan. Setelah medengar berita kemenangan ini, Devisi I dibawah komando Bubalis si Kerbau beserta sang Pangeran I kini mulai berangkat menuju selatan untuk bergabung dengan Devisi III dan Devisi VI.


Tujuan selanjutnya adalah pengepungan ibu kota dan serangan ke istana Raja Angkara. Namun pengepungan tak bisa dilaksanakan jika jalur barat belum diamankan. Di sisi lain Devisi II dan Devisi VII yang bertugas membuka jalur barat, hingga saat ini belum ada kabar sama sekali.


__ADS_2