Tahta Akhir Dunia - Kisah I

Tahta Akhir Dunia - Kisah I
Pangeran Pertama


__ADS_3

...~ ◊ ~...


DI tempat lain, di Istana Raja Nafsu yang kini dikuasai oleh Pangeran I, putra pertama Raja Angkara. Datanglah seorang Kesatria menghadap sang penguasa. Berlututlah ia dihadapannya lantas berkata-


“Lapor, Yang Mulia. Pangeran II dan pasukannya telah berhasil ditaklukkan. Kini Anda menguasai seluruh bagian tengah benua.”


“Lalu bagaimana nasib Pangeran II?” tanya Pangeran I yang duduk di kursi singgasananya. Lelah dan pasrah terukir di wajah kerut paruh baya-nya.


“Dengan berat hati hamba mengabarkan bahwa Yang Mulia Pangeran II telah bunuh diri setelah mengetahui pasukannya kalah dalam pertempuran,” jawab sang Kesatria sembari menundukkan kepalanya.


“Sungguh adikku yang malang. Berikan penghormatan dan penguburan terbaik untuknya,” kata Pangeran I dengan raut penuh kekecewaan dan kesedihan.


“Seandainya kita bisa menemukan jasad adikku yang lain, niscaya akan kuberikan juga tempat perisrirahatan yang layak untuknya.”


“Esok hari, kami akan membawa jenazah Pangeran II kemari untuk dilakukan upacara pemakaman,” kata si Kesatria.


“Baguslah. Setidaknya aku bisa melihat wajah salah satu adik kesayanganku untuk terakhir kalinya,” gumam si Pangeran sembari menitikan air mata.


...~ ◊ ~...


Mentari yang bersembunyi di balik gumpalan kapas hitam di angkasa, ditemani tetesan tirta yang tak terhitung jumlahnya. Sang Pangeran bersama deraian air mata mengiringi liang tempat berbaring adiknya yang tak lagi bernyawa.


Liang lahat kini perlahan terisi kembali dengan tanah basah yang kian menutupi. Batu besar terpancang di satu sisi terukir nama orang yang telah mati. Ditengah hari yang nampak sunyi, sang Pangeran begitu bersedih hati.


Sekembalinya ke singgasana yang kini ia duduki, ia pun berbicara liri dihadapan para Kesatria Piningit pemberani:


- Basita sang Murwa Kuncara


- Danendra sang Mukti Wibawa


- Bramanta Sang Lelana


- Antara Sang Sumela Atur


(Sebenarnya ada tiga Kesatria yang lain, namun akan diceritakan pada kisah-kisah yang berikutnya.)


“Kita harus akhiri semua kesedihan dan penderitaan ini. Dunia ini sudah cukup tersakiti. Jangan ada lagi kematian yang tak berarti,” kata sang Pangeran pada keempat Kesatria di hadapannya.


“Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Yang Mulia?” tanya Basita, seorang Kesatria tua beruban namun masih tampak keperkasaanya.


“Apa kita akan menyerang pasukan Raja di ujung selatan sana?” kata Antara, si gadis Kesatria yang nampak masih muda dengan semangatnya yang masih menggelora.


“Tapi pasukan kita masih lelah dan pasti akan kalah jumlah. Kita kehilangan banyak pasukan di pertempuran perbatasan melawan Pangeran II,” kata Bramanta, Kesatria berkulit gelap, bertubuh besar dan kekar.


“Kita tak akan bisa menang melawan Pangreksa (Satuan pelindung) Raja Angkara jika hanya dengan kekuatan tempur kita yang sekarang. Dan kita pun kekurangan pasokan makanan karena perang besar yang terus berkelanjutan,” kata Danendra, Kesatria pucat berkacamata yang cerdas dan berwibawa.


“Kalau begitu kita akan meminta bantuan tetangga sebelah kita,” sahut Pangeran tiba-tiba.

__ADS_1


“Apa maksud Anda, Yang Mulia?” tanya Antara.


“Apakah yang Anda maksud adalah pasukan Prajurit Bangsa Hayawan yang kini ada di wilayah Raja Malas?” kata Basita.


“Bukankah itu terlalu beresiko? Bangsa Hayawan telah membenci Manusia karena semua kekacauan yang kita timbulkan. Apalagi hingga menyeret mereka dalam konflik dan Sihir Perbudakan ini. Saya tak yakin mereka mau membantu kita,” kata Danendra.


“Tidak. Mereka adalah prajurit sejati dan sangat menghormati ramalan. Jika mereka mengetahui kebenaran dan tujuan kita, mereka pasti akan membantu mewujudkan tujuan kita yang mulia,” sanggah Bramanta.


“Untuk meyakinkan mereka, aku sendiri yang akan datang dan memintanya, jika perlu memohon pada mereka,” kata sang Pangeran dengan yakinnya.


“Jika memang itu kehendak Yang Mulia, kami berempat akan ikut serta bersama Anda.”


Melihat keyakinan di mata sang Pangeran, keempat Kesatria itu pun akhirnya ikut serta mendampinginya. Tanpa membawa pasukan, agar Bangsa Hayawan tahu kedatangan mereka bukanlah sebuah serangan.


Sang Pangeran dan keempat Kesatrianya pun berangkat ke utara menuju Rawa Desa Ayal. Dimana kedua Komandan besar Prajurit Bangsa Hayawan, Artiodac Bubalis dan Canis Dirus tengah berada di sana.


...~ ◊ ~...


Kini aku (Panthera Tigris), Lupus, Arctos, beserta Tuan Dirus dan Nona Bubalis tengah berdiskusi di balai Desa Ayal. Diskusi masih terus berlanjut meski telah beberapa hari berselang. Tuan Dirus bersikeras meminta Nona Bubalis untuk kembali ke Kota Raja Malas dan memimpin pasukan dari sana. Sedangkan Nona Bubalis tak ingin kembali memimpin pasukan.


Berulang kali perdebatan terjadi. Umpatan dan ejekan saling dilemparkan antara satu dengan yang lainnya. Namun kami merasa ada kedekatan lain disamping pertengkaran mereka. Tak heran, karena mereka sudah saling mengenal dalam waktu yang sangat lama, bahkan sedari Nona Bubalis masih tinggal di Hutan Rintihan Buana.


Namun adu mulut antara Serigala dan Kerbau itu harus terhenti karena seorang Serigala dari unit mata-mata yang dikirim ke luar perbatasan untuk mengamati pergerakan musuh datang secara tiba-tiba di balai ini.


“Apa yang terjadi?” tanya Tuan Dirus.


“Dia pasti tahu pergerakanku kemari dengan sihir laknat itu,” geram Tuan Dirus.


“Apa itu serangan? Berapa banyak jumlah mereka?” tanya Nona Bubalis sembari mencengkram golok besar ditangannya.


“Hanya 5 orang. Pangeran I datang bersama 4 Kesatria untuk bernegosiasi dengan kalian berdua.”


“Kesatria? Dia pikir bisa mengalahkanku dan Dirus bersamaan hanya dengan mengirim 4 manusia itu?! Sungguh Pangeran yang bodoh!” Nona Bubalis nampak kesal dengan berita ini seraya mengayun-ayunkan golok besar yang dibawanya.


“4 Kesatria? Apakah mereka sangat kuat?” tanyaku yang tak mengenal siapa para Kesatria itu.


“Mereka adalah penerus 7 Kesatria yang diangkat Kaisar Akbar untuk memimpin Bangsa Manusia,” jawab Tuan Dirus.


“Tu-Tujuh Kesatria dalam dongeng?!” Aku, Lupus, dan Arctos terkaget mendengar itu, sekaligus ingin bertemu dengan mereka. Tapi bukankah sekarang mereka musuh?


“Mereka hanyalah penerus. Bukan 7 Kesatria yang asli,” kata Nona Bubalis. “Baiklah. Biarkan mereka datang kemari. Jika ingin bernegosiasi, kuharap mereka punya penawaran bagus untuk meyakinkan kami."


“Baik!” kata Serigala itu lalu tiba-tiba menghilang.


Tak lama kemudian dari sisi selatan rawa nampaklah sebuah perahu yang berjalan menuju balai desa dengan 5 orang Manusia di atasnya: seorang paruh baya yang nampak berkharisma (sepertinya dialah sang Pangeran I), seorang Kesatria Tua, seorang Kesatria pucat berkacamata, seorang gadis Kesatria yang nampak masih muda, dan Kesatria berkulit gelap.


Bangsa Hayawan yang melihat kedatangan kelima manusia itu pun berenang mengelilingi perahu mereka dengan penuh geraman yang mengancam. Wajar saja, karena yang datang adalah salah satu pemimpin musuh yang begitu kami benci dan perlu kami waspadai.

__ADS_1


Setelah sampai di balai desa ini, kelima manusia itu turun dari perahu dan memasuki bangunan terapung ini.


“Selamat datang, Yang Mulia Pangeran I. Semoga kau tidak terganggu dengan rawa kotor kami ini,” kata Nona Bubalis dengan nada mengusik.


“Kenapa kau datang kemari, Manusia?” tanya Tuan Dirus sembari menggeram mengerikan.


“Kami datang kemari untuk berneg-


“Biarkan tuanmu bicara sendiri, Bocah!” tegas Nona Bubalis memotong kata dari si gadis Kesatria.


Mendengar itu, seorang pria paruh baya berjalan maju mendekat lantas berkata dengan sopannya-


“Aku Pangeran I dari Kerajaan Angkara. Datang bersama 4 Kesatria untuk meminta bantuan kalian, Prajurit Bangsa Hayawan sang Penjaga Hutan Rintihan Buana dan ramalan Kaisar Akbar,” kata Pangeran itu menundukkan kepalanya dan diikuti 4 orang lainnya.


“Kupikir bangsawan Manusia itu punya harga diri dan kehormatan yang tinggi,” kata Tuan Dirus melihat sang Pangeran yang rela merendahkan dirinya dihadapan kami.


“Tak sepantasnya kami berangkuh diri didepan orang yang kami mohon pertolongannya,” jawab si Pangeran sembari masih menundukkan kepalanya.


“Lantas pertolongan apa yang kau inginkan, anak Manusia?” tanya Nona Bubalis.


“Kami ingin mengakhiri perang ini dan semua penderitaan yang diakibatkannya. Membebaskan Raja Serakah untuk mengembalikan kebebasan serta kebahagiaan di atas tanah agung ini.”


“Dan setelah itu kau akan merebut kekuasaannya lalu membawa kembali ketidakadilan dan kekacauan. Begitulah siklus kenistaan Bangsa Manusia,” ejek Nona Bubalis. “Dan apa kau pikir kami akan setuju dengan permintaan bodohmu itu?”


“Tunggu dulu,” kata Arctos menyela dan semua orang dengan cepat mengarahkan pandangan kepadanya. “Ma-Maaf jika aku lancang menyela pembicaraan kalian. Tapi Anda tadi berkata “membebaskan Raja Serakah”, tapi apa maksudnya itu? Membebaskannya dari apa?”


“Dari pada membebaskannya dari ‘apa’, lebih tepat jika membebaskannya dari ‘siapa’,” jawab Pangeran.


“Apa maksudmu?” tanya Tuan Dirus.


“Raja Serakah bukanlah sosok yang membahayakan atau menyebabkan kehancuran dunia ini. Beliau hanyalah bidak dan boneka orang lain. Bahkan beliau pun tak pantas jika disebut Raja Serakah. Beliau hanya mewarisi nama kerajaan dan perang antar Raja Bengis dari wangsa pendahulunya. Dan bukan beliaulah yang memulai ataupun mengakhirinya. Begitupun dengan perang yang terajadi saat ini.”


“Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada konspirasi besar di balik semua kekacauan ini?” tanyaku dengan penasaran.


“Untuk itu, izinkanlah aku menceritakan kebenaran dibalik mala petaka yang kini tengah terjadi diseluruh Benua Agung ini,” kata si Pangeran.


Aku, Lupus, dan Arctos sangat antusias untuk mendengarkan kisah itu. Kami pun menatap Nona Bubalis dan Tuan Dirus dengan tatapan memelas agar mengizinkan Pangeran menceritakan kisah itu.


“Haahh...” desah Nona Bubalis yang menyadari keinginan kami bertiga untuk mendengar kisah itu. “Baiklah. Ceritakan kebenaran itu pada kami. Jika kau hanya mengada-ada kisah itu, aku akan memenggal kepalamu dengan golok ini sebelum kau selesai dengan dongenganmu itu.”


Nona Bubalis mengancam dengan pengacungkan golok besarnya di depan wajah Pangeran. Keempat Kesatria yang tadi ada di belakang pangeran, dengan kecepatan luar biasa tiba-tiba sudah menangkis golok itu dengan pedang mereka. Golok besar itu pun terpelanting jauh hingga tercebur ke dalam rawa.


“Tenanglah kalian,” kata Pangeran pada keempat kesatria yang kini ada di depannya. “Aku bersumpah atas nama sang Kaisar bahwa apa yang akan kuceritakan adalah sebuah kebenaran, dan aku pun akan memenggal kepalaku sendiri jika diriku berdusta.”


“Kita lihat saja dulu apakah kisahmu dapat kami percaya. Dan sebaiknya kita duduk untuk mendengarkannya,” kata Tuan Dirus.


Aku sangat bersemangat untuk mendengar kisah ini. Sebuah kebenaran yang selama ini kami cari. Dan semoga apa yang akan kami dengar ini bisa kami sampaikan lagi saat kembali ke kampung halaman nanti.

__ADS_1


__ADS_2