Tahta Akhir Dunia - Kisah I

Tahta Akhir Dunia - Kisah I
Dongeng Masa Lalu: Di Balik Kekacauan (2.1)


__ADS_3

...~ ◊ ~...


DI sebuah desa kecil di pesisir selatan wilayah Raja Amarah, hiduplah seorang gadis muda bernama Santika. Ia hidup bersama ibunya dan orang lain di desa kecilnya yang ramah dan bahagia. Sebuah desa sekumpulan nelayan yang sederhana, namun mereka hidup damai dan sejahtera.


Meskipun saat itu seluruh benua masih dalam kondisi perang antara 7 Raja Bengis, desa kecil kami yang ada di tepi pesisir tak pernah mengalami dampak perang yang miris.


Santika kecil memiliki tiga orang sahabat yang sangat berharga. Ketiga sahabatnya itu adalah aku (Udhata), Sodha, dan Wirasana. Kami berempat berteman dekat dan selalu bersama. Santika yang tidak sepenuhnya Bangsa Manusia, sama sekali tak mendapat perlakuan yang berbeda. Seluruh warga desa dan kami semua menyayanginya.


Suatu ketika, desa kami didatangi oleh para tentara dari ibu kota Kerajaan Amarah. Tentara-tentara itu datang atas perintah sang Raja untuk menjemput ketiga sahabat Santika untuk dibawa ke ibu kota. Mereka berkata bahwa kami yang terpilih akan dilatih untuk menjadi kandidat calon Kesatria.


Aku, Sodha, dan Wirasana merasa sangat gembira mendengarnya. Orang tua kami pun berpikir serupa. Hal yang tak pernah terbayangkan oleh para penduduk desa, dimana kami yang hanya anak nelayan biasa akan dijadikan sorang Kesatria yang akan melayani sang Raja.


Namun dengan kepergian kami ke ibu kota, kami harus rela berpisah dengan sahabat kami yang berharga. Santika pun mengatakan jika ia tak mengapa, dan berkata bahwa kami harus berlatih dengan sungguh-sungguh di sana agar bisa menjadi Kesatria yang dapat membanggakan seluruh desa.


Aku yang kala itu memendam perasaan spesial pada si cantik Santika, tak kuasa menahan perasaan yang membara. Malam itu, sebelum keberangkatan kami menuju ibu kota, aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku padanya.


Di tepi pantai yang sepi, di bawah gemerlap bintang yang menerangi. Santika yang sangat kukagumi tengah berdiri menanti dihadapanku yang tak kunjung bisa mengungkapkan isi hati.


Hingga akhirnya Sodha dan Wirasana datang menghampiri kami untuk mengucap salam perpisahan yang terakhir kali. Mendengar salam perpisahan dari mereka, Santika meneteskan tirta murni dari kedua kelopak matanya yang berkilap pantulkan cahaya rembulan yang menyinari.


Melihatnya yang begitu menghargai persahabatan kami, aku pun merasa ini bukan waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hati. Dan begitulah perasaan yang akhirnya harus tetap tersimpan dalam sanubari.


Keesokan harinya, kala fajar menyinari cakrawala, kami bertiga akhirnya berangkat menuju ibu kota. Bersama para tentara dari ibu kota, kami menempuh perjalanan melewati pegunungan api yang membara, meninggalkan kampung halaman untuk berjalan ke arah utara.


Pantai indah yang damai dan sejahtera kini tak nampak lagi oleh mata, tergantikan dengan kawah-kawah panas dan aliran-aliran magma. Kurasa inilah alasannya desa kami sangat terpencil dari wilayah lainnya, hal itu karena harus melewati gunung-gunung api ini jika ingin menuju ke sana.

__ADS_1


Lebih dari satu minggu telah berlalu, akhirnya kami sampai di ibu kota Kerajaan Amarah. Kami lantas dibawa ke sebuah barak perlatihan untuk para kandidat Kesatria. Disana kami bertemu anak-anak lain yang dibawa dari berbagai daerah untuk menjadi calon Kesatria. Salah satunya adalah si brengsek Danendra.


Dalam masa peperangan, Raja Amarah yang terobsesi ingin meningkatkan kekuatan, berusaha mengumpulkan anak-anak yang memiliki potensi berkah Kesatria. Hal itu dilakukan agar ketika seorang Kesatria tewas, anak-anak yang memiliki potensi berkah akan mewarisi dan menggantikan posisinya sebagai Kesatria. Dengan begitu para Kesatria yang memiliki kekuatan tertinggi Umat Manusia akan berada di pihaknya.


Disana kami dilatih dengan keras oleh seorang Kesatria yang dijuluki Manusia terkuat di dunia, Basita sang Murwa Kuncara. Ia adalah adik dari Raja Amarah yang sebelumnya. Karena itulah ia mengabdi pada kerajaan dan tanah airnya.


Setelah beberapa tahun kami menempuh perlatihan keras untuk menjadi calon Kesatria, satu persatu dari kami berhasil mendapat berkah dan menggantikan posisi para Kesatria. Banyak anak-anak lain yang lebih dulu berhasil mendapat berkah itu, namun banyak dari mereka yang tak bertahan lama karena kekuatan yang tidak cocok atau tewas dalam pertempuran.


Namun akhirnya aku, Wirasana, dan Sodha berhasil mendapat berkah Kesatria setelah anak-anak lain yang lebih dulu menjadi Kesatria tewas saat terjun dalam peperangan.


Setelah menjadi Kesatria, kami bertiga pun mendapat tugas pertama dari sang Raja. Yaitu mempertahankan wilayah kerajaan dari invasi armada Raja Serakah yang merencanakan serangan melalui jalur laut selatan.


Seketika terbesit di pikiran kami jika terjadi serangan dari laut selatan, daerah pertama kali yang terkena serangan adalah desa kampung halaman kami yang ada di pesisir selatan.


Tanpa menunggu lama, kami bertiga bergegas memimpin pasukan untuk menuju ke pesisir selatan. Melewati pegunungan api yang begitu memanaskan, memaksa para pasukan untuk terus berjalan, demi menyelamatkan kampung halaman dari musuh yang datang menyerang.


Kami mencari apakah ada yang selamat, namun tak ada satupun yang terlihat. Hanya ada mayat-mayat bergelimpangan di sembarang tempat.


Apa salah para penduduk desa? Mereka hanyalah seorang nelayan sederhana. Tak pernah membuat masalah ataupun ikut campur urusan dunia. Hanya hidup damai di desa kecil yang bahagia. Apakah pantas mendapat kekejaman yang begitu membabi buta?


Kami terus mencoba mencari di semua tempat, apakah ada yang masih bertahan dan selamat. Hingga akhirnya kami mendatangi sebuah kapal milik nelayan setempat. Kapal hangus yang kayu-kayunya masih terasa hangat.


Di dalamnya nampak seorang gadis yang tengah duduk terdiam. Bersama wajah pucatnya yang nampak berantakan, ia termenung dalam kehampaan. Wajah yang begitu berkesan dalam ingatan. Wajah yang sangat kurindukan dan tak akan pernah kulupakan. Ia lah Santika, si gadis yang masih menjadi pujaan.


Kini ia terduduk lunglai di dalam lambung kapal yang hangus terbakar. Bersama pakaian yang compang-camping ia terkapar. Kami pun bergegas menghampirinya yang nampak lemas bersandar.

__ADS_1


Kami memanggil-manggil namanya sembari memastikan kondisi tubuhnya. Tak ada luka. Nafas dan denyut nadinya pun masih ada. Seketika kami menghembuskan nafas lega. Sahabat kami yang berharga masih bertahan hidup rupanya.


Namun melihat kondisi di sekitarnya, kapal yang hangus tak tersisa dan bangkai mayat-mayat yang terbakar di sekelilingnya. Mustahil jika Santika yang juga ada di dalamnya tak ikut terbakar karenanya.


Saat itulah kami ingat bahwa ia bukanlah Manusia biasa. Ia adalah keturunan setengah Jin yang tak tahu dari mana asalnya.


Setelah itu, kami lantas membawanya ke kamp pengobatan untuk mendapat perawatan. Beberapa waktu berlalu, Santika pun membuka kedua bola matanya yang menawan. Kilau mata yang begitu kurindukan.


Setelah sepenuhnya sadar dan membuka mata, kami pun menanyakan apa yang terjadi padanya dan penduduk desa lainnya. Dan ia mengatakan bahwa tiba-tiba kemarin setelah senja, datanglah sebuah armada kapal-kapal yang membawa banyak tentara.


Setelah mendarat di pantai, mereka lantas membakar rumah-rumah warga dan menangkap para wanita. Mereka yang hanyalah para nelayan biasa, tak kuasa melawan kekuatan para tentara. Penduduk pun dibantai mereka. Dan para wanitanya diperkosa, lantas disekap dalam sebuah kapal dan dibakar di dalamnya. Santika adalah salah satu diantara mereka.


Setelah melakukan penghancuran, pemerkosaan, dan pembantaian, para tentara itu kembali ke kapal-kepal mereka dan berlayar entah kemana.


Kami yang mendengar cerita dari Santika, seketika menggeram penuh amarah dibuatnya. Kampung halaman kami diluluh lantakkan, para wanitanya diperkosa bersamaan, dan penduduknya pun dibantai habis-habisan. Keluarga dan sahabat kami habis menjadi korban.


Gadis yang begitu kucintai pun kini menangis penuh ketakutan, mengingat kejadian yang begitu memilukan.


Darah kami bergejolak, dikuasai amarah dan kebencian, begitu inginnya balas dendam. Amarah kami tertuju pada Raja Serakah dan pasukannya yang telah membumi hanguskan kampung halaman dan kembali begitu saja setelah meninggalkan segala kehancuran dan penderitaan.


Setelah menunggu dan bersiaga beberapa waktu, musuh tak kembali melakukan serangan. Karena itu, kami diperintahkan untuk kembali ke ibu kota bersama Santika.


Sekembalinya kami ke ibu kota, kami mendengar kabar bahwa guru kami, Basita sang Murwa Kuncara telah pergi dan berhianat terhadap kerajaan. Dan ia kini membelot kepada Raja Serakah dan menjadi guru salah satu pangeran muda di sana, putra pertama Raja Bawika.


Setelah melihat kekejaman Raja Serakah dan penghianatan guru kami sendiri yang beralih mendukungnya, bersama amarah dan kebencian yang masih terpendam, atas perintah Raja Amarah, kami pun merencanakan siasat balas dendam.

__ADS_1


Yaitu dengan melancarkan serangan kejutan di dalam pesta perayaan ulang tahun kedewasaan putra bungsu sang Raja Serakah Bawika.


__ADS_2