
...~ ◊ ~...
Uhuk~ Ukuk~ Uhuk~
Dengan terbatuk, Aku (Ursidae Arctos) memuntahkan linangan air asin dari dalam tenggorokanku. Bersama itu, perlahan kubuka kedua kelopak mataku. Cahaya menyilaukan seketika menyapa kedua iris mataku. Ternampak butiran-butiran pasir putih yang berhambur kala diterpa deraian ombak dari arah lautan di sebelahku.
Pantai? Daratan mana ini? Bagaimana aku bisa ada disini?
Seketika itu aku teringat tentang apa yang telah terjadi pada kapal kami serta semua kru yang ada di dalamnya. Dalam perjalanan pelayaran, kami terjebak dalam lautan ilusi yang terasa selama berhari-hari. Setelah kami menyadarinya, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita misterius yang bergema dari seluruh air dalam lautan.
Seakan dengan kuasa sang suara misterius, lautan dan langit pun bergejolak menimbulkan badai besar di tengah samudra. Dan muncullah dua sosok Naga Kembar dari dalam laut yang menghancurkan dan menenggelamkan seluruh awak kapal.
Jika tak salah, Nona Bubalis menyebut Naga-Naga itu dengan ‘Dwi Rawaja Antaboga, tunggangan sang Penguasa Samudra’.
Siapa itu? Aku tak pernah mendengar ataupun membaca kisah atau bahkan nama mereka disebutkan.
Uhuk~ Ukuk~ Uhuk~
Terdengar suara batukan dari arah lain, dan disusul batukan-batukan lain dari yang lain. Itu adalah para rekan-rekan dari kru kapal kami. Nampaknya kami terdampar bersama ke pantai ini. Nampak juga si Kapten kapal, Nona Bubalis dan Bovin juga ada di antara mereka.
“Selamat datang wahai para Pasukan Perak sang Kaisar!”
Tiba-tiba terdengar suara menyambut dari arah sisi lain bibir pantai. Setelah kulihat arah sumber suara, nampak seorang gadis tengah berdiri di sana. Itu adalah Nona Ayasya, sahabat yang datang bersama Kaisar Akbar dari dunianya.
“Nona Ayasya, dimanakah tempat ini? Dan bagaimana Anda bisa ada disini?” tanyaku.
“Tempat ini adalah Daratan Suci Tiga Penguasa Dunia,” jawab Nona Ayasya.
“Daratan Suci Tiga Penguaa -
Kataku terhenti ketika hendak bertanya untuk meminta penjelasan dari Nona Ayasya. Karena setelah kulihat lebih dalam ke seluruh daratan ini, aku seakan tak percaya tentang apa yang ditangkap oleh kedua bola mataku ini.
Ini adalah tempat yang begitu indah dengan daun-daun lembayung, sulur-sulur kayu emas yang mengantung, diatas hamparan pasir perak cemerlang yang bagai tanpa ujung.
Kilauan cahaya menyenangkan nampak dari setiap sudut pandang. Pendaran Emas, Perak, dan Ungu bertebaran di seluruh daratan. Seakan buat kami yang melihatnya tak ingin beranjak pulang. Daratan indah bagai dalam kisah dongeng yang diimpi-impikan.
“Tak kusangka tempat ini benar-benar ada,” gumam Nona Bubalis.
“Apa maksud Anda, Komandan,” sahut Bovin mendengar gumaman Nona Bubalis.
__ADS_1
“Ah, benar juga. Kisah itu sudah tak lagi diceritakan setelah diambilnya Pusaka Suku Canis dari desa. Tak heran jika kalian para anak-anak muda tak mengetahuinya,” tutur Nona Bubalis.
“A-Aku tak mengerti apa yang Anda maksudkan. Ma-Maksudku, tempat menakjubkan apa ini?” tanyaku tergagap karena masih terpaku keindahan yang tersaji di depan mataku ini.
“Kemarilah, kalian semua. Lebih baik kita berbincang sembari berjalan menuju ke dalam. Ada seseorang yang telah menunggu kalian,” ujar Nona Ayasya seraya mempersilakan kami memasuki daratan penuh keindahan ini.
Kami semua lantas mengikuti langkah kakinya, melintasi sulur-sulur emas bergelantungan dari pepohonan yang begitu nampak mulia.
“Seperti yang telah kukatakan tadi, tempat ini disebut Daratan Suci Tiga Penguasa Dunia. Ketiga penguasa yang dimaksud itu adalah:
- Maharaja Emas sang Penguasa Bumantara (Langit)
- Maharani Ametis sang Penguasa Samudra (Lautan)
- Kaisar Perak sang Penguasa Bentala (Daratan)
Tempat ini tercipta dari kekuatan sang ketiga penguasa. Karena itulah tempat ini dipenuhi oleh warna-warna indah dari kekuatan mereka bertiga.
Di tempat inilah ketiga Adiraja membagi wilayah kekuasaan mereka dan mengikat sumpah persahabatan diantara ketiganya. Daratan ini juga menjadi tempat pernikahan antara Maharaja Emas dan Maharani Ametis tepat setelah pengikraran sumpah.
Dengan kekuatan Emas, Perak, dan Ametis mereka bertigalah yang akhirnya menjadi penopang Dunia yang tua ini.” jelas Nona Ayasya.
“Itu sungguh kisah yang luar biasa. Tapi bagaimana Anda bisa tahu begitu detail tentang kisah-kisah terdahulu itu? Bahkan kami yang tinggal di dunia ini pun tak mengetahuinya. Bukankah Anda baru saja datang ke dunia ini tak begitu lama?” tuturku penuh tanya.
“Memangnya bagaimana hubungan Anda dengan Kaisar Akbar saat ada di dunia asal kalian?”
“Ah, I-Itu bu-bukan hubungan yang sepesial. A-Aku hanya ... Teman masa kecil? Ya, Aku teman masa kecil Akbar. Mungkin begitulah, kurasa?”
Entah kenapa Nona Ayasya begitu tergagap dan kebingungan saat menjawab pertanyaanku yang sederhana. Aku tak sepenuhnya mengerti apa maksudnya itu. Tapi kurasa masuk akal juga jika hubungan mereka yang dekat adalah karena ‘teman masa kecil’? Apakah itu seperti hubunganku dengan Lupus dan Tigris?
Tapi-
“Tapi kenapa kisah itu tak diceritakan lagi di dunia ini? Anda berkata bahwa itu terjadi ‘setelah diambilnya Pusaka Suku Canis dari desa’. Apa maksudnya itu?” tanyaku pada Nona Bubalis.
“Banyak hal yang telah terjadi hingga dapat mengubah nasib dan sejarah bangsa kita,” jawab Nona Bubalis. “Salah satunya adalah diambilnya Pusaka Suku Canis oleh Maharaja Emas dan Maharani Ametis setelah menghilangnya Kaisar Akbar.”
“Pusaka itu digunakan untuk menggantikan kekuatan Perak yang menjadi salah satu penopang dunia ini. Yaitu dengan menempatkan pusaka itu di Pulau Angker bersama dengan sang Putra Perak: Khan Hominid, Rewanda si Kera. Karena itulah kenapa ia dan seluruh Suku Hominid harus pergi dari desa dan tinggal di Pulau Angker untuk melindungi pusaka dan sang pengganti kekuatan perak penopang dunia,” jelas Nona Bubalis menambahkan.
“Jadi Suku Hominid bukalah ‘terusir’ dari Desa Hayawan, melainkan mereka mengemban misi mulia untuk menjaga salah satu kekuatan penopang dunia, ya,” gumamku bahagia mendengar kisah yang sangat berharga ini. Lupus dan Tigris pasti iri setelah mendengar kisahku yang datang ke Daratan Suci ini.
__ADS_1
“Dalam kisah-kisah di buku sejarah dan dongeng, Suku Hominid disebut ‘terusir’ karena untuk menjaga agar tak ada perusuh yang mencoba mengganggu tugas mereka. Karena itulah juga pulau yang mereka tinggali disebut Pulau Angker, agar tak ada orang yang berani memasukinya. Ditambah Maharaja Emas menempatkan tunggangannya, Rawaja Basuki untuk menjaga perairan di sekitar pulau itu.”
“Lantas bagaimana Anda tahu kisah itu, Nona Bubalis? Bukankah saat kisah itu terjadi, Anda juga belum lahir di dunia ini?” tanyaku.
“Aku, Dirus, dan para anak-anak Hayawan yang lain (juga termasuk para Khan yang saat ini memimpin) pernah mendengar kisah itu dari Khan Ursidae terdahulu, ia adalah guru kami di desa saat kami masih kecil,” jawab Nona Bubalis.
“Tapi kenapa 4000 pasukan yang dikirim oleh para Khan 30 tahun yang lalu mau mengikuti perintah Raja Angkara yang ingin memerangi Pulau Angker,” tanya Bovin yang menyadari kejanggalan dari kisah itu.
“4000 pasukan itu dikirim hanya untuk melunasi sumpah para Khan yang telah bersumpah atas Kerajaan Angkara. Dan mereka juga memiliki misi lain di balik itu bukan?” jawab Nona Bubalis. “Karena itulah aku tak suka pada cara para Khan yang sekarang memimpin.”
Jadi begitu, ya. 4000 pasukan yang dikirim oleh para Khan dan dipimpin oleh Tuan Dirus (yang mengetahui tentang kebenaran Pulau Angker) mau ikut serta dalam penyerangan Pulau Angker karena selain untuk membuktikan tanda ramalan yang dinistakan, mereka juga ingin memastikan kondisi Pusaka Suku Canis di pulau itu. *(Episode 5)
Dan kurasa semua kisah itu ada hubungannya dengan keinginan Tuan Dirus untuk menuju ke Pulau Angker untuk mengambil kembali Pusaka yang menjadi hak Suku Canis-nya. Mungkinkah Tuan Dirus adalah pewaris sah dari Pusaka itu? Karena Nona Bubalis juga pernah mengatakan bahwa Khan Canis yang sebenarnya adalah Tuan Dirus. Namun karena hilangnya sebelah matanya, ia gagal terpilih menjadi Khan Canis dan digantikan oleh Ayah Lupus untuk menempati posisi itu. *(Episode 10)
“Ngomong-ngomong, tadi Anda mengatakan bahwa ada seseorang yang menunggu kami. Memangnya siapa yang telah menunggu kedatangan kami di dalam sana?” tanya Bovin pada Nona Ayasya.
“Ia adalah seseorang yang sangat kalian kenal,” jawab Nona Ayasya singkat.
“Apa maksudnya itu?” tanyaku bingung. “Dan juga bagaimana Anda bisa sampai ke Daratan Suci ini?”
“Aku datang kemari bersama Kaisar Akbar. Namun ia tak ada di sini, karena ia harus pergi bersama dua Penguasa Dunia lainnya.”
“Maharaja Emas dan Maharani Ametis masih hidup hingga sekarang?!” tanyaku terkejut.
“Para Penguasa Dunia sebagai penopang dunia ini mendapat berkah hidup abadi. Karena jika mereka mati, maka akan hilang juga kekuatan penopang dunia ini,” jawab Nona Ayasya.
Benar juga. Bahkan hilangnya Kaisar Akbar saja sudah menimbulkan banyak kekacauan di dunia ini.
“Ah, kita sudah sampai.”
Mendengar itu, kami lantas memandang ke segala arah untuk mencari keberadaan dari orang yang telah menunggu kedatangan kami. Aku sangat penasaran akan hal ini.
Kedua bola mataku terus mencari, dan kini terhenti terpaku di sebuah gubuk kecil di tengah pepohonan rindang nan indah. Dan terlihatlah seorang pemuda yang tengah duduk di sana. Melihat kehadiran kami, pemuda itu pun beranjak lantas datang mendekat menghampiri barisan kami.
Siapa? Aku sama sekali tak mengenalinya? Bukankah kata Nona Ayasya orang yang menunggu kami adalah seseorang yang sangat kami kenal?
Tapi tunggu dulu, wajah itu nampak familiar bagiku. Terutama wibawa dan kharisma yang dipancarkannya. Namun yang ini terlihat agak muda?
Sesampainya di hadapan kami, Pemuda itu tersenyum lebar seraya berkata-
__ADS_1
“Lama tak jumpa, kawan-kawanku. Ah, mungkin kalian tak mengenaliku dengan wajah mudaku ini. Lebih baik aku memperkenalkan diriku kembali. Aku adalah Adinata, putra pertama Raja Bawika. Mungkin kalian biasa mengenalku dengan sebutan Pangeran I atau Panglima Utama, atau bahkan si 'Pembawa Panji Akbar' dalam ramalan.”
Hah?!! Di-Dia bukan Han-Hantu, kan?