Tahta Akhir Dunia - Kisah I

Tahta Akhir Dunia - Kisah I
Dongeng Masa Lalu: Di Balik Kekacauan (1)


__ADS_3

...~ ◊ ~...


Beliau adalah Bawika, seorang pria yang kita kenal sebagai penguasa Kerajaan Serakah di Gurun Pasir Selatan. Ia adalah seorang pria yang terpaksa mewarisi dan menyandang nama tercela dari para pendahulunya, wangsa Raja Serakah.


Ia adalah pria baik dan penuh kasih sayang. Setidaknya bagi keluarga dan orang yang dekat dengannya. Meskipun ia adalah seorang Raja yang sangat sibuk mengurus pekerjaan dan peperangan, ia tak pernah lupa pada keluargannya. Ia begitu menyayangi dan begitu perhatian pada anak-anak dan istrinya.


Namun kisah kelamnya bermula saat suatu ketika, lebih dari 26 tahun yang lalu, di masa Perang 7 Raja Bengis masih berlangsung.


Suatu hari pesta di istana dilaksanakan untuk merayakan ulang tahun kedewasaan putra bungsunya, Pangeran III. Namun dalam pesta yang bahagia dan menyenangkan itu, sebuah serangan mendadak terjadi hingga menewaskan sang Ratu, istri Raja Bawika.


Setelah berhasil menangkap beberapa orang yang melakukan penyerangan itu, diketahuilah bahwa mereka dikirim oleh Raja Amarah.


Mendengar dalang dari penyerangan yang menyebabkan istri tercintanya terbunuh, Bawika pun tak bisa tinggal diam. Dengan kesedihan dan kebencian, ia berangkat bersama pasukannya untuk membalas dendam.


Setelah itu terjadilah pertempuran besar di perbatasan. Pasukan dari Kerajaan Serakah yang dipimpin Bawika terus terdesak karena terlalu tergesa-gesa dan terbakar api balas dendam. Akhirnya pasukan yang dipimpinnya pun dipukul mundur ke arah gurun.


Namun pasukan Kerajaan Serakah yang terbiasa hidup di padang pasir sangat diuntungkan dengan medan perang itu. Gurun pasir pun menjadi benteng alami bagi mereka. Pasukan Kerajaan Amarah yang tak dapat bertahan di medan itu pun akhirnya mundur untuk mengakhiri pertempuran. Namun Bawika merasa kalah dan gagal dalam membalas dendam pada Raja Amarah.


Bawika yang masih diselimuti kesedihan akan kematian orang terkasihnya pun semakin tenggelam dalam lautan balas dendam. Ia akhirnya memerintahkan kembali pasukannya untuk menyerang punggung musuh yang masih kelelahan dan lengah saat berjalan kembali ke kerajaanya.


Namun dengan taktik itu pun Bawika tetap tak mendapatkan hasil yang diinginkannya. Pasukannya banyak mati dan terluka. Semua usahanya pun sia-sia. Balas dendam hanya menuntunnya pada mala petaka.


Dikala semua kekecewaan dan kesedihannya, datanglah sekelompok wanita penghibur ke kamp tempat pasukannya beristirahat. Untuk menghilangkan semua keluh kesah para pasukan yang merasa kecewa dengannya, wanita-wanita itu mungkin dapat berguna.


Salah seorang diantara wanita itu pun mendatangi dan merayu Bawika sembari membisikkan sihir padanya-


“Jika kau menginginkan pembalasan atas kematian istrimu yang tercinta, maka aku akan memberikannya. Bahkan kekuatan untuk membuat semua orang tunduk padamu. Jika semua orang mengikuti perintahmu, maka tak akan ada lagi yang akan melukai keluargamu. Benar bukan?”

__ADS_1


Bawika yang masih terbelenggu kesedihan dan balas dendam, mulai termakan kata-kata dan rayuan itu. Ia pun akhirnya bermalam dengan p*l*c*r itu.


Namun tiada diketahuinya, dengan berhubungan badan dengan p*l*c*r yang mendatanginya, ia telah terjerat dalam sihir si wanita. Terpaku dan terus tergila-gila dengannya, hingga menikahi dan menuruti semua permintaanya.


Wanita itu pun akhirnya menjadi Ratu di Kerajaan Serakah. Mengendalikan Bawika hingga menjadi seorang Raja yang benar-benar serakah.


Dengan bantuan sihir sang Ratu, Raja Serakah pun dengan mudah menaklukkan Raja-Raja Bengis lainnya dan menguasai seluruh benua.


Dalam Perang Penaklukan Benua itu banyak nyawa yang terbunuh. Wanita itu menggunakan arwah korban perang untuk memperkuat sihirnya. Arwah yang seharusnya pergi ke Alam Bawah pun berakhir menjadi santapan sihir sang Ratu.


Dengan kekuatannya, sang Ratu menciptakan iblis bernama Raja Angkara yang dengan Sihir Perbudakan semua orang tunduk dibawah kerajaannya. Bawika lah yang sejatinya terperdaya menjadi Raja Angkara, ia hanyalah bidak dan boneka mainannya.


Ia menggunakan dalih ramalan untuk menipu seluruh rakyat benua dengan menjadikan Raja Angkara sebagai sang 'Pembawa Panji Akbar’ dalam ramalan. Hal itu membuat Raja Angkara mendapat pengakuan dari seluruh benua dan meminta banyak pasukan dari mereka.


Tak hanya sampai disitu, wanita jahanam itu juga meracuni pikiran anak-anak Raja Bawika, Pangeran II dan Pangeran III. Merayu mereka dan menyetubuhinya untuk memperbudak mereka dengan sihir laknatnya.


Hingga suatu ketika Raja Angkara yang telah mendapat begitu banyak pasukan dari seluruh benua akan menyerang para pembangkang di Pulau Angker. Namun setelah para pasukan dari seantero benua berkumpul di ibu kota, sang Ratu memantrai seluruh makanan dan minuman yang ada di sana dengan Sihir Perbudakan.


Sihir itu pun dapat dikendalikan oleh Raja Angkara serta Pangeran II dan Pangeran III yang telah jatuh pada Sihir Pemikat sang Ratu.


Aku (Pangeran I) dan pasukanku yang saat itu tidak berada di ibu kota, selamat dari sihir perbudakan itu. Hingga suatu ketika keempat Kesatria yang ada bersamaku menyadari adanya sihir perbudakan yang dibuat oleh sang Ratu.


Untuk menghentikan penyebaran sihir itu, kami harus memaksa si Ratu untuk menghapuskannya atau membunuhnya. Namun rintangan terbesar kami adalah Raja Angkara dan adik-adikku (yang telah ada dibawah kendalinya) beserta seluruh pasukannya yang terus berusaha melindungi sang Ratu.


Untuk itu, kami pun memutuskan untuk menghadang dan menyerang pasukan Raja Angkara yang membawa si Ratu bersamanya, yang kala itu tengah dalam perjalanan menuju pelabuhan untuk menyerang Pulau Angker.


Pertempuran besar pun terjadi. Bahkan Pangeran II dan Pangeran III ikut bergabung dalam pertempuran. Namun muncul keanehan dalam pertempuran itu. Pasukan Pangeran II dan Pangeran III bukan untuk membantu Raja Angkara untuk melindungi sang Ratu, melainkan malah ingin merebut wanita itu darinya.

__ADS_1


Melihat itu, kami menyadari bahwa dengan bertempurnya keempat kubu (Raja Angkara, Pangeran I, Pangeran II, dan Pangeran III) akan menyebabkan jumlah korban jiwa yang luar biasa. Yang mana arwah mereka akan digunakan sang Ratu untuk memperkuat dirinya.


Jadi p*l*c*r laknat itu memanipulasi pikiran Raja Angkara, Pangeran II, dan Pangeran III untuk diadu domba dan berperang satu sama lainnya hingga menimbulkan banyak korban jiwa sebagai bahan bakar sihirnya.


Menyadari itu, keempat Kesatria yang bersamaku berusaha mencegahnya. Namun mereka tak cukup kuasa untuk mengalahkannya dan para bidak-bidaknya.


Setelah banyak korban jiwa dalam peperangan besar itu, kekuatan sang Ratu telah sampai pada puncaknya. Ia pun melepaskan Sihir Perbudakan bersekala besar hingga menyebar ke seluruh penjuru benua.


Namun tepat sebelum si Ratu melepaskan sihir besar itu, salah seorang Kesatria, Danendra Sang Mukti Wibawa berhasil menyalin Sihir Perbudakan sang Ratu.


Dengan dibantu energi magis ketiga Kesatria lainnya, Danendra berhasil melepaskan sihir itu hampir bersamaan dengan sang Ratu. Sihir yang dilepaskan Danendra berhasil diterima oleh sebagian orang di benua ini dengan aku (Pangeran I) sebagai pengendalinya.


Dengan begitu setidaknya tidak semua orang yang ada di benua ini menjadi budak Raja Angkara, Pangeran II, ataupun Pangeran III yang ada di bawah pengaruh sang Ratu.


Orang-orang yang dikendalikan oleh Raja Angkara, Pangeran II, dan Pangeran III terus saling bertarung satu sama lainnya.


Sedangkan orang yang ada di bawah kendaliku kuperintahkan untuk berkumpul dan berlindung di wilayah Raja Nafsu yang saat itu berhasil kami amankan. Di sana kami mulai membentuk kekuatan untuk bertahan dari serangan bidak-bidak sang Ratu sembari berusaha sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan korban jiwa (agar tak dimanfaatkan arwahnya oleh sihir sang Ratu).


Hingga 24 tahun berlalu, peperangan ini mulai menuju akhirnya. Dimana Raja Angkara berhasil memusnahkan Pangeran III dan seluruh pasukannya. Sedangkan pasukanku berhasil mengalahkan pasukan Pangeran II.


Hanya dalam waktu 24 tahun, Perang Sundal ini telah merenggut jutaan jiwa. Perang paling destruktif sepanjang sejarah dunia. Hanya 2 kubu kekuatan yang tersisa. Ditambah dengan 1 pihak lain yang harus terpaksa terseret dan terlibat di dalamnya.


Setelah penyerangan pasukan Prajurit Bangsa Hayawan 4 tahun lalu di wilayah Raja Malas yang waktu itu masih ada dalam kekuasaanku, aku menyadari bahwa kalian, para Bangsa Hayawan bisa melawan kendali Sihir Perbudakan namun masih terikat pengawasannya.


Kami sebagai Bangsa Manusia merasa bersalah telah melibatkan kalian dalam konflik dan peperangan kami. Itulah sebabnya, pasukanku tak pernah menyerang atau mencoba merebut kembali wilayah Raja Malas dari kalian sejak saat itu. Sebaliknya, kami mencoba melindungi sisi selatan kalian dari serangan pasukan kubu lainnya.


Namun kini perang sudah ada di ujung pengakhirannya. Dengan hanya tersisa Raja Angkara dan pasukannya yang menjadi perisai sang Ratu. Namun mereka terlalu kuat untuk kami kalahkan hanya dengan pasukan kecilku.

__ADS_1


Untuk itu kami memohon bantuan kalian, Prajurit Bangsa Hayawan untuk mengakhiri semua kekacauan.


__ADS_2