
...~ ◊ ~...
Dalam sebuah ruang pertemuan di istana ibu kota kerajaan, berkumpullah para pemimpin pasukan Raja Angkara menghadap tuannya yang tengah tersandar lemah di kursi tahta yang didudukinya.
Diantara mereka bergabunglah 3 Kesatria: Wirasana sang Hamung Tuwuh, Udhata sang Pambuka Gapura, dan Sodha sang Pinandita.
Mereka duduk bersanding dibelakang meja menghadap sang Raja yang tengah terduduk lesu di sisi meja lainnya. Tubuh ringkihnya tersandar lemah pada punggung kursi yang didudukinya. Kerut di raut wajahnya menandakan panjang kehidupan yang telah dilaluinya.
Disampingnya berdiri seorang wanita jelita yang nampak masih awet muda bak tak terikat oleh usia. Sembari membawa mahkota sang Raja di telapak tangannya, wanita itu mulai berbicara mewakilkan kata dari si penguasa tua-
“Perang telah sampai pada ujung penghabisannya. Perdamaian dan keadilah telah hilang sepenuhnya. Kejahatan kembali menguasai seluruh benua. Ramalan akhirnya telah berhasil terlaksana.”
“Setelah sekian lama dan banyaknya korban nyawa, ramalan akan terbukti sepenuhnya,” ujar Wirasana.
“Tak kusangka Raja akan berkorban sedemikian hingga demi mewujudkan ramalan yang tak ada kepastiannya,” sahut Udhata.
“Tapi semua ini harus dilakukan demi memanggil sang Kaisar Perak yang Agung,” ucap Sodha.
“Itu hal yang benar. Kedamaian dan keadilan sejati hanya bisa dibawa oleh Kaisar Akbar. Untuk itulah kita harus berkorban untuk mewujudkan isi ramalannya.
Setelah melalui sejarah yang begitu panjang, dunia ini telah beranjak tua. Dengan menciptakan perang besar, perdamaian dan keadilan telah benar-benar dianggap dongeng belaka dan belenggu kejahatan pun kembali meraja lela.
Sekarang akhirnya 3 dari isi ramalan sang Kaisar telah terpenuhi,” jelas si Ratu.
“Kita telah berhasil menjadikan Yang Mulia Raja Bawika sebagai Raja Angkara dan menyatukan seluruh benua. Kini waktunya Raja Angkara harus dikorbankan untuk baris ramalan selanjutnya,” tutur Wirasana.
“Semoga ini menjadi jalan yang terbaik bagi kita semua,” gumam sang Raja lirih.
“Pangeran I telah berhasil mengalahkan Pangeran II beserta pasukannya. Dan kini ia berusaha bekerja sama dengan Bangsa Hayawan si Bangsa Paling Setia,” kata Udhata. “Dengan begini, bisa diasumsikan bahwa Pangeran I adalah sang Pembawa Panji Akbar dalam ramalan. Ia akan datang untuk memerangi kenistaan di dunia. Sang pemimpin tanpa mahkota.”
“Berarti 2 baris terakhir dalam ramalan juga akan terpenuhi,” tambah Sodha. “Maka kisah penghabisan akan segera terjadi. Kita hanya tinggal menunggu sang Pangeran I memimpin pasukan gabungan dibawah panji besarnya untuk menaklukkan kenistaan yang telah kita ciptakan.”
__ADS_1
“Setelah kekalahan Raja Angkara olehnya, dengan begitu ramalan sang Kaisar Akbar akan sepenuhnya selesai dan berakhirlah semua dosa-dosa kita,” kata sang Ratu.
“Untuk itu kita harus segera menyiapkan pasukan untuk memberi ujian terakhir bagi sang Pembawa Panji Akbar,” sahut Wirasana.
...~ ◊ ~...
Setelah kesepakatan terjalin antara Pangeran I dengan Prajurit Hayawan, kini kami mulai menyiapkan seluruh kekuatan untuk melakukan serangan penghabisan. Seluruh pasukan Manusia dibawah pimpinan Pangeran I beserta para pasukan Prajurit Hayawan kini tengah berkumpul di Padang Hasrat, wilayah Raja Nafsu.
Aku (Panthera Tigris) baru pertama kali ini melihat barisan pasukan yang sangat luar biasa besar. Bangsa Manusia dan Bangsa Hayawan kini bekerja sama untuk bahu-membahu melawan kejahatan dan ramalan yang telah dilanggar.
Puluhan ribu pasukan berbaris berjejer di atas rerumputan yang sangat luas. Bak menutup padang di sepanjang cakrawala melintas. Genderang perang terus didentumkan begitu keras. Membakar api semangat para prajurit yang kian beringas. Dibawah panji besar persatuan yang pernah kandas, kini kedua bangsa bersatu untuk mengalahkan ‘iblis’ yang ganas.
Pasukan besar ini dibagi menjadi 7 Devisi bagian:
- Devisi I : Dipimpin oleh Nona Bubalis si Kerbau dengan pasukan Rawa (Kaum Buaya, Kuda Nil, Babi, Badak, dan Kerbau) yang berjumlah 7000 personil;
- Devisi II : Dipimpin oleh Tuan Dirus si Serigala dengan pasukan Kaum Canis dan Panthera yang berjumlah 5000 personil;
- Devisi IV : Dipimpin oleh Basita sang Murwa Kuncara dengan 10.000 pasukan Kavaleri;
- Devisi V : Dipimpin oleh Bramanta sang Lelana dengan 15.000 pasukan Infanteri;
- Devisi VI : Dipimpin oleh Danendra sang Mukti Wibawa dengan 7000 pasukan Artileri;
- Devisi VII : Dipimpin oleh Antara sang Sumela Atur dengan 13.000 pasukan Zeni.
Seluruh bagian dari 60.000 personil pasukan gabungan ini dipimpin oleh Pangeran I sebagai Panglima Utama. Ia dipilih karena sebagian besar pasukan adalah Bangsa Manusia dan sang Pangeran lah yang lebih mengetahui kondisi pertempuran yang akan kami hadapi nanti.
Keberangkatan perang akan dimulai dari Devisi II dan Devisi IV. Karena pasukan Canis dan Panthera, serta pasukan Kveleri yang dapat melakukan perjalanan lebih cepat, maka kedua Devisi ini akan bertugas sebagai pembuka jalan bagi pasukan lainnya.
Pasukan Devisi IV akan berangkat ke selatan melalui jalur pesisir timur. Sedangkan pasukan Devisi II terlebih dahulu memutar melalui wilayah Raja Rakus dan menyerang dari sisi barat gurun pasir.
__ADS_1
Pasukan Devisi V akan mengikuti dari belakang jalur yang telah dibuka oleh Devisi IV. Dan Pasukan Devisi VII akan besiaga di perbatasan selatan wilayah Raja Rakus untuk bersiap mendukung Devisi II ketika melakukan serangan.
Sedangkan untuk pasukan Devisi III dan pasukan Devisi VI akan melakukan dobrakan langsung ke pertahanan utara wilayah Raja Serakah. Dengan kekuatan Kaum Ursidae dan Artiodac yang luar biasa, ditambah gempuran dari Artileri akan sangat berguna untuk merobohkan pertahanan utama lawan.
Dan yang terakhir, pasukan Devisi I akan berangkat setelah Devisi III dan Devisi VI berhasil merobohkan pertahanan utara Raja Angkara. Ketiga Devisi itu akan menyerbu langsung ke ibu kota.
Untuk mengatasi serangan ini, pertahanan pasukan Raja Angkara harus terbagi menjadi tiga tempat secara bersamaan. Yaitu serangan dari pesisir timur (oleh Devisi IV), serangan dari barat (oleh Devisi II dan Devisi VII), dan serangan langsung dari utara (oleh devisi III dan Devisi VI).
Dengan terpecahnya pertahanan musuh akan memudahkan pasukan kita untuk melakukan penjebolan benteng pertahanan Raja Angkara. Meskipun jumlah pasukan Raja Angkara masihlah sangat luar biasa dibandingkan pasukan gabungan kita, setidaknya ‘Taktik Serangan 3 Arah’ ini akan membantu kita.
Taktik cerdas ini dipikirkan oleh sang Pangeran I selaku Panglima Utama seluruh pasukan. Ternyata benar adanya jika Bangsa Manusia memang memiliki cara-cara rumit dalam berperang, tak seperti Bangsa Hayawan yang berperang secara adil dan langsung.
Mungkin membagi penyerangan menjadi beberapa bagian akan melemahkan daya dobrak pasukan kita. Karena dibandingkan pertahanan Raja Angkara yang luar biasa, pasukan kita yang terbagi-bagi akan kesulitan melaksanakan tugasnya. Ditambah medan gurun pasir yang menjadi benteng alami bagi wilayah Raja Serakah akan sangat merepotkan bagi kita.
Namun semua itu dapat diatasi jika pasukan kami dapat melakukan serangat-serangan dengan cepat. Juga dengan sihir Danendra sang Mukti Wibawa yang menyembunyikan pergerakan kami dari sihir pengawasan Raja Angkara, itu akan mengejutkan pertahanan lawan.
Dengan melakukan ‘Taktik Serangan 3 Arah’ akan membingungkan pembagian ataupun pemusatan kekuatan pertahanan pasukan Raja Angkara. Mobilitas pasukan juga akan lebih sulit untuk membendung tiga serangan sekaligus yang berada di tempat yang berjauhan.
“Sungguh taktik yang cerdik dengan memanfaatkan kecepatan dan daya serang Prajurit Hayawan untuk mendobrak pertahanan lawan.” Itulah komentar yang dikatakan Nona Bubalis setelah mendengarkan penjelasan strategi dari Pangeran I.
Kurasa juga begitu. Ia dengan cermat memahami keunggulan tiap-tiap pasukan Prajurit Hayawan dan menempatkan mereka pada tugas yang tepat.
Devisi II dengan pasukan Canis dan Panthera yang memiliki kecepatan luar biasa ia tugaskan untuk melakukan serangan memutar melalui wilayah Raja Rakus. Sedangkan pasukan Ursidae dan Artiodac yang didominasi kekuatan, ia beri tugas untuk mendobrak langsung pertahanan utara Raja Angkara.
Ia juga menempatkan seorang Canis dalam setiap Batalyon pasukan untuk menjadi pengirim pesan dan informasi dengan kemampuan telepatinya. Dengan begitu komunikasi dan pergerakan antar pasukan akan sangat dimudahkan. Hal itu juga akan dapat meminimalisir putusnya rantai komunikasi agar penyerangan tetap berjalan seperti rencana.
Pangera I sangat cerdas dan cermat dalam memimpin pasukan. Bukan hanya memiliki kecakapan dalam memimpin Bangsa Manusia, ia juga memahami keunggulan dalam memimpin Bangsa Hayawan.
Setelah akhirnya seluruh pasukan gabungan berkumpul di Padang Hasrat (sekitar Kota Raja Nafsu) dan telah ditetapkan pembagian Devisi beserta tugas-tugasnya-
Hari ini, tertanggal 15 / Bulan 11 / Tahun 24 Angkara, pasukan gabungan antara Bangsa Manusia dan Bangsa Hayawan yang bergabung kembali setelah ribuan tahun lamanya, berangkat untuk memulai pertempuran penghabisan melawan kenistaan yang telah melukai keagungan benua.
__ADS_1