Tahta Akhir Dunia - Kisah I

Tahta Akhir Dunia - Kisah I
Pertempuran: Bagian Awalan (2)


__ADS_3

...~ ◊ ~...


Dini hari, dimana mentari masih bersembunyi, cakrawala pun membentang dengan sepi. Bintang-bintang masih nampak gemerlap menerangi, dikala langit nampak begitu sunyi.


Namun situasi di sisi lain begitu bertolak belakang. Walau cahaya masih remang-remang, banyak orang yang mulai berlalu-lalang. Ditengah kemah-kemah yang terbentang, kuda-kuda perang mulai keluar dari kandang. Para prajurit mengasah pedang, anak panah pun coba diluncurkan, mempersiapkan diri menghadapi perang.


Saat fajar telah menyingsing, para prajurit berkumpul dengan barisan masing-masing. Bersiap mengemban misi yang sangat penting. Dikala dunia telah ada dalam situasi yang genting.


Aku (Panthera Tigris) dan Lupus ditempatkan di Devisi II yang dipimpin oleh Tuan Dirus. Berpisah dengan Arctos yang ditempatkan di Devisi III untuk membantu Bovin si Bison.


Pasukan Devisi II telah berkumpul dan berbaris rapi. Canis Dirus sang Serigala Mengerikan berdiri dihadapan kami dengan wajah ganas dan berapi-api.


“Kini tiba saatnya untuk kita melawan kenistaan di atas dunia. Bukan lagi bersembunyi dan hanya bertahan. Kini giliran kita semua untuk membalas perlawanan. Bersama Bangsa Manusia, sekali lagi, setelah ribuan tahun lamanya, kita akhirnya dapat berjuang bersama untuk melawan sang penista ramalan.”


Tuan Dirus berseru keras dihadapan para pasukan. Pasukan yang mendengarnya mulai menunjukkan raut mengerikan dan penuh geraman. Gigi-gigi taring diruncingkan, cakar-cakar tajam dikeluarkan, bersiap menghadapi takdir yang menentukan.


Setelah mendapat tugas untuk memimpin Devisi II, Tuan Dirus mengurungkan niatnya untuk pergi ke Pulau Angker untuk mengambil apa yang menjadi miliknya? Ia akan pergi ke sana setelah pertempuran ini selesai.


Ia akan fokus menyelesaikan tugasnya memimpin Devisi II untuk membuka pertahanan barat Raja Angkara dan melemahkan kekuatannya agar Devisi utama dapat menyerang ibu kota dengan lebih leluasa.


Entah apa yang sebenarnya ia cari di Pulau Angker. Mungkin ada suatu hal besar disana. Namun dengan pertimbangan penyerangan ini harus segera dilaksanakan agar Raja Angkara tak sempat menyiapkan pertahanan. Niat Tuan Dirus untuk menuju Pulau Angker pun harus tertunda. Semoga ini adalah keputusan yang benar. Yah, walapun aku tak tahu apa yang dicarinya di sana.


Dengan seruan keras disertai lolongan, Tuan Dirus menyerukan keberangkatan pasukan menuju wilayah Raja Rakus di barat. Mendengar seruan itu, seluruh pasukan berlari cepat bagai kilat menuju barat untuk menunaikan tugas dan amanat.


Kami harus bergegas agar kami bisa sampai secepatnya di bagian barat gurun pasir untuk melakukan serangan. Pasukan kami harus sudah memulai pertempuran bersamaan dengan Devisi IV yang menyerang melalui pesisir timur.


Dengan jarak tempuh yang dua kali lebih jauh dari jalur pesisir timur yang dilalui Devisi IV, maka pasukan kami juga harus menempuh perjalanan dua kali lebih cepat dari Devisi IV agar kami bisa memulai serangan dari sisi barat dan timur secara bersamaan.


Setelah keberangkatan kami, pasukan Devisi VII yang dipimpin oleh Antara sang Sumela Atur menyusul dibelakang kami untuk menuju perbatasan selatan wilayah Raja Rakus yang sejalur dengan kami.


Dalam perjalanan, kami menerima kabar dari para Canis bahwa pasukan Devisi lain juga telah memulai keberangkatan mereka. Devisi IV yang dipimpin oleh Basita sang Murwa Kuncara telah berangkat menuju pesisir timur. Sedangkan Devisi III dan Devisi VI juga telah berangkat ke selatan.


Walaupun pergerakan kami telah disembunyikan oleh sihir Danendra, tetap saja kami harus mewaspadai adanya mata-mata atau pengamat langsung dari pihak musuh. Karena kunci dari ‘Taktik Serangan 3 Arah’ ini adalah kecepatan dan kejutan.


Jika Raja Angkara dan pasukannya mengetahui pergerakan dan strategi kami ini, maka mereka akan dapat menyiapkan pembagian dan mobilitas pasukan sebelum kami sempat melakukan serangan.


Karena itu, selama dalam perjalanan Devisi kami dibagi kembali kedalam beberapa Batalyon kecil. Dengan kelompok pasukan yang tidak begitu besar, diharapkan tak akan menimbulkan kecurigaan oleh pengawas perbatasan musuh.


Para Canis di setiap Batalyon akan saling terus mengirim telepati agar pergerakan kita tetap terarah. Batalyon utama yang dipimpin oleh Tuan Dirus bergerak paling depan untuk menentukan jalur perjalanan Batalyon selanjutnya.


Lupus ditugaskan untuk menjadi penerima dan pengirim informasi telepati mendampingi Tuan Dirus (karena beliau tidak bisa menggunakan telepati). Dengan begitu, aku dan Lupus pun berpisah. Dimana aku berada di Batalyon terakhir yang diberangkatkan.


Karena aku berada di barisan paling belakang, maka aku bisa melihat pasukan Zeni yang dipimpin oleh Antara di belakangku. Devisi VII juga bergerak dalam Batalyon kecil, dimana Antara memimpin Batalyon utama yang berjalan paling depan.


Karena mengejar kecepatan waktu, perjalanan yang sebenarnya membutuhkan waktu lebih dari dua minggu ini bisa kami lalui hanya dalam waktu satu minggu dengan kecepatan penuh.


Ditengah perjalanan, pasukan Devisi VI berhenti di sebuah hutan lebat yang memanjang diatas tebing menghadap ke selatan. Tebing itu adalah perbatasan antara wilayah Raja Rakus dengan wilayah Raja Serakah. Disanalah tempat mereka bersiaga untuk membantu Devisi kami saat melakukan pertempuran di gurun kaki tebing itu nantinya.

__ADS_1


Tempat itu sangat strategis untuk meluncurkan serangan bantuan karena tersembunyi di balik hutan yang lebat. Juga morfologi medan yang tinggi akan sangat memudahkan bagi pasukan Zeni itu meluncurkan anak panah dan tombak dari atas tebing.


Pangeran I yang menyusun strategi ini pasti sudah memperhitungkan medan perang sebelum membuat keputusan. Dengan kecerdikannya, sangat pantas jika ia dipilih menjadi Panglima Utama dalam operasi serangan ini. Tak heran jika 4 Kesatria Piningit mau mengabdi padanya.


Ketika Devisi VII bersiaga di tebing itu, Devisi II terus melanjutkan perjalanan memutar untuk menuju ujung barat gurun pasir.


Setelah beberapa lama melanjutkan perjalanan, kami sampai di ujung barat gurun pasir. Meskipun namanya gurun pasir, daerah ini tak benar-benar penuh dengan pasir. Hanya daratan padang berbatu yang luas dan gersang. Di sini masih terasa panas jika dilihat dari musim yang seharusnya sudah mulai dingin.


Di tempat ini seluruh Batalyon berkumpul kembali menjadi pasukan Devisi II dan Tuan Dirus kembali mengambil alih pimpinan utama. Dari sini kami mempersiapkan diri untuk melancarkan serangan.


Sebelum itu kami harus menunggu konfirmasi dari Devisi IV yang ada di ujung sisi lain gurun pasir, jalur pesisir timur.


Setelah mendapat konfirmasi dan pemberitahuan bahwa pasukan Kavaleri dari Devisi IV telah siap melakukan serangan dari ujung lain, kami pun segera melancarkan serangan ke pertahanan barat Kerajaan Angkara.


Di sisi ini tak ada bangunan apapun untuk musuh bertahan. Tak ada benteng ataupun dinding pertahanan. Melainkan hanya ada bebatuan dan tebing-tebing besar sebagai labirin dan benteng alami. Pos pasukan penjaga hanya ada beberapa di balik batu-batu itu.


Sekejap setelah kami meluncurkan serangan, beberapa pos pertahanan musuh berhasil kami taklukkan. Musuh kami hanyalah Manusia, yang notabene memiliki kekuatan lebih lemah dari pada kami, Bangsa Hayawan.


Kurasa setrategi serangan kejutan ini berjalan lancar.


Namun setelah beberapa hari melakukan serangan kejutan, perlawanan musuh makin lama semakin kuat. Sepertinya musuh telah menyadari serangan-serangan kami dan mengirimkan bala bantuan dari pusat.


Tepat seperti yang direncanakan. ‘Taktik Serangan 3 Arah’ ini bukan hanya untuk membingungkan musuh, namun juga untuk mengecoh pergerakan mereka.


Menurut Pangeran I, setelah serangan dilancarkan dari ujung barat dan timur secara bersamaan, Raja Angkara akan mengirimkan pasukan bantuan untuk membantu pertahanan di kedua sisi itu.


Kini pasukan bantuan dari ibu kota telah datang ke medan perang sisi barat gurun pasir. Tak disangka-sangka pasukan yang datang adalah kekuatan yang sangat luar biasa.


Menurut unit ‘Bayangan’ yang dikirim Tuan Dirus untuk mengamati musuh, pasukan lawan memiliki jumlah dan kekuatan yang luar biasa besar: 12.000 Infanteri, 8000 Kavaleri berkuda, 5000 Artileri berat, dan 300 ekor gajah.


Sungguh kekuatan yang tak seimbang. Pasukan Devisi II kami hanya beranggotakan 5000 personil, dan persenjataan kami tak selengkap pasukan musuh.


Namun untunglah kami masih memiliki bantuan dari pasukan Devisi VII. Untuk itu kami harus sebisa mungkin menggiring pasukan musuh ke bawah kaki tebing tempat Devisi VII berada agar senjata mereka bisa menjangkau musuh.


Diperkirakan pertempuran besar akan berlangsung esok hari. Malam ini kami akan berkemah dan beristirahat untuk memikirkan rencana untuk melawan pasukan besar itu besok.


“12.000 Infanteri, 8000 Kavaleri, 5000 Artileri, dan 300 gajah. Sungguh pasukan yang tak masuk akal jika dikirim hanya untuk ‘bantuan’,” gerutu Tuan Dirus.


Memang benar. Aku tak habis pikir tentang apa yang direncanakan Raja Angkara hingga mengirimkan pasukan sebesar itu hanya untuk melawan kami dan meninggalkan ibu kota.


“Bukankah ini berarti rencana untuk mengurangi kekuatan di pusat berjalan lebih baik dari prediksi?”


Begitulah yang kupikirkan. Dengan banyaknya pasukan yang dikirim kemari dari pusat, itu menandakan rencana kita untuk mengurangi pertahanan musuh di ibu kota memang bekerja dengan baik.


Dengan begitu Devisi utama yang melakukan dobrakan langsung ke pusat kerajaan akan lebih mudah mengalahkan musuh.


“Tapi ini terlalu berjalan dengan lancar,” kata Tuan Dirus. “Apakah Raja Angkara memang memusatkan pertahanan di sisi barat ini, ataukah memang ia memiliki jumlah pasukan yang tak terbayangkan (hingga bisa mengirim pasukan sebesar itu hanya untuk ‘bantuan’). Lebih baik kita tetap waspada.”

__ADS_1


“Untuk itu aku punya sebuah pesan untukmu, Tuan,” kata Lupus. “Setelah melaporkan kondisi kita pada Devisi yang lain (melalui telepati), aku mendapat laporan serupa dari Devisi IV di pesisir timur. Mereka juga dihadang pasukan besar bantuan dari ibu kota.”


“Jadi Raja Angkara memang memiliki jumlah pasukan yang luar biasa,” gumam Tuan Dirus sembari menggeram. “Lalu apakah ada laporan dari Devisi utama (Devisi III dan Devisi VI)?”


“Aku mendapat laporan dari Bovin si Bison bahwa Devisi utama pendobrak juga mulai dihadang Arteleri berat dan gajah-gajah dari pasukan musuh. Kurasa penggempuran ibu kota akan lebih berat dari yang kita bayangkan,” jawab Lupus.


“Tak kusangka Raja Angkara benar-benar memiliki kekuatan perang yang sangat mengerikan,” gerutu Tuan Dirus kesal. “Seharusnya aku mengambil kembali itu dulu di Pulau Angker.”


Memang tepat jika dikatakan itu adalah kekuatan perang yang mengerikan. Raja Angkara mampu membendung serangan dari 3 arah sekaligus. Bahkan tak tanggung-tanggung ia mengirimkan pasukan yang sangat besar.


Kuharap Arctos yang tengah berada di Devisi III sebagai penggempur utama akan tetap baik-baik saja.


Tuan Dirus tadi mengatakan tentang ‘mengambil kembali itu di Pulau Angker’. Kurasa dengan adanya benda atau apalah itu, akan membantu pertempuran ini. Tapi... entahlah. Aku pun tak dapat menebak apa itu.


“Lalu apa rencana kita untuk mengatasi pasukan besar yang menghadang kita itu?” tanyaku.


“Kita akan lakukan seperti biasa,” jawab Tuan Dirus dengan seringai. “Seperti cara Bangsa Hayawan bertarung: Hadapi saja apa yang ada di hadapanmu.”


Aku mengerti. Memang itulah cara Bangsa Hayawan bertarung selama ini.


Jika Raja Angkara dan Pangeran I berperang menggunakan otak dan segala siasat licik mereka, maka kami akan melawannya dengan cara kami sendiri.


Seperti hanya api, tak mungkin melawan api dengan api. Tapi lawanlah api dengan air. Begitulah prinsip bertempur kami, otak pun tak selamanya dilawan dengan otak.


Tak perlu basa-basi, kami hanya harus melawan apa yang menghadang di hadapan kami.


...~ ◊ ~...


Beberapa waktu sebelumnya, tepat setelah serangan kejutan dari ‘Taktik Serangan 3 Arah’ dilancarkan.


Di ruang pertemuan istana Raja Angkara, berkumpullah para Kesatria dan sang Ratu.


“Pangeran I telah melakukan serangan pada pertahanan kita dari 3 tempat yang berbeda: dari ujung barat gurun pasir, dari pesisir timur, dan dari perbatasan utara,” ujar Wirasana sang Hamung Tuwuh.


“Nampaknya ia berhasil meyakinkan Bangsa Hayawan untuk bergabung dengannya,” sahut Udhata sang Pambuka Gapura. “Jadi memang ialah sang Pembawa Panji Akbar dalam ramalan.”


“Taktik dan Strateginya memang sangat cerdas,” kata Sodha sang Pinandita. “Tak kusangka ia memilih membagi pasukannya dengan serangan 3 arah dari pada melakukan satu serangan penuh.”


“Yang terpenting rencana kita masih berjalan dengan lancar,” ucap sang Ratu tiba-tiba. “Tapi semua akan sia-sia jika tak ada pengorbanan. Untuk itu, kalian bertiga berangkatlah menuju ketiga titik penyerangan dan hadanglah pasukan Pangeran.”


“Memang itulah rencanaku,” tukas Wirasana. “Aku akan pergi ke timur untuk melawan si tua Basita.”


“Kalau begitu, aku akan pergi ke timur melawan para kucing dan anjing itu,” kata Sodha.


“Berarti aku yang akan pergi ke utara melawan Danendra dan teman-teman barunya, ya,” tambah Udhata. “Baiklah, tak buruk juga.”


“Sudah di putuskan,” tegas sang Ratu. “Dengan begitu kalian para Kesatria, atas nama Raja Angkara aku memerintahkan kalian untuk menghadang serangan 3 arah dari Pangeran I dan tunjukkan kekuatan sang penguasa benua.”

__ADS_1


“Baik, Yang Mulia. Semoga ramalan sang Kaisar menyertai langkah kita.”


__ADS_2