
...~ ◊ ~...
Beberapa hari setelah peluncuran ‘Taktik Serangan 3 Arah’ yang dilaksanakan pasukan gabungan Pangeran I dan Bangsa Hayawan untuk menggempur pertahanan Kerajaan Angkara.
Serangan dari pesisir timur dilakukan oleh pasukan Kavaleri Devisi IV yang dipimpin oleh Basita sang Murwa Kuncara dan diikuti oleh pasukan Infanteri Devisi V yang dipimpin oleh Bramanta sang Lelana sebagai pendukung garis belakang.
Setelah mengetahui serangan-serangan yang dilancarkan oleh Pangeran I bersama Bangsa Hayawan, pasukan Raja Angkara tak tinggal diam. Untuk membendung serangan dari Devisi IV di pesisir timur, dikirimlah Wirasana sang Hamung Tuwuh bersama 16.000 Kavaleri, 6000 Infanteri, dan 3000 Artileri.
Pasukan itu dengan cepat bergerak ke arah timur untuk menghadang Basita dan pasukannya yang telah berhasil membobol beberapa pos pertahanan Kerajaan Angkara.
Meskipun berhasil melewati beberapa pertahanan musuh, pasukan Devisi IV yang hanya beranggotakan manusia biasa telah banyak meregang nyawa dalam medan laga.
Strategi yang mengandalkan kecepatan dan kejutan ini menuntut mereka dan kuda-kuda perang mereka untuk terus berpacu dan bertempur untuk mendobrak pertahanan lawan sekaligus membuka jalan untuk pasukan Infanteri dari Devisi V.
Namun kerja keras dan pengorbanan mereka tidaklah sia-sia. Strategi untuk menarik pasukan musuh agar meninggalkan ibu kota pun berjalan sesuai rencana. Pasukan bantuan musuh dari pusat mulai mendekati medan laga.
Namun tak semuanya sejalan dengan perkiraan. Seperti dipermainkan, pasukan bantuan yang datang untuk menghadang begitu mencengangkan. Jumlah pasukan yang sama sekali tak seimbang dan ditambah kondisi pasukan yang menghawatirkan.
Pasukan Devisi IV telah berminggu-minggu melakukan perjalanan dan pertempuran yang panjang. Banyak nyawa yang telah dikorbankan. Perbekalan pun mulai kehabisan. Luka, lelah, dan kesedihan mulai menghantui jiwa dan pikiran para pasukan.
Di tengah malam yang menegangkan, pasukan Devisi IV tengah berkumpul untuk membicarakan apa yang akan mereka lakukan untuk menghadapi pasukan besar yang tengah menghadang.
“Kita tak akan hanya tinggal diam. Pengorbanan tak bisa disia-siakan. Karena esok hari, kita akan menghadapi pertempuran besar yang menentukan.
Jika kita menyerah di medan pertempuran, semua usaha dan strategi akan berantakan. Jika jalur timur gagal diamankan, penaklukan ibu kota pun tak akan dapat dilakukan.
Setidaknya kita harus bisa bertahan hingga pasukan bantuan datang. Pasukan Infanteri Devisi V diperkirakan akan segera datang. Hingga saat itu, kita harus bisa menahan semua serangan.”
Si Kesatria tua, Basita sang Murwa Kuncara berseru dihadapan para pengikutnya. Tuk siapkan tekat dan segenap jiwa. Melawan kenistaan yang mengotori dunia.
...~ ◊ ~...
Fajar mulai menyingsing dari belakang barisan panjang pasukan kuda bertali kekang. Dengusan dan ringkikan terdengar dari nafas kuda-kuda perang. Bersiap untuk menghadapi pertempuran penghabisan.
__ADS_1
Basita si Kesatria tua duduk di atas tunggangannya. Derap tapal kuda memecah keheningan gurun pasir yang membara. Ketegangan terlukis di wajah orang-orang yang ada di hadapannya. Menatap barisan luas lautan manusia yang hendak menghadang laju kuda-kuda mereka. Kini semua manusia yang ada di sana terdiam tanpa bisa berbicara.
Ketakutan dan kengerian terus terbayang di pikiran tiap-tiap insan. Tangan yang memegang kekang dan pedang tak berhenti gemetaran. Ditengah debu yang beterbangan, terdengarlah seruan yang menggemparkan-
“Untuk tanah agung sang Kaisar! SERAAAANG...!!!”
Bersama debu berhambur dan beterbangan, dimulailah pertempuran penghabisan.
Basita memimpin laju kuda seluruh pasukannya, menyerbu barisan tentara musuh yang juga memulai serangannya.
Anak-anak panah berterbangan di atas mereka. Melesat cepat di udara, dan jatuh menembus jantung-jantung para tentara.
Kala kuda-kuda mulai berjatuhan, manusia pun bergulung-gulung di tengah debu berhamburan. Keringat dan darah mulai bercucuran. Jeritan dan tangisan terus terdengar disepanjang medan pertempuran.
Batu-batu besar dilemparkan, anak-anak panah diluncurkan, tombak-tombak dihujamkan, dan pedang-pedang diayunkan. Belasan, puluhan, hingga ratusan nyawa pun terus menjadi korban.
Basita bersama ribuan pasukan berkudanya terus melaju melewati mayat dari musuh dan rekan. Membalas dengan serangan-serangan yang tak kalah mengerikan. Menebas dengan pedang ditangan. Membunuh musuh dengan sekali sabetan.
Barisan depan musuh mulai porak-poranda. Kocar-kacir ditembus pasukan berkuda. Namun jumlah dan ketahanan pasukan Basita mulai berkurang seiring waktunya.
Tak siap menghadapi benturan, pasukan berkuda Basita terdorong mundur oleh serbuan musuh. Tertekan dan terdesak, Basita pun memerintahkan seluruh pasukannya untuk berkumpul.
Namun musuh dengan cepat mengepung barisan pasukannya. Dari kanan, kiri, depan, dan belakang. Semua sisi telah terkepung oleh musuh.
Kepungan melingkar dengan tombak-tombak panjang mengacung mengelilingi dari segala sisi. Di tengah situasi yang semakin terdesak, Basita turun dari kudanya. Menggenggam erat-erat pedang di kedua tangannya, lalu mengayunkannya melingkar dengan sekuat tenaga.
Hembusan angin kencang menyertai ayunan pedangnya, menghempaskan kepungan di sekitarnya. Musuh-musuh terjatuh dari tunggangannya. Tersungkur di bawah tanah keras berbatu panas.
Energi besar memancar dari tubuh Kesatria tua itu. Pedang di tangannya bersinar, menampakkan cahaya terang di sepanjang medan pertempuran.
Dengan kecepatan luar biasa, Basita menerjang kembali musuh-musuh di hadapannya. Bagai kilat, ia menembus barisan lawan dengan sekali serangan. Menghempaskan mereka, dan memotong semua kepala yang dilewatinya.
Darah mengucur di sepanjang garis yang dilaluinya. Bagai hujan merah di tengah gurun yang begitu gerah. Ratusan kepala menggelinding mengikuti kemanapun kakinya pergi melangkah.
__ADS_1
Hanya dengan satu orang tua di atas medan laga, dapat kembali membalikkan keadaan yang tak terduga. Pasukan yang melihat kehebatannya, mendapatkan kembali semangat dan kepercayaan dirinya.
Pasukan lainnya mengikuti langkah kaki sang kesatria tua dengan menunggangi kuda-kudanya. Menginjak kepala-kepala yang telah terpisah dari tubuhnya, untuk menambah jumlah kepala yang terpenggal nantinya.
Namun, tiba-tiba Basita dan pasukannya harus kembali memutar keadaan. Batu-batu besar yang terlempar dari manjalik menghujani barisan. Menindih dan menghancurkan sebagian besar pasukan.
Tubuh manusia dan kuda tergencet batu-batu besar yang berterbangan. Tanah mencekung terkena hantaman. Nampak darah mengalir di bawah batu besar yang kini bagai batu nisan.
Barisan menjadi berantakan. Kuda-kuda mulai ketakutan. Dan penunggangnya pun tak dapat lagi mengendalikan.
Pasukan mulai terpisah. Terpecah belah dan kehilangan arah. Terlempar galah dan akhirnya musnah.
Basita yang melihat pasukannya porak poranda tak punya pilihan lain. Satu-satunya jalan adalah mundur kebelakang.
Meskipun belum cukup waktunya untuk terus bertahan. Namun untuk sekarang lebih baik mundur perlahan.
Basita pun memerintahkan pasukannya untuk mundur. Menepi menuju pesisir timur agar bisa bertahan dari satu sisi dan tidak diserang dari sisi yang lain. Dengan begitu pengepungan tak akan bisa kembali terjadi.
Pasukannya memacu kudanya secepat mungkin. Berlari bagi yang sudah kehilangan kuda. Menuju pesisir timur, berharap bantuan sudah siap.
Namun dengan musuh yang masih memiliki banyak pasukan Kavaleri akan sangat mudah untuk mengejar. Karena berpikir demikian, Basita memutuskan untuk seorang diri menahan serangan musuh agar pasukannya bisa mundur ke pesisir timur.
Ia kembali menghadap puluhan ribu pasukan musuh. Menatap lekat penuh amarah. Letih pun tak lagi dipikirkannya. Tulang-tulang tuanya tak perduli kondisi dan hanya bersiap untuk menghadang ancaman yang kian mendekat.
Sekali lagi, ia genggam pedangnya dengan kedua tangan. Mencengkram erat-erat. Sinar pun mulai tampak dari bilahnya. Cahaya yang begitu menyilaukan di tengah padang gurun yang terik.
Basita mengayunkan pedangnya horizontal, dan seketika menghempaskan barisan di hadapannya. Namun barisan yang ada di belakang masih bisa bertahan.
Ia mencoba sekali lagi, namun sebelum sempat mengayunkan pedangnya, ia tertembak anak panah.
Seketika tubuh yang tak lagi muda merespon semua luka dan lelah yang dirasakannya. Tersungkur ke tanah dan merasakan sakit yang luar biasa.
Namun ia masih bisa bertahan dengan bertengger pada pedang yang ditancapkannya ke tanah. Menyandarkan kedua tangannya dan kepalanya pada gagang pedang, menahan sakit yang tiada tara.
__ADS_1
Matanya yang masih membara mencoba melihat pasukan musuh yang ada dihadapannya. Bukan lagi melaju menerjang, melainkan hanya berdiri terdiam.
Lalu nampak seorang pria datang menghampirinya dengan meninggalkan pasukan besar di belakangnya.