
...~ ◊ ~...
Malam itu, aku (Udhata), Sodha, dan Wirasana bersama beberapa pasukan menyelinap ke dalam pesta perayaan dan melancarkan serangan kejutan. Kami berhasil membunuh beberapa bangsawan yang menjadi tamu undangan dan sang Ratu, istri Raja Bawika.
Namun beberapa orang kami berhasil tertangkap oleh Basita yang saat itu ada di istana Raja Bawika. Dan mereka pun membocorkan siasat serangan yang kami lakukan.
Raja Bawika yang bersedih akan kepergian istri yang tercintanya pun jatuh dalam amarah dan keinginan balas dendam.
Bersama kebencian itu, Raja Bawika pun mengobarkan perang pada Raja Amarah yang merupakan dalang penyerangan yang menewaskan istrinya.
Tak lama, Raja Bawika segera turun ke medan laga untuk memimpin pasukan balas dendamnya.
Raja Amarah tak tinggal diam, ia pun mengutus kami bertiga dan pasukannya untuk menghadang serangan Raja Bawika. Pertempuran pun pecah di garis perbatasan kedua kerajaan.
Pasukan kami dengan kekuatan 3 Kesatria pun berhasil mendesak mundur pasukan Raja Bawika hingga sampai di gurun pasir.
Medan itu tak menguntungkan bagi pasukan kami, sehingga kami memutuskan untuk menarik kembali pasukan dari pada kalah dalam pertempuran melawan musuh yang menguasai medan laga.
Raja Bawika yang tak terima dengan kekalahan pertamanya pun memaksa pasukannya untuk menyergap pasukan kami dari belakang. Namun serangannya yang tergesa-gesa ditambah dengan tak hadirnya sang Kesatria Basita dalam pasukannya membuat Raja Bawika kembali menelan pahitnya kekalahan.
Bersama segala kekecewaan dan kesedihannya, Raja Bawika menarik mundur seluruh pasukannya dan mendirikan kamp peristirahatan di tengah gurun di wilayahnya.
...~ ◊ ~...
Di sisi lain, Santika yang juga ingin membalaskan dendam pada pasukan Raja Serakah atas kekejamannya menghancurkan kampung halaman dan menodai kesuciannya, ia pun tak ingin hanya tinggal diam lantas merencanakan siasat lain untuk balas dendam.
Atas perintah Raja Amarah, Santika bersama sekelompok wanita penghibur dikirim menuju kamp peristirahatan pasukan Raja Bawika. Dengan siasat mereka akan menghabisi diam-diam para pasukannya saat mereka tengah melakukan 'hiburan'.
Santika yang kini telah menguasai kekuatan sihir Jin-nya ditugaskan untuk melakukan 'hiburan' di tenda Raja Bawika. Dengan kekuatannya, ia akan melakukan sihir manipulasi pemikat untuk mencuci otak sang Raja.
Santika pun tak keberatan dengan peran itu. Ia berkata bahwa “Lagi pula aku sudah bukan lagi seorang gadis yang ‘bersih’. Tak masalah jika melakukan hal kotor untuk tujuan ini.”
Kata-kata itu sungguh menghancurkan sanubariku. Wanita yang sangat kucintai kini rela menjadi ‘lubang perangkap’ hanya demi ambisi balas dendam.
Rencana pun dilakukannya. Santika kini mendatangi tenda Raja Bawika. Namun disana hanya nampak seorang pria yang tengah menangis merintih, masih bersedih meratapi kematian istrinya tercinta dan pengorbanan sia-sia para pasukannya karena kecerobohan dirinya.
Santika yang melihatnya merasa tersentuh oleh ketulusan dan kesedihan yang ditampakkan oleh pria itu. Lalu ia pun datang mendekatinya lantas bertanya-
“Jika kau begitu bersedihnya atas kematian, lantas kenapa kau mengirimkan pasukanmu untuk merenggut nyawa dan menyiksa orang lain yang tak bersalah?”
“Apa maksudmu, Nona muda?” tanya sang Raja sembari menghapus linangan air matanya. Ia nampak begitu menyesali perbuatannya yang membuat banyak pasukannya menjadi korban atas ambisi balas dendamnya.
“Beberapa bulan lalu, bukankah kau mengirim seArmada pasukan untuk menyerang pesisir selatan wilayah Raja Amarah? Tempat itu adalah kampung halamanku. Pasukanmu menghancurkan, membantai, dan memperkosa para warga desa tak bersalah. Aku pun tak luput menjadi korbannya.”
“Apa yang kau katakan, Nona? Beberapa bulan terakhir pasukanku sibuk bertahan dari serangan Raja Nafsu di perbatasan utara. Tak mungkin kami mengirim armada untuk menginvasi wilayah lain di saat seperti itu. Lagi pula daerah selatan wilayah Raja Amarah bukanlah tempat yang strategis untuk melakukan serangan, dimana harus melewati pegunungan api yang membara jika ingin menguasainya,” jelas Raja Bawika.
Mendengar jawaban yang masuk akal dari Raja Bawika, Santika pun teringat pada kapal-kapal yang dibawa oleh armada yang menyerang desa.
Kapal-kapal berwarna merah menyala dengan corak ukir api di bagian lambungnya. Sama seperti kapal-kapal yang ia lihat di ibu kota Kerajaan Amarah.
Seketika itu pun ia menyadari bahwa ia dan kami semua telah tertipu oleh siasat Raja Amarah yang ingin menggunakan kekuatan ketiga Kesatria dan keturunan setengah Jin untuk mengalahkan tetangga dekatnya, Kerajaan Serakah.
__ADS_1
Merasa dipermainkan, Santika pun tertunduk lesu, tak tahu lagi dimanakah letak kebenaran. Semuanya penuh siasat dan tipu muslihat. Seluruh warga desa yang dicintainya harus mati dan tersiksa hanya karena siasat adu domba.
“Maafkan aku dan teman-temanku karena telah membunuh istrimu dan membawa kesedihan dan penyesalan pada dirimu yang tak bersalah.” Tanpa sadar Santika mengatakan hal itu pada Raja Bawika.
“Aku mengerti. Jadi kau juga telah dikelabuhi rupanya,” gumam sang Raja. “Gadis yang malang. Kuharap kau dan teman-temanmu yang kau sebut bisa melihat kebenaran yang nyata. Yah, walaupun aku pun sempat terbutakan darinya hingga membawa penyesalan mendalam dibuatnya.”
Dalam percakapan mereka berdua, Santika tiba-tiba teringat dengan misi yang harusnya dilaksanakannya. Namun setelah mengetahui dalang yang sebenarnya, Santika pun memperingatkan Raja Bawika bahwa wanita-wanita penghibur yang datang ke kamp pasukannya adalah bidak-bidak Raja Amarah untuk membunuh diam-diam semua pasukannya.
Namun ternyata Raja Bawika telah mengendus siasat licik dari datangnya wanita-wanita asing itu ke perkemahannya. Lantas meminta para pasukannya untuk menangkap mereka.
Raja Bawika pun yakin wanita-wanita itu juga memiliki kisah yang serupa dengan Santika. Dikelabuhi dengan doktrin kebencian terhadap Raja-Raja lainnya, agar dapat dikendalikan untuk kepentingan pribadi sang Raja Murka.
Setalah itu, mereka berdua terus berbincang dan saling mengutarakan kesedihan. Berbagi penderitaan dan mulai saling menguatkan.
...~ ◊ ~...
Aku, Sodha, dan Wirasana yang bersiaga dibalik bayang-bayang malam, menunggu sinyal dari santika. Namu tak kunjung ada tanda keberhasilan ataupun kegagalan misi 'hiburan' yang diembannya.
Kami yang mulai khawatir akan keadaan Santika pun memutuskan untuk menyelinap masuk ke dalam perkemahan Raja Bawika. Namun saat mencoba mengintip ke dalam tenda sang Raja, terdengarlah suara seorang pria, dibarengi suara isakan seorang gadis, itu suara Santika.
“Masuklah, para Kesatria muda. Datanglah dan temui sahabat kalian yang tengah merana.”
Raja Bawika telah menyadari keberadaan kita. Dengan kekhawatiran akan keadaan Santika, kami pun bergegas masuk ke dalam tendanya. Dalam cahaya lilin temaram, nampak dua orang yang tengah duduk berhadapan, salah satunya Santika yang masih dalam isakan.
Kami lantas dengan sigap penghunuskan pedang pada orang lain yang ada dihadapan. Sang Raja hanya bisa terdiam, membiarkan si gadis di hadapannya mulai tenang. Setelah meninggalkan isakan, Santika meminta kami menurunkan pedang yang ada di tangan.
Ia pun menjelaskan tentang kebenaran dan segala siasat licik yang telah memperdaya kita semua, dan Raja Bawika lah yang menjadi korban imbasnya. Istrinya yang tak bersalah, tewas akibat dedam kita yang membabi buta. Pasukannya pun banyak meregang nyawa karena terpancing balas dendam dari Raja Amarah yang nista.
Kami tak sepenuhnya mempercayai kebenaran dari si Raja. Namun melihat Santika yang lebih tenang setelah berbincang dengan Raja Bawika, di tambah rasa bersalah kami yang telah membunuh istri sang Raja yang tak tahu apa-apa, kami pun akhirnya setuju untuk menghentikan semua rantai balas dendam yang tiada habisnya.
Basita tidaklah mengabdi ataupun tunduk pada Raja Bawika. Ia mendukung Kerajaan Serakah hanya karena ingin mendampingi murid kesayangannya.
Saat kami tengah berbincang-bincang, tiba-tiba datang angin dingin yang menerpa, dan lilin pun padam karenanya. Seketika kami semua berdiri siaga, menyiapkan kuda-kuda. Dalam ruang gelap tanpa cahaya, perlahan muncul kabut putih yang menerpa. Lalu terdengar sebuah suara-
“Wahai para pencari kedamaian. Musnahkanlah semua yang menjadi biang kesedihan. Dan satukanlah seluruh benua di bawah satu kerajaan.”
“Siapa kau?!” tanya Wirasana.
“Wirasana sang Hamung Tuwuh. Gapailah kejayaan dan prestasi membanggakan untuk buktikan kemampuanmu pada guru yang meninggalkanmu.”
“Tunjukkanlah wujudmu!” kata Sodha.
“Sodha sang Pinandita. Kesatria wanita yang haus akan kekuatan. Ciptakanlah senjata mematikan untuk menggapai semua kemenangan.”
“Makhluk macam apa kau?” tanyaku.
“Udhata sang Pambuka Gapura. Kesatria perkasa yang mendambakan cinta. Relakanlah jiwa yang mendamba, demi kebahagiaan lain yang lebih berharga.”
“Apa maksud kedatanganmu?” tanya Santika.
“Santika sang Manusia setengah Jin yang jelita. Kau adalah harapan dunia. Akan kuberikan kau kekuatan yang luar biasa untuk membalikkan sejarah seluruh benua.”
__ADS_1
Setelah itu terpancar sinar terang dari tubuh Santika. Terasa energi sihir besar yang luar biasa.
Setiap nama kami disebut oleh suara misterius itu, serasa apa yang dikatakannya terasa sangat benar. Kami seakan terdorong untuk melakukan semua yang ia katakan.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Raja Bawika melihat keanehan dihadapannya.
“Bawika sang Raja Serakah. Jika kau menginginkan pembalasan atas kematian istrimu tercinta, maka aku akan memberikannya. Bahkan kekuatan untuk membuat semua orang tunduk padamu. Jika semua orang mengikuti perintahmu, maka tak akan ada lagi yang akan melukai keluargamu. Benar bukan?”
Bagai dirasuki makhluk tak kasat mata itu, Santika tiba-tiba mengatakan hal itu pada Raja Bawika. Dan sang Raja yang masih dalam kesedihan, setelah mendengarnya lantas bangkit kembali keinginannya untuk balas dendam. Namun kali ini untuk menyudahinya dan yang terakhir kalinya.
Begitulah kisah terbentuknya kesepakatan tanpa sadar antara kami beserta Raja Bawika dengan makhluk misterius tak kasat mata. Dengan kekuatan besar yang diberikannya kepada Santika, kami secara diam-diam membantu Raja Bawika untuk menaklukan para Raja Bengis lainnya dan menyatukan kembali seluruh benua.
Bersama itu, Raja Bawika memperistri Santika untuk menjadikannya Ratu atas kerajaannya. Seperti yang dikatakan suara misterius itu, aku harus merelakannya demi penyatuan benua dan menghentikan peperangan yang tiada habisnya.
Dengan kekuatan besar Santika yang kini menjadi Ratunya dan kekuatan ketiga Kesatria, dalam waktu singkat Raja Bawika berhasil menaklukkan seluruh penjuru benua. Kecuali Pulau Angker yang dipimpin oleh seekor Kera.
Tepat setelah itu, si suara misterius datang kembali menghampiri kami dengan berkata-
“Kedamaian dan keadilan sejati hanya akan tercipta oleh datangnya sang Kaisar Akbar. Untuk itulah, ramalannya harus terpenuhi.
...Dikala Dunia Beranjak Tua...
...Perdamaian dan Keadilan Dianggap Dongeng Belaka...
...Belenggu Kejahatan Merajalela...
...Dan Sang Pemersatu Hilang Kepalanya...
...Ia Akan Kembali Dengan Panji Akbar Yang Membara...
...Sang Pemimpin Tanpa Mahkota...
Buat dan penuhilah tanda-tanda ramalannya untuk memanggil kembali kedamaian dan keadilan yang didamba-damba.”
Seakan merasa masuk akal, kami pun lantas terdorong untuk mematuhinya. Kami membuat skema kemenangan Raja Bawika sang Raja Serakah yang telah berhasil menyatukan kembali benua dengan menyebarkan kabar tentangnya yang menjadi sang 'Pembawa Panji Akbar' dalam ramalan dan menjadi Raja Angkara: Sang Penguasa 7 Kerajaan.
Dengan dalih untuk melawan pemberontak dari Pulau Angker, kami mengirimkan perintah kepada semua wilayah atas nama Raja Angkara untuk mengumpulkan semua pasukan dari seluruh penjuru benua.
Untuk memenuhi tanda baris kedua dan ketiga dalam ramalan, kami menciptakan kekacauan dan kehancuran dengan Sihir Perbudakan milik Santika dan memecah Umat Manusia menjadi 4 kubu yang saling berlawanan.
Dengan banyaknya korban jiwa yang berguguran dalam pertempuran, digunakanlah arwah-arwah para korban perang untuk meningkatkan kekuatan sihir Santika hingga dapat menjangkau seluruh plosok benua.
Dengan begitu baris pertama, kedua, dan ketiga dalam ramalan sang Kaisar Akbar pun berhasil terpenuhi.
Setelah beberapa tahun peperangan berlangsung, akhirnya Pangeran I, si kandidat Pembawa Panji Akbar akhirnya memenuhi baris kelima dan keenam ramalan setelah ia berhasil menyatukan kembali Bangsa Manusia dan Bangsa Hayawan dalam satu panji besar persatuan.
Akhirnya tinggal satu lagi baris ramalan yang harus dipenuhi, yaitu baris empat: “Sang Pemersatu Hilang Kepalanya”.
Sang pemersatu, Raja Angkara telah tercipta. Kini saatnya kami mengorbankannya untuk dipenggal sang Pembawa Panji Akbar yang Membara.
Dengan begitu, ramalan sang Kaisar Akbar akan benar-benar terpenuhi. Dan ia akan datang kembali memimpin semua makhluk serta membawa kedamaian, keadilan, dan kemakmuran sejati di atas Benua Agungnya.
__ADS_1
Kami telah mengorbankan banyak hal dan juga banyak nyawa demi memenuhi isi ramalan. Kini tinggal satu lagi yang tersisa.
Pengorbanan kami tak boleh berakhir sia-sia. Demi memanggil kembali sang Kaisar yang bijaksana serta menjemput kedamaian dan keadilan yang telah lama di damba-damba. Agar tak ada lagi anak cucu yang merasakan semua penderitaan kita.