Tahta Akhir Dunia - Kisah I

Tahta Akhir Dunia - Kisah I
Kisah Tiga Prajurit Muda (2)


__ADS_3

...~ ◊ ~...


"Jadi itulah sebabnya kita sama sekali tak pernah tahu apa pun yang terjadi di dunia luar,” gumamku (Panthera Tigris) menanggapi kisah yang diceritakan Nona Ailur pada kami.


“Tapi bagaimana bisa tiba-tiba hutan ini tidak dapat dimasuki dari dunia luar? Dan itu tepat terjadi setelah pengiriman 4000 pasukan atas perintah Raja Angkara. Jika benar memang karena Sihir Pembatas, lantas siapakah yang memasangnya? Bukankah hanya Bangsa Jin yang dapat menggunakan sihir?” kata Arctos penuh tanya.


“Benar-benar mencurigakan,” ucap Lupus curiga. “Apakah mungkin ini perbuatan Raja Angkara untuk melemahkan bangsa kita dengan memaksa kita mengirimkan banyak pasukan dan memblokir wilayah ini agar pertahanan hutan melemah?”


“Apa jangan-jangan Bangsa Jin telah keluar dari dunianya lantas membantu Raja Serakah menguasai benua dan sekarang membantunya membuat sihir untuk mengurung kita di dalam Hutan Rintihan Buana?” tanyaku berspekulasi.


“Untuk itu kita hanya bisa mengira dan terus bersiaga. Kembali menguatkan diri untuk menggantikan ke-4000 pasukan yang telah pergi,” jawab ayah.


“Ayah, apakah Unit Bayangan yang Anda kirim kala itu juga tak bisa mengirim telepati untuk menyampaikan informasi dari seberang batas hutan?” tanya Lupus pada ayahnya.


“Dengan kecepatan dan kemampuan telepatinya, Suku Canis menjadi kelompok pembunuh dan mata-mata terhebat sepanjang masa. Namun setelah melewati batas hutan, Unit Bayangan yang kukirim untuk mencari informasi di dunia luar tiba-tiba menghilang dan telepati kami terputus seketika,” jelas Paman Wolford sembari memandang ujung hutan.


“Jadi saat ini belum bisa dipastikan apakah Raja Angkara: sang apalah itu, adalah orang yang disebutkan dalam ramalan. Namun jika dia adalah seorang penipu dan penista ramalan, maka akan kuhancurkan dia dan seisi kerajaannya,” kata Paman Boss geram sembari menyemburkan asap dari sela-sela giginya.


“Benar juga, kenapa kalian (para Khan) tidak keluar dan memastikan sendiri apa yang terjadi? Jika benar ada sihir dan kelicikan si Raja Angkara di balik semua ini, pasti kalian dapat mengalahkannya dan mengembalikan keadaan seperti semula. dan juga mungkin dapat menemukan 4000 pasukan yang menghilang,” ujarku bersemangat.


“Tapi sayangnya tak bisa semudah itu, sayang,” kata Nona Ailur. “Sehebat apapun kami (para Khan) kami tak akan bisa melakukannya.”


“Tapi kenapa?” tanyaku kecewa.


“Apa kalian ingat kisah hari berdirinya Kekaisaran Sandya Aksata?” kata ayah pada kami bertiga. Dan kami pun mengangguk bersama.


“Setelah penobatannya, Kaisar Akbar mengangkat pemimpin untuk masing-masing dari keempat bangsa: 7 Kesatria, pemimpin Bangsa Manusia; 4 Khan, pemimpin Bangsa Hayawan; 12 Roh, pemimpin Bangsa Jin; dan 2 Arif, pemimpin Bangsa Masnae,” lanjut ayah, diikuti anggukan kami bertiga yang antusias mendengar kembali kisah itu.


“Saat pengangkatan itulah semua pemimpin dari tiap-tiap bangsa bersumpah bahwa bangsa mereka tidak akan saling menyerang ataupun berperang satu sama lain. Termasuk pendahulu kita, 4 Khan pertama. Sumpah itu masih mengikat keempat bangsa hingga saat ini dan akan tetap ada hingga akhir dunia. Itulah sebabnya Hutan Rintihan Buana ini tak pernah tersentuh meskipun selama 2000 tahun perang manusia terus berkecamuk di seluruh penjuru benua.”


“Jika saja tidak ada sumpah itu, aku pasti akan keluar dari sini dan mempertanyakan semua masalah ini pada si Raja Serakah dengan kapakku mengacung di depan lehernya!” tegas Paman Boss sembari mengangkat kapak besar ditangannya.


“Baiklah ... Kalau begitu kami akan menggantikan kalian untuk keluar dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Juga memastikan kebenaran tanda ramalan yang disebutkan Raja Angkara dalam suratnya,” kata Lupus bersemangat.


“Itu benar. Aku juga ingin mengetahui kelanjutan kisah 4000 pasukan Prajurit Hayawan dan perangnya melawan Khan Hominid di Pulau Angker,” kata Arctos dengan binar mata keingintahuan.


“Hey! Jangan lupakan aku. Kalian tidak akan pergi tanpaku,” kataku yang juga ingin ikut. Mungkin ini akan jadi petualangan yang hebat dan menyenangkan.


“Aku sudah menduga kalian akan mengatakannya.” gumam Nona Ailur dengan senyum licik.


“Oh, Ailur ... Apakah ini semua rencanamu? Membiarkan mereka membaca gulungan itu lantas membuat mereka ingin keluar dari hutan ini dan memecahkan misteri yang selama ini kau cari. Ha Ha Ha Ha ... Sungguh Panda gemuk yang cerdik,” celoteh paman Boss sembari tertawa dengan suara beratnya.

__ADS_1


“Aku tak akan membiarkan anak-anak ini keluar! Kita tak tahu bahaya apa yang akan menanti mereka di luar sana. Sudah banyak Unit Pencari yang kita kirim keluar dan tak ada satupun dari mereka yang kembali. Tak bisa kubayangkan jika harus kehilangan anak-anak ini juga,” tegas ayah penuh kekhawatiran.


“Tenang saja, Shimha,” kata Nona Ailur dengan senyuman aneh.


“Mereka bukan anak-anak biasa:


Lupus adalah putra Khan Canis: Wolford sang Assassin. Dia anak berbakat yang mewarisi kecakapan dan semua keunggulan sukunya;


Arctos adalah murid terbaikku, Khan Ursidae: Ailur sang Ilmuan. Dia anak paling jenius dan memiliki kekuatan Ursidae yang luar biasa; dan


Tigris adalah putrimu sendiri, Khan Panthera: Shimha sang Pemangsa, dialah sang 'Putri Perak' yang kau pasti mengerti maksudku.”


Tak kusangka Nona Ailur begitu yakinnya pada kemampuan kami. Mendengar itu kami merasa sangat bangga sekaligus bersemangat untuk segera memulai petualangan ini.


Tapi, beliau berkata aku adalah ‘Putri Perak’? Apa maksudnya? Apa karena buluku yang berwarna putih keperakan? Tapi itu tak bisa dikatakan sebagai keunggulanku jika dibandingkan dengan kemampuan Lupus dan Arctos yang disebutkannya tadi.


“Ailur benar, Shimha. Biarkan mereka menghadapi takdir mereka sendiri,” kata Paman Boss dengan yakin.


“Paman Boss benar. Aku mohon, Ayah... Biarkan kami pergi. Aku berjanji akan menjaga diriku baik-baik,” kataku memelas.


“Tapi kalian masih terlalu muda, tak mungkin bisa menanggung takdir sebesar itu,” kata ayah cemas.


“Lantas bagaimana menurutmu, Wolford?”


“A-Apa maksudmu dengan ‘menjaga’? Tak akan kuberikan putri kesayanganku pada bocah ingusan seperti mereka.”


“Ha Ha Ha Ha... Hey, Shimha! Dimana wibawamu sebagai seorang Khan dan 'sang Pemangsa'. Ketika berhubungan dengan putri kecilmu, kau hanya nampak seperti induk kucing,” celoteh Paman Boss dengan tawa berasapnya.


“Haahhh... Baiklah jika kalian berpikir seperti itu,” kata ayah setelah terdiam sejenak sembari menghela nafas berat.


“Benarkah? Terima kasih ayah...” kataku kegirangan lantas memeluk ayah.


“Tapi kalian harus tetap waspada dan jaga diri kalian baik-baik. Lupus, Arctos, berjanjilah kalian untuk selalu melindungi putriku,” lanjut ayah.


“Ba-Baik!” jawab mereka terkaget.


‘Aku sudah cukup kuat untuk melindungi diriku sendiri.' Kurasa tak perlu kukatakan, daripada ayah kembali khawatir dan berubah pikiran.


“Baiklah ... Sebelum kalian pergi, persiapkanlah keperluan dan perbekalan kalian. Aku akan meminta Paman Pardus untuk membantu kalian melakukan persiapan,” tutur ayah.


“Baik!” jawab kami serentak.

__ADS_1


...~ ◊ ~...


Setelah mempersiapkan semua keperluan dan perbekalan, aku, Lupus, dan Arctos ditemani keempat Khan berjalan ke perbatasan sebelah barat hutan.


Selama perjalanan, ayah terus mengatakan pesan-pesan ‘wasiat’nya kepada kami dengan penuh kecemasan dan kekhawatiran.


Mendengar ocehan ayah yang tiada henti-hentinya, tak terasa kami telah sampai di batas hutan. Ternampak barisan terakhir pepohonan raksasa sebagai tanda ujung Hutan Rintihan Buana.


Baru pertama kali kami bertiga sedekat ini dengan dunia luar.


Diseberang hutan nampak padang rumput hijau membentang disirami gemerlap embun menyilaukan mata yang terkena cahaya sang surya.


Panorama elok nan hangat bangkitkan semangat membara dalam hati. Kaki-kaki kami seakan tak sabar lagi untuk melangkah pergi. Menyambut mentari pagi, memulai petualangan laksana mimpi.


“Tetap bersama dan jangan sampai terpisah. Sering-seringlah melihat peta agar kalian tidak tersesat. Meskipun itu peta yang 24 tahun belum diperbarui, setidaknya wilayah sekitar sini tidak terlalu banyak berubah. Dan yang terpenting hematlah perbekalan kalian,” oceh ayah cemas.


“Ayah... Kami bukan anak kecil lagi. Kami pasti bisa menjaga diri kami sendiri,” kataku kesal.


“Tigris benar, Paman Shimha. Kami telah belajar banyak hal. Kami yakin akan dapat bertahan dari segala ancaman yang mungkin terjadi di luar sana,” kata Arctos dengan penuh keyakinan.


“Kami telah dibesarkan dan dilatih dengan baik di hutan ini untuk menjadi seorang Prajurit Hayawan sejati. Kami tak akan mempermalukan Bangsa Hayawan dengan mati begitu mudahnya,” kata Lupus tegas.


Mendengar itu, Ayah terdiam lantas tersenyum menampakkan taring-taring panjang nan runcingnya.


“Kalian benar. Sudah sepantasnya aku mengakui kemampuan kalian untuk menjadi seorang prajurit yang memikul kehormatan Bangsa Hayawan.”


Kata-kata ayah seketika berubah. Yang tadinya penuh nada kecemasan dan kekhawatiran, kini menjadi begitu lembut, dalam, dan penuh keyakinan.


“Baiklah ... Selanjutnya adalah apa yang harus kalian lakukan setelah melewati batas hutan,” kata Paman Wolford. “Tujuan kalian adalah ibu kota kerajaan Raja Angkara di Gurun Pasir Selatan. Butuh waktu sekitar 3 bulan jika perjalanan kalian tidak ada hambatan.”


“Kusarankan untuk terus melanjutkan perjalanan melalui daratan. Karena kita tak tahu seberapa berbahayanya jika menyebrangi lautan sekarang ini. Dan akan mudah bagi kalian untuk mengisi perbekalan, beristirahat, ataupun bersembuyi jika tetap di atas daratan. Dan jangan lupa untuk terus menjaga persenjataan kalian,” kata Nona Ailur.


“Berjalanlah menuju ke barat, kalian akan sampai ke Kota Raja Malas. Disana kalian dapat mengisi perbekalan dan mencari kendaraan untuk melanjutkan perjalanan ke selatan. Saat menuju selatan mampirlah ke sebuah desa di tepi rawa, desa itu bernama Desa Ayal. Disana tinggal adik perempuanku, Bubalis si Kerbau (jika ia masih ada di sana). Kalian mungkin akan mendapat bantuan darinya,” tutur Paman Boss.


“Dan terakhir, jangan lupa untuk terus mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya,” tambah Paman Wolford.


“Baik!” seru kami serentak.


“Terimakasih atas bimbingan dan arahannya selama ini,” kata Arctos sambil membungkukkan kepala, aku dan Lupus pun mengikutinya.


“Baiklah. Saatnya kalian pergi, anak-anak. Tatap dan jemputlah takdir kalian masing-masing. Restu kami akan selalu menyertai kalian, Tiga Prajurit Muda!”

__ADS_1


Kata-kata yang begitu tegas dan dalam dari ayah, Khan Panthera: Shimha sang Pemangsa dengan segenap kewibawaannya, menyertai langkah kaki kami tuk memulai petualangan penuh misteri, menantang sang takdir yang telah menanti.


__ADS_2