Tahta Akhir Dunia - Kisah I

Tahta Akhir Dunia - Kisah I
Menuju Kisah Baru (1)


__ADS_3

...~ ◊ ~...


5 tahun setelah terbentuknya perjanjian yang mengakhiri semua kekacauan, kondisi kerajaan pun perlahan mulai menampakkan perubahan. Tak lagi adanya peperangan, sawah dan ladang kembali di gunakan untuk bercocok tanam, di berbagai daerah pun mulai dilakukan pembangunan.


Perlahan tapi pasti, kondisi kehancuran benua pasca perang mulai diperbaiki. Pemerintahan telah bangkit kembali. Wilayah-wilayah lain pun dikelola lagi.


Kerajaan Angkara kini membentang di seluruh Benua Agung kecuali Hutan Rintihan Buana, Pulau Angker, dan Pulau Songar (wilayah bebas Pasukan Perak). Dengan luasnya wilayah, Raja Angkara pun membagi daerah kerajaannya menjadi 6 daerah provinsi bagian di 6 wilayah Raja Bengis.


Bangsa Hayawan pun kini telah tinggal sementara di Pulau Songar, wilayah Raja Sombong di timur laut. Di sana mereka bersama dengan Pasukan Perak yang menjamin kebebasan mereka, terlepas dari kerajaan Bangsa Manusia.


Namun sang Kaisar Akbar kini tak lagi bersama Pasukan Peraknya. Ia kembali pergi tak tahu entah kemana bersama dengan Ayasya, gadis yang datang bersamanya dari dunia yang sama dengannya.


(Itu akan secara khusus diceritakan dalam ‘Kisah’ selanjutnya, yang mungkin akan menjadi hal menarik bagi kalian yang menantinya.)


Sang Kaisar hanya mengatakan bahwa masih ada banyak hal yang harus ia kerjakan untuk mencegah kematian dunia dan membawa kembali kedamaian sejati yang didambakan.


Di sisi lain. Ketika Bangsa Manusia dibawah Kerajaan Angkara perlahan mulai bangkit dari keterpurukannya berkat ditepatinya ‘4 Pasal Perjanjian’ untuk menjaga status quo kerajaan, terjadilah kembali sebuah kekacauan yang menggemparkan.


Suatu hari, para bangsawan kerajaan ingin melengserkan kekuasaan Raja Angkara dengan melakukan sebuah kudeta. Karena ia dinilai tak lagi memiliki kuasa karena terikat perjanjian yang mengekang Bangsa Manusia.


Padahal sejatinya berkat perjanjian itulah mereka bisa bangkit dari pahitnya perang yang penuh sengsara. Namun Bangsa Manusia yang masih kotor jiwanya dengan mudah kembali di adu domba dan diperdaya.


Nampaknya Roh Jahat kembali menghasut mereka untuk kembali membangkitkan dosa-dosa yang telah binasa bersama berakhirnya perang yang penuh nista.

__ADS_1


Serakah untuk berkuasa, Rakus untuk memiliki segalanya, Amarah dan dendam yang masih tersisa, Dengki yang merusak jiwa, Malas dalam bekerja, Nafsu yang membara, serta Sombong dan keras kepala.


Dengan dalih kebebasan, mereka melakukan kudeta di kerajaan. Mereka menyerbu istana di tengah malam dan memenggal kepala sang Raja tanpa belas kasihan. Memperkosa istrinya bergantian dan menjadikannya budak tak berperi kemanusiaan.


Setelah itu, rakyat yang juga masih dirundung dendam atas kesengsaraan mereka selama peperangan, mulai melakukan berbagai gerakan pemberontakan. Namun mereka tak menyadari bahwa tanpa sadar gerakan mereka telah dikendalikan oleh orang-orang yang serakah akan kekuasaan.


Melihat munculnya kembali kekacauan, para Kesatria dan Prajurit Bangsa Hayawan yang telah berjanji untuk menunaikan sumpah sang Pangeran dalam menghancurkan belenggu kenistaan, memutuskan untuk menghentikan kekacauan dan kehancuran yang kembali datang.


Ketujuh Kesatria mencoba untuk mengungkap serta mengalahkan para dalang di balik kudeta dan pemberontakan yang terjadi. Sedangkan Prajurit Hayawan mencoba mencari kembali sang Kaisar yang telah pergi untuk memintanya meluruskan kembali perjanjian yang telah diingkari.


...~ ◊ ~...


Udhata sang Pambuka Gapura, Wirasana sang Hamung Tuwuh, dan Sodha sang Pinandhita yang tengah ada di ibu kota Kerajaan Angkara mencoba menghalau langsung pergerakan para pengkudeta. Mengamankan tahta agar tak jatuh ke tangan mereka.


Munculnya tiga sosok Roh Jahat yang menjadi dalang semua tipu muslihat dan menjadi momok berat bagi tahta kerajaan yang tengah sekarat.


Tiga sosok Roh yang mengebulkan asap hitam memabukkan dari wajah berlubang nan mengerikan. Meracuni pikiran para Bangsawan dan mendorong mereka melakukan pemberontakan.


Mereka berkeliaran di sekitar istana dengan menunggangi kuda hitam mereka. Menyertai kematian sang Raja dengan asap yang membara.


Ketiga Kesatria: Udhata, Wirasana, dan Sodha mencoba menghentikan gerak ketiga Roh Jahat yang menjadi biang kudeta. Mereka menghadangnya dengan gada, panah, dan senapan mereka untuk melawan para penyebar dusta.


Namun kekuatan ketiga Kesatria bukan tandingan musuh mereka. Asap terus menerus di sebarkan hingga ke seluruh penjuru ibu kota. Mengendalikan amarah para rakyat disana untuk ikut melawan para Kesatria.

__ADS_1


Ketiga Roh Jahat dengan kekuatan besar mereka dan semua Bangsawan dan rakyat yang mendukungnya, berhasil memukul mundur para Kesatria dari ibu kota dan akhirnya mengambil alih tahta dengan menjadikan seorang Bangsawan Buruk Rupa untuk menggantikan posisi sang Raja.


...~ ◊ ~...


Di sisi lain, Basita sang Murwa Kuncara, Danendra sang Mukti Wibawa, Antara sang Sumela Atur, dan Bramanta sang Lelana berusaha meredam gerakan para rakyat dari seluruh penjuru benua.


Basita pergi ke kampung halamannya, Provinsi Raja Amarah di barat daya. Danendra menuju Provinsi Raja Dengki di Utara. Antara ke Provinsi Raja Malas. Sedangkan Bramanta di bagian tengah benua, Provinsi Raja Rakus dan Raja Nafsu.


Pergerakan rakyat yang dikendalikan para Bangsawan yang laknat membuat keempat Kesatria dan pasukan mereka menjadi tertahan ditempat.


Karena mereka tak mungkin menyerang atau bahkan mengobarkan pertempuran melawan rakyat yang hanya menjadi boneka yang dikendalikan.


Keenam provinsi wilayah kerajaan kini menjadi terpecah belah. Dimana para penguasa menyatakan kekuasaan mereka sendiri di tiap daerah. Dan kini akhirnya babak penyatuan benua telah berakhir sudah.


Enam wilayah di daratan utama kini telah membentuk kekuasaan sendiri. Memisahkan diri dari Kerajaan Angkara setelah si Raja mati, dan mendirikan negara mereka sendiri. Dimana semuanya dipimpin oleh penguasa yang tak punya hati.


Para Kesatria pun tak lagi memiliki kuasa untuk memerangi negara baru yang telah berdiri. Mereka pun terpaksa harus pergi dan angkat kaki dari daratan utama ibu pertiwi.


Kini ketujuh Kesatria bersama dengan seluruh pasukannya yang tak lagi memiliki tempat di daratan utama, akhirnya pergi menuju ke Pulau Songar tempat para Pasukan Perak dan Bangsa Hayawan berada.


Dan begitulah akhir dari Kerajaan dan wangsa kekuasaan Raja Serakah hingga menjadi Kerajaan Angkara yang menguasai seluruh benua dengan kekuasaan yang menyebabkan kekacauan di mana-mana.


Akhirnya kini kerajaan runtuh akibat kudeta para Bangsawan dan rakyat yang melakukan pemberontakan, dengan campur tangan para Roh Jahat yang mengerikan.

__ADS_1


__ADS_2