
...~ ◊ ~...
Aku Panthera Tigris, Harimau perempuan, Putri salah satu Khan dari Suku Panthera. Aku lahir dan dibesarkan di sebuah Desa Hayawan di dalam hutan gelap dan berkabut, Hutan Rintihan Buana.
Aku memiliki dua teman dekat yang selalu merawatku yang sudah kuanggap kakak-kakak kandungku sendiri. Canis Lupus si Serigala, salah satu putra Khan Canis; dan Ursidae Arctos si Beruang, murid dari Khan Ursidae.
Bersama merekalah aku meninggalkan Hutan Rintihan Buana ini untuk mengungkap misteri dan kebenaran tentang Raja Angkara.
Sebelum menceritakan kisah kami setelah meninggalkan desa, lebih baik kuceritakan terlebih dahulu sebuah dongeng indah yang menjadi sebab keinginan kami untuk meninggalkan kampung halaman, juga kisah tentang pahlawan dalam dongeng impian kami.
(Kisah dongeng ini akan terus berlanjut menjadi beberapa bagian seiring berkembangnya cerita dan akan membuka setiap misteri di tiap bagiannya.)
...~ ◊ ~...
Semenjak kecil kami selalu diceritakan kisah tentang Kaisar Akbar, sang Raja kedamaian dari dunia tak dikenal yang menyatukan semua bangsa penghuni benua ini.
Bangsa Manusia; Bangsa Hayawan si setengah binatang; bahkan Bangsa Jin si makhluk pengguna sihir; dan juga Bangsa Masnae yang bijaksana, sang makhluk kuno bertubuh kayu.
__ADS_1
Semuanya bersatu dalam kedamaian dibawah kepemimpinannya. Menghancurkan rantai kejahatan dan membawa kedamaian serta kemakmuran di seluruh penjuru Benua.
Untuk menghormati jasa-jasanya, benua ini diberi nama ‘Benua Agung’ yang diambil dari nama sang Kaisar, yaitu ‘Akbar’ yang berarti ‘Besar’.
Kami sangat terkagum-kagung setiap kali mendengar kisah-kisah heroiknya. Bahkan kami tak pernah bosan mendengar cerita-cerita yang sama tentangnya. Begitu juga semua anak-anak lain di desa. Kami semua ingin menjadi sepertinya, setidaknya ingin menjadi salah seorang prajurit yang ikut serta dalam petualangannya.
Hal itu tentu saja, karena di sinilah, tepat di ujung puncak gunung di desa inilah Istana Perak Kaisar Akbar berdiri tegak dengan agungnya.
Dahulu kala, ketika Kaisar Akbar memerintah, dihutan ini dan di desa inilah pusat pemerintahannya. Dengan tonggak kepemimpinannya, berdirilah sebuah kekaisaran besar bernama Sandya Aksata.
(Sandya yang berarti 'Persatuan' dan Aksata yang berarti 'Tak Terputus'. Nama ini yang menjadi simbol persatuan abadi seluruh makhluk di Benua Agung.)
Sebelum kepergiannya, ia meninggalkan pesan dalam sebuah prasasti yang terukir pada lantai kaca di ruang singgasana Istana Perak.
Kami, bangsa Hayawan tak akan pernah melupakan isi dari prasasti itu bahkan setelah dua ribu tahun kepergiannya. Prasasti itu bertuliskan :
...Dikala Dunia Beranjak Tua...
__ADS_1
...Perdamaian dan Keadilan Dianggap Dongeng Belaka...
...Belenggu Kejahatan Kembali Merajalela...
...Dan Sang Pemersatu Hilang Kepalanya...
...Ia Akan Datang Dengan Panji Akbar Yang Membara...
...Sang Pemimpin Tanpa Mahkota...
Namun dengan kepergian Sang Kaisar Akbar, tak ada lagi pemimpin yang mampu menyatukan semua bangsa.
Bangsa Manusia mulai memisahkan diri dan membangun kerajaan mereka sendiri. Kembali saling berperang dan memperebutkan kekuasaan. Menguras sumber daya alam dan mencemari lingkungan.
Melihat sikap manusia yang semena-mena merampas dan merusak tempat hidup mereka, Bangsa Masnae memutuskan berdiam diri agar tak terjadi perpecahan kembali. Berkumpul di sekitar Istana Perak, berdiam diri laksana mati, menangis merintih, tidur meratapi Sang Kaisar Akbar yang telah pergi.
Dan dari sanalah tercipta Hutan Rintihan Buana. Hutan pohon-pohon layu raksasa yang merupakan Bangsa Masnae yang tengah merana. Hutan penuh kabut yang merupakan titik-titik tangisan para makhluk paling bijaksana.
__ADS_1
Sedangkan Bangsa Jin yang merasa dikhianati oleh Sang Kaisar karena ditinggal pergi, memutuskan kembali ke wilayah mereka sendiri. Dalam dunia bawah tanah yang sepi, dimana manusia sang makhluk perusak tak dapat menempati. Dan dengan sihir sakti, hanya orang mati yang dapat memasuki.
Bangsa Hayawan yang tetap setia dan mencoba memahami arti ramalan dalam prasasti, mencoba terus menjaga serta merawat hutan dan istana dengan yakin sang Kaisar Akbar akan kembali lagi.