
...~ ◊ ~...
Sehari setelah sampai di Istana Raja Malas yang telah menjadi pusat pertahanan pasukan Prajurit Bangsa Hayawan. Aku (Panthera Tigris), Lupus, dan Arctos, ditemani oleh Tuan Dirus langsung berangkat melanjutkan perjalanan menuju ke selatan.
Tujuan kami selanjutnya adalah Rawa Desa Ayal untuk menjemput Nona Bubalis si Kerbau untuk memintanya (‘menyeretnya’ kata Tuan Dirus) agar mau kembali ke Kota Raja Malas untuk kembali mengambil alih pimpinan semua pasukan Prajurit Bangsa Hayawan.
Butuh waktu seminggu perjalanan hingga kami sampai ke Rawa Desa Ayal. Desa itu terletak di tepi sebuah rawa besar yang menjadi perbatasan antara wilayah Raja Malas dengan wilayah Raja Nafsu.
Kami duduk diatas sebuah perahu yang meluncur di atas rawa yang gelap dan berlumpur. Rumah-rumah panggung nampak berdiri diatas air penuh lumpur. Tiang-tiang kayu dibangun sebagai penyangga rumah yang tak nampak kendur. Sebuah desa tenang yang penduduknya tampak akur, sekaligus tampak nganggur.
Ya. Karena penduduk desa ini adalah Kaum Hayawan pemalas yang gemar berkubang di dalam air dan lumpur. Mereka adalah Kaum Buaya, Kuda Nil, Babi, Badak dan Kerbau.
“Sebenarnya siapa Nona Bubalis itu?” tanyaku pada Tuan Dirus. “Kami hanya mengenal beliau saat diberi tahu Paman Boss sebelum kami keluar dari Hutan Rintihan Buana.”
“Kami juga dengar beliaulah orang yang memimpin Prajurit Bangsa Hayawan hingga berhasil menguasai wilayah Raja Malas ini,” tambah Lupus.
“Dahulu kala banyak Rakyat Hayawan yang bertempat tinggal di luar Hutan Rintihan Buana sebelum semua mala petaka ini terjadi,” kata Tuan Dirus.
“Bubalis adalah orang yang diberi tugas oleh para Khan untuk memimpin Bangsa Hayawan yang tinggal di luar hutan, yang sebagian besar tinggal di sekitar rawa ini.
Semenjak terjadinya tragedi Sihir Perbudakan 24 tahun lalu, semua Bangsa Hayawan yang ada di luar hutan (termasuk 4000 pasukan yang kupimpin dan unit-unit pencari yang dikirim para Khan) berkumpul di sekitar rawa ini untuk memusatkan kekuatan guna bertahan ditengah peperangan.
Sekitar 4 tahun lalu, dengan terus bertambahnya kekuatan, kami berhasil mengalahkan pasukan Pangeran I di Kota Raja Malas dan menjadikan kota itu basis pertahanan. Dan selama 4 tahun ini kami berusaha menguasai seluruh wilayah Raja Malas dan melakukan blokade di tiap perbatasannya agar perang tak masuk ke wilayah kita.
Namun suatu hari Bubalis menghilang dan terpaksa aku yang harus mengambil alih komando kepemimpinan.
Dan disinilah ia pergi. Bermalas-malasan dalam kubangan lumpur ini, meninggalkan tugas dan kewajibannya,” jelas Tuan Dirus dengan raut kekesalan.
Perahu kami terus berjalan meniti di atas rawa dangkal ini, hingga sampai di sekumpulan Kerbau yang tengah bermalas diri. Mereka seakan tak perduli akan kedatangan kami dan hanya terus merendam diri.
“Di saat yang lain berjuang dan berkorban diri, kau malah bermalas-malasan seperti ini. Dimana kesetiaan dirimu terhadap bangsamu, wahai Bubalis sang Pemimpi?” bentak Tuan Dirus.
“Tak perlu menggonggong seperti itu, teman lamaku,” kata seorang Kerbau betina yang gemuk sembari masih merendam diri di kolam penuh lumpur itu.
“Penuhilah tugas dan tanggung jawabmu! Kembalilah dan pimpinlah pasukanmu! Perang belumlah usai!” lanjut Tuan Dirus disertai geraman.
“Apa kau masih kesal karena aku yang diberi wewenang oleh para Khan untuk memimpin seluruh bangsa kita di luar hutan dan bukannya dirimu? Kau boleh mengambil tempatku jika kau mau. Bukankah kau sudah mengambil alih komando selama aku pergi? Maka lanjutkanlah pekerjaanmu itu,” balas Kerbau itu.
“Jangan main-main denganku, wahai Kerbau gendut! Aku akan menyeretmu kembali tanpa mendengarkan kata-kata busukmu!”
__ADS_1
Tuan Dirus pun lantas melompat dari perahu dan langsung menyergap Kerbau itu. Membuka rahang, mengeluarkan cakar, menampakkan keganasan.
Ia mendaratkan cakar-cakar depannya menekan pundak Kerbau itu dan menggeram tepat di depan wajahnya, membuat si Kerbau hampir terbenam dalam kolam lumpurnya. Namun kerbau itu tetap tenang lantas berkata-
“Apa kau hanya ingin pamer kekuatan di depan putra Khan Canis? Gelar yang gagal menjadi milikmu hanya karena kau kehilangan sebelah matamu?” ejek Kerbau betina itu.
“Jaga bicaramu!” geram si Serigala.
“Ma-Maaf jika aku mengganggu. Tapi bukankah lebih baik jika kita bicarakan ini baik-baik. Akan buruk jika kaum kita melihat kedua Komandannya saling berkelahi seperti ini,” kata Arctos mencoba mencairkan ketegangan.
Mendengar itu, Tuan Dirus pun melepaskan cengkraman cakarnya pada Nona Bubalis lantas kembali menaiki perahu.
“Bersihkan tubuhmu dari lumpur kotor itu! Kita akan bicara di balai desa,” kata Tuan Dirus.
Kami pun kembali mendayung perahu menuju sebuah bangunan besar yang terapung di tengah rawa. Bangunan kayu dengan beberapa tiang yang menyangga atap jerami, tanpa dinding. Seperti sebuah saung luas yang terapung. Itulah balai desa yang dimaksud.
Sesampainya di sana, kami pun turun dari perahu dan memasuki balai itu. Tak lama kemudian datanglah Nona Bubalis dengan tubuh yang telah bersih tanpa lumpur. Nampak sangat berbeda dengan ia yang kami lihat sebelumnya, yang sedang bermalas-malasan tadi. Kini ia nampak lebih berkarisma dengan kedua tanduk besar nan runcingnya yang seakan menggambarkan keagungannya.
Nona Bubalis dan Tuan Dirus saling tatap dengan atmosfer mengerikan di sekitar mereka. Ditengah suasana yang makin canggung dan mencekam, aku pun memberanikan diri memulai percakapan-
“Y-Yah, tak perlu basa basi lagi. Mari kita bicarakan urusan kita.”
“Baiklah jika itu maumu! Akan kuselesaikan urusanku denganmu.” sahut Tuan Dirus menggeram.
Tidak tidak tidak. Bukan begitu maksudku. Mengapa kalian tak juga mengerti. Rawa ini akan hancur jika kalian berdua bertarung disini.
“Maaf sebelumnya atas kedatangan kami yang mendadak kemari,” kata Arctos sembari berdiri melerai diantara mereka berdua.
“Ya. Sudah sepantasnya kalian minta maaf. Kau pikir apa yang akan dilakukan Raja Angkara dan para Pangerannya jika mengetahui kedua Komandan pasukan Prajurit Bangsa Hayawan ada di tempat ini secara bersamaan?” kata Nona Bubalis yang terdengar masuk akal.
Benar juga. Dengan pengamatan dari Sihir Perbudakan, Raja dan para Pangeran akan dapat mengetahui pergerakan kedua Komandan Prajurit Hayawan ini. Dan jika mereka menyadari akan hal ini, mungkin mereka akan mengerahkan pasukan menuju rawa ini untuk menghabisi Tuan Dirus dan Nona Bubalis disini.
Jika kehilangan dua Komandannya, akan berpengaruh buruk pada para pasukan Bangsa Hayawan yang kini tak memiliki pemegang komando utama.
“Ma-Maafkan kami. Tapi kami datang kemari juga karena perintah dari Khan Artiodac,” kata Arctos.
“Hah... Ternyata si Banteng tua itu,” dengus Nona Bubalis. “Memangnya seberapa sibuknya pekerjaan mereka di dalam hutan sana hingga membiarkan rakyatnya menderita di luar sini? Bahkan tega memerintahkan tiga bocah seperti kalian untuk mengerjakan pekerjaan mereka? Sungguh Khan pengecut!”
“Kau tak sepantasnya merendahkan pemimpin bangsamu, Kerbau! Mereka adalah penerus dari para penjaga kehendak Kaisar Akbar dan ramalannya,” balas Tuan Dirus kesal.
__ADS_1
“Omong kosong dengan Kaisar dan ramalan anehnya itu. Berhentilah berhayal! Kaisar, perdamaian, ataupun keadilan yang dibawanya hanyalah dongeng belaka. Tak akan ada kedamaian ataupun keadilan di atas dunia jika masih ada yang bernyawa. Kematianlah yang mengakhiri segalanya. Bukan Kaisar, Khan, ataupun Raja. Lebih baik kunikmati sisa hidupku hingga akhir dunia.”
Seketika kami semua terdiam. Tak tahu apa yang harus dikatakan, tak tahu apa yang harus dilakukan.
Apakah dunia memang sudah ada di akhir hayatnya? Apakah semua yang kami lakukan hanya akan sia-sia?
“Tidak. Semua tak akan berubah jika kita tak melakukan apa-apa. Setidaknya kita masih punya kisah-kisah yang kau anggap dongeng itu sebagai satu harapan bagi kita semua.”
Tanpa sadar aku mengatakan itu tiba-tiba. Aku hanya merasa kesal dan marah ketika mendengar ocehannya yang merendahkan para Khan, Kaisar Akbar, bahkan ramalan yang selama ini selalu kami pegang teguh.
“Hee... Memangnya kau mengerti apa, kucing kecil?” sarkas si kerbau itu dengan dengusan. “Kalian baru keluar dari hutan persembunyian para Khan, bukan? Kalian tak tahu betapa mengerikannya dunia. Banyak rakyat kita yang menderita, terseret dalam kekacauan yang bukan urusan kita, bertarung meregang nyawa, diselimuti rasa putus asa. Dan kau pikir semua akan selesai hanya dengan sebuah dongeng belaka?”
“Tapi semua juga tak akan selesai jika kita hanya diam saja!”
“Lantas apa yang akan kau lakukan untuk mengatasi semua masalah ini, kucing manis?”
Aku pun hanya bisa terdiam. Tak tahu kata apa untuk menjawabnya.
“Jika para Khan kau anggap pengecut, berarti kau pun juga pengecut, Nona Bubalis si Kerbau,” kata Lupus tiba-tiba.
“Walaupun mereka pengecut, walau kalian semua pengecut, tapi kami keluar dari hutan dengan darah prajurit yang mengalir deras dalam nadi kami. Kami keluar dari sini untuk menantang takdir dan nasib kami,” tambah Arctos.
Mereka benar. Tak perlu ragu-ragu lagi. Kami keluar untuk menjemput takdir kami. Dengan segenap tekat mengiringi tiap langkah kaki, membawa semangat prajurit dalam setiap nafas kami.
“Jikalau memang semua dongeng dan ramalan itu hanya omong kosong. Maka kamilah yang akan membuatnya jadi kenyataan,” kataku penuh keyakinan.
“Hah... Benar-benar menyusahkan,” kata Nona Bubalis sembari menghela nafas. “Tak kusangka bocah-bocah dari hutan akan mengatakannya. Aku yang telah lama hidup di luar sini (bahkan sebelum bencana ini terjadi) merasa terhina dengan semangat kalian.”
“Bagaimanapun zaman telah berganti, jiwa prajurit tak akan pernah lepas dari raga kami,” kata Tuan Dirus.
“Lantas kenapa kau meninggalkan pasukanmu, Dirus si Serigala?” tanya Nona Bubalis.
“Aku akan mengantar ketiga prajurit muda ini ke selatan, namun kami akan berpisah di tengah jalan.”
“Memangnya kau akan pergi kemana setelah berpisah dengan mereka?”
“Dari Benteng Pesisir Timur, aku akan berlayar ke Selat Seram untuk mengambil kembali apa yang menjadi milikku,” jawab Tuan Dirus dengan raut menakutkan.
“Begitu rupanya. Tak heran jika kau sangat bersikeras melakukan perjalananmu ini hingga rela meninggalkan para pasukan,” sahut Nona Bubalis.
__ADS_1
Selat Seram? Bukankah itu laut menuju Pulau Angker? Apa yang akan dilakukan Tuan Dirus di Pulau itu?