Tahta Akhir Dunia - Kisah I

Tahta Akhir Dunia - Kisah I
Pertempuran: Bagian Barat (1)


__ADS_3

...~ ◊ ~...


DI sisi lain, ujung barat gurun pasir. Kini pasukan bantuan dari ibu kota Kerajaan Angkara yang dipimpin oleh seorang Kesatria wanita, Sodha sang Pinandita bersama 12.000 pasukan Infanteri, 8000 Kavaleri, 5000 Artileri, dan 300 ekor gajah tengah bersiap untuk bertempur melawan 5000 prajurit Canis dan Panthera.


Di sore hari yang tampak muram, pasukan Hayawan mulai menggeram. Langit yang gelap berawan, buat medan laga makin mencekam. Perlahan tetesan hujan membasahi gurun dengan kelembapan. Cakar dan taring mulai ditajamkan. Bersiap untuk menghadapi pertempuran yang menentukan.


Rintikan hujan menguap bersama panasnya gurun pasir yang membara. Munculkan kabut uap yang membumbung di angkasa. Tutupi barisan lengkap pasukan besar berbaris rapi di hadapan mereka.


Deraian hujan dan kabut tebal menyelimuti seluruh medan. Menambah kengerian dalam pertempuran yang akan segera dilakukan.


Penciuman tajam Bangsa Hayawan terganggu dengan derasnya air hujan. Namun kabut menguntungkan untuk serangan dadakan para ‘Bayangan’.


Pasukan Canis memulai pertempuran dengan serangan diam-diam dibalik kabut yang mencekam. Satu per satu tentara musuh tumbang dalam kegelapan. Menyisakan jeritan yang menggema di sepanjang medan peperangan.


Musuh mulai ketakutan. Tak tahu apa yang menyerang. Tiba-tiba banyak rekan mereka yang tewas dalam kabut yang menghalang.


Pasukan Canis memang seperti bayangan. Membunuh secara diam-diam, buat musuh kebingungan, mengayunkan pedang kesembarang, namun malah menebas rekan seperjuangan.


Pasukan Panthera pun tak tinggal diam. Mereka mulai berlari menerjang pasukan berkuda lawan. Mengoyak kepala para penunggang, melepaskan tali kekang. Membuat pasukan musuh berhamburan.


Namun panah-panah dari musuh mulai diluncurkan. Tak perlu membidik incaran, mereka melepas anak panah dengan sembarangan ke arah kabut yang menggelapkan pandangan.


Prajurit Hayawan dengan mudah menghindarinya. Lantas dengan cepat membunuh pemanahnya. Pasukan depan musuh pun makin porak-poranda dibuatnya.


Mereka pun lanjut menerjang pasukan tengah musuh. Namun tombak-tombak diluncurkan dari pelontar besar. Menembus butiran kabut di udara, tombak-tombak pun dengan cepat menembus tubuh Bangsa Hayawan yang tengah menerjang.


Terhujam tombak-tombak besar, Bangsa Hayawan pun tersungkur dan terjatuh dengan kasar. Ringkikan terdengar dari mereka yang tertusuk tombak yang meluncur dari pelontar yang berjajar.


Tigris, si gadis Harimau nampak kebingungan melihat rekan-rekannya mati terhantam hujaman tombak dari balik kabut yang mencekam.

__ADS_1


Darah berlinangan di atas tanah yang dipijaknya. Hujan pun seketika menyapu deraian merah bersamanya. Bulu-bulu peraknya yang berkilauan kini ternoda lumpur dan darah dari nadi rekan-rekannya yang telah tewas di hadapannya.


Gadis 12 tahun ini ikut berperang demi takdir yang menentukan. Mimpi indahnya dalam berpetualang kini menjadi mimpi buruk ditengah perang yang mengerikan.


Meskipun ia dibesarkan untuk menjadi seorang prajurit Bangsa Hayawan, ia tetap terguncang melihat rekan-rekannya satu per satu mulai berguguran.


Ia hanya mampu terus berlari menerjang deraian hujan sembari berusaha menghindar dari tombak-tombak yang terus diluncurkan.


Tak lama kemudian terdengar benturan keras dan bunyi retakan. Pelontar-pelontar tombak musuh yang berjajar kini satu per satu mulai dihancurkan.


Bantuan dari pasukan Zeni Devisi VII telah diluncurkan. Batu-batu besar berterbangan menghantam peralatan perang musuh dari arah tebing disamping mereka.


Tombak-tombak pun tak ada lagi yang diluncurkan. Kini pasukan Hayawan bisa kembali melakukan serangan. Bersama anak-anak panah yang diluncurkan dari pasukan rekan, mereka kembali menerkam barisan lawan.


Pasukan musuh kembali berjatuhan. Tigris dan rekan-rekannya pun bersiap melanjutkan pertempuran. Dengan dukungan Antara dan pasukannya, akan sangat membantu pergerakan mereka.


Namun masalah kembali menghadang. Kini tubuh Tigris dihempaskan oleh ayunan belalai gajah yang menghadang dihadapan.


Tak tinggal diam, pasukan Antara pun membantu dengan meluncurkan tombak-tombak besar dari atas untuk membunuh gajah-gajah itu.


Gajah-gajah pun mulai jatuh tersungkur setelah dihujam tombak-tombak besar yang diluncurkan. Tigris pun berusaha ikut melawan dengan memanjat tubuh gajah-gajah itu dan membunuh para penunggangnya.


Gajah yang kehilangan penunggang kini bergerak tak beraturan dan berlarian di seluruh medan perang. Bahkan menginjak dan menghempaskan barisan dan kuda-kuda lawan. Setelah itu mereka harus mati karena terhujam tombak yang diluncurkan dari Devisi bantuan.


Setelah beberapa lama pertempuran berlalu, kabut dan hujan pun mulai mereda. Pandangan pun mulai nampak jelas di seluruh medan laga.


Darah yang menggenang. Mayat-mayat bergelimpangan. Kepala terlepas dari badan. Jenazah penuh gigitan dan cakaran. Tubuh hancur berceceran karena gajah yang melakukan injakan. Semua mulai kelihatan setelah hujan dan kabut mulai menghilang.


Tigris yang melihat semua pemandangan mengerikan dan menjijikkan itu hanya bisa berdiri tercengang bersama tubuh yang terus gemetaran.

__ADS_1


Baru pertama kali ini ia melihat pertempuran yang begitu menakutkan. Walaupun selama ini ia berusaha membiasakan diri dengan pertempuran dan kematian, namun ia masihlah seorang gadis kecil yang belum berpengalaman.


Memikirkan berapa nyawa yang telah ia lenyapkan, berapa kepala yang telah ia hancurkan, dan berapa banyak kesedihan yang mungkin tak terpikirkan, membuat gadis itu terus gemetar ketakutan.


“Tigris!! Tigris!! Tigris!!”


Suara samar terdengar. Namun ia tak bisa mencernanya dengan benar. Ia masih terpaku pada keadaan di sekitar.


“Tigris!! Tigris!! Tigris!!”


Panggilan kembali diteriakkan. Namun kini disertai guncangan di bahunya yang masih tegang. Seketika gadis itu tersadar dari lamunan.


“Kita harus mundur! Pasukan bantuan dari Devisi VII telah dihancurkan!”


Lupus berteriak padanya yang masih tak bisa mencerna keadaan.


“A-apa maksudmu mereka dihancurkan?” tanya Tigris yang masih kebingungan.


“Lihatlah itu!” kata Lupus sembari menunjuk tebing tempat Antara dan pasukannya seharusnya berada.


Ya, ‘seharusnya berada’, karena sekarang tebing itu pun sekarang sudah tak ada disana. Lebih tepatnya masih ada di sana namun dengan bentuk yang tak lagi sama.


Tebing itu kini runtuh. Hutan yang ada diatasnya pun jatuh. Hanya meninggalkan longsoran besar yang hancur dan luluh.


“Apa yang sebenarnya terjadi?”


Harimau muda itu tercengang melihat penampakan yang ada dihadapannya. Sungguh kehancuran yang luar biasa.


“Musuh melancarkan sebuah senjata mengerikan untuk menghancurkan tebing itu,” jawab Lupus. “Setelah berhentinya hujan dan hilangnya kabut, nampaknya mereka mengetahui jika kita mendapat bantuan dari arah tebing itu. Sekarang kita terdesak.”

__ADS_1


“Bagaimana bisa? Bukankah kita selama ini memimpin pertempuran? Kita bahkan berhasil mengalahkan gajah-gajah itu. Bagaimana bisa tiba-tiba kondisi bisa berbalik secepat ini?”


“Entahlah. Yang pasti kita harus mundur terlebih dahulu!” tegas Lupus.


__ADS_2