
...~ ◊ ~...
Seribu tahun setelah menghilangnya Sang Kaisar Akbar. Manusia masih bersaing satu sama lain. Perang demi perang terus terjadi.
Manusia saling berebut demi Keserakahan, Rakus akan segala keinginan, kemenangan hanya untuk Kesombongan, timbul Dengki dan penghianatan, terikat rantai Amarah dan balas dendam, Malas memperbaiki kesalahan, serta Nafsu akan kenikmatan.
Dengan semua perselisihan, munculah 7 kekuatan besar yang menjadi puncak kebobrokan di atas sejarah Benua Agung. 7 kerajaan besar Manusia yang masih terus melanjutkan peperangan.
Ketujuh Raja itu dijuluki sebagai Raja Bengis, ketujuh dosa yang membawa kejahatan dan hilangnya keadilan. Tepat seperti dalam ramalan.
Raja Serakah, Raja Rakus, Raja Sombong, Raja Dengki, Raja Amarah, Raja Malas, Raja Nafsu.
Mewariskan kebencian dan permusuhan, ketujuh Raja dan keturunannya saling berperang hingga seribu tahun kemudian.
Sampai akhirnya, 24 tahun lalu, Raja Serakah dari Gurun Pasir Selatan berhasil menaklukkan 6 Raja Bengis lainnya dan menyatukan kembali Benua Agung dalam satu kepemimpinan.
Banyak orang yang menganggap Raja Serakah adalah ‘Sang Pembawa Panji Akbar’ dalam ramalan. Disamping kekalahan Raja Bengis lainnya, manusia di seluruh Benua Agung berbondong-bondong mengakui kedaulatannya dan berharap kembalinya perdamaian dibawah kerajaannya.
Dengan keberhasilannya menguasai seantero benua, Raja Serakah kemudian menobatkan dirinya sebagai Raja Angkara: Sang Penguasa 7 Kerajaan.
__ADS_1
Berita kemunculan Raja Angkara yang berhasil menyatukan kembali Benua Agung setelah sekian lama, terdengar sampai ke Hutan Rintihan Buana. Bangsa Hayawan yang selama ini tidak ikut campur dalam peperangan Bangsa Manusia, turut gembira dengan kehadiran Raja Angkara.
Karena kisah Raja Angkara yang datang setelah hilangnya perdamaian dan keadilan serta menaklukkan Raja Bengis lainnya yang menjadi wujud kejahatan, sejalan dengan isi ramalan.
Namun latar belakang Raja Angkara yang merupakan salah satu Raja Bengis, si Raja Serakah yang bertahta diatas darah dan tangis, membuat para Khan harus berpikir kritis.
Memilih bergabung dan mendukung Raja Angkara, demi berakhirnya sengsara. Atau menolak percaya dan melanjutkan untuk saling curiga.
Namun akhirnya dengan kesepakatan bersama seluruh warga Hutan Rintihan Buana, para Khan memilih untuk setia, ikut bergabung dengan Raja baru mereka. Dan akhirnya, Desa Hayawan dan Hutan Rintihan Buana menyatakan dukungannya pada Raja Angkara.
Dengan demikian, Raja Angkara berhasil mendapat kepercayaan dan dukungan dari semua wilayah di daratan Benua Agung, bahkan dari Bangsa Hayawan yang selama ini tak mau ikut campur dalam urusan Manusia.
Penguasa Pulau Angker, Khan Hominid, menolak kekuasaan Raja Angkara dengan memenggal utusan sang Raja yang dikirim untuk memerintahkan Suku Hominid agar tunduk pada sang Penguasa Benua.
Untuk membalas Suku Hominid dan untuk memberi contoh pada wilayah lain agar tak ada yang ingkar pada kekuasaannya, Raja Angkara memerintahkan seluruh wilayah yang telah tunduk padanya untuk mengirim pasukan.
Pasukan dari seluruh benua itu akan dikumpulkan di sekitar ibu kota, lalu menyebrang laut untuk menyerang Pulau Angker yang membangkang.
Desa Hayawan yang telah menyatakan dukungan dan bersumpah atas kekuasaan Raja Angkara, mau tidak mau harus patuh mengirim pasukan untuk menyerang kerabat jauh mereka sendiri di seberang lautan. Keempat Khan akhirnya mengirim 1000 pasukan dari masing-masing suku untuk menuju ibu kota.
__ADS_1
Namun setelah pasukan Hayawan keluar dari Hutan Rintihan Buana, tak ada sama sekali kabar dari mereka yang kembali.
Cemas karena tak ada satupun kabar dari pasukan yang menuju ibu kota, Khan Canis mengirimkan Bayangan (Unit mata-mata dari Suku Canis) untuk keluar hutan dan mencari informasi tetang nasib pasukan itu. Namun dari mereka juga sama sekali tak ada yang kembali ataupun mengirim kabar.
Menanggapi ini, para Khan menganggap bahwa Hutan Rintihan Buana telah diblokir dari luar dengan semacam barrier sihir pembatas. Barang siapa yang keluar hutan, tak akan bisa kembali lagi.
Karena itu seluruh warga Desa Hayawan tak diperbolehkan keluar atupun mendekati batas hutan.
Desa Hayawan dan Hutan Rintihan Buana menjadi terisolasi dari dunia luar dan tak ada satupun dari warganya yang berani keluar.
Hilangnya kontak dengan 4000 pasukan timbulkan kecemasan, banyak warga yang merasa kehilangan. Tak tahu menahu apa yang terjadi di seberang hutan, hanya berasumsi tanpa kejelasan.
...~ ◊ ~...
Begitulah kisah setelah berakhirnya Perang 7 Raja Bengis dengan akhir kemenangan ditangan Raja Serakah dari Gurun Pasir Selatan dan awal masa kekuasaannya diatas seluruh benua.
Apa yang terjadi pada hutan ini, semuanya hanyalah sebuah asumsi, tanpa ada bukti yang pasti. Orang-orang yang kami kirim keluar dari sini, tak ada yang pernah kembali dan sama sekali tak ada yang berhasil mengabari. Dan juga tak ada sama sekali yang masuk kemari selama 24 tahun ini.
Untuk itu, para Khan memutuskan untuk melarang semua orang keluar dari hutan ini, karena tak ada yang tahu apa yang akan terjadi.
__ADS_1