Tahta Akhir Dunia - Kisah I

Tahta Akhir Dunia - Kisah I
Dongeng Masa Lalu: Di Dalam Kekacauan


__ADS_3

...~ ◊ ~...


Setelah para Khan di Desa Hayawan mendapat surat perintah dari Raja Angkara, karena sudah bersumpah atas kerajaanya, mau tidak mau desa harus mengirimkan pasukan menuju ibu kota untuk mempersiapkan perang melawan Khan Hominid dan pasukannya di Pulau Angker.


Maka dengan begitu diberangkatkanlah 4000 pasukan Kaum Hayawan (1000 pasukan dari tiap suku) untuk keluar Hutan Rintihan Buana menuju ibu kota Kerajaan Angkara di Gurun Pasir Selatan.


Selain itu, pasukan tersebut juga diberi misi rahasia untuk menilai dan mencari kebenaran tentang pernyataan Raja Angkara bahwa dirinya adalah sang 'Pembawa Panji Akbar’ dalam ramalan.


Namun setelah melewati perbatasan hutan, seluruh pasukan tiba-tiba berpindah tempat (terteleportasi) ke Pegunungan Api Barat Daya, wilayah Raja Amarah. Seluruh pasukan pun dilanda kebingungan. Namun pemimpin ke-4000 pasukan itu, Canis Dirus si Serigala, memutuskan untuk tetap melanjutkan misi dan perintah.


Di bawah kepemimpinan Dirus sang Serigala Mengerikan, seluruh pasukan Hayawan berangkat ke arah timur, menuju ibu kota Raja Angkara.


Sesampainya di sana, semua pasukan dari seantero benua yang juga telah sampai di ibu kota mulai bersiap-siap berperang menuju Pulau Angker.


Namun, mereka tak menyadari bahwa makanan dan minuman yang mereka konsumsi selama di ibu kota telah dimantrai oleh sebuah sihir. Sihir Perbudakan.


Mereka mulai menyadarinya ketika menuju pelabuhan untuk menaiki kapal menuju Pulau Angker. Dimana mereka di hadang oleh pasukan Pangeran I, putra pertama Raja Angkara. Dan terjadilah pertempuran saat itu juga.


Tak lama setelah pertempuran berlangsung, muncul 2 barisan pasukan lain yang dipimpin oleh Pangeran II dan Pangeran III dari arah berlawanan yang ikut bergabung dalam pertempuran. Bukan untuk membantu pasukan Raja Angkara ataupun Pangeran I, namun untuk saling berperang satu sama lainnya.

__ADS_1


Seluruh pasukan tak tahu mereka berperang untuk apa. “Bukankah kita akan berperang melawan pasukan Pulau Angker di seberang lautan? Lantas mengapa kita berperang disini? Mengapa Raja dan putra-putranya saling berperang? Dan kenapa pasukan kita berperang satu sama lain?” Itulah yang dipikirkan dan dikatakan para pasukan.


Meskipun dengan keanehan ini, tubuh mereka tetap bergerak untuk terus bertarung dan membunuh satu sama lain. Menyadari bahwa tubuh mereka selalu patuh pada perintah Raja dan para Pangeran, mereka sadar bahwa mereka telah terikat Sihir Perbudakan yang menyala mencengkram leher mereka.


Karena jumlah pasukan yang sangat luar biasa (pasukan dari seluruh benua) perang pun terus berlanjut. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun. Tepatnya telah 24 tahun peperangan masih berlangsung hingga sekarang. Belasan, puluhan, hingga ratusan pertempuran terjadi di seluruh penjuru negeri yang telah 'disatukan kembali'.


Tanah yang baru saja merasa damai dengan berhentinya peperangan antara 7 Raja Bengis, kini harus menelan pahit dengan harus kembali mengangkat pedang dan tombak dalam perang ini.


Selama peperangan mereka menyadari satu penyebab peperangan ini, yaitu para Pangeran ingin merebut seorang wanita dari tangan Raja Angkara, yaitu sang Ratu. Wanita ini bukanlah Ratu yang sebenarnya. Bukanlah ibu dari para Pangeran. Hanyalah wanita pelacur yang dinikahi Raja Angkara dan menjadi Ratu tepat sebelum penaklukan 6 Raja Bengis lainnya.


Para Pangeran menginginkan wanita itu karena kecantikannya yang luar biasa. Kecantikan yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Bagai sihir yang menyilaukan mata.


Sebab perang yang menjijikan, perang keluarga kerajaan yang hanya memperebutkan sebuah ‘lubang’, hingga membawa pertempuran besar pasukan dari seluruh wilayah 7 kerajaan, tepat setelah disatukan. Perang itu pun disebut Perang Sundal.


...~ ◊ ~...


Disisi lain, di Desa Hayawan. Setelah kehilangan kontak dengan 4000 pasukan yang dikirimkan, para Khan berulang kali mengirim kami, unit-unit pencarian untuk mencari informasi tentang ke-4000 pasukan dan juga meneruskan misi mencari kebenaran tentang ramalan.


Tak jauh berbeda dengan nasib 4000 pasukan, kami juga terteleportasi ke tempat lain secara acak.

__ADS_1


Namun dengan keluarnnya kami dari Hutan Rintihan Buana, kami pun mengetahui bahwa pasukan yang diminta oleh Raja Angkara bukannya untuk melawan wilayah pembangkang, melainkan ia gunakan untuk berperang melawan putra-putranya sendiri demi seorang Ratu yang tak diketahui asal usulnya.


Dan lebih menjijikkannya lagi, Raja Angkara dan para Pangeran berperang menggunakan jutaan pasukan dengan kekangan dan paksaan, yaitu dengan belenggu perbudakan.


Entah dengan bantuan Jin; atau menggunakan bantuan siluman, setan, ataupun iblis; atau bahkan ia sendirilah iblis itu; tak pernah ada yang tahu bagaimana sang Raja menggunakan Sihir Perbudakan itu.


Namun tak pernah kami kira, tak pernah kami sangka. Sihir Perbudakan bukan lagi hanya disebarkan lewat makanan dan minuman di ibu kota kerajaan, namun seluruh air dan udara di Benua Agung telah disebar Sihir Perbudakan.


Semua orang di seluruh benua ini telah jatuh di bawah kendali sang Raja dan para Pangerannya. Dengan begitu banyaknya budak dan pasukan di bawah tangan mereka, perang menjadi semakin besar dan dahsyat. Penuh kekacauan, kehancuran, dan kematian.


Namun Bangsa Hayawan yang memiliki resistensi magis yang lebih tinggi dari Bangsa Manusia dapat bertahan dan melawan kutukan dari Sihir Perbudakan.


Dengan begitu, seluruh Bangsa Hayawan di Benua Agung (kecuali yang ada di dalam Hutan Rintihan Buana) baik dari kaum Hayawan yang telah lama tinggal diluar hutan, ditambah 4000 pasukan, ditambah dari unit-unit pencari yang dikirim para Khan, hingga seluruh keturunan-keturunan mereka, mulai berkumpul dan membentuk kekuatan.


Dengan bersatunya seluruh Bangsa Hayawan, akhirnya terbentuklah sebuah kekuatan besar Prajurit Bangsa Hayawan dengan total kekuatan hingga lebih dari 15.000 pasukan dan menjadi kubu kelima dalam peperangan.


Mungkin jumlah angka itu tak sebanding dengan kekuatan Raja Angkara dan putra-putranya. Namun perlu diingat, dengan fisik Bangsa Hayawan dengan segala kemampuannya, akan jauh melebihi kekuatan maupun teknologi Bangsa Manusia. Bahkan seorang 'bocah' Hayawan akan tetap menang melawan beberapa pasukan manusia dengan persenjataan lengkap ditambah para kuda-kuda perang mereka. Benar bukan?


Namun itu bukanlah akhir ceritanya. Ternyata Sihir Perbudakan bukan hanya bisa mengendalikan korbannya, melainkan juga mengawasi gerak-gerik mereka.

__ADS_1


Itulah sebabnya meskipun Bangsa Hayawan bisa melawan perintah kutukan, namun kita tak bisa menghindar dari pengawasan pengguna sihirnya.


Hingga disinilah kami, berjuang untuk terus bertahan. Dengan satu harapan untuk melindungi kampung halaman dan percaya pada ramalan. Kami yakin orang yang dijanjikan dalam ramalan akan segera datang untuk menghentikan segala kekacauan dan kehancuran.


__ADS_2