
...~ ◊ ~...
Di sisi lain, pasukan Devisi utama dari utara dan pasukan Devisi IV dan V dari timur telah sampai di benteng pertahanan ibu kota dan siap melakukan pengepungan.
Pasukan telah berbaris di depan pintu-pintu gerbang besar untuk memblokir akses masuk ke ibu kota.
Pasukan Devisi IV dan sebagian Devisi V dibawah komando Basita sang Murwa Kuncara bertugas menjaga gerbang Timur.
Sebagian lainnya dari Devisi V ditambah dengan pasukan Devisi III dibawah pimpinan Bramanta sang Lelana akan menjaga gerbang selatan.
Gerbang barat yang harusnya dijaga oleh dua Devisi yang menghilang, kini diganti dengan Devisi I dibawah perintah Bubalis si Kerbau.
Sedangkan sisanya (Devisi VI) akan menjaga gerbang utara yang dikomandoi oleh Danendra sang Mukti Wibawa.
Karena jumlah pasukan gabungan Pangeran I dan Bangsa Hayawan yang telah banyak berguguran setelah pertempuran sebelumnya, strategi pengepungan ini menjadi cukup efektif mengingat masih banyaknya pasukan musuh yang ada di balik dinding benteng ibu kota. Dimana pasukan gabungan ini tak akan bisa bertahan jika melakukan serangan dobrakan langsung untuk membobol gerbang pertahanan musuh.
Strategi pengepungan ini adalah dengan memblokir akses logistik dan kebutuhan ibu kota dari luar. Dengan terblokirnya logistik, lama kelamaan akan terjadi kelaparan dan kerusuhan di dalam ibu kota. Dengan begitu, mau tidak mau musuh harus menyerang keluar.
Saat musuh menyerang keluar, hal itu akan menguntungkan bagi pasukan gabungan ini karena mereka sudah menyiapkan pertahanan dan perangkap-perangkap untuk mengalahkan musuh yang hendak menyerang.
Kala hari mulai petang, ditengah pasukan yang berbaris membentang. Pangeran I ditemani para jendral pasukannya datang ke kamp penahanan tawanan perang. Disana mereka hendak mengintrogasi Udhata yang kini telah tertangkap setelah kalah melawan pasukan Devisi III dan Devisi VI di pertempuran bagian Utara.
“Senang melihatmu panjang umur, Yang Mulia,” sambut Udhata yang melihat Pangeran I datang ke dalam sel kurungannya.
Udhata kini nampak duduk terikat kekang magis ditiang besi besar yang ditanam. Ujung tiangnya melebar, sehingga ia tak akan bisa lepas dari sana walaupun melompat tinggi dengan kekuatannya. Kekang yang mengikat tubuhnya juga berupa kekang magis kuat yang dibuat Danendra dengan sihir saktinya.
“Udhata sang Kesatria Pambuka Gapura. Kuucapkan salam padamu, Kesatria perkasa,” jawab sang Pangeran menanggapi sambutan lawan bicaranya.
“Maaf aku tak bisa menyeduhkan teh hangat pada tamu-tamuku yang terhormat ini,” kata Udhata sembari memandangi ikatan kekang ditubuhnya sendiri.
__ADS_1
“Ada keperluan apa hingga Yang Mulia Pangeran I datang ke kandang kotor hamba? Ampun dariku tak bisa membersihkan ruanganku sendiri,” tambah Udhata menyindir.
“Cukup omong kosongmu, Tuan Raksasa,” sahut Danendra.
“Bukankah akan lebih baik jika dia dilepaskan dari ikatannya untuk menyeduhkan teh hangat dan membersihkan ruangannya ini untuk kita?” tanya Nona Bubalis meledek.
“Hah... Baiklah. Lepaskan dia,” kata sang Pangeran sembari menghela nafas.
Mendengar itu, Danendra pun melepaskan belenggu magisnya pada tubuh Udhata. Setelah lepas dari ikatannya, Udhata lantas melompat dan menghentakkan kaki-kaki kekarnya ke tanah sembari menampakkan energi besar yang mengancam di sekitarnya.
“Berhentilah main-main, Udhata. Aku tahu kau tak akan berbuat macam-macam lagi setelah kekalahanmu,” kata si Kesatria tua Basita menanggapi ancaman Udhata.
“Ha Ha Ha Ha... Kau selalu mengerti semua isi kepala murid-muridmu, Pak Guru,” kata Udhata. “Baiklah. seperti permintaan Nona Kerbau, aku akan membersihkan ruanganku ini sejenak dan mengambilkan teh hangat untuk kalian semua.”
Setelah mengatakan itu, Udhata bergegas membersihkan tenda sel tahanannya dengan peralatan seadanya. Lalu ia pergi keluar sejenak menuju kamp dapur umum dan kembali membawa senampan perlengkapan minum teh.
“Oh, kau cukup ramah untuk seorang raksasa, Tuan Kesatria,” kata Nona Bubalis sembari menyeruput teh dicangkirnya, menaggapi ramah-tamah dari Udhata.
“Yah, kebiasaan Manusia memang aneh, -Aw!” sahut Bovin si Bison yang lidahnya terbakar saat mencoba meminum tehnya yang masih panas.
“... Aku datang kemari untuk menanyakan keterlibatanmu dengan Raja Angkara dan Ratunya,” jawab si Pangeran seraya ikut meneguk tehnya.
“Hmm... Keterlibatanku, ya,” gumam Udhata. “Yah, aku memang salah seorang yang mendalangi semua kekacauan di benua ini.”
“Hah?!! Apa maksudmu, Manusia raksasa?” tanya Danendra terkejut mendengar pernyataan tiba-tiba Udhata.
“Sudah cukup kau memanggilku ‘raksasa’. Aku tak sebesar itu hingga harus kau panggir begitu,” tukas Udhata seakan tak peduli dengan pernyataan yang diucapkannya sebelumnya.
“Berhentilah main-main!” bentak Basita menghentikan pertikaian Udhata dan Danendra. “Apa maksud pernyataanmu itu, Udhata?”
__ADS_1
“Ya seperti yang kubilang, aku adalah salah seorang yang mendalangi semua kekacauan ini, juga yang membantu si Raja Serakah untuk menguasai seluruh benua,” jawab Udhata dengan santainya.
“... ‘Salah seorang’? Lantas siapa lagi yang mendalangi kekacauan ini selain dirimu?” tanya Pangeran.
“Tentu saja dua Kesatria Piningit yang lain, Wirasana dan Sodha. Juga si Raja Bawika dan Ratunya sendiri.”
“Jadi Raja Bawika tidak dikendalikan oleh sang Ratu, melainkan keinginannya sendiri untuk memulai semua kekacauan ini?” tanya Nona Bubalis sembari melirik Pangeran I.
Tentu saja karena itu berbeda dari yang dikatakan si Pangeran sebelum terbentuk kesepakatan antara dirinya dengan Bangsa Hayawan. *(Episode 13)
“Tenang saja, Nona Kerbau,” jawab Udhata. “Yang Mulia Pangeran benar-benar tidak bersalah dalam hal ini. Ia hanya mengetahui sebagian kisahnya. Begitu juga dengan para Kesatria Piningit yang lain. Termasuk Basita yang bijaksana.”
“Apa yang kau maksud? Lantas bagaimana kisah yang sesungguhnya?” tanya Nona Bubalis.
“Aku akan bersedia menceritakannya jika kau merasa yakin dan percaya pada apa yang akan aku ucapkan,” jawab Udhata.
“Apa kau bermaksud menceritakan sebuah kedustaan untuk mengadu domba kami dengan para Prajurit Hayawan?” tanya Bramanta tiba-tiba dari balik kegelapan.
“Ah, Tuan Bramanta. Kemarilah. Kenapa kau tak minum teh bersama kami disini,” sahut Udhata setelah melihat kemunculan tamu barunya.
“Yah, aku tak memaksa kalian untuk percaya pada ceritaku. Tapi asal kalian tahu, sudah tak ada gunanya bagiku untuk berdusta,” tambah Udhata sembari menuangkan teh pada sebuah cangkir untuk tamu barunya yang sudah ikut duduk bersama yang lainnya.
“Aku juga tak keberatan jika kau menceritakan kisahmu itu. Tapi bagaimana dengan kalian, wahai Prajurit Hayawan?” tanya sang Pangeran pada Nona Bubalis dan Bovin.
Mendengar itu, Nona Bubalis melirik Bovin untuk meyakinkan diri apakah akan mendengar cerita itu atau tidak. Bovin pun menjawabnya dengan anggukan.
“Baiklah. Akan kami dengar ceritamu itu, Tuan Raksasa,” jawab Nona Bubalis.
“Baiklah kalau begitu. Kuharap kalian tak keberatan jika teh kita menjadi dingin setelah mendengar kisah panjang yang akan kuceritakan. Karena orang-orang di dapur umum akan ketakutan jika melihatku keluar lagi dari tahanan untuk mengambil teh hangat yang baru.”
__ADS_1