Tahta Akhir Dunia - Kisah I

Tahta Akhir Dunia - Kisah I
Perjanjian


__ADS_3

...~ ◊ ~...


Kini sang Kaisar, Raja Angkara dan Ratunya, 7 Kesatria, serta 3 Komandan Prajurit Bangsa Hayawan: Bubalis si Kerbau, Bovin si Bison, dan juga Dirus si Serigala (yang telah datang setelah pertempuran selesai) tenah berkumpul di ruang pertemuan di istana Raja Angkara.


Para pemimpin itu berkumpul untuk membicarakan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya pada nasib mereka semua.


“Raja Bawika telah menaklukan ketujuh Raja Bengis lainnya dan berhasil menyatukan kembali seluruh benua. Maka dengan itu, ialah yang berhak mejadi penguasa seantero benua diatas nama kerajaannya,” tutur Wirasana memulai pembicaraan mereka.


“Namun sudah secara jelas bahwa ibu kota dan istananya telah jatuh di tangan kami,” sahut Danendra. “Dengan begitu, ia tak dapat lagi berkuasa.”


“Tapi pemimpin kalian, Pangeran I telah gugur saat penyerangan. Jika sang Panglima gugur dalam pertempuran, maka secara otomatis menandakan kekalahan seluruh pasukan,” tukas Sodha.


“Benar apa kata Sodha,” gumam Basita. “Meskipun kita berhasil menduduki ibu kota dan istana Raja, namun jika tanpa pemimpin, kita tetap tak akan bisa menggulingkan kekuasaan Raja Bawika.”


“Tapi Kakek Basita, jika begitu semua usaha dan pengorbanan pasukan kita akan menjadi sia-sia. Aku tak bisa menerimanya,” sahut Antara.


“Memang secara sah, Raja Bawika yang telah menyatukan kembali benua berhak atas tahta yang telah didapatnya. Ia pun memiliki otoritas untuk sistem pemerintahan kerajaanya,” kata sang Kaisar. “Namun menimbang atas semua kekacauan dan pembantaian yang ia lakukan bersama rekan-rekannya, itu akan menjadi hukuman berat untuk mereka.”


“Aku tak keberatan jika harus diberikan hukuman,” sahut Udhata dengan raut murung diwajahnya. “Walau tujuan kami adalah untuk menepati ramalan, namun cara yang kami lakukan memang tak bisa dimaafkan. Karena dengan bodohnya percaya pada si makhluk jahanam untuk menyebar segala kekacauan.”


“Ya. Kurasa hukuman mati adalah jawaban yang tepat untuk menebus semua dosa-dosa mereka,” sarkas Bramanta sembari menodongkan pedang lengkungnya ke hadapan Raja Angkara.


“Tidak,” sahut Kaisar Akbar tiba-tiba. “Kematian tak akan bisa menebus apapun. Mereka akan membayar semuanya dengan pengabdian.”


“Apa maksud Anda?” tanya Basita.


“Raja Bawika dan Ratunya, serta ketiga Kesatria yang membantunya akan diberikan hukuman untuk mengabdikan sisa hidup mereka untuk membangun kembali benua yang telah mereka nistakan,” jelas sang Kaisar.


“Raja Angkara akan tetap memegang tahta dan sang Ratu akan tetap mendampinginya dalam memperbaiki sistem Kerajaan Angkara. Sedangkan ketiga Kesatria: Udhata, Wirasana, dan Sodha akan pergi berkelana untuk membangun kembali kota-kota dan desa-desa di seluruh penjuru benua,” tambah Kaisar Akbar.

__ADS_1


“Tapi bukankah itu terlalu mudah untuk mereka?” kata Antara ragu dan pelan.


Memang itu keputusan yang tak masuk akal bagi mereka semua. Menimbang kejahatan yang dilakukan Raja Angkara dan lainnya, hingga mengorbankan jutaan nyawa, hanya dihukum dengan hal seperti itu bukanlah hal yang adil menurut mereka.


Namun mereka tak berani mempertanyakan keputusan dari sang Kaisar yang tiba-tiba. Dengan segala kewibawaannya dengan masih mengenakan pusaka lengkapnya, membuat semua yang ada di ruang pertemuan itu menjadi segan padanya.


“Apa kau pikir memperbaiki negara yang telah rusak seperti ini itu adalah hal yang mudah?” ujar Kaisar Akbar balik bertanya pada Antara.


Antara pun terdiam seribu bahasa, tak sanggup menjawabnya. Karena ia pun sama sekali tak pernah memikirkan tentang pemerintahan ataupun segala hal tentangnya. Ia selama ini hanya dibesarkan hanya untuk menjadi petarung dan Kesatria, tak pernah berpikir tentang hal lainnya.


“Jika memperbaiki dan menciptakan sebuah kerajaan besar dari ambang kehancuran adalah pekerjaan yang mudah, maka namaku sebagai sang Kaisar tak akan bertahan dalam sejarah,” tambah sang Kaisar Akbar.


Kaisar Akbar memang dikenal luas dan dicatat dalam kisah sejarah hingga dikagumi semua Bangsa hingga saat ini adalah karena ia yang berhasil menyatukan dan membawa kemakmuran besar di seluruh benua. Tanpa prestasinya itu, maka ia tak akan pernah dikenal namanya.


Dan ia pun mengerti seberapa sulitnya melakukan semua hal besar itu. Butuh banyak waktu dan perjuangan setelah kedatangannya yang pertama ke dunia ini hingga ia bisa menjadi sosok pemimpin besar serta diingat dan dipuja hingga saat ini.


“Sebagai bangsa yang paling setia, kami Bangsa Hayawan tak akan pernah meragukan keputusan sang Kaisar,” jawab Bovin si Bison.


“Tapi sebelum itu, kami ingin mengatakan satu permintaan terkait hal itu, jika sang Kaisar berkenan,” tambah Nona Bubalis si Kerbau.


“Silakan, Nona Kerbau,” balas Kaisar.


“Hutan Rintihan Buana terblokir oleh sihir teleportasi. Karena hal itu, bangsa kami pun tak bisa pulang ke kampung halaman. Apakah Anda memiliki solusi akan hal itu, Baginda Kaisar?” tanya Nona Bubalis.


“Aku pun tak memiliki solusi akan hal itu. Karena siapa dan bagaimana sihir teleportasi itu bisa ada di sana pun aku tak tahu mengapa. Jika hanya dengan kekuatanku, aku tak akan bisa melepaskan sihir itu. Untuk melepasnya, kita membutuhkan kekuatan besar lain yang ada di dunia ini yang melebihi kekuatanku,” jawab Kaisar dengan nada yang tak dapat diartikan.


“Lalu bagaimana nasib bangsa kami yang ada di luar hutan, Baginda?” tanya Tuan Dirus si Serigala pada sang Kaisar.


“Kalian akan aman dalam perlindungan Pasukan Perak kami. Perintahkan semua Bangsa Hayawan yang ada di luar hutan untuk menuju ke Pulau Songar. Disanalah tempat berkumpulnya Pasukan Perak berada,” jawab Kaisar.

__ADS_1


“Baik, Baginda Kaisar!” jawab ketiga komandan Prajurit Bangsa Hayawan serentak.


“Dengan begini berarti sudah diputuskan dan semua pihak harus menepati perjanjian yang akan ditetapkan:


...(1) Sihir perbudakan sepenuhnya dihapuskan;...


...(2) Raja Bawika dan Ratu Santika akan tetap memimpin kerajaan dengan tujuan untuk memperbaiki sistem kepengurusan kerajaan dan mengembalikan kemakmuran;...


...(3) Kesatria Udhata, Wirasana, dan Sodha akan mengabdikan diri pada pembangunan dan pemulihan kota dan desa di seluruh penjuru benua;...


...(4) Bangsa Hayawan akan mendapat perlindungan dan kembali mendapat kebebasan....


Dari keempat pasal yang telah kusebutkan, apakah ada yang merasa keberatan?”


Sang Kaisar menjelaskan isi perjanjian dengan suara lantang hingga terdengar hingga ke seluruh istana kerajaan.


Tak ada jawaban. Itu menandakan persetujuan. Bahkan dari Raja Bawika dan Ratu Santika yang sedari tadi hanya bisa terdiam dan pasrah akan semua keadaan, meratapi semua penyesalan dan kematian orang tersayang.


“Jika tak ada yang mengajukan banding keberatan, maka pengesahan keempat pasal perjanjian ini akan dilakukan dengan melakukan penandatanganan oleh semua pihak terlibat dalam lembar konsideran.”


Setelah mengatakan itu, seketika muncul gulungan kertas magis bercahaya dari telapak tangan sang Kaisar. Ia pun membukanya, dan tertulislah isi perjanjian yang disebutkannya dalam kertas itu dengan tinta perak yang berkelip penuh cahaya.


Dipanggilah 3 orang untuk mendekat kehadapannya sebagai perwakilan yang bertanda tangan dari pihak-pihak yang terlibat dalam isi perjanjian: Bawika si Raja Angkara sebagai pihak kerajaan, Bubalis si Kerbau sebagai pihak Bangsa Hayawan, dan Udhata sang Pambuka Gapura sebagai pihak Kesatria.


Ditandatanganilah konsideran perjanjian dengan tinta dari darah mereka bertiga. Sang Kaisar Akbar pun kembali membuka gulungan perjanjian lantas berseru penuh ketegasan-


“Dengan ditandatanganinya konsideran perjanjian oleh ketiga pihak persangkutan, maka dengan ini, aku: Kaisar Akbar selaku saksi kesepakatan menyatakan bahwa keempat pasal perjanjian mulai detik ini telah resmi disahkan dan diberlakukan!”


Kaisar Akbar pun memukulkan tongkat kayunya yang kini membentuk palu besar. 3 kali pukulan yang bergetar menandakan dimulainya sebuah kisah baru yang besar.

__ADS_1


__ADS_2