
...~ ◊ ~...
Malam telah tiba, kini pasukan Hayawan yang tersisa masih berpencar dan terpisah antara satu dengan yang lainnya.
Dirus si Serigala yang memegang komando memerintahkan pasukannya (lewat telepati Lupus) untuk bertahan dan tetap berpencar malam ini. Dan melakukan serangan bayangan saat dini hari.
Untuk itu, dibentuklah kembali kelompok Batalyon darurat untuk membagi kekuatan dan pertahanan. Dengan saling berpencar, akan menyulitkan musuh mendeteksi persembunyian mereka. Dengan begitu serangan bayangan dapat kembali dilakukan.
Kini Tigris dan Lupus berada di Batalyon utama bersama Tuan Dirus. Kelompok mereka kini tengah berjalan sembunyi ke arah utara, menuju longsoran tebing tempat Devisi VII berada.
Sesampainya di sana mereka mendapati pasukan Devisi VII yang tengah beristirahat dan mengobati luka-luka mereka di sisi lain longsoran.
“Dimana pasukanmu yang lain? Ini terlalu sedikit untuk 13.000 pasukan,” tanya Tuan Dirus pada Antara, si gadis Kesatria pemimpin pasukan Devisi VII.
“Kami kehilangan banyak pasukan saat terjadi longsoran ini,” jawab Antara. “Banyak dari kami yang gugur karena ledakan itu atau terkubur bersama longsoran ini.”
“Yah, itu adalah ledakan yang sangat luar biasa besar. Sampai-sampai bisa meruntuhkan tebing sebesar ini,” gumam Lupus.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Tigris.
“Setelah hujan reda, lokasi persembunyian kami mungkin telah terlihat oleh musuh,” jawab Antara.
“Tapi tak kusangka mereka memiliki senjata semengerikan itu hingga bisa menghancurkan seluruh tebing ini.
Seharusnya, jikapun mereka mengetahui persembunyian kami, setidaknya mereka akan kesulitan untuk melakukan serangan ke atas tebing yang setinggi ini. Dan akan butuh waktu untuk memutari tebing ini jika mereka ingin melakukan serangan langsung.”
“Senjata macam apa itu hingga memiliki dampak sebesar ini?” tanya Tigris yang masih tercengang dengan kehancuran tebing.
“Mungkin itu senjata milik Sodha sang Kesatria Pinandita. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa menciptakan senjata semengerikan itu,” jelas Antara.
“Salah satu dari tiga Kesatria yang masih mengabdi pada Raja Angkara, ya,” gumam Tuan Dirus. “Kemampuan para pemilik berkah Kesatria Piningit memang tak bisa diremehkan.”
“Tak kusangka Dirus sang Serigala Mengerikan memuji kami seperti itu.”
Tiba-tiba suara itu terdengar dari reruntuhan. Suara seorang wanita yang tengah berdiri di atas gundukan tanah bekas longsoran tebing yang ada di sisi lain pasukan yang tengah terluka.
Melihat kedatangannya, semua orang pun segera bersiaga dan mengangkat senjata mereka.
“Sodha sang Pinandita!” geram Tuan Dirus. “Tak kusangka kau benar-benar ada di sini. Jadi selama ini pasukan yang kami lawan adalah pasukanmu, ya.”
“Begitulah,” sahut Sodha dengan santainya.
“Apa kau sudah mengenal dia sebelumnya, Tuan Dirus?” tanya Lupus.
__ADS_1
“Kami pernah bertarung sebelumnya, saat masa awal Perang Sundal,” jawab Tuan Dirus dengan raut ganas.
“Yah, itu adalah pertarungan yang menyenangkan. Sayangnya kau kehilangan sebelah matamu. Jadi aku tak bisa merasakan kekuatanmu yang sebenarnya,” tukas Sodha dengan seringai aneh.
“Lantas apa maksud kedatanganmu kemari, Ibu?” kata Antara tiba-tiba.
“Oh, putriku sayang. Aku datang kemari karena merindukanmu,” jawab wanita itu. “Tak seharusnya seorang gadis sepertimu ada di medan perang.”
“Omong kosong. Kau pasti tahu aku ada di Tebing ini. Itulah alasanmu menghancurkannya dengan senjata laknatmu itu,” sahut Antara. “Ingin membuatku putus asa dengan membunuh semua pasukanku? Jangan berharap!”
Antara tiba-tiba menghilang dari tempatnya berdiri dan dengan sekejab sudah ada di depan Sodha sembari mengacungkan pedangnya yang bercahaya.
“Aku adalah seorang Kesatria yang mengabdi pada sang Kaisar dan tanah agungnya. Tak akan kubiarkan kalian menodai sang bumi pertiwi lebih dari ini.”
Antara menodongkan bilah pedangnya tepat didepan leher ibunya sembari memancarkan energi yang luar biasa.
“Oh, putriku yang malang. Tak seharusnya kau mengemban beban berat ini. Beristirahatlah dan jadilah gadis baik dan penurut,” gumam Sodha kembali menampakkan seringai aneh diwajahnya.
Daarr....!!!
Terdengar suara dentuman kecil dari arah kedua Kesatria itu. Setelah itu tiba-tiba energi yang dipancarkan Antara seketika lenyap dan pedang ditangannya terjatuh dari genggamannya. Ternampak darah mengucur dari perut gadis itu dan Tubuh Antara pun jatuh lunglai ke tanah.
Setelah Antara jatuh, nampak Sodha tengah memegang sebuah senjata aneh ditangannya. Nampak seperti pistol yang mengepulkan asap dari ujungnya.
“Hey! Apa yang kau lakukan pada putrimu sendiri?” tanya Tigris dengan geraman.
Dengan kesal Tigris pun berlari menerjang ke arah wanita itu. Namun seketika Tigris tersungkur ke tanah dengan luka tembak di dadanya.
Lupus yang melihat itu pun mencoba berlari menghampiri Tigris. Namun ia juga tak lepas dari incaran peluru Sodha. Lupus pun tertembak di bahunya dan jatuh tersungkur.
“Apakah anak-anak dari para Khan Bangsa Hayawan memang semengecewakan ini?” ejek Sodha dengan tawa. “Hi Hi Hi -
Namun tawanya terhenti ketika tiba-tiba cakar Tuan Dirus melintas tepat di depan matanya. Ia pun melompat kebelakang untuk menghindarinya.
Namun penghindarannya tak sepenuhnya berhasil. Setelah mengayunkan cakaran melingkar, Tuan Dirus lantas bermanufer di udara dan melepaskan tendangan ke arah Sodha yang tengah mendarat dari lompatannya.
Sodha pun terpental karena tendangan itu. Lantas menyeringai sembari berkata-
“Ini akan jadi pertarungan yang berbeda dari sebelumnya.”
Ia pun melepaskan banyak tembakan ke arah Tuan Dirus. Namun Tuan Dirus dengan cepat dapat menghindarinya dan kembali melesat cepat untuk menyerang kembali Sodha dengan cakaran.
Namun seketika Tuan Dirus berhenti karena melihat sebuah bola api raksasa terbang di udara mengarah padanya.
__ADS_1
Tidak, lebih tepatnya mengarah pada pasukan yang ada di belakangnya. Manusia-manusia yang tengah terluka dibelakangnya pun terancam musnah jika terkena bola api itu.
Untuk itu, Tuan Dirus pun kembali bermanuver untuk menyelamatkan para manusia dibelakangnya. Ia lantas melompat ke arah bola api itu untuk menghancurkannya di udara.
Namun sebelum mencapainya, bola api itu memancarkan cahaya sangat terang dan meledak dengan sangat dasyatnya di udara hingga meluluh-lantakkan semua medan disekitarnya.
...~ ◊ ~...
Fajar mulai menyingsing. Dalam kegelapan malam yang nampak begitu asing.
Kini hujan kembali mengguyur gurun peperangan. Bersama deraian air, menyapu darah yang berlinangan. Potongan-potongan tubuh yang berceceran kini terbasuh rintikan tirta dari awan. Tebing yang sebelumnya telah menjadi reruntuhan, kini menjadi lebih cekung dari daratan.
Si gadis Harimau kini membuka perlahan iris mata birunya. Menegakkan tubuhnya yang kini diselimuti gemerlap perak bulu-bulunya yang menyambut datangnya sang surya.
Bersama surai perak di sekujur tubuhnya yang berkilau terang, gadis itu melihat sepanjang medan yang membentang. Namun tak ada satupun yang layak dipandang. Hanya ada deraian darah dan potongan-potongan tubuh yang berceceran sejauh mata memandang.
Ia pun melihat di sampingnya. Dan ternampaklah sesosok Serigala muda yang tengah berbaring terlentang disana. Itu teman baiknya, Lupus si Serigala.
Di tempat lain, tak jauh dari sana juga terbaring seorang gadis Manusia. Itu Antara, si gadis Kesatria.
Dan nampak Serigala besar dengan tangan kanan yang hancur berantakan yang tengah terduduk lemah. Itu Tuan Dirus sang Serigala Mengerikan. Kini ia nampak lebih mengerikan dari pada sebelumnya.
Meskipun gadis Harimau itu bisa melihat semua yang ada disekitarnya, namun seperti tak bisa berpikir apapun, ia hanya berdiri terdiam bersama kilauan perak yang mengelilingi sekujur tubuhnya.
“Wah wah... Tak kusangka ternyata masih ada yang bisa bertahan dari senjata itu selain Antara yang seorang Kesatria.”
Suara seorang wanita yang berjalan ke arah Harimau itu sembari bertepuk tangan.
“Apakah ini kekuatan ‘Perak’ yang ada dalam legenda? Tak kusangka ada orang lain yang memiliki kekuatan itu selain si Kera.”
Wanita itu, Sodha sang Pinandita terus berjalan membelakangi barisan besar pasukannya yang telah bersiap di medan laga.
“Tapi sebelum kita pulang ke ibu kota, mari kita lihat sekuat apakah kekuatan ‘Perak’ kucing kecil kita.”
Sodha menggenggam pistol di kedua tangannya, lantas menembakkan puluhan peluru dari sana ke arah si Harimau perak di hadapannya.
Si Putri Perak tak bergeming sama sekali saat bulu-bulu berkilaunya tertembak puluhan butir peluru.
Harimau itu perlahan menengok ke arah wanita itu dan puluhan ribu pasukan dibelakangnya dengan memancarkan kilatan biru terang dari kedua bola matanya.
Bersama kilau perak yang begitu indah, ia melesat melewati semua yang ada dihadapannya, puluhan ribu pasukan beserta tunggangan dan segala alat-alat peperangan yang mereka bawa.
Ia melewati semuanya hanya dalam sekejap mata, membawa butiran gemerlap perak dibelakangnya.
__ADS_1
Seketika apa yang dilewatinya ikut menjadi butiran-butiran perak yang berkilauan.
Dengan begitu, kini musnahlah segala sesuatu yang ada di atas medan perang itu.