Tahta Akhir Dunia - Kisah I

Tahta Akhir Dunia - Kisah I
Armada Perak (2)


__ADS_3

“Selamat datang, para Prajurit Bangsa Hayawan,” sambut seorang gadis muda yang datang dari anjungan kapal.


“Perkenalkan, namaku adalah Ayasya. Aku adalah kapten sementara armada kapal ini. Aku datang dari dunia yang sama dengan Kaisar Akbar,” tambah gadis itu.


“Benarkah?! Apa Anda datang kemari bersama dengan beliau?” tanya Arctos terkejut sekaligus gembira.


“Begitulah. Tapi dia tak ada disini saat ini. Dia sedang melakukan pekerjaan lain, jadi ia harus pergi. Karena itulah aku yang akan memimpin Armada Perak-nya ini selama dia tidak ada disini,” jawab Ayasya.


“Oh, begitu rupanya,” gumam Arctos sedikit kecewa.


“Tapi apakah ini berarti ramalannya sudah terpenuhi?” tanya Arctos kembali cerah.


“Entahlah. Aku pun belum pernah bertemu dengan beliau selama aku ada bersama Pasukan Perak ini,” jawab Lupus.


“Begitu, ya. Ah, lalu dimana Tigris? Bagaimana dengan rekan-rekanmu di Devisi II yang lain? Juga Devisi VII?” tanya Arctos pada Lupus.


Mendengar pertanyaan itu, seketika raut Lupus kembali muram.


“Pemimpin Devisi VII, Antara si gadis Kesatria juga ada di kapal ini. Tapi sebelum itu ... kemarilah, ada sesuatu yang harus kalian ketahui,” kata Lupus pada Arctos dan si Serigala Hitam yang bersamanya lantas membawa mereka ke salah satu ruang kabin kapal.


Di dalam ruang itu, nampak seperti kabin kapal pada umumnya. Terdapat satu tempat tidur dan beberapa perabotan lain yang umum ada di dalam kapal. Namun yang membedakannya adalah siapa yang tengah ada di dalamnya.


Terlihat seorang gadis Manusia tengah terduduk di tepi tempat tidur sembari menatap gadis Harimau yang tengah berbaring damai di hadapannya bersama bulu-bulu peraknya yang memancarkan cahaya berkilauan.


“Tigris! Antara!” panggil Arctos ketika melihat kedalam ruang kabin yang dimasukinya.


“Arctos si Beruang. Bagaimana keadaanmu?” sahut Antara.


“Harusnya aku yang bertanya begitu. Apa-apaan dengan luka di perutmu itu? Dan kenapa Tigris terbaring diam seperti itu? Sebenarnya apa yang telah terjadi pada kalian?” kata Arctos kebingungan setelah melihat keadaan dua orang gadis yang ada di hadapannya.


“Tenanglah, Arctos. Duduklah dan dengarkan apa yang akan kami ceritakan. Tapi kuharap kau tak terkejut setelah mendengarnya.”

__ADS_1


Tiba-tiba Tuan Dirus si Serigala datang dari belakang mereka, menampakkan kondisinya yang nampak kacau dengan sebelah lengannya yang hilang entah kemana.


“Komandan Dirus! A-Apa yang terjadi padamu?!” tanya si Serigala Hitam terkejut melihat keadaan Tuan Dirus yang nampak mengenaskan dengan hilangnya lengan sebelah kanan. Arctos pun yang melihatnya juga tak luput dari keterkejutan.


“Banyak hal yang terjadi. Pertempuran di bagian barat sangatlah berat setelah datangnya Sodha sang Kesatria Pinandita yang membawa senjata dahsyatnya,” kata Lupus


“Senjata?” tanya Arctos.


“Ya. Senjata penghancur masa. Sebuah bola api raksasa yang jika meledak akan menghancurkan segala yang ada di sekitarnya. Sodha menggunakannya untuk menghancurkan hutan tebing tempat pasukan Antara berada,” sahut Tuan Dirus.


“Pasukan kami menjadi terdesak karenanya. Hingga saat malam tiba, ia datang ke kamp sisa-sisa pasukan Antara dan melakukan serangan kejutan di sana,” tambah Lupus.


“Aku mencoba menghentikannya, namun tak kusangka ia akan menggunakan senjata pistol magisnya dan melukaiku hingga tak bisa berbuat apa-apa,” kata Antara. “Itu adalah peluru magis pelumpuh berkah Kesatria. Aku yang tertembaknya pun tak kuasa menahannya.”


“Aku dan Tigris juga sempat tertembak pistol itu. Namun bagi kami itu hanya peluru biasa, jadi tidak terlalu berefek pada kami berdua,” jelas Lupus.


“Ketika aku bertarung dengan Sodha, ia kembali meluncurkan senjata bola api raksasa untuk menghancurkan sisa-sisa pasukan kita. Dan ledakan besar pun kembali meluluh lantakkan medan laga. Hampir semua dari pasukan kita tewas karenanya,” tutur Tuan Dirus dengan raut kemarahan yang membara.


“Lalu bagaimana Anda bisa selamat?” tanya si Serigala Hitam.


“Bersamaan dengan ledakan itu, muncul energi cahaya perak bersinar terang disekitar kami. Cahaya itu muncul dari Tigris yang kala itu diselimuti gemerlap perak dengan mata birunya yang memendarkan cahaya terang. Cahaya perak itu melindungi kami yang tengah ada di dekat Tigris. Namun sayangnya itu tak bisa melindungi semua pasukan lainnya.” jelas Antara.


“Dan setelah ledakan itu, aku melihat seluruh medan menjadi rata dengan tanah. Mayat-mayat bergelimpangan dimana-mana. Namun aku yang masih terkena pengaruh peluru magis pelumpuh berkah Kesatria tak bisa berbuat apa-apa,” tambah Antara sembari meneteskan air mata, mengingat betapa mengerikannya apa yang ia lihat di sana.


“Aku yang juga masih sadarkan diri saat itu, melihat bangkitnya kekuatan perak mengerikan Tigris,” tutur Lupus sembari menatap gadis Harimau yang tengah terpejam di hadapannya.


“Bulu-bulu peraknya bersinar terang, diselimuti butiran-butiran cahaya perak yang bertaburan. Mata birunya pun memancarkan kilatan yang menyilaukan. Sodha dan seluruh pasukannya yang ada di medan laga hilang seketika setelah Tigris meluncur melewati mereka bagai kilatan cahaya.


Meninggalkan barisan pasukan di hadapannya yang berubah menjadi butiran-butiran perak bercahaya dan kawah besar yang menganga bekas tolakan kakinya,” tambah Lupus seraya membelai bulu-bulu perak sahabatnya.


“Jadi benar itu semua adalah akibat dari kekuatan perak Tigris,” gumam Arctos. “Lantas kenapa Tigris bisa berakhir seperti ini?”

__ADS_1


“Kurasa itu adalah akibat efek samping kekuatan yang dibangkitkannya,” jawab Ayasya. “Usianya masih terlalu muda untuk mengemban kekuatan besar yang begitu mematikan. Apalagi setelah mengeluarkan serangan yang meluluh lantakkan medan dan memusnahkan ribuan pasukan dalam sekali serangan. Jaringan tubuhnya rusak seketika dan otaknya mengalami trauma. Tubunya pun lumpuh karenanya.”


“Apakah dia akan baik-baik saja?” tanya Arctos cemas.


“Tenang saja. Kekuatan perak bukan hanya menyebabkan pelenyapan dan kehancuran, tetapi juga memiliki kemampuan menyembuhkan. Tubuh Tigris akan dengan sendirinya melakukan pemulihan. Ia kini sudah nampak lebih baik dari pada saat pertama kali kami menemukan dirinya,” jelas Ayasya.


“Syukurlah kalau begitu, jika Tuan Shimha mengetahui keadaan Tigris yang seperti ini, beliau pasti akan membunuh kita,” tutur Arctos sembari melirik Lupus yang juga berpikiran sama.


“Memangnya bagaimana kalian bisa menemukan Tigris dan yang lain? Lalu bagaimana bisa Armada Perak dari masa lalu bisa kembali lagi? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang lain yang ingin kutanyakan terkait kembalinya sang Kaisar Akbar,” kata Arctos penuh tanda tanya.


“Kau sungguh Beruang yang memiliki keingin tahuan yang tinggi. Tapi kisah-kisah itu sebaiknya kita ceritakan saat keadaan sudah lebih baik,” jawab Ayasya menanggapi segudang pertanyaan dari Arctos.


“Armada kami bisa mengetahui keberadaan Tigris dan yang lain karena sang Kaisar merasakan adanya kebangkitan kekuatan perak yang baru. Ia bisa merasakannya karena Kaisar Akbar lah sumber asli kekuatan besar itu.


Setelah itu, Kaisar memerintahkan Armada Perak ini untuk menuju sumber kekuatan baru itu melewati jalur laut. Kami pun berangkat dari Pulau Songar, wilayah Raja Sombong untuk melakukan misi mengobservasi kekuatan perak itu.


Dan begitulah akhirnya kami sampai di gurun barat wilayah Raja Serakah dan menemukan bekas pertempuran besar. Di sanalah kami mengevakuasi si Putri Perak dan orang-orang lain yang masih selamat.”


“Lalu dimana orang-orang lainnya yang kalian evakuasi? Apakah ada di kapal yang lain?” tanya si Serigala Hitam.


“Tidak ada. Hanya kami berempat lah yang selamat dari insiden itu,” jawab Tuan Dirus dengan kesedihan yang tersirat di raut ganasnya.


“A-apa maksudnya itu?” kata Arctos terkejut.


“A-Anda bercanda bukan, Komandan?” Si Serigala Hitam pun tak kalah terkejutnya.


“Memang begitulah keadaannya. Bahkan musuh pun sama sekali tak tersisa. Semuanya musnah menjadi butiran-butiran perak di bekas medan laga,” tutur Antara sembari menatap sedih pada si Harimau yang ada di hadapannya.


“Lantas bagaimana kita akan melaporkan keadaan mengerikan ini pada Devisi utama?” tanya si Serigala Hitam frustasi.


“Katakanlah pada mereka bahawa Armada Perak akan berangkat menuju ibu kota untuk membantu mereka melakukan penyerangan ke istana,” jawab Ayasya.

__ADS_1


__ADS_2