
...~ ◊ ~...
Di pagi yang cerah, sang mentari nampak marah. Terik yang begitu terperangah mengiringi Armada Perak yang berlayar di lautan yang basah. Melaju menerjang deraian ombak hingga terbelah. Tinggalkan dermaga tuk memulai sebuah kisah.
Aku (Canis Lupus) tengah berada di salah satu kapal dalam barisan armada ini. Bersama Tuan Dirus untuk melaju ke Pulau Angker yang menjadi tujuan kami.
Seluruh armada memulai pelayaran dari dermaga Pulau Songar menuju ke selatan untuk kemudian berpisah arah setelah sampai di dekat Teluk Kera Timur.
Kapal kami akan melanjutkan perjalanan ke selatan, menuju Pulau Angker. Sedangkan Arctos yang bersama Nona Bubalis dan juga Bovin akan berpisah dengan kami menuju ke arah timur, mengikuti jejak kepergian sang Kaisar Akbar.
Sedangkan Tigris yang ada di kapal lain akan menyusul mereka ke timur. Namun sebelum itu, ia ingin menelusuri Teluk Kera untuk mengobservasi batas pantai di sepanjang teluk untuk memastikan apakah ada jalan untuk menuju Hutan Rintihan Buana dari sana.
.......
Pagi ini cuaca sangat mendukung, sama sekali tak nampak adanya awan mendung. Angin pun membantu kapal kami untuk memecah ombak yang membumbung.
Setelah beberapa hari kami mengarungi lautan yang sepi. Hingga hari ini tak terasa sang surya telah lelah mengiringi pelayaran kami. Kini tiba saatnya ia terlelap dan berhenti, digantikan sang rembulan yang datang menerangi. Remang kelabu cahaya sunyi dibawah gemerlap bintang yang berseri-seri, kini menyertai perjalanan panjang kami.
"Kita telah sampai di perairan Selat Seram. Persiapkan diri kalian!" seru Tuan Dirus kepada para Canis yang menjadi kru kapal ini.
Mendengar seruan itu, seluruh kru kapal mulai bersiaga di tempat mereka masing-masing. Membawa senjata mereka dan memasang kuda-kuda. Bagai telah siap menahan datangnya mara bahaya.
Aku tak mengerti kenapa semua yang ada di kapal ini adalah Kaum Hayawan dari Suku Canis, tak ada satupun Manusia ataupun Kaum Hayawan yang lainnya. Hanya sekawanan Serigala dimana Tuan Dirus yang menjadi Alfanya.
"Cuaca masih sangat cerah. Angin pun masih bertiup dengan stabil. Ombak juga tak begitu tinggi. Tak ada tanda-tanda badai akan datang. Lantas kita harus bersiap dari apa?" tanyaku pada Tuan Dirus.
"Selat 'Seram' bukan hanya sebutan nama belaka, Nak. Sebuah julukan tak datang begitu saja."
__ADS_1
Tepat setalah Tuan Dirus mengatakannya, tiba-tiba kabut tebal datang bagai asap beterbangan. Menyelubungi lautan di sekitar kapal kami, seketika keadaan menjadi sunyi.
Bintang-bintang pun tak nampak lagi, karena awan hitam datang menyelimuti. Gelap, dingin, dan sepi. Semua kru kapal kini bersiap diri, laksana menunggu ancaman besar yang menanti.
Tiba-tiba hujan deras mengguyur seisi lautan. Angin kencang datang menerjang, disertai ombak-ombak tinggi bergulungan. Kapal pun terombang-ambing di atas perairan.
Apa yang terjadi ini? Bukankah selama ini cuaca cerah selalu mengiringi perjalanan kami? Kenpa tiba-tiba badai besar datang begini?
"Tutup dan gulungkan layar! Bersiap pada guntur yang menggelegar!" teriak Tuan Dirus.
Para kru pun mulai menggulung kembali layar kapal. Tepat seperti yang dikatakan Tuan Dirus, sekejap lautan menjadi terang benderang oleh cahaya kilat yang menyambar tiang layar kapal. Dan terdengarlah suara guntur menggelegar yang memekakkan telinga para kru kapal.
Kilatan-kilatan petir terus memancar di seluruh lautan. Memendarkan gelap terang di sepanjang pengelihatan. Menampakkan bayangan makhluk besar mengerikan yang berenang nampak di permukaan.
"Bersiap pada benturan!!" teriak Tuan Dirus.
Tubuh panjang makhluk besar itu menghantam lambung kapal. Kami pun segera mencari pegangan untuk mempertahankan tubuh kami dari guncangan. Aku merangkul tubuh Tuan Dirus yang tak seimbang karena keadaan tubuhnya yang tak memungkinkan untuk berpegangan dengan benar.
"Apa Anda tahu makhluk apa itu?" tanyaku.
"Rawaja Basuki, tunggangan Maharaja Emas sang Penguasa Bumantara," jawab Tuan Dirus.
"Naga Bagsuki? Maharaja Emas?," ujarku bingung.
"Jika Akbar adalah Kaisar Perak, maka ada lagi dua pemimpin besar lainnya, yaitu Maharaja Emas dan Maharani Ametis. Ketiga orang itulah yang menjadi pemimpin besar dunia ini ribuan tahun lalu," jawab Tuan Dirus. "Tapi lupakan itu. Kita harus mengatasi Naga yang menghadang di depan kita saat ini."
Tubuh panjang sang Naga, Rawaja Basuki berenang mengitari kapal kami lalu kepalanya muncul dari permukaan laut untuk menghadang tepat di depan muka kapal. Dari perutnya memancarkan cahaya emas terang yang kian merambat menuju ke tenggorokannya.
__ADS_1
Naga itu membuka mulutnya lebar-lebar. Menampakkan taring-taring besar dan lidah kasarnya yang bercabang. Kumis panjangnya melambai-lambai diterpa kencangnya angin malam. Di dalam mulutnya nampak cahaya emas yang siap menyembur keluar.
Melihat itu, Tuan Dirus lantas berlari tergopoh menuju haluan kapal, mendekati sang Rawaja Basuki yang siap menghancurkan kami dengan semburan emasnya.
"Hentikanlah amarahmu yang tidak perlu, wahai Naga Emas!" teriak Tuan Dirus pada Naga besar dihadapannya.
Namun Naga itu tak bergeming, ia masih tetap terdiam sembari memancarkan cahaya emas terang dari mulut bertaringnya.
"Aku, Canis Dirus sang Serigala Mengerikan, datang kemari untuk mengambil kembali apa yang telah di janjikan kepada leluhurku oleh para penguasa dunia," lanjut Tuan Dirus dengan suaranya yang kini telah melemah.
Seakan mendengar dan mengerti apa yang dikatakan Tuan Dirus barusan, Naga itu pun kembali menyelam ke dalam lautan. Tubuh raksasa makhluk itu kini sepenuhnya menghilang ditelan ombak yang bergulungan.
Bersama menghilangnya sang Naga, badai pun mulai mereda, hanya meninggalkan titik-titik tirta. Kabut pun hilang seketika dan ombak kembali tenang bagai hampa. Lantas angin pun mulai bertiup seadanya menerpa layar kapal yang telah kembali dibentangkan di angkasa.
Namun Tuan Dirus tiba-tiba terjatuh tersungkur di lantai dek kapal sembari terengah-engah dengan tubuhnya yang mulai lemah.
Aku yang melihatnya lantas bergegas menghampirinya. Merasa begitu khawatir pada keadaannya. Dimana tubuhnya kini tak lagi sempurna.
"Tuan Dirus! Nampaknya Anda sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana jika kita beristirahat sejenak dan menunggu fajar tiba untuk melanjutkan perjalanan?" ujarku cemas pada Tuan Dirus yang kini nampak begitu lemah.
"Tak perlu menghiraukanku. Tetaplah lanjutkan perjalanan. Kita tak boleh membuang-buang waktu," jawab Tuan Dirus masih dengan suara letih.
"Tapi begaimana dengan kondisi-
"Sudah kubilang, lanjutkan saja perjalanannya!" bentak Tuan Dirus memotong kalimatku dengan raut mengerikannya.
"Ba-Baiklah, Tuan."
__ADS_1
Aku pun mengatakan pada para Canis lainnya yang menjadi kru kapal untuk tetap melanjutkan perjalanan hingga ke tempat tujuan. Aku tahu mereka semua juga cemas dengan keadaan Komandan mereka, namun bagi prajurit 'Bayangan' seperti kami, perintah adalah mutlak.
Maka dengan begini, di tengah laut malam yang sunyi, kapal kami terus melaju tanpa henti di bawah rembulan terang yang kini kembali menerangi.