
...~ ◊ ~...
"Begitulah kisah di balik semua kekacauan Perang Sundal,” kata Udhata sembari menghela nafas lelah setelah menceritakan kisah panjangnya.
“Jadi bisa disimpulkan bahwa kau, Sodha, Wirasana, si Ratu Santika, dan Raja Bawika yang mendalangi semua mala petaka ini dengan tujuan untuk menepati ramalan Kaisar Akbar demi mengembalikan kedamaian yang sejati dengan dipandu oleh suara dari kabut misterius?” tanya Bovin memastikan ringkasan cerita panjang yang baru didengarnya.
“Begitulah. Ah, tehnya sudah dingin,” jawab Udhata seraya meneguk teh terakhir dalam cangkirnya.
“Santika dan Raja Bawika adalah kunci utama dalam rencana kita. Dengan tahta yang dimiliki sang Raja, akan memudahkan kami untuk memulai semua rencana. Dan kekuatan Santika lah yang menjadi tonggak utamanya, menyebar Sihir Perbudakan dan memikat para Pangeran untuk menciptakan kekacauan dengan mengadu domba mereka dalam perang untuk memperebutkan dirinya.
Untuk melancarkan Sihir Pemikat kepada para Pangeran hanya bisa dilakukan dengan melakukan hubungan badan dengan mereka. Yah, tak salah jika kalian memanggilnya pelacur yang hina. Aku pun yang masih memendam rasa padanya harus rela melihatnya mengotori sendiri kehormatannya,” tambah Udhata.
“Untung saja Pangeran I dapat lolos darinya. Kandidat sang Pembawa Panji Akbar memanglah luar biasa,” celoteh Danendra.
“Lalu siapa- atau apa suara misterius dari kabut itu?” tanya Bovin.
“Entahlah. Sejauh yang kami rasakan, itu hanyalah sebuah kabut putih berkilauan yang sejuk dan menenangkan. Kata-kata yang dikeluarkannya begitu dalam dan menggetarkan. Seakan membuat semua yang mendengarnya ingin mematuhi apa yang ia katakan tanpa pikir panjang,” jelas Udhata.
“Mungkinkah itu sihir?” tanya Danendra.
“Bukan. Itu jelas-jelas sesosok makhluk bernyawa, namun ia tak kasat mata. Saat kemunculannya, kami bisa merasakan dengan sangat jelas keberadaannya,” jawab Udhata.
“Terlepas apapun tujuannya, perbudakan, peperangan, dan pembantaian hanya untuk satu tujuan yang tak pasti kebenarannya tak bisa dimaafkan untuk segala kebejatannya!” tegas si Pangeran tiba-tiba dengan raut kesal di wajahnya.
“Itu benar,” sahut si tua Basita. “Kejahatan tetaplah kejahatan. Tak perduli apapun tujuannya. Meskipun mulia, namun jika menimbulkan bencana, pasti akan menuai hukumannya.”
“Kedatangan sang Kaisar Akbar tak sepantasnya diiringi oleh kehancuran dan kenistaan yang menjijikan,” kata Nona Bubalis.
“Kami Bangsa Hayawan, yang dijuluki sebagai bangsa paling setia terhadap Kaisar dan ramalan agungnya merasa terhina akan pelanggaran dan paksaan yang kalian lakukan untuk mewujudkan isi ramalan dengan penuh kekejian.”
“Sudah kukatakan bahwa aku tak memaksa kalian untuk percaya ataupun menanggapinya. Namun begitulah kenyataan adanya,” ujar Udhata menanggapi. “Kami semua pun menyadari jika jalan yang akan kami lalui adalah jalan yang penuh nista, dusta, dan luka. Namun tak peduli apa kata dunia, tujuan kami harus terwujud secepatnya.”
“Aku mengerti,” sahut Bramanta tiba-tiba. “Anggap saja ceritanya adalah omong kosong belaka. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah apakah kita akan melanjutkan pengepungan dan serangan ke pusat ibu kota atau berhenti di sini dan menyudahi semuanya?”
__ADS_1
“Aku memilih untuk melanjutkan perjuangan kita. Tak akan kubiarkan pengorbanan rekan-rekanku yang gugur hanya berakhir sia-sia,” jawab Bovin.
“Aku tak akan puas jika hanya berdiam diri saja. Jadi aku memilih untuk melanjutkannya,” sahut Danendra.
“Umurku yang sudah senja hanya mampu percaya pada generasi muda yang akan mengemban takdir dunia. Jadi aku akan mengikuti apapun keputusan yang akan kalian sepakati bersama,” tutur Basita dengan senyum tipis di wajahnya yang nampak begitu tua.
“Hurrff...!” dengus Nona Bubalis disertai asap beterbangan. “Akan menjadi sebuah aib yang memalukan jika kami, para Prajurit Bangsa Hayawan tak menyelesaikan pertempuran yang telah kami jalankan. Jadi aku dan seluruh pasukanku akan terus melanjutkan pertempuran hingga titik darah penghabisan.”
“Jadi sudah diputuskan!” kata sang Pangeran sembari berdiri menegakkan badan, menampakkan wibawanya sebagai Panglima pasukan.
“Kakuatan gabungan Bangsa Manusia dengan Prajurit Bangsa Hayawan akan tetap melanjutkan pengepungan untuk bersiap melakukan serangan ke istana kerajaan dibawah panji besar persatuan!”
...~ ◊ ~...
Beralih ke sisi lain. Arctos bersama pasukan Batalyon yang menemaninya telah mencari keberadaan dua Devisi yang menghilang selama beberapa bulan. Namun mereka tak kunjung mendapatkan hasil yang memuaskan.
Bersama kekhawatiran akan kondisi rekan-rekan mereka yang menghilang, mereka masih melanjutkan pencarian hingga sampai ke wilayah pantai selatan. Di sana hanya ada bebatuan keras di sepanjang pantai di ujung gurun yang gersang.
“Bagaimana?” tanya Arctos pada Serigala Hitam yang tengah memejamkan mata di sampingnya yang kala mencoba mengirimkan telepati kepada siapa saja yang dapat digapainya.
“Ada jawaban!” teriak Serigala Hitam itu tiba-tiba.
“Siapa? Dari mana?” tanya Arctos gembira. Setelah sekian lama akhirnya mereka mendapat jawaban dari pesan telepati mereka. Pencarian lama mereka ternyata taklah sia-sia.
“Dari Lupus! Ia ada di arah selatan!” jawab si Serigala Hitam.
“Lupus?! Akhirnya berhasil juga!” kata Arctos sembari melompat gembira.
“Tunggu dulu. Dari arah selatan? Tapi kita ada di ujung pantai selatan, dan yang ada di hadapan kita hanyalah hamparan laut yang membentang. Bagaimana mungkin Lupus ada di selatan?” tambah Arctos kebingungan.
“Tapi bagaimana jika dia ada di sebuah kapal yang mengapung di atas lautan?” kata si Sapi sembari menunjuk ke arah laut yang ada di hadapan.
Di sana bukan hanya ada hamparan biru yang kosong membentang. Melainkan ada beberapa kapal perak yang nampak kecil dan memantulkan cahaya menyilaukan.
__ADS_1
“Itu sebuah Armada kapal!” sahut Arctos setelah melihatnya. “Namun bagaimana Lupus ada di sana? Dan kapal-kapal dari mana mereka?”
“Lupus mengatakan bahwa itu adalah kapal-kapal dari Armada Perak,” jawab si Serigala Hitam setelah mendapat balasan dari Lupus yang ada di jauh sana.
“Armada Perak? Bukankah itu Armada kapal perang Kaisar Akbar di masa Kekaisaran Sandya Aksata?” tanya Arctos.
“Entahlah. Namun Lupus mengatakannya dengan nada yang cukup meyakinkan,” jawab Serigala Hitam.
“Ah. Ada tambahan pesan dari Lupus. Mereka akan mengirimkan perahu sukoci untuk membawa kita kesana.”
“Baguslah. Karena aku tak mau jika harus berenang ke sana,” celoteh si Sapi.
Tak lama, datanglah sebuah perahu sukoci yang mendarat di bibir pantai untuk menjemput mereka. Lupus si Serigala nampak ada diatasnya. Setelah itu ia dan Arctos pun saling berpelukan dan beradu cakar untuk melepas kerinduan di antara mereka.
“Lupus! Menghilang kemana saja kau. Semua orang mencari kalian kemana-mana. Lalu bagaimana keadaan yang lainnya?” kata Arctos sembari memeluk erat sahabatnya.
Mendengar itu, Lupus pun menunjukkan raut suram diwajahnya lantas berkata-
“Naiklah dulu. Aku akan menceritakan semuanya setelah kita ada di kapal. Tigris juga ada disana,” jawab Lupus dengan nada lemas.
“Tigris? Ah, aku benar-benar merindukan bocah kecil itu,” Arctos nampak tak menyadari keanehan pada sikap Lupus. Ia hanya terlena akan kebahagiaan setelah menemukan sahabatnya yang telah lama menghilang.
“Pergi temuilah temanmu yang lain, Beruang gendut! Kami akan berkemah di pantai ini malam ini,” kata si Sapi.
“Ya. Aku akan segera mengirimkan laporan kepada Devisi utama jika kita telah menemukan mereka,” tambah si Serigala.
“Sebelum menyampaikan laporanmu, sebaiknya Anda ikut kami ke kapal dulu, Tuan Serigala Hitam,” kata Lupus.
“Hm, Baiklah kalau begitu,” jawab si Serigala.
Setelah itu, Arctos dan si Serigala Hitam naik dan ikut di atas perahu sukoci yang dibawa Lupus untuk kembali ke kapal yang tengah ada di lautan. Sedangkan si Sapi dan pasukan Batalyon lainnya mulai beristirahat dengan berkemah di sepanjang pantai.
Setelah beberapa lama, perahu mereka akhirnya sampai di sebuah kapal besar ditengah barisan Armada. Mereka bertiga naik ke atas kapal dengan tangga tali yang dibentangkan oleh para Manusia dari dek kapal yang ada di atas mereka.
__ADS_1
Setelah sampai di atas kapal, mereka disambut oleh beberapa Manusia berjubah pelaut perak. Tidak. Tak hanya beberapa. Semua orang yang ada di atas kapal ini mengenakan pakaian seragam yang sama.
Kapal-kapal perak, juga seragam jubah para pelaut yang berwarna serupa. Persis seperti yang digambarkan dalam kisah-kisah Armada Perak Kekaisaran Sandya Aksata. Itulah yang dipikirkan Arctos setelah menjejakkan kakinya di atas salah satu kapal besar yang bagai berlian di atas luasnya samudra.