
Mulai dari sini adalah kisah yang aku (Panthera Tigris) ceritakan kepada empat Khan yang duduk berbaris di hadapanku dalam ruang pertemuan Istana Perak sekembalinya aku ke kampung halaman *(Episode 2).
...~ ◊ ~...
Aku, Lupus, dan Arctos melangkah dengan pasti menuju batas Hutan Rintihan Buana. Melewati pepohonan raksasa, menembus embun yang menerpa, tuk melihat luasnya dunia.
Tepat ketika kami melangkahkan kaki melewati barisan pohon terakhir, apa yang kami lihat bukanlah padang rumput hijau yang hangat dari seberang hutan, melainkan pegunungan salju putih yang begitu dingin tak tertahankan.
Seketika tubuh kami menggigil diterpa udara membekukan, deraian salju seketika membasahi bulu dan pakaian, membuat gigi-gigi kami saling bergemeletukkan.
“Apa yang terjadi? Kenapa kita tiba-tiba ada di sini?” tanyaku kebingungan.
“Lupakan sejenak pertanyaan itu, ayo kita cari tempat berteduh sebelum kita mati membeku!” kata Lupus.
Setelah berjalan menuruni perbukitan, kami pun berteduh dibawah bebatuan, menghindari angin kencang tepat sebelum badai datang, kala awan nampak begitu suram ditambah dingin yang tak tertahankan.
“Nampaknya sihir yang menyelimuti Hutan Rintihan Buana adalah Sihir Teleportasi,” kata Arctos tiba-tiba.
“Kurasa juga begitu. Melihat lingkungan sekitar, sepertinya kita terteleportasi ke Pegunungan Salju Utara, wilayah Raja Dengki,” kata Lupus menanggapi.
“Apakah ini juga berlaku saat mencoba memasuki hutan juga?” tanyaku.
“Sepertinya begitu. Siapa saja yang melewati batas hutan, baik ingin yang keluar ataupun masuk, akan terteleportasi secara acak. Jadi inilah sebabnya tidak ada yang memasuki hutan sama sekali, karena mereka yang ingin masuk malah terteleportasi ke tempat lain,” Jelas Arctos sembari mencoba mengeringkan bulu-bulunya.
“Ya, ini seperti sihir yang digunakan oleh Bangsa Jin untuk melawan Kaisar Akbar dalam 'Kisah Penyatuan Benua',” kata Lupus.
“Tapi siapa yang memasang sihir ini hingga para Khan tidak menyadarinya? Apakah para Jin?”
“Entahlah. Yang terpenting sekarang kita harus keluar dari sini secepat mungkin setelah badai ini berakhir.”
...~ ◊ ~...
Kini langit berwajah cerah. Sang mentari pun bersinar indah. Salju putih berkilauan terhampar di sepanjang pegunungan yang megah. Kesunyian terpecah ketika terdengar deratan langkah dari tiga pasang kaki yang nampak lelah. Berjalan menuruni lembah tuk lanjutkan petualangan yang penuh gairah.
“Selanjutnya kita akan kemana?” tanyaku setelah kita sampai di dasar lembah.
“Lembah ini adalah perbatasan antara wilayah Raja Dengki dengan wilayah Raja Malas. Kita akan berjalan mengikuti lembah ini hingga sampai ke Benteng Lembah Perbatasan. Dari sana kita akan ke timur menuju Kota Raja Malas,” jawab Lupus.
“Lembah ini cukup hangat dan aman untuk kita berlindung dari badai dan mungkin akan banyak mata air di sepanjang jalan,” kata Arctos.
“Sebaiknya kau berhati-hati, Tigris. Dengan warna bulumu, mungkin kau akan hilang dan sulit di temukan jika berada di tengah salju,” ejek Lupus sambil mengusap-usap kepalaku.
“Hey, aku tak sebodoh itu hingga harus tersesat di hamparan salju. Dan jangan perlakukan aku seperti anak kecil!” tanggapku kesal.
Mungkin aku memang yang paling muda di antara kami bertiga, tapi bisa memiliki kisah petualangan di usia semuda ini bukankah hal yang bagus?
Kami pun melanjutkan perjalanan ke arah selatan dengan menyusuri lembah ini. Terus berjalan di siang hari dan istirahat di malam hari. Begitulah kesibukan kami beberapa hari ini.
Tak ada tumbuh-tumbuhan di sepanjang lembah, hanya ada batu dan salju sejauh kaki melangkah. Namun untunglah masih ada air untuk melawan rasa lelah.
Satu minggu lebih kami telah berjalan menyusuri dasar lembah ini. Perbekalan kami pun makin menipis dan tak ada apapun untuk mengisinya kembali.
Namun akhirnya rasa lelah kami membuahkan hasil. Nampak dua buah benteng besar berdiri di atas kedua sisi lembah yang dihubungkan oleh sebuah jembatan kayu tua. Kami pun menaiki lembah di sisi kiri kami untuk menuju Benteng Timur.
Sesampainya di atas lembah, terdengar begitu banyak jeritan dan erangan, dentingan pedang dan rintihan kuda-kuda perang. Tepat di depan mata kami tersaji sebuah pertempuran. Mayat-mayat bergelimpangan. Banyak nyawa memohon pengampunan.
__ADS_1
Kami lantas berlari mencari tempat sembunyi. Mencoba menghindari peristiwa yang tak kami sangka-sangka akan terjadi. Melangkahi tubuh-tubuh yang telah mati, menjauhi pertempuran yang tak tahu sampai kapan akan berhenti.
“Apa yang terjadi? Bukankah Bangsa Manusia sudah berdamai dan bersatu di bawah satu kerajaan? Tapi mengapa bisa terjadi peperangan di sini?” tanyaku sambil terus berlari.
“Setelah 24 tahun, aku yakin banyak hal yang telah terjadi,” kata Arctos.
“Tetaplah bergerak! Kita harus secepatnya keluar dari medan perang!” teriak Lupus.
Mendengar itu, aku pun terus berlari secepat-cepatnya menggunakan keempat kakiku. Namun tiba-tiba tubuhku tertubruk sesuatu yang sangat keras. Seketika tubuhku terpental jauh, berguling-guling dan terjatuh. Tubuhku mati rasa. Kulihat sebongkah batu besar tergeletak di sampingku. Batu itulah yang menubruk tubuhku.
Arctos yang berada di belakang berlari menghampiriku. Namun Lupus yang paling depan telah berlari menjauh.
“Berdirilah, Tigris! Sepertinya kita ada sedikit pekerjaan,” kata Arctos sembari melihat ke arah sisi lain lembah di seberang.
Setelah tubuhku pulih, aku kembali bangkit dan mencabut pedangku dari sarungnya. Ikut menatap ke arah barat. Dari sana muncul puluhan Manusia berkuda menyebrangi lembah sembari membawa pedang dan tombak.
“Sepertinya ini cocok untuk pemanasan ditengah udara dingin ini,” kataku bersemangat.
Aku dan Arctos berlari menghampiri dan mulai menerkam kuda-kuda mereka. Satu per satu kuda dan penunggangnya telah kami rubuhkan.
Dengan tinju serta cakarnya yang besar dan kuat, Arctos menghempaskan kuda-kuda dan manusia diatasnya. Aku pun tak mau kalah. Kugunakan taring dan pedangku yang tajam, kugigit leher para kuda dan kutebas penunggangnya hingga keduanya tak lagi bernyawa.
Namun tentara manusia datang seakan tiada habis-habisnya. Anak-anak panah mulai diluncurkan, tombak-tombak mulai di lemparkan. Aku dan Arctos yang tak sanggup menahannya, mulai dipukul mundur oleh mereka.
Saat kami terdesak, Lupus kembali dengan banyak Kaum Hayawan mengikuti di belakangnya. Mereka datang dengan pedang, tombak, panah, taring, dan cakar mereka. Ringkikan, auman, geraman, dan gonggongan memenuhi medan laga.
Mereka menyergap dan mendesak para Manusia hingga kembali ke bentengnya. Setelah pertempuran mulai mereda, para pasukan Hayawan membawa kami ke benteng mereka.
“Apa yang terjadi disini?” tanyaku pada para Hayawan sesampainya di Benteng Timur.
“Bukankah perang antar Bangsa telah dilarang?” tanya Arctos.
“Mereka bukanlah lagi Bangsa Manusia. Begitupun dengan kami, bukan lagi Bangsa Hayawan, tak seperti kelihatannya.”
“Maksudmu?”
“Tak perlu banyak bertanya. Sekarang istirahatlah. Malam nanti kita akan menghancurkan benteng musuh dan menyudahi pertempuran ini. Setelah itu baru kita bisa berbagi cerita,” kata si Bison lalu pergi.
Orang-orang di sini terlihat begitu sibuk. Untuk menyiapkan penyerangan nanti malam?
“Bagaimana? Kita ikut?” tanya Lupus.
“Tentu saja!” jawabku bersemangat tak sabar menunggu malam.
...~ ◊ ~...
Malam akhirnya datang. Begitu dingin dan mencekam. Gelap dan penuh kesunyian. Hanya obor-obor kecil sebagai penerangan. Namun dengan mata para Kaum Hayawan, kami akan lebih unggul dalam kegelapan.
Para Serigala mengendap-endap menaiki Benteng Barat dan membunuh penjaga gerbang tanpa ada keributan. Setelah gerbang terbuka pasukan utama menyerbu pertahanan musuh dengan serangan kejutan.
Para Manusia yang telah lelah dan terlelap, tak sanggup menahan serangan cepat bagai kilat.
Para Serigala membunuh unit pengawas musuh. Para Hayawan bertanduk mendobrak pintu-pintu, mengejutkan tentara Manusia yang masih lesuh.
Tak tinggal diam, sinyal bahaya telah dinyalakan oleh musuh. Pasukan musuh telah bersiap untuk perlawanan penuh. Di bawah rembulan yang setengah penuh, pertempuran menjadi semakin gaduh.
__ADS_1
Namun pasukan Manusia yang tak siap akhirnya kalah dalam sekejap. Dengan kepulan asap, Benteng Barat diguyur api besar yang kian melahap.
Fajar datang mengakhiri pertempuran. Pasukan kami pun kembali tuk kuburkan mayat-mayat yang bergelimpangan, dan memperbaiki benteng yang mengalami kerusakan.
Malam harinya, kami merayakan kemenangan dengan bernyanyi dan menari mengelilingi api unggun.
Tarian dan nyanyian yang sangat familiar bagiku. Tentu saja, karena itu adalah tarian dan nyanyian ‘Kemenangan’ dari Suku Hayawan.
“Maafkan aku belum memperkenalkan diri sebelumnya. Aku Artiodac Bovin, pemimpin pasukan Prajurit Hayawan: Batalyon bagian barat wilayah Raja Malas,” kata si Bison memperkenalkan diri pada kami dengan ramah.
“Baiklah, sekarang kita dengarkan kisah teman-teman baru kita,” lanjut Bovin sembari menyeret kami ke tengah lingkaran para pasukan. “Siapakah gerangan kalian ini? Dan apa yang membuat kalian terlibat dalam pertempuran ini?”
“Aku Lupus, si Beruang adalah Arctos, dan si Harimau adalah Tigris. Sebelumnya, kami ucapkan terimakasih atas bantuan kalian kemarin,” kata Lupus diikuti tundukan kepala kami bertiga serentak.
“Jika kalian tahu dan masih mengingat tentang kampung halaman, kami dikirim oleh keempat Khan dari Desa Hayawan di Hutan Rintihan Buana,” kata Arctos.
“Benarkah?!” tanya beberapa orang diikuti banyak pertanyaan lainnya yang menggema di kesunyian malam dengan raut kebahagiaan.
“Tentu saja kami tak akan pernah melupakan kampung halaman yang selalu kami rindukan,” ujar Bovin dengan raut penuh keharuan.
“Ah, aku mengerti. Kalian terteleportasi ke sekitar sini setelah mencoba keluar dari Hutan Rintihan Buana, bukan?” lanjut Bovin.
“Benar sekali. Dua minggu yang lalu kami mencoba keluar hutan, namun malah terteleportasi ke Pegunungan Salju Utara. Akhirnya kami pun memutuskan untuk berjalan ke selatan dengan menyusuri lembah,” sahutku dengan semangat.
Akhirnya aku bisa menceritakan sedikit kisah petualanganku pada orang lain.
“Pemikiran yang bagus untuk menggunakan jalur lembah disaat musim badai seperti ini,” puji Bovin. “Lantas bagaimana keadaan di desa sekarang ini?”
“Seperti yang kalian tahu, Hutan Rintihan Buana masih terisolasi karena adanya Sihir Teleportasi. Para Khan memutuskan untuk memperkuat pertahanan hutan jikalau ada siasat buruk di balik terblokirnya wilayah hutan,” jelas Arctos.
“Itu keputusan yang tepat,” kata Bovin.
“Salah satu misi kami adalah untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang kebenaran tanda ramalan Raja Angkara dan juga informasi tentang pasukan yang dikirim ke ibu kota 24 tahun lalu. Untuk itulah, apakah kalian bersedia berbagi kisah dengan kami?” tanya Arctos.
“Atas hilangnya kontak dengan 4000 pasukan itu, para Khan mencoba mencari mereka dengan mengirim banyak Unit Pencari, bahkan Suku Canis mengirim Unit Bayangan-nya,” jawab Bovin dengan raut yang sulit di artikan.
“Aku adalah salah satu prajurit yang dipilih oleh Khan Artiodac untuk memimpin Unit Pencari yang dikirim 9 tahun lalu," lanjut Bovin. "Dan apakah kalian menyadarinya? Diantara kita sekarang ini juga ada beberapa prajurit yang menjadi bagian dari 4000 pasukan itu.”
“Benarkah??!” Kami bertiga sungguh kaget dan tercengang. Ternyata orang-orang yang kita cari malah sudah ada di antara kita selama ini.
“Ha Ha Ha ... Kulanjutkan dulu ceritaku,” kata Bovin. “Seperti kalian, tentu juga banyak unit-unit lain yang dikirim sebelum Unitku. Namun semua itu percuma saja jika kami tak dapat membawa kembali segala informasi yang telah kami dapatkan. Dan kami malah harus berurusan dengan perang antar Manusia diluar sini.”
“Hmm... Tapi kenapa para Khan terus mengirim Unit Pencari jika sama sekali tak ada hasilnya?” tanyaku meyadari sebuah keanehan ini.
“Mungkinkah para Khan memiliki rencana tersendiri atas semua itu?” kata Arctos tiba-tiba sembari mengusap-usap kepalanya.
“Mungkinkah para Khan mencoba membangun kekuatan pasukan Hayawan di luar hutan? Nona Ailur sang Ilmuan pasti telah memikirkan berbagai hal untuk mengatasi masalah ini, yang mungkin tak pernah kita pikirkan sama sekali,” tambah Arctos berspekulasi.
“Masuk akal juga pemikiranmu, Nak,” kata Bovin memuji. “Sudah kuduga kalian bukanlah anak-anak biasa. Tak mungkin para Khan mengirim tiga orang bocah untuk mengemban misi berat ini. Pasti ada maksud tersembunyi dibalik misi yang kalian laksanakan ini.”
Aku, Arctos, dam Lupus pun saling pandang, bingung dan tak mengerti. Selama ini kami hanya menganggap misi ini adalah sebuah petualangan seru seperti dalam kisah dongeng. Namun tak kusangka mungkin akan ada makna besar dibaliknya.
“Mengesampingkan semua itu, lantas bisakah kau menceritakan kisah kalian dan juga kisah 4000 pasukan itu? Kami sangat penasaran akan semua misteri itu,” kata Lupus bersemangat.
“Ha Ha Ha ... Baiklah, dengarkan kisah ini baik-baik, Nak! Mungkin kita akan bergadang malam ini,” seru Bovin.
__ADS_1