
...~ ◊ ~...
Sekitar dinding pertahanan ibu kota kerajaan. Pasukan gabungan antara Pangeran I dan Prajurit Bangsa Hayawan telah bersiaga membuat barikade pengepungan.
Formasi pengepungan dibagi dalam 4 bagian untuk memblokir keempat sisi pintu gerbang. Basita sang Murwa Kuncara beserta pasukannya menjaga gerbang bagian timur, Bramanta sang Lelana di gerbang selatan, Bubalis si Kerbau di gerbang barat, dan Danendra sang Murwa Kuncara di gerbang utara.
Pengepungan telah dilakukan selama beberapa bulan. Keadaan di balik gerbang pun mulai terjadi kerusuhan. Logistik dan persediaan makanan dalam ibu kota mulai kehabisan. Dengan adanya pengepungan di luar gerbang, tak memungkinkan bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan yang sebagian besar berasal dari perdagangan dari daerah luar.
Semakin lamanya pengepungan, akan membuat semakin banyaknya perut yang kelaparan. Mereka bagai tikus dalam lumbung padi yang kosong tanpa makanan. Hal itu memaksa mereka untuk mau tidak mau harus menyerang keluar dan mengalahkan pasukan yang menghadang tepat di depan pintu gerbang beserta perangkap-perangkap yang telah mereka siapkan.
Hari itu, sebelum terjadinya penyerangan pasukan Raja dari dalam, Devisi utama menerima kabar dari Batalyon pencarian bahwa mereka telah menemukan Devisi yang menghilang.
Ada kabar baik sekaligus kabar buruk dari laporan yang mereka dapatkan. Kabar buruknya: setelah ditemukan, Devisi II dan Devisi VII ternyata hanya tersisa 4 orang dari hasil pertempuran di gurun barat. Dan kabar baiknya: keempat orang yang selamat telah dievakuasi oleh Armada Perak milik Kaisar Akbar dan kini pasukan armada itu akan membantu mereka untuk melakukan penyerangan ke istana.
Mendengar kabar buruknya, baik pasukan Pangeran I ataupun Prajurit Hayawan merasa begitu berduka dan kehilangan. 5000 personil Canis dan Panthera yang dikirim ke bagian barat, kini hanya tersisa 3 yang selamat. Dan dari 13.000 pasukan Bangsa Manusia, kini hanya tersisa 1 orang saja.
Sungguh pertempuran yang maha dahsyat. Begitu banyak nyawa melayang bagai kiamat. Bahkan seluruh pasukan musuh pun tak ada yang selamat.
Namun dengan berita akan datangnya Armada Perak, itu akan sangat membantu mereka yang ingin terus melanjutkan perjuangannya, dengan begitu pengorbanan rekan-rekan mereka yang telah gugur tidak akan sia-sia.
Pangeran I dan yang lainnya merasa keheranan setelah mendapat kabar itu dari telepati si Serigala yang tengah ada di laut selatan bersama Arctos, Lupus, dan yang lainnya. Jika benar sang Kaisar Akbar telah kembali dan kini akan membantu mereka dengan Armada Peraknya, maka bisa dipastikan ramalannya telah sepenuhnya terpenuhi.
Tapi bagaimana itu bisa terjadi? Menurut cerita Udhata, bukankah masih ada satu baris ramalan yang masih belum terpenuhi? Yaitu baris keempat: “Sang Pemersatu Hilang Kepalanya". Dan sampai saat ini sang Pemersatu, yaitu Raja Angkara masih hidup di istananya.
Entah itu benar-benar Armada sang Kaisar atau hanya orang lain yang menggunakan namanya, setidaknya itu bisa menjadi bantuan yang berarti bagi mereka yang telah kehilangan banyak pasukan. Karena dengan kabar bantuan atas nama Kaisar Akbar dan Armada Peraknya, berhasil membangkitkan kembali semangat para pasukan.
Tak lama kemudian, para pasukan Raja Angkara yang kelaparan mulai keluar untuk bersiap melakukan pertempuran. Pasukan pemanah berjejer rapi di sepanjang tembok tinggi yang membentang. Pintu gerbang terbuka melintang, menampakkan barisan besar pasukan yang siap berperang.
Majulah pertama gajah-gajah besar untuk menghancurkan perangkap-perangkap yang telah disiapkan. Namun pasukan gajah itu mati seketika setelah tertembak hujaman tombak dari pelontar yang telah dipersiapkan.
Srangan pertama musuh pun dapat diatasi, dan pintu gerbang pun tertutup lagi. Namun para pasukan pemanah masih siaga menanti di atas tembok batu yang tinggi.
Beberapa hari berselang, serangan-serangan musuh dari dalam terus berdatangan. Semakin lama kian menyulitkan pasukan di tiap sisi bagian. Pelontar-pelontar dari musuh mulai diluncurkan, hingga menghancurkan perangkap yang sudah disiapkan. Kini siasat pengepungan perlahan mulai dirubuhkan.
Namun sisi yang masih paling kuat bertahan adalah pasukan bagian selatan di bawah pimpinan Bramanta sang Lelana. Disamping jumlah pasukan yang paling banyak, pasukan infanteri yang ditambah pasukan Hayawan dari Devisi III itu masih tetap bertahan dan menghalau semua serangan lawan.
Namun itu semua memang sesuai dengan apa yang direncanakan sang Pangeran. Ia ingin memusatkan kekuatan di gerbang selatan. Sedangkan pasukan di bagian lainnya hanya untuk mengecoh dan membagi kekuatan lawan, juga untuk mengulur waktu hingga bantuan dari Armada Perak datang dari selatan.
Pertempuran demi pertempuran terus terjadi di berbagai sisi pintu gerbang. Di saat pasukan bagian timur, barat, dan utara mulai terdesak, datanglah kabar bahwa pasukan Armada Perak telah mendarat di pelabuhan selatan lantas bergegas menuju ibu kota yang tak jauh jaraknya dari sana.
__ADS_1
Tepat seperti yang direncanakan. Ketiga pasukan yang tengah terdesak kini mulai meninggalkan posisi mereka untuk menuju ke gerbang selatan dan bergabung dengan pasukan Bramanta, yang nantinya pasukan dari Armada Perak juga akan bergabung dengan mereka di sana.
Sembari menunggu kedatangan pasukan Armada Perak dan pasukan dari gerbang lainnya, pasukan yang dipimpin Bramanta mencoba melakukan dobrakan kepada gerbang yang ada dihadapan mereka. Tanpa perlu berlama-lama, pintu gerbang raksasa itu kini berhasil dibobolnya. Dengan begitu terbukalah jalan menuju ke pusat ibu kota.
Tepat setelah itu pasukan yang datang dari gerbang lainnya pun mulai berdatangan lantas bergabung dengan mereka. Mulai dari pasukan Bubalis dari barat, disusul pasukan Basita dari timur, lalu pasukan Danendra yang memutar dari utara.
Dan terakhir, pasukan Armada Perak pun berdatangan menyusul mereka dari belakang. Mereka datang dengan menunggangi kuda-kuda putih yang melaju dengan kencang. Bersama jubah-jubah perak mereka yang saling berkibaran, pasukan itu datang bagai kilatan cahaya terang yang menyilaukan.
Pertempuran pun kembali pecah di sepanjang jalan-jalan kota. Menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Hingga akhirnya mereka sampai di depan gerbang istana.
Sang Pangeran kini berjalan dengan kudanya, mendekati gerbang besi lebar yang ada di hadapannya. Ia pun mengacungkan tinggi-tinggi pedangnya ke udara dan diikuti ringkikan kuda tunggangannya yang mengangkat kedua kaki depannya. Sang Pangeran lantas berseru dengan suara kerasnya-
...“Bangkitlah para pasukan yang merindukan kebebasan! Angkatlah pedang-pedang kalian di genggaman tangan!...
...Takdir dunia, kalianlah yang menentukan!...
...Di sini, di atas benua agung ini, aku sang putra ibu pertiwi, bersumpah akan menghancurkan belenggu kenistaan dalam angkaranya dunia!...
...........
...Untuk kebebasan seluruh negeri di atas tanah agung ini, SERAAAANG...!!!”...
Pasukan yang dipimpin sang Pangeran terus menyebar di seluruh penjuru istana bersama dentingan pedang. Membunuh musuh yang mencoba melawan. Sorakan, teriakan dan jeritan bergema di seluruh sudut bangunan.
Darah tergenang membasahi lantai marmer istana. Mayat pun tergeletak dimana-mana. Mati tercakar, tergigit, terpenggal, tertebas, bahkan tertusuk oleh Prajurit Hayawan dan sesama Bangsa Manusia.
Sang Pangeran dan para komandan pasukannya kini telah sampai pada ruang tahta sang Raja. Ruang yang megah dengan langit-langit berkelip permata di tiap sisinya. Menampakkan si Raja tua yang tengah terduduk lemah di kursi tahtanya.
“Putraku, Adinata. Kau sudah datang rupanya,” tutur sang Raja yang melihat putra pertamanya datang menjenguknya bersama pasukan besar yang mengacungkan senjata.
“Sudahi semua omong kosong ini, Ayahanda! Lihatlah para Pasukan Perak ini, Sang Kaisar Akbar telah kembali. Ramalan sudah sepenuhnya terpenuhi. Tak perlu lagi kau mengorbankan diri.”
Seketika ruang tahta diselimuti embun putih berkilauan, memenuhi sisi ruang dan memendarkan cahaya yang menyilaukan.
Buk..
Terdengar suara benda pejal yang jatuh di balik pekatnya kabut yang menghalangi mata. Nampak Pangeran yang tadinya menghadap lantang di depan sang Raja, tiba-tiba terjatuh berlutut dengan menjatuhkan kepala yang seharusnya melekat pada tubuhnya.
“A-Adi-Adinata!” panggil sang Raja kepada putra di hadapannya yang kini tak lagi memiliki kepala.
__ADS_1
“Putraku, Adinata! A-Apa yang terjadi padanya?!”
Sang Raja pun beranjak dari kursinya lantas mendatangi tubuh putranya yang kini tak lagi bernyawa. Ia pun mendekap si tubuh tak berjiwa, membiarkan darah segar mengguyur jubah yang dikenakannya. Lantas ia berteriak keras dengan suara bergetarnya-
“Makhluk laknat tak kasat mata! Ini tak seperti kesepakatan kita! Harusnya aku yang terpenggal kepalanya! Tapi kenapa malah putraku yang mejadi korbannya?!”
Bersama itu munculah angin kencang yang menghapus kabut-kabut putih itu. Dan nampaklah sesosok putih bercahaya yang melayang di udara dengan sayap kelelawarnya. Tubuhnya kering bak tanpa daging dan ujung wajahnya terdapat paruh besar yang runcing.
Setelah hilangnya kabut dan ternampaklah wujud dirinya, makhluk itu pun mengeluarkan suara pekikkan yang begitu lantang. Semua orang yang ada di dalam ruang itu pun seketika menutup rapat-rapat telinganya, tak kuasa menahan suara yang begitu mengerikan.
“Lancangnya kau, Santika! Menggunakan kekuatan yang kuberikan padamu untuk membuka wujud asliku!”
Si makhluk putih mengatakan hal itu sembari mengarahkan pandangannya kepada seorang wanita yang tadi mengeluarkan sihir yang menghembuskan kabut-kabut putih dari makhluk aneh itu.
“Kau telah berdusta! Kami telah mengorbankan banyak hal untuk mematuhi semua yang kau katakan. Namun kau sendiri yang mengingkarinya. Pangeranlah yang menjadi satu-satunya harapan kami semua. Tapi kau malah membunuhnya!” kata wanita itu sembari mengumpulkan energi sihir besar di kedua tangannya lantas meluncurkannya pada makhluk itu.
“Dasar anak durhaka!” balas makhluk itu yang dengan mudahnya menghempaskan sihir dari si wanita.
Makhluk itu pun terbang meluncur kearahnya dan mencengkram tubuh si wanita dengan kedua tangan kurusnya. Paruh besarnya terbuka, seakan ingin memakan orang yang tengah ada digenggamannya.
Nampak energi sihir keluar dari tubuh si wanita, tertarik kedalam paruh si mahluk dihadapannya. Makhluk itu mencoba mengambil kembali kekuatannya yang telah diberikannya kepada si setengah Jin, Santika.
Namun tiba-tiba muncul kilatan cahaya perak yang menyilaukan mata. Setelahnya nampak si makhluk berparuh telah tersungkur di lantai istana, lantas berkata dengan pekikan yang sama dengan sebelumnya-
“Akhbarrrrr.....!!!!”
Seluruh istana bergetar karenanya. Ketika kilatan cahaya perak mulai meredup, menampakkan seorang pemuda yang tengah berdiri di hadapannya.
Pemuda itu mengenakan zirah bersurai perak berkilauan, memanggul tongkat kayu panjang, dan membawa tujuh pedang.
Ia berdiri dihadapan si makhluk mengerikan sembari mengacungkan tongkatnya kedepan.
“Niskala. Apa kau lupa bahwa si Pangeran sudah mengatakan bahwa aku telah kembali dan ramalannya pun sudah terpenuhi?” tanya si pemuda.
“Hurft... Aku sudah tahu itu. Tapi tak kusangka kau bisa mengumpulkan kembali keempat pusaka secepat ini,” jawab makhluk itu disertai dengusan yang mengerikan.
“Yah, cukup sudah semua keributan yang kau buat.”
Setelah mengatakan itu tongkat yang ada di tangan si pemuda mulai memanjang dan melebar dengan nampak seperti akar dan sulur yang terbuka, lantas menjerat makhluk mengerikan itu.
__ADS_1
Lalu dengan kekang cahaya yang terang, makhluk itu lenyap menjadi butiran-butiran perak yang beterbangan.