Tahta Akhir Dunia - Kisah I

Tahta Akhir Dunia - Kisah I
Perjalanan Arctos: Lautan Ilusi


__ADS_3

...~ ◊ ~...


Aku (Ursidae Arctos) tengah berlayar dengan Armada Perak bersama Nona Bubalis si Kerbau dan Bovin si Bison serta Pasukan Perak lainnya.


Kini Pasukan Perak Kaisar Akbar bukan hanya dari Bangsa Manusia, melainkan juga kami, Prajurit Bangsa Hayawan yang telah tergabung bersama mereka setelah ditandatanganinya '4 Pasal Perjanjian' yang menjamin kebebasan Bangsa Hayawan.


Setelah bertolak dari Dermaga Selatan Pulau Songar, kami berlayar ke arah Teluk Kera Timur dan kemudian Armada ini akan berpisah menjadi tiga bagian.


Armada I adalah kapal yang bertugas menyisir pantai Teluk Kera Timur untuk mengobservasi jalur menuju Hutan Rintihan Buana. Tigris ada di dalam bagian Armada itu. Tujuan mereka adalah mengetahui bagaimana keadaan Sihir Teleportasi yang menyelimuti Hutan Rintihan Buana di bagian batas pantai di sepanjang Teluk Kera Timur. Jika mereka tak mendapatkan petunjuk apapun, mereka akan menyusul perjalanan ke arah timur bersama Armada kami.


Sedangkan Armada II adalah kapal Kaum Serigala yang dikomandoi oleh Tuan Dirus bersama Lupus dan para Canis lainnya untuk berlayar menuju Pulau Angker di selatan. Tujuan mereka adalah untuk mengambil kembali sesuatu yang sangat penting bagi Kaum Canis dan kemungkinan 'itu' akan membantu kita dalam mengatasi kekacauan. Itulah yang kudengar dari para Komandan.


Dan Armada III adalah kapal-kapal yang menuju ke arah timur yang dipimpin oleh Nona Bubalis, dimana aku dan Bovin ada di dalamnya. Tujuan armada ini adalah untuk berlayar mengikuti jalur perginya sang Kaisar bersama sahabat dari dunia asalnya, Nona Ayasya. Tugas kami adalah untuk menjemput kembali mereka berdua agar membantu kami mengatasi semua kekacauan di Benua Agung setelah dilanggarnya isi '4 Pasal Perjanjian'.


Aku mengerti jika itu bukanlah sepenuhnya tanggung jawab Yang Mulia Akbar untuk menyelesaikan semua permasalahan dunia ini. Karena ia hanyalah seseorang dari dunia lain yang terpaksa terlibat dalam semua permasalahan yang ada di dunia ini.


Bahkan dalam kedatangan pertamanya ke dunia ini lebih dari 2000 tahun yang lalu, ialah yang berhasil menyatukan dan memakmurkan Benua Agung yang sebenarnya adalah tanggung jawab semua makhluk yang menghuni dunia ini.


Meskipun ia pernah menjadi penguasa seluruh benua, tapi itu hanyalah sebuah kisah sejarah dari masa lalu. Dalam masa pemerintahannya, semuanya terselimut dalam perdamaian dan kemakmuran, bahkan hingga ke benua-benua seberang.


Dan setelah kepergiannya, maka telah berakhirlah sudah tugas yang diembannya, serta semua anugrah yang dibawanya. Itu seharusnya menjadi awal kemandirian penghuni dunia ini untuk meneruskan persatuan dan kemakmuran yang telah dibawa sang Kaisar dalam Kekaisaran Sandya Aksata-nya.


Namun kenyataan malah berjalan sebaliknya. Bangsa Manusia kembali berusaha mendominasi seluruh benua dan menciptakan peperangan dimana-mana. Bangsa Jin pun pergi untuk tinggal di Alam Bawah. Dan Bangsa Masnae hanya bisa berdiam diri laksana mati hingga menciptakan Hutan Rintihan Buana di sekitar Istana Peraknya.


Mungkin kami terdengar terlalu bergantung pada sang Kaisar Akbar. Namun kenyataannya dunia ini tak akan kembali mendapat kedamaian sejati tanpa kehadirannya.


Seperti dalam '4 Pasal Perjanjian' yang dibuatnya 5 tahun lalu yang dapat mengembalikan perdamaian pasca Perang Sundal antara Raja Angkara dengan putra-putranya. Namun setelah kepergian sang Kaisar setelahnya, Bangsa Manusia dan Roh Jahat kembali membawa kekacauan untuk yang kesekian kalinya.


Setelah menyelesaikan permasalahan di akhir Perang Sundal dengan mengesahkan '4 Pasal Perjanjian', Kaisar Akbar dan Nona Ayasya pergi sendiri, tak mau ditemani, untuk berlayar ke timur menuju tempat yang tak diketahui.


Beliau hanya mengatakan bahwa yang dilakukannya adalah suatu tugas penting untuk mencegah kematian dunia yang tengah beranjak tua.


Kedatangannya untuk yang kedua kalinya ke dunia ini penuh dengan misteri. Bahkan kami semua pun tak tahu bagaimana ia bisa datang kembali. Beliau mengatakan bahwa ramalannya sudah terpenuhi.

__ADS_1


Namun setahu kami semua, masih ada satu baris ramalan lagi yang belum terpenuhi, yaitu "Sang Pemersatu Hilang Kepalanya", dimana Raja Angkara hendak mengorbankan dirinya untuk membuka tanda ramalan terakhir itu dengan memancing sang Pangeran untuk memenggal kepalanya. Namun rencananya gagal karena malah sang Pangeranlah yang terpenggal kepalanya oleh Roh Jahat Niskala.


Namun bukan hilangnya kepala sang Pangeran yang merujuk pada tanda terpenuhinya baris ramalan terakhir itu. Karena Kaisar Akbar dan Nona Ayasya datang ke dunia ini jauh sebelum terjadinya pertempuran 3 bagian, bahkan mereka sempat menyelamatkan para korban perang hingga berhasil membentuk kekuatan baru di wilayah Raja Sombong dengan Pasukan Peraknya.


Dan tugas apa yang sebenarnya beliau lakukan? Untuk mencegah dunia mengalami kehancuran dan kematian?Entahlah. Semuanya masih menjadi segudang pertanyaan.


Tapi kami harus tetap optimis bahwa sang Kaisar akan bersedia membantu kami untuk menyelesaikan kekacauan yang mengancam kehancuran Benua Agung yang kini telah diambang kemusnahan.


Karena itulah, satu-satunya jalan untuk mengakhiri semua kekacauan ini adalah dengan menemukan kembali Yang Mulia Akbar sang Kaisar Perak yang menjadi tonggak kedamaian sejati di atas dunia ini.


...~ ◊ ~...


Saat ini Armada kami telah berpisah dengan kapal-kapal lainnya setelah sampai di Teluk Kera. Kami melanjutkan pelayaran untuk menuju ke arah terbitnya sang surya. Melintasi ombak-ombak yang menerpa, mengarungi lautan yang luasnya tiada tara.


Armada ini membawa Pasukan Perak dari Bangsa Manusia maupun Bangsa Hayawan, serta mengangkut perbekalan untuk perjalanan panjang yang waktunya tak dapat kami asumsikan, yaitu sampai sang Kaisar ditemukan.


Berminggu-minggu pelayaran telah kami lalui. Namu tak kunjung nampak adanya daratan sama sekali. Para kru kapal pun mulai gelisah menanggapi. Dimana kami hanya terombang-ambing di atas lautan luas yang sunyi.


Aku sepertinya telah menyadari apa yang tengah kami alami di lautan luas ini. Aku pun lantas mengatakannya pada Nona Bubalis selaku kapten kapal ini.


"Nampaknya kita telah terjebak dalam ilusi," kataku.


"Apa maksudmu, Arctos?" tanya Bovin yang juga ada di anjungan kapal bersama dengan Nona Bubalis.


"Apakah kalian menyadari jika selama ini kita berlayar dalam keadaan yang sama selama berhari-hari? Arah angin dan deraian ombak seakan selalu sama setiap harinya. Cuaca pun tak pernah berubah keadaannya. Dan yang paling jelas adalah bintang-bintang masih nampak dalam posisi yang sama," jelasku.


"Hmm, jadi selama ini kita hanya berlayar di tempat yang sama tanpa ada perubahan, ya. Jika dipikir-pikir, aku juga sedikit merasakan adanya keanehan," sahut Nona Bubalis.


"Jadi perjalanan yang kita lalui selama ini hanyalah ilusi? Pantas saja kita tak kunjung menemukan daratan walaupun telah berlayar selama beberapa minggu ini. Karena seharusnya di seberang laut timur ada daratan benua lain yang menanti," gerutu Bovin.


"Sepertinya ini bukan ilusi biasa. Ini adalah barier pertahanan dari tempat yang menjadi tujuan kita," tutur Nona Bubalis.


.......

__ADS_1


"Siapa kalian yang dengan beraninya memasuki Lautan Suciku?"


Tiba-tiba terdengar suara menggema dari seluruh lautan yang membentang. Semua kru kapal pun mulai kebingungan. Aku, Nona Bubalis, dan Bovin yang sebelumnya telah menyadari adanya keanehan, bergerak untuk menenangkan para pasukan.


Setelah mendengar suara misterius itu, Nona Bubalis pun menuju ujung haluan kapal lantas berteriak dengan lantang-


"Kami adalah Armada Pasukan Perak yang mencari keberadaan sang Kaisar Penguasa Bentala!"


Tak ada jawaban. Lautan seketika menjadi terdiam, bagai dilanda kehampaan, sunyi bagai tiada kehidupan.


Namun tiba-tiba datang angin yang begitu kencang, diiringi gulungan ombak tinggi yang menerjang. Langit pun tertutup awan hitam, bersama triliunan tetes air hujan. Petir dan guntur saling menyambar bersahutan. Menampakkan bencana besar di seluruh lautan yang membentang.


Hamparan bahar kian bercorak lembayung, bersama ombak besar yang datang bergulung-gulung, dihiasi kilatan-kilatan petir yang menggantung. Muncullah dua kepala Naga yang memecah ombak yang mendera.


"Makhluk apa itu?!" teriak Bovin dengan penuh ketakutan.


"Dwi Rawaja Antaboga, tunggangan sang Penguasa Samudra," jawab Nona Bubalis bersama dengan gemetar dalam tubuh dan suaranya.


Tak hanya mereka berdua, semua yang ada di atas kapal ini juga merasakan menggigil dan gemetaran penuh akan rasa ketakutan yang tak terbayangkan.


Entah itu karena suara misterius yang menggetarkan, entah karena badai dan gejolak lautan, entah karena dua Naga yang ada di hadapan. Seketika semua menjadi begitu mengerikan dan mencekam. Hingga kami terasa tak berdaya untuk melakukan perlawanan.


"Wahai Bangsa Hayawan dan Manusia yang telah keluar dari belenggu nista. Yang telah menderita ribuan tahun lamanya, setelah menghilangnya sang Kaisar pemersatu segala Bangsa."


Suara menggema itu kembali terdengar dari luasnya samudra, bersama guncangan kapal karena lilitan dari kedua Naga. Kapal kami perlahan diremukkan olehnya, para penumpang di atasya pun menjadi panik dan takut dibuatnya.


“Bulatkanlah tekat kalian, untuk mendapat restu sang Raja Kebenaran.”


Kapal kami mulai terguncang. Tiang layar kapal dirobohkan. Lambung kapal pun pecah tak beraturan. Badan kapal lantas mulai tenggelam, di tarik kedua Naga ke dalam lautan yang dalam. Seluruh kapal beserta para penumpangnya pun terbenam pelahan.


“Akan kumurnikan jiwa dan keteguhan kalian, untuk menggapai kedamaian yang kalian damba-dambakan.”


Kata misterius itu berhenti tepat ketika seluruh kapal dan tubuh kami tenggelam dalam dinginnya lautan. Kala mata terpejam, raga mulai kehilangan kekuatan, dan jiwa pun perlahan menuai kedamaian.

__ADS_1


__ADS_2