
“Nampaknya kau sudah terlalu tua untuk semua ini, Guru,” kata seorang pria yang mendatangi Basita yang tengah tersungkur di tanah.
“Wirasana... Nampaknya teknik memanahmu sudah cukup baik,” jawab Basita seraya menyeringai sinis pada pria dihadapannya.
“Sayangnya aku belum bisa mengalahkanmu secara adil. Tidak, mungkin tak akan pernah,” sahut si pria, yang juga salah seorang Kesatria: Wirasana sang Hamung Tuwuh.
“Aku akan menjadi guru yang gagal jika muridku sendiri tak bisa melampauiku,”
“Mustahil ada Manusia yang bisa melampauimu. Kau adalah Manusia terkuat di dunia.”
“Sayangnya Manusia hanyalah Manusia. Tak bisa menang melawan usia.”
“Benar sekali ... Namun akan jadi kisah yang menyedihkan jika seorang murid membunuh gurunya sendiri dalam perang kotor ini.
Maka dari itu, kutantang dirimu wahai guruku: Basita sang Murwa Kuncara, untuk duel adil satu lawan satu melawan diriku: Wirasana sang Hamung Tuwuh untuk merebutkan gelar manusia terkuat di dunia.”
“... Sejujurnya aku tak masalah jika memberikan gelar itu pada muridku ... Namun bukan untuk dirimu.”
“Kau pikir si Pangeran itu akan lebih baik dariku?”
“Ingatlah bahwa lebih baik bukan hanya dilihat dari kekuatan,” jawab Basita sembari berdiri dan mencabut pedangnya dari tanah. “Agar gelar itu bisa jatuh pada tangan yang tepat, maka tak akan kubiarkan orang lain mendapatkannya sebelum dirinya. Termasuk dirimu.”
Basita kembali menegakkan tubuh-tubuh rentanya dan membentuk kuda-kuda kokoh dengan kedua kakinya. Tangan-tangannya mencengkram erat gagang pedang dan kembali menyalurkan energi besar padanya.
Wirasana yang melihat itu menyeringai, lantas ikut memasang kuda-kuda dengan busur panah besar di tangan kirinya, sedang tangan kanannya bersiap menarik benangnya yang sudah tersimpan anak panah magis disana.
“Kalau begitu akan aku buktikan bahwa aku tak akan mengecewakan guruku.”
__ADS_1
Seketika setelah mengatakan itu, Wirasana menarik busur panah dan melepaskannya. Meluncurkan anak panah bercahaya yang melaju menghujam si tua Basita.
Dengan sigap, pedang yang ada di tangan Basita menebas anak panah itu hingga terbelah menjadi dua. Tak lama, anak panah lain meluncur menghampirinya. Bukan satu atau dua, itu puluhan anak panah yang dilepaskan ke arahnya.
Dengan gerakan cepat, bagai waktu terhenti kecuali dirinya, ia menghindar dan menebas semua anak panah itu dengan sekali gerak bagai tarian perang.
Sebelum anak-anak panah yang dibelahnya jatuh ke tanah, sudah datang kembali puluhan anak panah yang dihujamkan ke arahnya. Ia pun kembali menghindar dan menebasnya.
Begitu terus berulang hingga beberapa kali. Basita terus sedikit demi sedikit mendekat kearah Wirasana. Sedang Wirasana berusaha terus menjaga jarak dari jangkauan pedang musuh duelnya.
Merasa bahwa Basita mulai kelelahan, Wirasana meluncurkan satu anak panah besar dengan cahaya sanga terang ke arah Basita yang masih terus mengayunkan pedangnya sembari mengatur nafas.
Anak panah itu melesat sangat cepat. Lebih cepat dari ayunan pedang Basita. Basita masih bisa sedikit menghindarinya. Namun anak panah itu masih berhasil mengenai lengan kanannya.
Setelah mendapat luka itu, tangan kanan Basita tersungkur lemas dan tak bisa lagi digunakan. Genggaman pedangnya pun mulai mengendur. Dan ayunan pedangnya tak secepat sebelumnya.
Basita yang mendapat serangan dari segala arah pun mengeyunkan pedangnya memutar horizontal untuk menepis semua anak panah itu.
Namun hanya dengan satu tangan, Basita tak mampu menahan semua anak panah itu. Dengan begitu beberapa anak panah jatuh menusuk sekujur tubuh basita. Ia pun jatuh berlutut di atas tanah.
Wirasana mengambil kesempatan itu untuk melompat tinggi-tinggi dan menembakkan anak panah besar dari atas. Menargetkan ujung kepala Basita yang tengah lengah tertunduk lesu.
Namun sebelum anak panah itu sampai ke kepala Basita, ia telah menghilang dari tempat seharusnya ia berada. Dan kini berada di belakang punggung Wirasana yang telah mendarat. Mengacungkan pedang ke punggungnya dan mengakhiri duel antara guru dan murid ini.
“Hah, aku terkecoh ... Kenapa kau berhenti?”
“Tugas seorang guru adalah memberikan pengajaran dan ilmu kepada muridnya, bukan menghukumnya.”
__ADS_1
“Kau tak akan berpikir demikian jika kau tahu dosa-dosaku. Mungkin semua orang di benua ini berhak menghukumku karena dosa-dosa itu.”
“Dosa hanya akan dilakukan jika kau memiliki keinginan. Maka apa pun dosa yang kau lakukan, pasti ada keinginan kuat dibaliknya.”
“... Kau sungguh mengerti segalanya.”
“Tidak. Tak ada orang yang mengerti segalanya di dunia ini. Bahkan sang Kaisar Akbar.
Aku tak akan menanyakan apa keinginanmu. Tapi jika kau harus melakukan semua pengorbanan ini, itu pasti memang keinginan yang besar.”
“Ya, keinginan yang sangat besar.”
Basita melepas acungan pedangnya pada Wirasana. Lalu merebut busur panah darinya dan memerintahkannya menyerah.
“Duel antara dua pemimpin pasukan adalah simbol pertarungan kedua pasukannya,” kata Basita.
“Kemenangan pemimpin adalah kemenangan seluruh pasukannya dan kekalahan pemimpin adalah kekalahan seluruh pasukannya,” sahut Wirasana.
...~ ◊ ~...
Begitulah berakhirnya duel antara kedua pemimpin pasukan: Basita sang Murwa Kuncara, salah satu Komandan pasukan Pangeran I yang menang atas Wirasana sang Hamung Tuwuh, bagian dari ‘Pangreksa’ Jendral pasukan Raja Angkara.
Menurut etik perang Bangsa Manusia, akhir dari duel itu menjadi akhir pertempuran di gurun timur dengan kemenangan ditangan pasukan Pangeran I.
Dengan begitu pertahanan timur Kerajaan Angkara secara resmi ditaklukan oleh pasukan Devisi IV yang dipimpin oleh Basita sang Murwa Kuncara.
Jalur timur akhirnya berhasil terbuka. Maka pasukan Infanteri Devisi V yang dipimpin Bramanta sang Lelana pun bisa melewatinya untuk membantu Devisi IV, untuk melanjutkan pertempuran menyerang ibu kota.
__ADS_1
Sedangkan pasukan Wirasana akan mundur kembali menuju ibu kota Kerajaan Angkara.