
...~ ◊ ~...
Sungguh sebuah kisah sekaligus bencana yang luar biasa,” kataku (Panthera Tigris) tak tahu harus bersikap bagaimana.
“Sihir Perbudakan, ya...” gumam Arctos. “Terisolasinya Hutan Rintihan Buana mungkin menjadi kesialan sekaligus keuntungan. Dengan terblokirnya hutan, sepertinya juga telah memblokir Sihir Perbudakan.”
“Namun kita telah keluar dari sana. Berarti kami juga telah terkena kutukan sihirnya?” tanya Lupus.
“Mungkin saja,” jawab Bovin. “Tapi kita akan tetap aman jika menggunakan telepati Suku Canis. Pantauan Sihir Perbudakan tidak akan bisa menjangkau informasi dari telepati. Namun Raja dan para Pangeran akan tetap tahu pergerakan kita.”
“Jika dipikir-pikir lagi, mungkin ada sebuah kesengajaan dari para Khan yang membiarkan hutan tetap terblokir untuk menangkal Sihir Perbudakan ini,” kata Arctos.
“Disamping itu, ada satu pertanyaan yang terus terpikirkan olehku. Apa maksud perkataanmu tentang musuh yang kita lawan kemarin bukan lagi Bangsa Manusia dan kita juga bukan lagi Bangsa Hayawan?” tanyaku pada Bovin.
“Maksudku kita semua yang ada di atas tanah agung ini telah kehilangan kebebasan dan jati diri kita. Kita dan mereka bukan lagi bangsa bebas seperti dahulu kala. Mereka hanya menjadi bidak-bidak catur Raja dan anak-anaknya. Sedangkan kita hanya bisa bersembunyi dari kekangan mereka.” tutur Bovin dengan raut penuh kekesalan.
"Mungkin Sihir Perbudakan ini juga berakibat pada tak berlakunya lagi sumpah perdamaian antar bangsa," sahut Arctos.
“Lantas bagaimana kondisi peperangan yang tengah terjadi sekarang ini?” tanya Lupus.
“Raja Angkara dan para Pangeran masih berperang satu dengan yang lainnya,” jawab Bovin. “Tapi Pangeran III telah kalah dan terbunuh dalam pertempuran di Pegunungan Api Barat Daya. Sedangkan Pangeran I dan II masih bertempur di perbatasan wilayah Raja Rakus dan Raja Nafsu.”
“Lalu bagaimana keadaan Pasukan Prajurit Bangsa Hayawan?” tanya Arctos.
“Kami masih berusaha menguatkan posisi kita untuk bertahan ditengah peperangan. Pasukan kita yang dipimpin oleh Artiodac Bubalis si Kerbau dari Rawa Desa Ayal berhasil menguasai wilayah Raja Malas. Sedangkan pasukan yang dipimpin oleh Canis Dirus si Serigala melakukan blokade di sepanjang perbatasan untuk melindungi wilayah yang telah dikuasai. Pasukanku yang ada disini adalah salah satu Batalyon dibawah perintah Komandan Dirus si Serigala,” jelas Bovin.
“Lalu pasukan yang kita lawan kemarin?” tanyaku.
“Mereka adalah pasukan Pangeran II. Dari pantauan Sihir Perbudakan, sepertinya Pangeran II mengetahui jika pertahanan kita di benteng perbatasan ini lebih lemah dibanding Batalyon pertahanan Prajurit Bangsa Hayawan yang lain. Mungkin ia berniat membuka jalur pelarian melalui pegunungan ini jikalau kalah bertempur melawan Pangeran I,” jawab Bovin.
“Mendengar penjelasanmu, kami telah mengerti situasi perang saat ini. Tujuan kami adalah menuju ibu kota Raja Serakah di Gurun Pasir Selatan. Tapi mungkin jalur menuju ke selatan akan sulit karena adanya pertempuran antara Pangeran I dan Pangeran II,” ujar Lupus terlihat frustasi.
“Tapi kita harus ke Kota Raja Malas dulu untuk bertemu dengan Nona Bubalis seperti pesan Paman Boss. Dia ada di sana bukan?” tanyaku pada Bovin.
“Errr... Entahlah,” jawab Bovin tak yakin. “Meskipun Komandan Bubalis telah menaklukan wilayah Raja Malas dan menjadikannya basis pertahanan Bangsa Hayawan, namun setelah itu ia tak pernah terlihat memimpin pasukan lagi.”
“Lalu sekarang siapa yang memimpin pasukan di kota?”
“Sekarang semua pasukan Prajurit Bangsa Hayawan ada dibawah pimpinan Komandan Dirus. Tapi jika kalian tetap ingin mampir ke Kota Raja Malas, aku akan menemani kalian sampai ke sana.”
“Benarkah? Tapi bagaimana pasukanmu yang ada di sini? Apa tidak apa-apa meninggalkan mereka?”
“Tak apa, mereka semua prajurit veteran, bahkan akupun merasa tak pantas memimpin mereka. Lagipula esok hari akan datang pasukan bantuan dari Devisi pusat untuk mencegah jika terjadi serangan berikutnya.”
...~ ◊ ~...
__ADS_1
Dan begitulah kisah kami keluar melihat kebenaran yang ada di dunia di sisi lain hutan. Bertemu dengan Prajurit Bangsa Hayawan yang hilang dan pengalaman pertama kami dalam medan perang.
Keesokan harinya aku, Lupus, dan Arctos melanjutkan perjalanan kami menuju Kota Raja Malas ditemani Bovin si Bison.
Ditengah perjalanan kami bertemu dengan pasukan bantuan yang dikirim dari Devisi pusat untuk membantu pertahanan di Benteng Lembah Perbatasan.
Perjalanan tampak tenang tanpa hambatan. Karena wilayah ini telah menjadi kekuasaan Bangsa Hayawan yang mampu bertahan dari Sihir Perbudakan, sehingga tak terlihat adanya pertempuran.
Setelah hampir 2 minggu perjalanan, kami pun akhirnya sampai tujuan. Di sebuah kota besar dengan pola bangunan acak-acakan, seperti dibangun dengan asal-asalan. Kota tanpa tembok ataupun pintu gerbang. Kota Raja Kemalasan.
Mungkin Raja Malas dulu terlalu malas untuk memikirkan susunan bangunan kota dan terlalu malas untuk membangun tembok pertahanannya. Mungkin ia merasa terlalu merepotkan jika harus membuka gerbang setiap kali ingin melewatinya.
Namun tanpa disangka ada keunggulan dalam susunan kota yang asal-asalan ini. Kota ini seperti labirin raksasa yang begitu membingungkan untuk dilewati. Sangat cocok untuk benteng pertahanan diri. Bahkan Bovin harus berulang kali mengecek denah kota untuk memastikan rute yang akan kami lalui.
Entah aku harus mencela atau memuji pembangunan kota ini. Butuh waktu berhari-hari harus kami lalui untuk melewati kota menyebalkan ini demi menuju pusat kota yang jaraknya tak diketahui.
Namun akhirnya kami sampai juga ke Istana Raja Malas. Bangunan yang terlalu kecil untuk dikatakan sebagai sebuah istana. Mungkin Raja Malas terlalu malas jika harus berjalan jauh dalam istananya sendiri. Maka dibuatlah bangunan aneh ini yang hanya terdiri dari kamar raja dan ruang tahta.
Kami pun masuk ke dalam ruang tahta itu. Di dalam sana nampak berdiri seorang Serigala besar berbulu kecoklatan menatap kami dengan sebelah matanya, dimana mata lainnya hanya mampu tertutup karena nampak ada bekas sayatan panjang disana.
Hanya dengan melihatnya saja kami langsung menyadarinya, dialah Canis Dirus sang Serigala Mengerikan. Orang yang memimpin belasan ribu pasukan Prajurit Bangsa Hayawan. Bertahan dalam belenggu kutukan dan gejolak peperangan. Melawan jutaan pasukan budak kerajaan. Demi melindungi kampung halaman.
“Selamat datang, Tiga Prajurit Muda dari Hutan Rintihan Buana,” sambutnya dengan suara rendahnya.
“Te-Terima kasih atas sambutannya, Tuan Dirus.” jawab kami tergagap.
Aku pun keheranan tentang apa yang dimaksudkannya. Tanpa yang lain sadari, sepertinya Lupus telah mengirim sebuah telepati pada Tuan Dirus.
“Kemarilah, wahai Serigala muda,” lanjut Tuan Dirus. “Kau tak akan bisa mengatakan apapun padaku jika menggunakan kemampuan itu. Sebagai anggota Suku Canis, aku satu-satunya yang tak bisa menggunakan telepati. Suaramu hanya akan terdengar seperti air beriak bagiku.”
“A-Aku sungguh minta maaf atas kelancangan dan ketidak tahuanku, Tuan Dirus,” kata Lupus lantas berjalan mendekat pada Tuan Dirus dan membisikkan sesuatu padanya.
“Aku mengerti. Tapi bukankah lebih baik teman-temanmu itu juga kau beri tahu akan hal ini?” tanya Tuan Dirus memotong ditengah bisikan Lupus.
“Aku tak bisa. Karena ‘beliau’ sendiri yang memerintahkanku untuk memastikan mereka tidak mengetahuinya,” jawab Lupus lantas melanjutkan kembali bisikannya.
Hey, ada apa ini? Apa yang tidak kami ketahui? Apa yang kau sembunyikan dari kami, Lupus? Dan siapa ‘beliau’ yang kau sebutkan itu? Tak kusangka ada rahasia di antara kita.
Namun nampaknya Arctos tak sepenasaran diriku. Malah ia sepertinya sudah menyadari sesuatu.
“Apa kau tahu sesuatu tentang itu, Arctos?” bisikku pada Arctos.
“Entahlah. Tapi mengingat kemampuan telepatinya, aku dapat menduga ia telah menyembunyikan sesuatu yang mungkin tidak kita sadari,” jawab Arctos sembari masih mengamati percakapan Lupus dengan Tuan Dirus.
Setelah mendengar apa yang dikatakan Lupus, sekilas Tuan Dirus nampak terkejut. Namun setelah itu menampakkan raut garang nan menakutkan.
__ADS_1
“Baiklah. Aku akan melakukannya,” kata Tuan Dirus dibarengi sedikit geraman mengerikan.
Hey, Lupus. Sebenarnya apa yang kau katakan padanya hingga membuatnya terlihat semakin menakutkan seperti itu?
“Setelah mendengar pesan yang disampaikan teman kalian ini, aku memutuskan akan menemani ketiga prajurit muda ini hingga setengah perjalanan menuju ibu kota,” kata Tuan Dirus tiba-tiba.
“A-Apa maksud perkataan Anda, Komandan? Anda bercanda bukan?” tanya Bovin kebingungan.
“Seperti yang tadi kukatakan. Aku akan menemani perjalanan mereka ke selatan. Namun kita akan berpisah di tengah jalan.”
“Hanya sampai perbatasan? Ataukah membawa serta pasukan untuk berperang?”
“Tidak. Hanya aku seorang. Aku akan mengantar mereka hingga Benteng Pesisir Timur,” jawab Tuan Dirus dengan santainya.
“Lantas siapa yang akan memimpin semua pasukan ini jika Anda tidak ada?” tanya Bovin.
“Tentu saja orang yang pantas memimpin kalian semua. Orang yang telah membawa kita dalam kemenangan ditengah peliknya kekacauan.”
“Komandan Bubalis? Tapi beliaukan...” kata Bovin tak yakin.
“Karena itulah, aku sendiri yang akan membangunkan dia dari kubangan lumpurnya lantas menyeretnya untuk kembali pada tugas dan kewajibannya,” tegas Tuan Dirus.
“Baiklah, tak perlu menunggu lebih lama lagi. Segera isi kembali perbekalan dan mari lanjutkan perjalanan kalian, wahai prajurit-prajurit muda yang penuh kebanggaan!” lanjut Tuan Dirus penuh api semangat.
“Baik!” jawab kami bertiga serentak.
"Selama aku pergi, komando pasukan sementara akan ada di bawah perintahmu, Komandan Bovin!" seru Tuan Dirus.
"A-Apa maksudnya itu? Aku tak bisa mengemban tanggung jawab sebesar itu," tukas Bovin.
"Kau adalah pemimpin berbakat, Bovin. Aku mengakui kemampuanmu. Jadi gantikanlah pekerjaan ini hingga si Komandan Utama kembali memimpin," jawab Tuan Dirus dengan yakin.
Yah, entahlah apa yang sebenarnya telah terjadi hingga Tuan Dirus tiba-tiba ikut dalam perjalanan kami. Tapi kami merasa terhormat bisa berpetualang bersama sosok sehebat ini.
Untuk pesan apa yang disampaikan Lupus pada Tuan Dirus, aku tak begitu memikirkannya lagi. Yang pasti berkat pesan itu Tuan Dirus mau menemani kami melanjutkan perjalanan ini.
...~ ◊ ~...
(Pesan yang disampaikan oleh Lupus kepada Tuan Dirus adalah sebuah pesan dari Khan Canis yang disampaikan pada Lupus sebelum keberangkatannya keluar dari Hutan Rintihan Buana *(Episode 6). Saat itu Lupus mendapat telepati dari ayahnya :
...“Aku punya sebuah perintah untukmu. Namun pastikan kedua temanmu tak akan mengetahuinya....
...Setelah kau keluar dari hutan, carilah seorang Canis bernama Dirus. Dia adalah Serigala terkuat setara dengan diriku. Pastikan kau menemukannya, walau harus berpisah dengan teman-temanmu....
...Katakanlah padanya jika aku, Khan Canis memiliki sebuah pesan untuknya, yaitu perintah untuk menuju ke Pulau Angker dan mengambil kembali apa yang menjadi miliknya.”...
__ADS_1
Setelah mendapat kesempatan bertemu dengan Tuan Dirus, Lupus pun segera menyampaikan pesan dari ayahnya itu kepadanya. Meskipun telah menyelesaikan perintah dari ayahnya itu, Lupus sendiri pun tak tahu apa maksud dari pesan itu.
Kenapa Tuan Dirus harus pergi ke Pulau Angker dan apa yang harus diambilnya disana. Tak ada yang mengetahuinya kecuali sang pengirim dan penerima pesan itu sendiri.)