
...~ ◊ ~...
Berita tentang kematian Raja Angkara kini telah menyebar ke seluruh penjuru benua. Kekacauan di daratan utama membawa serta berdirinya kerajaan dan negara yang memisahkan diri dari Kerajaan Angkara yang telah binasa.
Ketujuh Kesatria yang terusir dari daratan utama kini telah sampai di Pulau Songar, pulau yang menjadi wilayah khusus Pasukan Perak dan Bangsa Hayawan menurut ‘4 Pasal Perjanjian’ yang telah dilanggar.
Mereka datang bersama seluruh pasukan dan Bangsa Manusia yang masih setia pada kebenaran perjanjian dan mendukung persatuan.
Setelah terusir keluar, kini mereka semua berkumpul di Pulau Songar untuk menghindari para penguasa baru yang buruk mengakar dan mencari perlindungan pada Pasukan Perak sang Kaisar.
Para Kesatria yang memimpin mereka kini melakukan rapat pertemuan dengan para Komandan Pasukan Perak dan Prajurit Bangsa Hayawan untuk membicarakan apa yang selanjutnya harus mereka lakukan.
“Aku sangat berterimakasih karena kalian telah bersedia menampung para pengungsi dari daratan utama disini,” kata si tua Basita berterimakasih sembari menundukkan kepalanya.
“Tak perlu merendahkan diri begitu, Tuan Kesatria. Kami juga Bangsa Manusia sama seperti kalian semua,” jawab salah seorang Komandan Pasukan Perak.
“Kami juga bernasib sama dengan kalian sebelum sang Kaisar datang menyelamatkan kami dan membangun kembali tempat ini untuk menjadi tempat pertahanan kami, para korban Perang Sundal,” sahut Komandan Pasukan Perak yang lain.
“Benar sekali,” sahut yang lainnya. “Kaisar Akbar telah menyelamatkan kami di tengah keterpurukan akibat perang itu dan membawa kami ke Pulau ini yang saat itu adalah tempat paling aman dan minim pertempuran. Bahkan beliau menjadikan kami sebagai Pasukan Peraknya.”
“Oleh karena itu, kami tak akan menelantarkan orang lain yang bernasib sama dengan kami. Dan kami menerima kalian dengan sepenuh hati.”
“Baiklah. Cukup sudah basa basinya, Manusia,” potong Nona Bubalis si Kerbau. “Kita menghadapi situasi genting sekarang ini. Meskipun kalian telah diangkat oleh sang Kaisar untuk menjadi Pasukan Peraknya, tapi tetap saja kita tak akan bisa berbuat banyak jika sang Kaisar tidak ada bersama kita.”
“Itu benar. Apa kalian tahu kemana perginya sang Kaisar Akbar?” tanya Bramanta.
“Entahlah. Ia pergi bersama Nona Ayasya. Beliau hanya mengatakan bahwa ia harus pergi menjalankan pekerjaan lain untuk mencegah kematian dunia,” jawab sorang Komandan Pasukan Perak. “Tapi yang kami tahu bahwa beliau pergi berlayar ke arah timur.”
“Jadi apa rencana kita?” tanya Danendra.
“Aku akan pergi mencari sang Kaisar dengan berlayar ke timur,” jawab Nona Bubalis.
“Sedangkan aku akan pergi ke Pulau Angker. Itu tujuan utamaku yang sempat tertunda selama perang sebelumnya,” tambah Tuan Dirus. “Aku akan mengambil apa yang menjadi milikku di sana. Dan i**tu mungkin akan membantu menyelesaikan masalah kita.”
“Aku akan ikut menemani Komandan Bubalis untuk berlayar ke timur mencari Kaisar Akbar,” sahut Bovin.
“Lalu bagai mana dengan kalian, para Kesatria?”
“Kami akan membantu pertahanan Pulau ini. Karena tak menutup kemungkinan jika kekacauan di daratan utama akan merembet hingga kemari,” jawab Basita.
“Kami bergabung dengan Pasukan Perak untuk menambah kekuatan wilayah ini, itu pun jika kalian bersedia menerima kami,” tambah Bramanta.
“Tentu saja kami tak keberatan,” jawap Komandan Pasukan Perak. “Kami akan sangat senang dan merasa terhormat jika kami bisa bekerja sama dengan para Kesatria. Dan kami yakin Kaisar Akbar juga telah menunggu momen keikut sertaan kalian dalam Pasukan Perak yang dibentuknya.”
...~ ◊ ~...
Setelah itu, seorang gadis Kesatria yang membawa dua pedang menyilang di belakang punggungnya, Antara sang Sumela Atur tengah memasuki sebuah Bar.
Ini menunjukkan waktu makan siang. Namun Antara datang ke Bar ini bukan untuk mendapat sesuap makanan, melainkan untuk menemui tiga teman lama mereka: Lupus si Serigala abu-abu, Arctos si Beruang cokelat, dan Tigris si Harimau perak.
Antara datang menghampiri meja makan ketiga Prajurit Hayawan yang dikenalnya. Mereka bertiga nampak telah menyelesaikan makan siang mereka. *(*****Episode 1*****)
“Antara!” sahut ketiga Hayawan menyambut kedatangannya. Mereka bertiga pun memeluknya dan saling mengadu cakar mereka ke telapak tangan halus Antara.
“Sudah 5 tahun, ya. Kau sudah nampak jadi wanita yang cantik sekarang, Antara,” puji Arctos.
“Itu benar. Tapi aku masih melihat keganasannya di balik wajah cantiknya,” sindir Lupus.
“Itu karena aku adalah seorang Kesatria. Tak akan kubiarkan feminimitas merenggut kemampuan bertarungku,” tegas Antara dengan semangatnya yang masih membara.
“Kami dengar kau dan para Kesatria lainnya sampai di pulau ini bersama para rakyat yang terusir dari daratan utama,” kata Tigris.
“Itu benar. Tempat inilah satu-satunya yang aman bagi para rakyat yang terusir. Seluruh daratan utama telah terpecah belah akibat runtuhnya wangsa sang Raja Serakah,” sahut Antara dengan raut kesalnya.
“Lalu apa yang akan kalian lakukan sekarang?” tanya Lupus.
__ADS_1
“Pasukan kami akan bergabung dengan Pasukan Perak untuk membantu mempertahankan pulau ini. Karena kemungkinan kekacauan yang di bawa Tiga Roh Jahat di daratan utama sebentar lagi juga akan sampai di Pulau ini,” jawab Antara.
“Tiga Roh Jahat?! Bukankah Roh Jahat Niskala yang menjadi dalang dibalik Perang Sundal sudah dimusnahkan oleh sang Kaisar?” tanya Arctos terkejut, begitupun dengan Tigris dan Lupus.
Mereka belum mendengar kabar bahwa kekacauan ini diakibatkan oleh datangnya Tiga Roh Jahat penebar asap hitam yang pekat. Mereka hanya mengetahui bahwa kekacauan itu terjadi karena kudeta dan pemberontakan para Bangsawan terhadap tahta Raja Angkara.
“Tiga Roh Jahat ini mungkin juga sejenis dengan Roh Jahat Niskala dari kekacauan yang sebelumnya,” jawab Antara. “Ketiga Roh Jahat itu menebarkan asap hitam yang dapat memanipulasi pikiran dan sifat dosa, serta dendam orang-orang yeng menghirupnya.”
“Tidak hanya ada satu Roh Jahat seperti Niskala, namun kini ada tiga sekaligus yang menjadi musuh kita. Berbeda dengan Niskala yang membuat kekacauan dengan perlahan, tiga Roh Jahat hitam itu menciptakan kekacauan hanya dalam semalam. Bahkan Kesatria Udhata, Wirasana, dan Sodha bersama gagal menghentikan gerak mereka,” tambah Antara.
“Namun siapa, atau apa makhluk-makhluk itu sebenarnya?” tanya Arctos yang tak ada satupun dari kami yang dapat menjawabnya.
“Bukankah nama Roh Jahat itu datang dari Kaisar Akbar yang mengatakannya? Apakah mungkin mereka adalah sebagian dari 12 Roh pemimpin Bangsa Jin? Jika benar, tak aneh jika mereka memiliki kekuatan sihir yang luar biasa besar,” ujar Arctos menjawab pertanyaannya sendiri.
“Itu masuk akal! Jika aku tak salah ingat, Niskala juga sempat mengatakan bahwa Ratu Santika adalah ‘anak durhaka’ saat dalam pertempuran di istana Raja Angkara.
Jika Roh Jahat itu memang bagian dari 12 Roh pemimpin Bangsa Jin, tak akan aneh jika ia mengatakan bahwa Ratu Santika adalah ‘anak durhaka’ yang membangkang padanya, mengingat Ratu Santika yang adalah setengah Jin yang mungkin juga keturunan mereka,” jelas Antara.
“Tapi itu hanyalah spekulasi kita, belum terbukti kebenarannya,” kata Lupus menanggapi. “Yang terpenting adalah bagaimana cara kita mengatasi kekacauan baru yang telah menanti.”
“Untuk itu, kami para Kesatria telah berdiskusi dengan para Komandan Pasukan Perak dan Bangsa Hayawan. Seperti yang ku katakan tadi, kami akan bergabung dengan Pasukan Perak. Sedangkan Nona Bubalis dan Bovin akan pergi mencari sang Kaisar yang telah pergi dengan berlayar ke arah terbitnya matahari.”
“Benarkah?! Bagaimana bisa mereka tak mengatakan apapun pada kami?! Kami harus ikut mereka untuk mencari sang Kaisar!” tegas Arctos bersemangat ingin memulai petualangan kembali.
“Tentu saja! Aku tak akan bisa tinggal diam disini!” sahut Tigris yang juga bertekat sama.
“Lalu bagaimana dengan Tuan Dirus?” tanya Lupus.
“Beliau mengatakan bahwa akan pergi ke Pulau Angker untuk mengambil sesuatu yang mungkin akan berguna untuk mengatasi masalah yang tengah kita hadapi. Tapi aku juga tak tahu apa yang dimaksudkannya.
Ditambah dengan kondisi tubuhnya yang sekarang, aku tak yakin beliau akan melakukan perjalanan ke Pulau Angker yang menyeramkan,” jawab Antara.
“Kalau begitu, aku memutuskan akan ikut dengan Tuan Dirus ke Pulau Angker!" tegas Lupus.
...~ ◊ ~...
Berita tentang kematian Raja Angkara kini telah menyebar ke seluruh penjuru benua. Kekacauan di daratan utama membawa serta berdirinya kerajaan dan negara yang memisahkan diri dari Kerajaan Angkara yang telah binasa.
Ketujuh Kesatria yang terusir dari daratan utama kini telah sampai di Pulau Songar, pulau yang menjadi wilayah khusus Pasukan Perak dan Bangsa Hayawan menurut ‘4 Pasal Perjanjian’ yang telah dilanggar.
Mereka datang bersama seluruh pasukan dan Bangsa Manusia yang masih setia pada kebenaran perjanjian dan mendukung persatuan.
Setelah terusir keluar, kini mereka semua berkumpul di Pulau Songar untuk menghindari para penguasa baru yang buruk mengakar dan mencari perlindungan pada Pasukan Perak sang Kaisar.
Para Kesatria yang memimpin mereka kini melakukan rapat pertemuan dengan para Komandan Pasukan Perak dan Prajurit Bangsa Hayawan untuk membicarakan apa yang selanjutnya harus mereka lakukan.
“Aku sangat berterimakasih karena kalian telah bersedia menampung para pengungsi dari daratan utama disini,” kata si tua Basita berterimakasih sembari menundukkan kepalanya.
“Tak perlu merendahkan diri begitu, Tuan Kesatria. Kami juga Bangsa Manusia sama seperti kalian semua,” jawab salah seorang Komandan Pasukan Perak.
“Kami juga bernasib sama dengan kalian sebelum sang Kaisar datang menyelamatkan kami dan membangun kembali tempat ini untuk menjadi tempat pertahanan kami, para korban Perang Sundal,” sahut Komandan Pasukan Perak yang lain.
“Benar sekali,” sahut yang lainnya. “Kaisar Akbar telah menyelamatkan kami di tengah keterpurukan akibat perang itu dan membawa kami ke Pulau ini yang saat itu adalah tempat paling aman dan minim pertempuran. Bahkan beliau menjadikan kami sebagai Pasukan Peraknya.”
“Oleh karena itu, kami tak akan menelantarkan orang lain yang bernasib sama dengan kami. Dan kami menerima kalian dengan sepenuh hati.”
“Baiklah. Cukup sudah basa basinya, Manusia,” potong Nona Bubalis si Kerbau. “Kita menghadapi situasi genting sekarang ini. Meskipun kalian telah diangkat oleh sang Kaisar untuk menjadi Pasukan Peraknya, tapi tetap saja kita tak akan bisa berbuat banyak jika sang Kaisar tidak ada bersama kita.”
“Itu benar. Apa kalian tahu kemana perginya sang Kaisar Akbar?” tanya Bramanta.
“Entahlah. Ia pergi bersama Nona Ayasya. Beliau hanya mengatakan bahwa ia harus pergi menjalankan pekerjaan lain untuk mencegah kematian dunia,” jawab sorang Komandan Pasukan Perak. “Tapi yang kami tahu bahwa beliau pergi berlayar ke arah timur.”
“Jadi apa rencana kita?” tanya Danendra.
“Aku akan pergi mencari sang Kaisar dengan berlayar ke timur,” jawab Nona Bubalis.
__ADS_1
“Sedangkan aku akan pergi ke Pulau Angker. Itu tujuan utamaku yang sempat tertunda selama perang sebelumnya,” tambah Tuan Dirus. “Aku akan mengambil apa yang menjadi milikku di sana. Dan i**tu mungkin akan membantu menyelesaikan masalah kita.”
“Aku akan ikut menemani Komandan Bubalis untuk berlayar ke timur mencari Kaisar Akbar,” sahut Bovin.
“Lalu bagai mana dengan kalian, para Kesatria?”
“Kami akan membantu pertahanan Pulau ini. Karena tak menutup kemungkinan jika kekacauan di daratan utama akan merembet hingga kemari,” jawab Basita.
“Kami bergabung dengan Pasukan Perak untuk menambah kekuatan wilayah ini, itu pun jika kalian bersedia menerima kami,” tambah Bramanta.
“Tentu saja kami tak keberatan,” jawap Komandan Pasukan Perak. “Kami akan sangat senang dan merasa terhormat jika kami bisa bekerja sama dengan para Kesatria. Dan kami yakin Kaisar Akbar juga telah menunggu momen keikut sertaan kalian dalam Pasukan Perak yang dibentuknya.”
...~ ◊ ~...
Setelah itu, seorang gadis Kesatria yang membawa dua pedang menyilang di belakang punggungnya, Antara sang Sumela Atur tengah memasuki sebuah Bar.
Ini menunjukkan waktu makan siang. Namun Antara datang ke Bar ini bukan untuk mendapat sesuap makanan, melainkan untuk menemui tiga teman lama mereka: Lupus si Serigala abu-abu, Arctos si Beruang cokelat, dan Tigris si Harimau perak.
Antara datang menghampiri meja makan ketiga Prajurit Hayawan yang dikenalnya. Mereka bertiga nampak telah menyelesaikan makan siang mereka. *(*****Episode 1*****)
“Antara!” sahut ketiga Hayawan menyambut kedatangannya. Mereka bertiga pun memeluknya dan saling mengadu cakar mereka ke telapak tangan halus Antara.
“Sudah 5 tahun, ya. Kau sudah nampak jadi wanita yang cantik sekarang, Antara,” puji Arctos.
“Itu benar. Tapi aku masih melihat keganasannya di balik wajah cantiknya,” sindir Lupus.
“Itu karena aku adalah seorang Kesatria. Tak akan kubiarkan feminimitas merenggut kemampuan bertarungku,” tegas Antara dengan semangatnya yang masih membara.
“Kami dengar kau dan para Kesatria lainnya sampai di pulau ini bersama para rakyat yang terusir dari daratan utama,” kata Tigris.
“Itu benar. Tempat inilah satu-satunya yang aman bagi para rakyat yang terusir. Seluruh daratan utama telah terpecah belah akibat runtuhnya wangsa sang Raja Serakah,” sahut Antara dengan raut kesalnya.
“Lalu apa yang akan kalian lakukan sekarang?” tanya Lupus.
“Pasukan kami akan bergabung dengan Pasukan Perak untuk membantu mempertahankan pulau ini. Karena kemungkinan kekacauan yang di bawa Tiga Roh Jahat di daratan utama sebentar lagi juga akan sampai di Pulau ini,” jawab Antara.
“Tiga Roh Jahat?! Bukankah Roh Jahat Niskala yang menjadi dalang dibalik Perang Sundal sudah dimusnahkan oleh sang Kaisar?” tanya Arctos terkejut, begitupun dengan Tigris dan Lupus.
Mereka belum mendengar kabar bahwa kekacauan ini diakibatkan oleh datangnya Tiga Roh Jahat penebar asap hitam yang pekat. Mereka hanya mengetahui bahwa kekacauan itu terjadi karena kudeta dan pemberontakan para Bangsawan terhadap tahta Raja Angkara.
“Tiga Roh Jahat ini mungkin juga sejenis dengan Roh Jahat Niskala dari kekacauan yang sebelumnya,” jawab Antara. “Ketiga Roh Jahat itu menebarkan asap hitam yang dapat memanipulasi pikiran dan sifat dosa, serta dendam orang-orang yeng menghirupnya.”
“Tidak hanya ada satu Roh Jahat seperti Niskala, namun kini ada tiga sekaligus yang menjadi musuh kita. Berbeda dengan Niskala yang membuat kekacauan dengan perlahan, tiga Roh Jahat hitam itu menciptakan kekacauan hanya dalam semalam. Bahkan Kesatria Udhata, Wirasana, dan Sodha bersama gagal menghentikan gerak mereka,” tambah Antara.
“Namun siapa, atau apa makhluk-makhluk itu sebenarnya?” tanya Arctos yang tak ada satupun dari kami yang dapat menjawabnya.
“Bukankah nama Roh Jahat itu datang dari Kaisar Akbar yang mengatakannya? Apakah mungkin mereka adalah sebagian dari 12 Roh pemimpin Bangsa Jin? Jika benar, tak aneh jika mereka memiliki kekuatan sihir yang luar biasa besar,” ujar Arctos menjawab pertanyaannya sendiri.
“Itu masuk akal! Jika aku tak salah ingat, Niskala juga sempat mengatakan bahwa Ratu Santika adalah ‘anak durhaka’ saat dalam pertempuran di istana Raja Angkara.
Jika Roh Jahat itu memang bagian dari 12 Roh pemimpin Bangsa Jin, tak akan aneh jika ia mengatakan bahwa Ratu Santika adalah ‘anak durhaka’ yang membangkang padanya, mengingat Ratu Santika yang adalah setengah Jin yang mungkin juga keturunan mereka,” jelas Antara.
“Tapi itu hanyalah spekulasi kita, belum terbukti kebenarannya,” kata Lupus menanggapi. “Yang terpenting adalah bagaimana cara kita mengatasi kekacauan baru yang telah menanti.”
“Untuk itu, kami para Kesatria telah berdiskusi dengan para Komandan Pasukan Perak dan Bangsa Hayawan. Seperti yang ku katakan tadi, kami akan bergabung dengan Pasukan Perak. Sedangkan Nona Bubalis dan Bovin akan pergi mencari sang Kaisar yang telah pergi dengan berlayar ke arah terbitnya matahari.”
“Benarkah?! Bagaimana bisa mereka tak mengatakan apapun pada kami?! Kami harus ikut mereka untuk mencari sang Kaisar!” tegas Arctos bersemangat ingin memulai petualangan kembali.
“Tentu saja! Aku tak akan bisa tinggal diam disini!” sahut Tigris yang juga bertekat sama.
“Lalu bagaimana dengan Tuan Dirus?” tanya Lupus.
“Beliau mengatakan bahwa akan pergi ke Pulau Angker untuk mengambil sesuatu yang mungkin akan berguna untuk mengatasi masalah yang tengah kita hadapi. Tapi aku juga tak tahu apa yang dimaksudkannya.
Ditambah dengan kondisi tubuhnya yang sekarang, aku tak yakin beliau akan melakukan perjalanan ke Pulau Angker yang menyeramkan,” jawab Antara.
__ADS_1
“Kalau begitu, aku memutuskan akan ikut dengan Tuan Dirus ke Pulau Angker!" tegas Lupus.