Tahta Akhir Dunia - Kisah I

Tahta Akhir Dunia - Kisah I
Berita Untuk Bangsa Hayawan


__ADS_3


...~ ◊ ~...


Beberapa bulan setelah pembunuhan Raja Angkara dan kudeta para Bangsawan, kerajaan dilanda kekacauan. Para Bangsawan yang berhasil menggulingkan kekuasaan, kini saling berebut kursi kerajaan.


Sedangkan rakyat yang mendengar kematian Raja Angkara, kini mulai berkumpul dan memulai gerakan pemberontakan. Namun rakyat tak memperhatikan, pemberontakan mereka telah dikendalikan.


Di Hutan Rintihan Buana, ujung timur Benua Agung, berjalanlah Tigris si Harimau mendaki puncak gunung. Gadis itu berjalan membawa bulu-bulu peraknya ditengah embun yang membumbung.


Pepohonan raksasa dengan dahan-dahan menggantung, tutupi langit bak awan mendung. Susuri hutan gelap tuk kembali ke kampung.


Tak lama kemudian, ternampaklah tembok besar menjulang. Mendekatlah ia pada pintu gerbang, lantas berteriak dengan lantang-


“Aku Tigris, meminta untuk menghadap para Khan!”


Tak lama setelah seruannya, gerbang besar itu terbuka dengan suara deratan memecah kesunyian hutan. Nampak beberapa Hayawan di sisi lain gerbang sembari membawa tombak di tangan.


“Oh, Tigris! Akhirnya kau kembali setelah sekian lama. Tapi dimana teman-temanmu? Apakah yang lain baik-baik saja?” kata seorang diantara mereka sembari mempersilakan Tigris memasuki gerbang.


“Paman Pardus si Macan! Lama tak jumpa. Banyak hal yang terjadi hingga aku harus kembali seorang diri. Tapi kita harus bergegas, aku datang untuk menyampaikan suatu hal yang sangat penting untuk para Khan,” jawab Tigris seraya beradu cakar dengan Paman Pardus, salam khas kaum Hayawan.


“Aku mengerti. Pasti ada banyak hal yang ingin mereka tanyakan padamu. Baiklah, ikut aku!”


Paman Pardus membawa Tigris berjalan menyusuri Desa Hayawan yang telah lama ia tinggalkan. Tak pernah terbayangkan oleh Tigris bila ia akhirnya dapat kembali ke tempat kelahirannya secepat ini.


Desa yang gelap dan berkabut dengan dahan dan daun dari pepohonan raksasa yang menutupi seluruh hutan. Cahaya fajar yang menyingsing masuk melewati celah-celah dedaunan menyinari kabut yang nampak mendamaikan.


Rumah-rumah kayu sederhana yang dibangun di batang dan cabang pohon-pohon raksasa dengan jembatan gantung yang menjadi penghubungnya. Membuka kembali memori masa kecil Tigris di kampung halamannya.


6 tahun lalu, Arctos dan Lupus yang masih berumur 14 tahun berniat pergi meninggalkan desa ini untuk mencari kebenaran tentang ramalan Kaisar Akbar.


Begitu pun Tigris, meskipun ia perempuan dan yang paling muda (usia 12 tahun kala itu), ia tetap bersikeras ikut dengan Arctos dan Lupus menuju ibu kota.

__ADS_1


Dan kini setelah mengetahui tentang kebenaran, ia kembali ke tanah buaiannya membawa kabar kelam dan hitam, menandakan akhir dunia seperti dalam ramalan.


Paman Pardus dan Tigris berjalan menuju kastil kuno di ujung puncak gunung ini. Kastil yang megah dengan tumbuh-tumbuhan yang merambat di tiang dan dindingnya, menampakkan keagungan dan kejayaan bangsa terdahulu, Istana Perak.


Istana itu memantulkan cahaya surya yang menyilaukan. Dimana kastil itu memang lebih tinggi di ujung puncak, melebihi pepohonan raksasa di sekitarnya. Menerangi hutan bak berlian di tengah kehampaan.


(Desa Hayawan dibangun mengelilingi Istana Perak itu sebagai pusatnya di ujung puncak gunung.)


Sesampainya di kastil, Paman Pardus dan Tigris langsung menuju ke ruang pertemuan.


Ruang itu begitu megah dimana salah sisi dinding yang terbuka, menghadap ke timur menampakkan seisi hutan dan lautan diujungnya dibayangi mentari yang baru terbit di ujung cakrawala.


Sungguh hangat dan damai. Tigris mulai merasa gundah akankah kedamaian ini akan bertahan dikala dunia di sisi lainnya tengah mengalami kehancuran.


“Tigris! Akhirnya kau kembali. Bagaimana kabarmu, putriku sayang? Apa saja yang terjadi padamu di luar sana? Oh, kau sudah nampak dewasa sekarang. Aku sungguh merindukanmu, putri kecilku...”


Mendengar suara lembut dan dalam itu, Tigris berbalik menghadap pintu masuk ruang pertemuan dan mendapati seorang bertubuh besar dan kekar dengan surai lebut keemasan di sekitar kepalanya yang melambai-lambai kala berlari menghampirinya.


“Ayah!” kata Tigris sembari ikut berlari menghampiri pria itu dan memeluknya erat-erat.


“Sebelum itu, ada hal yang sangat penting yang ingin aku sampaikan padamu dan juga Khan yang lain. Kita tak punya banyak waktu,” lanjut Tigris tegas.


“Hm... Baiklah. Pardus, tolong panggilkan Khan yang lain untuk datang kemari.”


“Baik, Shimha!” jawab Paman Pardus lantas berlari keluar dari ruang pertemuan.


“Duduklah, Nak. Istirahatkan tubuhmu sebelum menyampaikan apa yang ingin kau sampaikan. Perjalanan kemari pasti sangat melelahkan.”


Tak lama kemudian, datanglah tiga orang Hayawan ke dalam ruang pertemuan ini bersama dengan Paman Pardus.


Seperti merasakan kegundahan Tigris, ketiga orang itu beserta Shimha langsung menempati tempat duduk mereka.


Duduk bersebelahan dibelakang meja setengah lingkaran membelakangi sinar mentari timur yang menambah kesan keagungan keempat orang itu.

__ADS_1


Dengan begini telah berkumpulah keempat Khan, Kepala Suku Bangsa Hayawan, sang penjaga Hutan Rintihan Buana dan Istana Perak yang ada di dalamnya:


- Khan Panthera : Shimha si Singa


- Khan Canis : Wolford si Serigala


- Khan Ursidae : Ailur si Panda


- Khan Artiodac : Boss si Banteng


(Sebenarnya ada satu Khan dari suku yang lain, namun akan diceritakan pada kisah selanjutnya.)


“Tigris... Selamat datang kembali di kampung halaman, Nak. Nampaknya kau punya berita besar untuk keluargamu ini,” kata Khan Ailur menyambut sembari mempersilakan Tigris duduk menghadap mereka.


“Te-Terima kasih atas sambutannya, Khan Ursidae. Saya datang membawa kabar tentang apa yang tengah terjadi di bumi dan kerajaan Agung ini,” balas Tigris setelah duduk dikursi yang telah disiapkan Paman Pardus sembari merasa gugup.


“Hufft...” dengus Khan Wolford. “Melihat raut wajahmu, nampaknya benar apa yang kukhawatirkan. Lanjutkan, Nak.”


“Kebenaran telah terungkap. Si penista ramalan, Raja Angkara, mati terpenggal dalam kudeta yang dilakukan para Bangsawan dan kini kerajaan tengah dalam kekacauan. Ramalan telah sampai pada penghujung kisahnya,” tegas Tigris seakan telah lama menyiapkan kata-kata yang ingin disampaikannya.


“Benarkah?!!” teriak Khan Boss lantang sambil berdiri dan menggebrak meja. “Lalu bagaimana nasib rekan-rekan kita yang ada diluar sana!”


“Tenanglah, Boss,” ujar Khan Ailur. “Sebaiknya kita dengarkan berita ini lebih rinci.”


“Yah, aku sudah curiga dengan hal ini setelah kudengar dari bisikan samar para Bayangan-ku. Tapi tak kusangka akan ada kudeta,” kata Khan Wolford sedikit terkejut.


“Lantas bagaimana kabar kedua sahabatmu, Lupus dan Arctos? Kenapa mereka tidak kembali bersamamu?” tanya Khan Shimha diselimuti kekhawatiran.


“Untuk itu, sebaiknya kita dengarkan bagaimana kisah Tigris semenjak keberangkatannya bersama Arctos dan Lupus ke luar hutan 6 tahun lalu,” tutur Khan Wolford.


“Itu benar. Yang pasti kita sudah mendapat kebenaran tentang ramalan yang telah dilanggar yang kembali membawa kekacauan dan kehancuran,” kata Khan Ailur.


“Baiklah, sekarang giliranmu bercerita, Nak. Ceritakanlah kisah petualanganmu bersama kedua sahabatmu. Semoga kau berhasil mendapat jawaban akan semua misteri yang kalian pertanyakan,” ujar Khan Boss.

__ADS_1


“Baik.” jawab Tigris.


__ADS_2