
...~ ◊ ~...
Kini mentari kembali bersinar dengan terang, memantulkan gemerlap lautan yang nampak begitu cemerlang. Kondisi perairan kini sangat bertolak belakang dengan keadaan semalam. Namun syukurlah perjalanan kami setelah itu dapat berjalan dengan aman.
Setelah perjalanan panjang ini, akhirnya kapal kami berhasil berlabuh di sebuah pantai teluk yang ada di sebelah utara Pulau Angker.
Layar mulai digulung kembali dan jangkar pun diturunkan dari kapal kami. Semua kru kapal pun mulai menginjakkan kaki di daratan ini dengan sebagian lainnya ditugaskan untuk tetap menjaga kapal di sini.
Pasir hitam dan kerang berbatu tajam menyambut langkah kami setelah menapakkan kaki di atas daratan. Aku (Canis Lupus) yang tengah memapah jalan sang Komandan pasukan pun tak henti-hentinya terheran-heran, melihat daratan mengerikan yang menyapa kami dari kejauhan.
"Tenangkan diri kalian, tak perlu ada ketakutan, dan hilangkan semua hal buruk yang ada di pikiran. Jika tidak, maka kalian akan tenggelam dalam penyesalan," ujar Tuan Dirus pelan, memperingatkan para pasukan.
Kami pun melanjutkan langkah kami dengan hati-hati. Melewati batu-batu karang yang sedari tadi dipijaki, kini berganti dengan pasir hitam yang terasa kasar di alas kaki.
Di balik kabut yang menyelimuti kami, nampaklah dua buah tebing yang menjulang tinggi. Di antara keduanya terdapat sebuah lembah sempit yang nampaknya adalah satu-satunya jalan yang harus kami lewati.
Tak perlu pikir panjang, Tuan Dirus pun memimpin perjalanan. Tubuh kami harus dikesampingkan agar muat kala berjalan untuk melewati lembah sempit bagai jepitan.
Setelah beberapa lama melintasi lembah yang begitu menyempitkan, medan pun nampak mulai berubah dihadapan. Namun sepertinya telah muncul jalan yang lebih menyusahkan, yaitu jalur geiser yang menyemburkan uap panas yang menghanguskan.
Saat kami melangkah dengan perlahan di medan geiser yang mematikan, nampak beberapa siluet bayangan di balik embun uap yang berhamburan.
Bayangan-bayangan itu nampak semakin bergerak mendekati barisan, lantas semua pasukan pun mulai menyiagakan diri dan pikiran. Karena tak tahu apakah mereka ancaman atau bukan.
Namun tiba-tiba sebuah tombak kayu meluncur ke arahku menembus kabut tebal yang menghalangi pandanganku. Aku yang terkejut dengan itu pun tak bisa menentukan tindakan apa yang harus kulakukan untuk menghalau tombak itu. Namun Tuan Dirus dengan gesitnya berhasil menebas tombak kayu itu tepat di depan wajahku.
Hampir saja kepalaku berlubang jika benar tertusuk tombak itu. Meski dengan kondisi tubuhnya yang sekarang, kemampuan Tuan Dirus tetap tak bisa diremehkan. Tak salah jika semua pasukannya sangat segan dan hormat padanya.
"Bersiagalah. Buat formasi melingkar saling membelakangi. Kita tak tahu apa yang ada di balik kabut dan uap-uap ini," tutur Tuan Dirus pelan.
Kami pun melakukan apa yang ia perintahkan. Dengan formasi ini, kami bisa saling melindungi. Namun tetap saja, kabut dan uap yang terus menyembur membuat pendangan terhalangi.
__ADS_1
Kami pun bersiaga dan mencoba melacak dengan hidung tajam kami. Namun tak berguna, uap-uap panas dari geiser membuat medan ini lembab dan sulit mendeteksi aroma dengan hidung kami.
Satu per satu tombak-tombak kayu kembali diluncurkan ke arah kami. Namun dapat di atasi dengan formasi melingkar ini. Akan tetapi kami tetap tak dapat mendeteksi siapa atau apa yang melakukan serangan pada kami. Mereka selalu menghilang setelah melemparkan tombak-tombak kayu ini.
Saat kami masih disibukkan akan datangnya tombak-tombak itu, tiba-tiba datang sesosok makhluk bersayap yang menerjang salah seorang rekan kami dan membawanya terbang dengan cengkraman cakar-cakar kakinya.
"Ahool~ Ahool~" Terdengar suara makhluk itu.
Lalu muncul makhluk serupa yang lainnya yang ikut menerjang rekan kami yang telah bergelantungan di udara. Lantas kedua makhluk itu saling menarik dan mencabik tubuhnya bersama-sama hingga terputus satu sama lainnya.
"Ahool~ Ahool~ Ahool~ Ahool~ Ahool~"
Tak hanya satu atau dua saja, namun banyak makhluk-makhluk serupa yang ternyata telah beterbangan memutar diatas kami. Makhluk itu nampak seperti monyet dengan sayap kelelawar besar di sekitar lengannya.
"Menunduk dan berpencar!" teriak Tuan Dirus.
Makhluk-makhluk Ahool itu pun meluncur ke arah kami sembari membentangkan cakar-cakar kaki mereka, bersiap untuk menerjang kami. Namun kami berhasil menghindar dengan menunduk dan berlari dengan keempat kaki kami memutari medan ini.
Setelah datangnya Ahool-Ahool ini, nampaknya bayangan-bayangan yang melempari kami dengan tombak kayu tadi telah menghilang dari sini. Namun tetap saja kami disibukkan dengan masalah lain saat ini.
Mendengar itu, pasukan Canis ini pun mulai berganti menyerang Ahool-Ahool itu dengan menerjang melompat tinggi atau berancang-ancang dengan memanjat tebing-tebing di sekitar medan ini. Kami menerkam makhluk-makhluk aneh itu dengan cakar dan taring kami, menyeret mereka jatuh ke tanah atau merobek sayap-sayap mereka hingga tersungkur ke bawah.
Hingga akhirnya para Ahool itu menyerah dan kabur dari terkaman kami menuju sarang-sarang mereka di atas tebing yang curam.
"Para Siluman. Mereka memang selalu menyusahkan," gumam Tuan Dirus.
"Apa Anda baik-baik saja, Tuan?" tanyaku menghawatirkan kondisi Tuan Dirus.
"Tak kusangka aku akan menjadi sebegitu menyedihkannya hingga dikhawatirkan oleh bocah ingusan sepertimu," celoteh Tuan Dirus dengan seringai lelah. "Kurasa aku sekarang hanya menjadi beban untuk kalian semua."
"Tentu saja tidak, Komandan!" sahut seorang rekan kami. "Tanpa interupsi dari Anda, pasukan ini tak akan bisa bertahan hingga saat ini."
__ADS_1
"Ha Ha... Terserah apa kata kalian," tanggap Tuan Dirus. "Tak perlu basa-basi lagi, kita harus terus bergegas. Aku sudah mulai merasakan itu telah dekat."
Setelah itu, kami terus melanjutkan perjalanan untuk menuju pusat Pulau Angker ini untuk mencari sesuatu yang entah apa itu. Namun kata Tuan Dirus, 'itu' adalah hal yang sangat penting, terutama bagi kaum kami, Suku Canis. Itulah mengapa tim yang dikirim menuju pulau ini semuanya adalah kaum Serigala dari Suku Canis. Dan kaum lainnya dilarang untuk itu. Mungkin itulah mengapa ayah tidak mengizinkanku memberitahu Arctos dan Tigris mengenai semua hal ini. *(Episode 9)
Perjalanan kami terus berlanjut. Mendaki bukit, menuruni lembah, menyebrang sungai, hingga medan-medan menyeramkan lain yang dipenuhi siluman dan monster yang mengerikan, dan terjadilah banyak pertempuran kami melawan mereka semua yang telah menghalangi kami untuk mencapai tujuan.
Hingga akhirnya kami sampai di pusat Pulau Angker dimana di tempat ini terdapat sebuah bangunan batu besar berundak dengan banyak patung dan stupa dimana-mana. Di tambah dengan tumbuhan-tumbuhan liar merambat di semua area, menampakkan panorama megah sekaligus menyeramkan bagai reruntuhan kuno yang ditinggalkan.
Awalnya semua nampak sepi dan sunyi. Kami pun menaiki tangga batu berundak untuk mencapai puncak yang menjadi tujuan utama kami.
Namun tiba-tiba munculah puluhan, ratusan, hingga ribuan makhluk yang nampak seperti manusia berbulu lebat yang tengah membawa tombak dan galah sebagai senjata. Mereka menghadang jalan kami sembari mengacungkan senjata-senjata mereka.
Sepertinya makhluk-makhluk berbulu inilah yang melempari kami dengan tombak-tombak dari balik kabut selama perjalanan kami di pulau ini.
"Wahai Kaum Suku Hominid yang terhormat, kami adalah saudara jauh kalian dari seberang lautan, ingin mengucapkan salam dan bertemu dengan pemimpin kalian," seru Tuan Dirus pada makhluk-makhluk yang menghadang.
Tunggu dulu!
Ah, benar juga. Bagaimana aku bisa lupa. Arctos pernah bercerita bahwa Pulau Angker ini adalah tempat tinggal salah satu Suku Hayawan yang terusir dari desa, Suku Hominid. Dan disini mereka dipimpin oleh Siluman Kera Raksasa yang diangkat menjadi Khan ke-5. *(Episode 4)
Jadi inilah Kaum Suku Hominid itu. Mereka bukanlah manusia berbulu, melainkan Kaum Wanara. Apa mungkin karena kabut tebal ini dan siluman yang selalu menyerang kami selama ini, jadi aku mengira bahwa mereka juga siluman tak berakal.
Tak kusangka aku akan menjadi yang pertama melihat semua ini dari pada Arctos ataupun Tigris. Mereka pasti iri setelah mendengar kisah petualanganku di pulau ini.
"Turunkan senjata kalian, anak-anak."
Tiba-tiba terdengar suara besar dari puncak bangunan batu ini dibarengi suara langkah yang mendekati kerumunan di sekitar kami.
Setelah mendengar suara dan kedatangan langkah itu, para Kaum Hominid yang berkerumun menghadang kami kini membuka jalan untuk makhluk yang menghampiri kami itu.
Dan nampaklah sesosok Kera raksasa berbulu perak berkilauan yang terlihat begitu sangat tua tengah berjalan lunglai ke arah barisan kami dengan kedua tangan depannya sebagai pijakan.
__ADS_1
"Maaf kami tak bisa menyambut kedatangan kalian dengan baik. Anak-anakku malah memberi banyak halangan pada perjalanan kalian. Mungkin ini hanyalah sebuah kesalahpahaman antara penduduk lokal dengan para pendatang," tutur Kera agung itu dengan suara besar nan lembutnya.
"Salam, Khan Hominid: Rewanda si Kera."