
Sekarang akan kumulai kisah tentang petualanganku (Panthera Tigris) untuk mengejar dongeng impian. Dimulai dari sebuah kisah di Desa Hayawan, 6 tahun yang lalu.
...~ ◊ ~...
Aku (Panthera Tigris) bersama dengan kedua teman baikku: Arctos si Beruang dan Lupus si Serigala, berkumpul di perpustakaan Suku Ursidae. Seperti biasa, kami datang kemari untuk membaca kisah-kisah tentang pahlawan besar Benua Agung, Kaisar Akbar.
Terkadang kami merasa bersemangat ketika membaca kisah pertarungan heroiknya melawan Penyihir Sesat sebelum Akbar menjadi kaisar. Kadang juga merasa terharu saat membaca kisah kemenangannya dan penyatuan benua. Merasa bangga membaca kisah terpilihnya 4 Khan pertama. Bahkan juga merasa sedih membaca kisah saat ia menghilang.
Setelah membaca kisah kepergiannya, kami bersama-sama selalu mengucapkan dengan lancarnya isi ramalan dalam prasasti. Seakan ikut merasakan kesedihan leluhur kami saat itu.
Suatu hari, kami hendak mencari Khan Ursidae, Nona Ailur si Panda untuk memintanya menceritakan kisah peperangan 7 Raja Bengis, karena beliau wanita yang ceria dan suka bercerita.
Kami mencari beliau di ruangannya, di ujung lorong perpustakaan. Namun ia tak ada di sana.
Kami lantas bermain-main di dalam ruangannya sambil mencari-cari buku yang mungkin menarik untuk dibaca. Lalu Arctos menemukan sebuah gulungan kulit yang nampak penting di atas meja kerja Khan Ursidae. Semacam surat resmi dari kerajaan?
Gulungan itu memiliki segel yang sudah dibuka dengan simbol yang terasa familiar bagi kami. Ah, tentu saja. Itu simbol Raja Serakah dari kisah Perang 7 Raja Bengis.
“Sepertinya menarik! Ayo kita baca!” kataku kegirangan.
“Sebaiknya kita tidak menyentuh barang-barang Nona Ailur yang ada di atas meja kerjanya,” kata Arctos ragu.
“Sudahlah... Lagi pula Nona Ailur tak akan keberatan jika kita belajar hal baru. Beliau kan orang yang suka pada anak-anak yang punya keingintahuan tinggi,” sahut Lupus pada Arctos.
“Benar sekali. Beliau adalah seorang ilmuan yang hebat. Tak mungkin ia membiarkan barang penting tergeletak di meja kerjanya begitu saja. Jadi pasti tak masalah bila kita membaca yang satu ini sebentar,” kataku lantas mengambil dan membuka gulungan itu.
“Hei! Jika terjadi apa-apa, sebagai muridnya, aku yang akan kena masalah.” Meski berkata demikian, Arctos tetap ikut membaca isi gulungan itu.
...------------------------------------...
...Raja Angkara :...
...Sang Penguasa 7 Kerajaan...
^^^19 / Bulan 8 / Tahun 1 Angkara^^^
Dengan kekuatanku yang menyatukan seluruh benua,
Aku, Raja Angkara: Sang Penguasa 7 Kerajaan. Akulah sang Pembawa Panji Akbar yang Membara dalam Ramalan Kaisar kuno Benua Agung.
Memerintahkan seluruh wilayah yang berdiri di atas Bumi Agung ini untuk tunduk pada kekuasaanku dan bersumpah atas mahkota kerajaanku.
...------------------------------------...
“Raja Angkara adalah sang 'Pembawa Panji Akbar' dalam ramalan?! Apakah ramalannya benar-benar sudah terpenuhi?!” kataku bersemangat setelah mengetahui isi gulungan itu.
“Tunggu dulu! Lihat, pesan ini tertanggal pada tahun pertama Angkara. Dan ini sudah tahun ke-24 Angkara. Berarti sudah 24 tahun pesan ini dikirim oleh Raja Angkara,” kata Arctos.
“Benar juga. Tapi segel gulungan ini adalah simbol Raja Serakah, bukan? Lantas kenapa Raja Angkara menggunakan simbol Raja Serakah?” tanya Lupus.
“Dan juga, sudah 24 tahun sejak munculnya sang 'Pembawa Panji Akbar' seperti dalam ramalan. Namun kita sama sekali tak mengetahuinya. Bukankah kita, Bangsa Hayawan, adalah yang paling menjaga dan mengerti masalah ramalan itu dari pada Bangsa Manusia?” tanya Arctos yang tak satupun dari kami dapat menjawabnya.
“Lihat! Aku menemukan gulungan lain dengan segel yang sama di dalam sini,” kataku setelah membuka loker di meja itu.
__ADS_1
“Hey! Kau sangat tidak sopan Tigris. Tapi ayo kita lihat apa isinya.” kata Arctos bersemangat.
...------------------------------------...
...Raja Angkara :...
...Sang Penguasa 7 Kerajaan...
^^^7 / Bulan 9 / Tahun 1 Angkara^^^
Dengan kekuatanku yang menyatukan seluruh benua,
Aku, Raja Angkara: Sang Penguasa 7 Kerajaan.
Telah memerintahkan seluruh wilayah di benua ini untuk tunduk kepadaku. Namun ada satu yang mengingkari tahta kekuasaanku, Khan Hominid dari Pulau Angker. Ia menolak dan memenggal utusanku.
Maka dari itu,
Demi kerajaanku yang abadi, aku memerintahkan semua wilayah yang telah bersumpah dibawah mahkota kerajaanku untuk mengirim pasukan menuju ibu kota kerajaan untuk pergi memerangi para Kera laknat di seberang lautan dan juga sebagai pengingat bagi yang meragukan kekuasaanku.
...------------------------------------...
“Mengirim pasukan? Khan Hominid dari Pulau Angker?” gumam Lupus.
“Khan, bukankah itu gelar kepala suku kita? Dan Hominid? Suku apa itu? Aku tak pernah mendengarnya,” tanyaku kebingungan.
“Hominid ... Jika tidak salah, aku pernah membaca tentang mereka. Itu adalah salah satu Suku Bangsa Hayawan yang terusir dari Hutan Rintihan Buana,” kata Arctos sembari mengusap-usap bulu di kepalanya, berpikir.
“Aku tak pernah mendengar atau membacanya. Dan mereka memiliki ‘Khan’. Bukankah hanya ada 4 Khan yang diangkat oleh Kaisar Akbar ketika hari berdirinya Kekaisaran Sandya Aksata?” tanyaku pada Arctos.
“Benarkah? Itu kisah yang sangat hebat. Tak kusangka si Kera akan menjadi seorang Khan,” kataku kagum. “Tapi kenapa kau tidak menceritakannya pada kami jika kau tahu kisah itu. Dasar curang!”
“Tapi mengapa Suku Hominid terusir dari sini? Dan kenapa mereka bisa tinggal di Pulau Angker sekarang? Bukankah itu pulau siluman dan juga hantu? Lalu kenapa mereka tidak mengakui Raja Angkara?” kata Arctos penuh pertanyaan dan kami pun terdiam.
“Tapi lihat ini,” kata Lupus. “Di kedua pesan ini Raja Angkara menuliskan tentang “mahkota kerajaanku”. Tapi bukankah dalam ramalan disebutkan sang 'Pembawa Panji Akbar' adalah “Sang Pemimpin Tanpa Mahkota”?” tanya Lupus.
“Mungkinkah para Manusia sudah melupakan kalimat terakhir dalam ramalan?” kata Arctos. “Dan untuk segel gulungan yang menggunakan simbol Raja Serakah ini, pastilah Raja Serakah itulah yang memenangkan Perang 7 Raja Bengis dan menobatkan diri sebagai Raja Angkara yang menguasai 7 kerajaan di seluruh benua.”
“Itu masuk akal,” tanggap Lupus. “Tapi tak kusangka orang yang telah menyatukan benua ini adalah sang Raja Serakah yang penuh kejahatan. Kurasa tidaklah mungkin jika ia adalah orang dalam ramalan. Menurutku sang 'Pembawa Panji Akbar' adalah sang Kaisar Akbar sendiri atau setidaknya orang dari dunia yang sama dengannya.”
“Tapi terlepas apakah Raja Angkara adalah orang yang dimaksud dalam ramalan,” kata Arctos. “kesimpulan yang dapat kita ambil dari kedua surat ini adalah:
Swperti yang kita ketahui, saat ini Desa Hayawan telah mengakui Raja Angkara sebagai penguasa benua. Berarti desa kita juga mengirimkan pasukan sebagaimana dalam surat ke-2 pada 24 tahun lalu. Namun pertanyaannya adalah:
Bagaimana kabar dari pasukan Hayawan itu? Kita sama sekali tak pernah mendengar kisah tentang mereka, bukan?
Aku juga menyadari bahwa tak ada satupun berita atau kabar dari luar hutan ini. Tapi kenapa? Bukankah kita sudah ikut mengakui kekuasaan Raja Angkara yang artinya kita sudah kembali berurusan dengan Manusia di luar sana?
Dan kenapa 24 tahun lalu Bangsa Hayawan mengakui Raja Angkara? Bukankah belum pasti kalau dia adalah sang 'Pembawa Panji Akbar' dalam ramalan?”
__ADS_1
“Untuk itu, biarkan aku membantu kalian mencari jawabannya.” Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk.
Gawat! Itu adalah Nona Ailur!
“Tenanglah, kalian bertiga. Aku tidak akan marah setelah mendengar pertanyaan-pertanyaan kritis kalian yang revolusioner,” kata Nona Ailur cekikikan setelah melihat kami bertiga yang kaget dan cepat-cepat menyembunyikan gulungan itu dibelakang punggung.
“Ma-Maafkan kami Nona Ailur. Ka-Kami tidak bermaksud mengacaukan ruang kerjamu,” kata Arctos tergagap.
“Benarkah Anda mau membantu kami mencari jawaban dari misteri-misteri ini, Nona Ailur?” tanyaku kegirangan.
“Tentu saja, sayang,” jawab Nona Ailur sembari tersenyum. “Tapi sebelum itu, bantu aku merapikan ruangan ini.”
“Baik!” jawab kami serentak.
...~ ◊ ~...
Setelah kami merapikan ruang kerja Nona Ailur, beliau membawa kami menuju Istana Perak di pusat desa.
Sesampainya di sana, kami bertemu dengan ketiga Khan yang lain yang sedang istirahat makan siang di salah satu balkon iIstana. Kami pun diminta Nona Ailur untuk ikut bergabung.
Tentu saja kami sangat senang dan kegirangan. Jarang-jarang kami bisa makan bersama keempat Khan ditengah kesibukan mereka saat bertugas.
Setelah makan siang selesai, tiba-tiba Nona Ailur memancarkan aura mencekam dan serius. Merasakan aura itu, Khan yang lain pun ikut memancarkan aura yang sama.
“Ada apa Ailur? Apakah ada suatu hal penting yang ingin kau sampaikan pada kami?” kata ayahku, Shimha si Singa.
“Apakah perlu kusuruh anak-anak untuk keluar?” kata ayah Lupus, Paman Wolford si Serigala sembari melirik kami. Sekejap kami merasa merinding dibuatnya.
“Tak perlu. Ini akan berhubungan dengan mereka bertiga,” kata Nona Ailur sembari mengeluarkan dua gulungan.
Itu gulungan yang tadi kami baca di ruang kerja Nona Ailur. Astaga! Apakah gulungan itu adalah rahasia para Khan yang tak boleh diketahui orang lain? Apakah kami benar-benar telah melakukan kesalahan? Bukankah tadi Anda bilang tidak akan marah tentang hal ini, Nona Ailur?
“Gulungan surat dari Raja Manusia 24 tahun yang lalu, ya,” kata Paman Boss si Banteng seraya mengeluarkan asap dari moncong hidungnya. “Lalu apa maksudnya ini akan berhubungan dengan mereka bertiga?”
“Anak-anak ini telah membaca isi surat ini. Dan mereka memiliki banyak pertanyaan setelah membacanya,” jawab Nona Ailur.
“Begitu rupanya...” Seperti telah mengerti maksud dari Nona Ailur, Paman Wolford lalu lanjut berkata, “Sebutkan apa pertanyaan kalian, anak-anak!”
Mendengar itu, dengan gugup kami pun menyebutkan semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiran kami mengenai apa yang sebenarnya telah terjadi, yang berhubungan dengan surat itu.
“Aku tak tahu,” jawab Paman Boss singkat sambil mengangkat kedua bahu dan telapak tangannya.
“Kuharap aku juga tahu jawabannya,” jawab ayah pasrah.
“Sebagai mata-mata, aku merasa malu tak dapat menjawabnya,” kata Paman Wolford menundukkan kepala.
Tak ada jawaban yang memuaskan dari ketiga orang tua ini. Sungguh mengecewakan untuk seorang kepala suku Hayawan yang bermartabat. Kami salah sudah berharap pada mereka.
Melihat reaksi Khan yang lain, serta raut kekecewaan dan kekesalan kami, Nona Ailur pun tertawa cekikikan.
“Ya, ini jugalah jawaban yang akan kalian dapatkan 24 tahun yang lalu. Sampai sekarang pun tetap sama,” kata Nona Ailur sembari memegangi perut besarnya, menahan tawa.
“Apakah maksudnya kalian semua selama ini juga mempertanyakan hal yang sama?” kata Arctos menyipitkan matanya kesal.
__ADS_1
“Yah ... kurang lebih seperti itu,” jawab Nona Ailur. “Tapi untuk mengganti kekecewaan kalian, aku akan menceritakan sebuah kisah yang mungkin akan dapat membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian. Sebuah kisah tentang nasib Bangsa Manusia setelah menghilangnya sang Kaisar Akbar.”
Mendengar itu, kami bertiga pun langsung duduk terdiam, menajamkan mata dan telinga, bersiap mendengarkan cerita Nona Ailur dengan seksama.