
Takdir yang membawaku ke lembah kemaksiatan.
Takdir yang membuatku mengenal dunia malam.
Takdir lah yang memaksaku untuk menyelami semakin jauh kenikmatan sesaat didunia ini.
Dan takdir pula yang memaksaku tuk tetap bertahan melawannya.
Akulah gadis remaja umur 17 tahun yang masih berstatus siswa SMA ini harus bisa kuat dalam memahami takdir yang kumiliki.
*******
Siang bolong dini hari bahkan sang mentari tidak tanggung tanggung memberikan sinar terik panasnya,seorang gadis remaja sedang berteduh dibawah pohon halaman sekolah,dia termenung sambil melihat teman temannya yang sedang asyik bermain bersama dan tertawa bahagia.
Sungguh membuat iri kebebasan yang didapat para teman temannya yang dimana anak remaja seusianya seharusnya masih menikmati masa muda dan masa remajanya dengan bermain tapi tidak dengan Laura pramesti gadis manis yang mempunyai lesung pipi saat tersenyum itu harus memikul beban hidup yang sangat membuatnya lelah dan ingin menyerah.
"Hei..
"Setan lo, bisa gak sih gak usil..
" Woy santai ra santai...
Gladis yang dijuluki si tukang usil itu yang notebasenya sahabat dekat Laura itu memang selalu usil,dia tak pernah absen setiap harinya buat ngusilin Laura, karna menurut gladis saudara kembar ini aneh terutama Laura,hemm...Laura gadis yang dingin,jutek,pedas berbicara beda dengan Launa yang ramah dan ceria,walaupun begitu mereka tetap menyayangi sahabat mereka, persahabatan baginya mereka segalanya.
"Lagian ngalamun saja lo ntar kesambet setan penunggu pohon ini loh ra, iya kan may..
" He em.. Lagian ngalamun apa sih lo, tiap hari ngalamun, cerita ma gue ra bebannya biar gak berat sebelah, tapi tunggu tunggu..! hari ini kayak ada yang kurang..
Jika gladis dijuluki si usil kini maya dijuluki si kepo, Laura dapat julukan cabe rawit karna mulutnya kalau ngomong selalu pedas,si Launa dijuluki si ceria, empat sahabat itu selalu bersama sama walaupun mempunyai perbedaan kekurangan masing masing,maya pun celingak celinguk mencari keberadaan salah satu geng sahabatnya, Launa lah yang hari ini tak ikut berkumpul dengan mereka.
Laura dan Launa terlahir kembar identik tapi mereka beda kelas walaupun begitu mereka selalu bersama sama jika jam istirahat datang,bahkan Launa pun juga hanya berteman dengan sahabat sahabat kakaknya itu yaitu maya dan gladis.
"He may lo itu cari apaan sih celingak celinguk kayak kebo saja lo..
Gladis menoyor kepala maya yang sedang fokus geleng ke kanan dan geleng ke kiri itu.
" Aduhh.., lo kebisaan dis main toyor saja, gue lagi cari Launa nih..
"Oh iya ya,tumben otak lo inget may, maaf ya may, " gladis hanya cengengesan.
" Yeee, emangnya gue selalu lupa apa sama sahabat sendiri huh..
"Biasanya kan lo pelupa may.. Hehee...,
"Enak saja, aku belom tua..
" Lah apa hubungannya sama tua may, hadechh..
"Kalau tua kan pikun, pelupa, jadi aku bilang aku belom tua..
" Xixixixixi..., gue jadi ngebayangin lo tua may..
"Sialan lo dis..
Hampir setiap hari Laura mendengar perdebatan mereka terkadang Laura sampai sakit kepalanya mendengar ocehan mereka, tapi bagi Laura gladis dan maya adalah sahabat terbaiknya.
"Bisa diem gak.! Nih lihat,sumpek kuping gue..
Dari mode diam dan sekian detik sekali ngomong Laura langsung bisa membuat mereka berdua menutup mulutnya dan saling sikut menyikut saling salah menyalahkan.
" Lo sih may..
"Lah kok gue, lo lah dis..
" Lo tu..,
"orang lo duluan gue yang salah sih dis..
"Astaga kuping kalian itu wajan atau apa, diem..!
" Iya iya ra ngomel mulu, terus Launa mana kok gak bareng lo..
"Launa dirumah..
*****
Bunyi bel pulang sekolah pun sudah berbunyi dan semua murid pulang kerumah masing masing, tapi tidak dengan Laura yang masih berdiri di gerbang sekolah dengan pikiran kacau,dia hanya memikirkan cari uang kemana untuk membeli makanan buat Launa dan mamahnya, sedangkan sang mamah sudah satu minggu tak berjualan karena beliau sakit.
" Itu kan Laura may ngapain dia berdiri disitu..
"Sudah kita samperin yuk, aku mau kasih ni es krim..
Gladis dan maya menghampiri Laura yang sedang berdiri mematung digerbang sekolah.
"Nih buat lo, "Maya menyodorkan satu buah es krim magnum buat Laura.
"Buat gue, " Laura menunjuk dirinya sendiri
" Heem, emang buat siapa lagi nih gladis juga sudah punya..
Hanya karna melihat es krim itu pikiran Laura melana disaat dimana dirinya dan Launa waktu masih kecil.
Ibunya yang hanya sebagai penjual kue keliling itu tak pernah bisa memenuhi keinginan sang putri kembarnya dan pada suatu hari Laura dan Launa kecil yang ikut berkeliling jualan sang mama itu,Launa yang mempunyai tubuh ringkih itu sedikit diberi perhatian lebih oleh Kirana berbeda dengan Laura yang tumbuh dengan sehat tubuh kuat tapi tidak membuat Laura iri dengan sang adik Launa.
__ADS_1
Pada saat Launa kecil melihat penjual es krim ,dia begitu semangat ingin membeli es krim tapi sayang sang mama tak bisa membelikan dua es krim sekaligus karna hari itu dagangan Kirana lagi sepi pembeli.
"Aku mau es krim mah..
" Iya ayo kita beli..
Laura dan Launa kecil begitu bahagia mereka berlari dengan mata berbinar menuju simamang penjual es krim, karna jarang bisa makan es krim mereka berdua begitu semangat,Kirana tersenyum bahagia melihat wajah ceria dua malaikat kecilnya, bahkan Kirana sangat bahagia malaikat kecilnya tumbuh dengan baik.
"Es krim dua ya mang..
" Iya bu.., ini bu..
"Berapa mang..
" Dua puluh ribu bu..
Saat membuka dompet Kirana hanya menemukan uang sepuluh ribu terpaksa Kirana mengembalikan satu es krim ke mamang penjual.
"Laura sayang, Laura kan kakak, Laura ngalah dulu ya sama adek..
Deg...,Laura kecil menelan slavinanya dan senyum Laura kecil seketika lenyap dari bibirnya yang ranum itu, dia tak mampu mengambarkan bagaimana perasaannya saat ini yang dia tau hanya tak ingin membuat mama dan adiknya sedih.
" Gak papa kok mah...
Kirana tersenyum dan mencium pipi kiri Laura yang gembul itu.
Laura kecil perlahan lahan berjalan mundur menjauhi mamah dan sang adik, airmata itu lolos begitu saja dari kelopak matanya yang indah itu, saat dia duduk dikursi taman yang tak jauh dari keberadaan mama dan adiknya Laura kecil terisak tersedu sedu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan mungilnya,bagaimanapun dia tetap masih anak kecil.
"Kak .., kenapa nangis..
Sebuah tangan mungil menyentuh bahunya Laura kecil, saat melihat sang kakak pergi meninggalkan dia dan mamah Launa buru buru meminta es krim itu dari tangan mamahnya dan dia berlari mengejar sang kakak Laura.
Buru buru Laura kecil menghapus air matanya dengan tangan mungilnya itu.
"Tidak..! kakak tidak nangis..
" Iyakah.?,,kalau begitu ayo kita makan es krim bersama...
"Tidak usah loun, buat Launa saja..
" Gak kak,kita itu kan kembar jadi kalau Launa makan es krim kak Laura juga harus makan es krim, ayo kita makan bersama sama kak..
"Hem.., baiklah ayo kita makan bareng..
Dan suatu hari juga saat Launa meminta sepeda ontel tapi Kirana pun juga hanya bisa beli satu ,itu pun hanya sepeda second, Laura yang menjadi kakak itupun dia juga harus mengalah.
" Kakak ngalah ya ma adek..
Hanya kalimat itu yang Kirana bilang sama Laura saat Launa meminta dibelikan sesuatu karna Kirana tidak tau harus bagaimana lagi,dihati Kirana sebenarnya tak tega dengan Laura tapi dia juga tak sanggup jika membelikan keduanya,untuk makan pun hanya dapat dari untung jualan kue yang tak seberapa itu.
" Gak Loun kamu saja..
"Gak mau ,kita kan kembar jadi kita harus berbagi, kita gantian ya kak..
" Iya...
Kirana bersyukur memiliki putri putri kecil yang pintar dan sudah mengerti tentang saling menyayangi, menghargai dan saling berbagi bersama saudara,Kirana bahagia anak anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik walaupun tanpa gizi bagus yang mereka dapatkan selama ini.
"Woy..! ra ini es krimnya,pegel nih tangan gue..
" Yaelahh, kumat lagi itu ngalamunnya may..
"Oh, makasih, " Laura lansung menyambar es krim itu dan dimasukan ke dalam tas lusuhnya.
" Loh kok disimpen ra, dimakan dong es krimnya..
"Entar buat Launa..
" Ya Tuhan Laura begitu sayangnya lo dengan saudara kembar lo itu..,
"So sweet.., iya kan dis..
" Lebay kalian, gue memang sayang sama Launa..
"Yee.. Sewot lagi may..
" Tenang saja ra, ini buat Launa sudah gue jatah kok, ni kasih Launa ra..
"Hah...,buat Launa?," Laura ragu buat ngambilnya, uang jajan lo abis may..
" Hahaha..., Laura Laura... Kita temenan udah hampir tiga tahun loh, kan loh tahu sendiri kalau bokap maya itu yang paling tajir tapi dia malah tak mau sekolah disekolahan yang elit malah mau maunya sekolah disekolahan murah kayak kita ini, jadi ya pasti uang saku maya itu kalau cuman buat beli es krim empat mah gak bakal habis malah nanti diborong tu sama mamangnya yang jualan juga..
"Yee..., enak aja lo dis beli mamangnya buat apaan coba..
" Kali aja buat lo nikahin...
"Hooeekk.., tak sudi.. Lo aja sana...
" Emoh aku...
"Hahaha....,
Mereka tertawa bersama tapi beberapa detik Gladis dan Maya menghentikan tawanya dan terpaku melihat sahabatnya laura tertawa sangat keras sampai terlihat barisan giginya, bahkan selama tiga tahun ini mereka tak pernah melihat Laura tertawa lepas seperti itu melihat senyumnya saja hampir tak pernah berbeda dengan Launa yang setiap berkumpul selalu tersenyum tertawa bersama mereka, jika Laura hanya diam marah dan juteknya yang diperlihatkannya.
__ADS_1
" Lo ketawa ra, "spontan pertanyaan itu keluar dari mulut gladis yang membuat Laura menghentikan suara tawanya.
Laura sedikit canggung dan risih mendapat tatapan dari sahabat sahabatnya itu karena tak ingin diintrogasi oleh kedua sahabatnya kini laura ngacir pergi begitu saja.
"Gue pulang dulu ya, makasih es krimnya may..
" Ra, kok pulang sih, gak nebeng gue..
"Gak, makasih may tawarannya..
"May kita gak salah lihat kan Laura tadi ketawa kan, uhh.., jadi bahagia gue lihat ketawanya tadi seperti dia tak punya beban hidup gak seperti setiap hari yang memperlihatkan kejutekannya may sampai sumpek aku lihatnya..
" Hem bahkan aku baru tau kalau Laura itu juga bisa ketawa..
"Ya Tuhan may, Laura juga manusia kali kenapa juga tak bisa ketawa, eh.., tapi lo bener juga may..
" Au ah...,sudah ayo pulang, itu sopir gue sudah jemput mau nebeng gak lo..
"Eiittss.... Nebeng dong may, hehehe...
*****
Di gubuk yang hanya berdindingkan triplek sudah tak layak pakai itu ada wanita paruh baya yang terbaring tak berdays dikasur lantai dan berselimutkan kain jarik yang sudah begitu lusuh.
Disampingnya duduk seorang gadis remaja yang setia menemani dan merawatnya seharian ini, dia adalah Launa pramesti yang sedang menunggu sang mamah.
"Mah, mamah kenapa apa yang sakit mah..
" Launa kepala mamah sakit loun, uuhhh..., "Kirana jatuh pingsan yang membuat Launa begitu panik.
"Mah bangun mah,mamah kenapa bangun mah..
Launa terus mengoyang goyangkan tubuh kirana agar sang mama membuka mata, Launa menangis histeris dia bingung harus meminta bantuan siapa,sedangkan sang kakak Laura belom pulang dari sekolah,dia ingin meninggalkan mamahnya mencari bantuan tapi launa tak tega meninggalkan mamahnya sendirian.
"Mah bangun ,jangan tinggalin Launa dan kak Laura sendirian mah, hiks.. Hiks...
" Aku pulang, Launa kakak bawa sesuatu buat kamu...
Saat mendengar suara Laura sang kakak ,Launa bergegas menghapus air matanya dan beranjak berdiri menghampirinya.
"Kak Laura syukurlah kakak pulang cepat..
" Hem, iya ini kakak bawa..
Sebelum Laura selesai berbicara Launa sudah memotong terlebih dahulu,
"Sudah kak nanti saja ayo kak ikut aku tolong mamah kak tolong mamah...
Airmata Launa tak dapat disembunyikan lagi dia lolos keluar untuk kesekian kali.
" Loun ada apa dengan mamah ,kenapa kamu nangis, "tanya Laura sambil berlari kecil ke arah dimana sang mamah terbaring.
"Ya Tuhan mah.., mamah..., mamah kenapa loun..
" Launa gak tau kak..
"Kamu tunggu mamah disini kakak cari bantuan di luar dulu.., mamah harus segera dibawa ke rumah sakit..
" Tapi kak..
Laura mengerti kegelisahan sang adik, "Kamu tenang saja loun, masalah uang nanti kakak yang cari, ya sudah kamu jaga mamah sebentar ya ,kakak akan cepat cari bantuan..
Launa mengangguk, "Hemm..., hati hati kak..
Launa melepas kepergiaan sang kakak yang sedang ingin mencari bantuan, Launa berharap sang kakak menemukan orang baik.
Laura terus berlari kesana kemari tanpa peduli rasa lelah, dia terus menanyakan orang yang mau menolongnya mengantarkan ibunya yang sedang sakit ke rumah sakit dengan gratis, karna dia tak mempunyai uang sepeser pun.
Tapi disetiap orang yang ditemuinya tak ada satupun yang mau menolong karena tak dibayar, Laura tak menyerah begitu saja dia itu wanita yang tak mempunyai rasa putus asa walupun sudah tiga jam dia berkeliling mencari orang yang tulus,tapi Laura tak kunjung menemukannya ,dia tetap percaya bahwa didunia ini masih ada sisa orang yang berhati malaikat.
"Pak pak.. Stop pak.. Stop sebentar..
Laura menghentikan tukang becak yang hendak lewat ingin pulang kerumahnya, karna hari sudah gelap dan jam menunjukan angka sembilan malam jadi pak tukang becak itu waktunya pulang dan istirahat.
" Iya dek , kok ngos ngosan gitu..,
"Huh .. Huh.. Huh.., pak tolong mamah saya pak,saya mohon tolong pak..
" Iya mamah adik kenapa..
"Mamah sakit pak, tolong bawa kerumah sakit pak..
" Mamah adik sakit sok atuh adik naik becak bapak kasih tahu dimana rumahnya..
"Tapi pak..., hemm... , tapi..
" Tapi apa dek, sok atuh katanya mamahnya sakit..
"S-saya tak punya uang pak buat bayar..
Tukang becak itu tersenyum, " Oh tak apa dek, saya iklhas nolongin, sok atuh..
"Terimakasih banyak pak..
__ADS_1
****