
Seperti biasa Daniel selalu menyuruh dokter Lily yang menjadi dokter pribadinya itu untuk mengurus mengobati luka-luka yang ada pada wanita-wanita yang sudah dia gauli.
Dokter Lily melakukan tugasnya dengan baik, dengan telaten dia membersihkan dan mengompres luka-luka yang ada pada tubuh Laura.
"Uuhhh..., syukurlah luka wanita ini tidak begitu parah, " Batin Lily.
Karena setiap wanita yang dibeli oleh tuannya yang selama ini ditangani Lily selalu memiliki luka serius, entah jarinya yang putus, tangannya yang patah, kakinya kleseo, punggung penuh tato cambuk, dan banyak lagi, entah apa yang dilakukan tuannya terhadap wanita wanita itu, Lily pun tak mengerti lagi.
Tuannya memang sangat kejam, tapi jika terhadap bawahannya dia sangat melindungi dan mencintainya jika mereka tidak pernah berkhianat padanya.
Menurut Lily,tuannya Daniel itu mengidap penyakit kelainan sek yang disebut sadomasokisme yang artinya perilaku kelainan seksual dimana seseorang merasakan kenikmatan dan kepuasan seksual ketika menyakitinya.
Jadi tak jarang juga kadang ada wanita yang begitu trauma setelah digauli oleh tuannya. Tapi Daniel selalu bertanggung jawab jika wanita itu sudah tak dapat mencari uang dia akan memberikan ganti rugi yang sangat besar untuk kehidupan keluarganya.
"Berikan dia perawatan yang terbaik Lily.
" Baik tuan, "sebenarnya Lily sedikit heran dengan sikap tuannya hari ini tapi dia tetap melakukan apa yang disuruhnya.
" Aku ingin dia mendapatkan obat yang membuat dia sembuh dengan cepat...
"Baik tuan, saya akan berusaha.
Setelah sekiranya sudah bersih, Lily ingin mengolesi tubuh Laura yang memar dengan salep. Tapi sebelum benda kenyal dan dingin yang sudah berada ditelapak tangan Lily itu menyentuh kulit Laura, Daniel yang sedari tadi duduk disofa itu berseru.
"Lily,jangan berikan dia obat sembarangan..!
Seketika tangan Lily dijauhkannya dari kulit tubuh Laura, " Maaf tuan, ini salep seperti biasanya.
"Berikan yang terbaik, jangan kau samakan dia seperti mereka-mereka,yang sudah-sudah kau tangani selama ini, ngerti kan kau Lily..!
" Baik tuan, akan saya ambilkan salep yang paling ampuh, terbaik yang saya punya tuan.
Lily berbalik badan dan mengambil tas medisnya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk Angelina, " Ucap Daniel yang mengetahui kedatangan sekertaris nya.
"Maaf tuan, ini pesanan anda, " Kata Angelina sambil memberikan sebuah paper bag kepada Daniel.
Daniel menerimanya dan menyuruh Angelina keluar dengan intruksi gerakan tangannya saja. Angelina sudah mengerti dia segera membungkukan badannya dan undur diri dari hadapan Daniel.
"Aku harap kau merawatnya dengan baik, pakaikan baju ini untuknya dan berikan HandPhone ini padanya.
Daniel berlalu pergi tapi sebelum keluar kamar,dia mengambil ponsel Laura dan melemparnya ketempat sampah.
" Handphone tak berguna, tempatmu disana..
Pluk..., ponsel itu masuk tepat sasaran,
__ADS_1
Lily dibuat semakin heran, biasanya tuannya itu tak pernah peduli dengan wanita. Apalagi wanita penghibur, Lily sudah bertahun-tahun ikut dengan Daniel, dia belom pernah melihat Daniel memiliki sisi perhatian dengan seorang wanita.
Bahkan hari ini Daniel mau menunggu Laura diobati dan dia juga memastikan mendapatkan perawatan terbaik dari Lily, membelikan baju, HandPhone, padahal biasanya Daniel akan segera pergi dari kamar jika perempuan yang bersama nya sudah ditangani oleh Lily.
Disela-sela mengoleskan salep gel dipipi Laura, Lily bergumam, "siapakah kau ? Apa kau wanita spesial bagi tuan Daniel..
" Itu artinya..., "Lily tersenyum sendiri dengan pemikirannya itu.
Setelah selesai mengobati Lily memakaikan baju hangat dan celana panjang yang diberikan oleh Daniel tadi dengan dibantu oleh dua perawat wanita lainnya.
" Sudah beres, kalian boleh keluar, "ucap Lily menyuruh kedua perawat itu berlalu dari hadapannya.
" Hemm..., semoga yang aku pikirkan benar nona, aku akan sangat bahagia.
Lily berlalu keluar kamar setelah dia mengatakan itu.
Didalam kamar Laura yang terbangun dari pingsannya itupun merintih kesakitan.
Greepp...
Laura membuka mata dan terkejut, "aku ada dimana?, dia melihat sekelilingnya, dia baru ingat jika dia ada dihotel.
Saat Laura berusaha ingin bangkit dia merasakan sekujur tubuhnya sakit semua bahkan dia merasakan tulangnya seperti remuk.
" Auwww...., hiissttttt...., sakit, "Laura merintih pelan.
Ceklek...
" Nona sudah bangun, "sapa Lily. Makanlah soup hangat ini dulu nona,agar tubuh nona cepat pulih, " Sambungnya
Lily membantu Laura duduk, " Sekarang jam berapa?.
"Jam 05:00 pagi nona.
" Astaga, aku harus segera kerumah sakit.
"Tapi nona, anda belom pulih.
Laura tak memperdulikan omongan Lily, dia bahkan tak peduli dengan rasa sakit ditubuhnya. Laura turun begitu saja dari ranjang dan menuju meja guna mencari ponselnya.
" Handphone aku mana?.
Laura kelimpungan mencari ponselnya tapi Lily begitu tenang memperhatikan kegelisahan Laura.
"Mbak kamu lihat handphone jelek diatas meja sini gak?, " tanya Laura kepada Lily.
Lily hanya tersenyum tanpa menjawab, dia mengambil paper bag yang berisi handphone dari tuannya Daniel itu dan diberikannya pada Laura.
"Ini apa mbak?, " Tanya Laura penasaran.
__ADS_1
"Panggil saya Lily ,nona.
" Oh.., iya mbak Lily, maaf saya gak tau. Tapi ini handphone siapa mbak kok dikasih ke saya?
"Itu HandPhone nona dari tuan Daniel, disana juga sudah ada nomer nona dan nomer tuan Daniel sendiri, " Jelas Lily.
"Terus handphone jadul saya mana?
" Maaf nona, handphone nona sudah dibuang oleh tuan Daniel.
"Apa..., Laura duduk lemas diatas kasur.
Karena hanya ponsel jadul itu yang dia punya ,bahkan nomer teman -temannya ada disana semuanya. Bukan hanya itu yang disayangkan Laura, bagi Laura ponsel itu sangat berarti karena ponsel itu adalah pemberian dari sahabatnya Maya.
"Nih.., handphone buat kalian berdua, maaf cuman satu,itupun jadul tapi masih bisa buat SMS sama telponan kok, " ucap Maya saat memberikan ponsel pada Laura dan Launa.
Laura dan Launa saling bertukar pandang.
"Kalian gak mau ya, maaf gue cuma pingin kalian punya handphone walaupun satu buat berdua kan kita bisa bertukar kabar, " ucap Maya lemas.
"Eh.., bukan gitu Maya, kita mau kok,tapi...., kita mana bisa beli pulsa may.., " jawab Launa sambil mengambil ponsel jadul itu dari tangan Maya.
"Tenang saja, dua minggu sekali gue isi pulsanya jadi kalian gak perlu mikirin lagi.
" Beneran may, ya ampun makasih banget loh may.
Launa memeluk tubuh Maya karena saking senangnya. Laura yang hanya diam saja ditarik tangannya oleh Launa untuk ikut gabung berpelukan teletubies mereka.
"He.. Kalian pelukan teletubies kenapa lupa ma gue, " Protes gladis yang datang dari toilet langsung nimbrung ikut berpelukan.
"Ya sudah, ponselnya biar dipegang kak Laura saja, nih kak, " Ucap Launa setelah pelukan mereka lepas.
Sebab itu walaupun handphone nya keluaran lama, sudah jelek,ponsel itu sangat berarti untuk Laura.
"Dibuang dimana mbak ponsel saya?
" Nona, handphone anda sudah tidak ada,lebih baik nona istirahat dan makan dulu.
"Tidak mbak, saya permisi pulang saja, masih banyak yang harus aku urus.
Laura keluar kamar itu dengan perasaan marah, sedih, emosi semua campur aduk.
" Dasar pria aneh, sudah punya kelainan oriental sek, kini main buang aja ponsel orang tanpa ijin, "gerutu Laura geram.
Lily tak mengejar Laura dia segera mengabarkan pada tuannya bahwa Laura sudah pergi.
" (Maaf tuan, nona tadi tidak mau menerima handphone nya. )
"(Biarkan, dan jangan cegah dia jika ingin pergi.)
__ADS_1
" (Baik tuan.)
****