Takdir Laura Dan Launa

Takdir Laura Dan Launa
Bab 29


__ADS_3

"Di sini nyaman ya kak, rumahnya asri, tan bunga yang indah, setiap hari aku akan merawat bunga-bunga ini kak."


Dua gadis sedang duduk di tengah-tengah taman bunga. 


Laura yang termenung itupun tak menyahut sama sekali ketika Launa mengajak mengobrol. Dia terlonjak kaget ketika bahunya ditepuk oleh Launa. 


Pluk..! 


" Kak? Apa yang sedang kakak pikirkan? " Tanya Launa.


Laura menggelengkan kepalanya. " Gak, gak ada..! Hmm, kamu suka tinggal disini Loun? "


" Kalau dibilang suka ya suka kak, apalagi ada ibu yang semalam menemaniku tidur. Aku berasa sedang dipeluk mama kak. " Jelas Launa. 


" Tapi Loun, dia bukan….


" Iya aku tau kak, dia bukan mama. Tapi aku benar-benar nyaman berada di pelukannya kak."


Laura menghela nafas, kini dia tidak tega melihat ada sedikit senyum dan rasa bahagia di wajah saudara nya itu, dia bingung jika harus mengajak Launa pergi dari sini. Karena dia tahu begitu trauma-nya Launa kehilangan mama dan kesehatannya pun menurun. Bahkan senyum di wajahnya hilang. 


" Memang apa yang dilakukan ibu Fatimah padamu? Apa yang terjadi semalam denganmu? Kenapa kau bisa bertemu ibu Fatimah? " 


Launa menatap mata saudara-nya." Kak, aku minta maaf karena kemarin sempat marah, semalam aku benar-benar sudah dapat karmanya tidak menepati janji mama, bahwa kita harus selalu bersama dalam keadaan apapun. Semalam setelah aku meninggalkan kakak, ditengah jalan aku….. 


Launa menceritakan semua kejadian yang menimpanya pada Laura, hingga dia akhirnya bisa bertemu dengan ibu Fatimah. Bahkan Launa sampai bergetar dan menangis ketika mengingat tentang preman waktu itu. 


Laura yang melihat saudara-nya tubuhnya bergetar ketakutan itu pun segera memeluk tubuh Launa. 


" Maafkan aku Loun, aku tidak bisa menjagamu dengan baik."


Launa menangis sesegukan di pelukan Laura. " Kak, aku bersyukur bisa bertemu dengan ibu. Karena aku benar-benar merasakan kedamaian di dekapannya."


" Aaaagggghhhh… . Lepaskan! Lepaskan aku, aku mohon lepaskan aku. "


" Mama! Kak Laura! Tolong Launa! "


" Lepaskan aku! Lepaskan! Aaaarrgghhh… .! "


Launa yang sedang tertidur itu pun berteriak hebat saat dirinya mimpi akan kejadian dimana dia hampir diperkosa oleh preman. 


Ibu Fatimah yang sedang melaksanakan shalat malam itu pun terjingkat kaget mendengar teriakan Launa. 


" Astaghfirullah..! " 


Ibu Fatimah berjalan menuju kamar putrinya. Saat melihat Launa ibu Fatimah langsung berusaha membangunkannya. 


" Nak, bangun. Bangun nak, ada apa denganmu." Ibu Fatimah terus berusaha. Dia merasakan tubuh Launa sudah penuh dengan keringat. 


" Aaahhh… gak, tolong lepaskan aku. "


" Nak, ya Allah, bangun nak. "


Seketika Launa membuka mata lalu segera memeluk tubuh ibu Fatimah yang berada disampingnya. 


" Mama, jangan tinggalin Launa, aku takut ma. " Dengan berdera air mata Launa memeluk erat tubuh ibu Fatimah. 


" Semua baik-baik saja. Sudah istirahat ya." Ibu Fatimah mengusap-usap punggung Launa guna menenangkannya. 


" Ma, aku gak mau ditinggal, aku mohon mama temani Launa tidur. Launa takut ma."


Ibu Fatimah terbengong, dia jadi teringat akan putrinya yang juga takut jika hujan lebat dan petir. Pasti juga akan memintanya menemani tidur. 


" Iya, ibu disini, ibu akan menemanimu. Tidurlah, berdoa dulu ya, supaya tidak mengalami mimpi buruk lagi. " Ibu Fatimah membaringkan tubuh Launa yang ketakutan. 


" Peluk ma, aku ingin mama peluk aku sampai tertidur." 


Ibu Fatimah menurut, dia pun ikut berbaring. Walaupun masih menggunakan mukena, Launa benar-benar tidak mengenalinya. 


Setelah Launa tertidur di pelukannya, ibu Fatimah mencoba melepaskan tangannya. 


" Sudah jam tiga, lebih baik aku kembali baca Al-Qur'an disini saja." Gumamnya melihat wajah pucat Launa. 


" Apa yang terjadi denganmu nak, kau seperti memiliki trauma yang begitu dalam dan seperti sedang kehilangan kasih sayang ibumu." Batin ibu Fatimah berlalu pergi ke kamarnya mengambil kitab suci. 


Sepanjang malam ini ibu Fatimah menemani Launa yang tertidur nyenyak. Dia sama sekali tidak beranjak dari samping tempat tidur. Hingga shalat subuh menjelang. 


Setelah melaksanakan shalat subuh ibu Fatimah tak sengaja melihat foto putrinya di atas meja belajarnya. Ibu Fatimah mendekat dan mengambil bingkai foto itu. 


" Nak, ibu sangat rindu padamu. Semoga kau selalu bahagia disurga sana." Ibu Fatimah pun meneteskan air matanya lalu mendekap erat bingkai foto putrinya. 

__ADS_1


" Eenngghhh… ! " Launa menggeliat dan membuka matanya perlahan. 


" Ibu..! Sedang apa? " Tanya Launa saat melihat ibu Fatimah berdiri dekat meja. 


Ibu Fatimah menoleh lalu me- letakan kembali bingkai foto itu di tempatnya. 


" Eh, kamu sudah bangun. Kalau begitu ibu bikin sarapan dulu ya."


Saat ibu Fatimah ingin berlalu, Launa memanggilnya." Ibu tunggu! Apakah yang semalam memelukku adalah ibu? "


Ibu Fatimah tersenyum dan mengangguk. " Maafkan aku ya bu, aku kira ibu, mama Launa."


" Tidak apa nak, anggaplah ibu ini mama kandungmu." Launa tersenyum. 


" Apa aku boleh tanya bu? "


" Boleh."


" Hem, foto itu, apakah putri ibu? "


Ibu Fatimah melihat kembali ke arah foto putrinya." Iya ,dia putri ibu yang setahun lalu pergi."


" Pergi? Kenapa tidak kembali pulang ke sini? " Tanya Launa bingung. 


" Anissa pergi ke sang pencipta, dia sudah bahagia disurga. " Jawab ibu Fatimah dengan senyum. 


" Seperti mama saya? "


" Iya, Jika kamu mau, jadilah putri ibu, pasti ibu akan senang sekali. " Ujarnya. 


" Bolehkah? " Ibu Fatimah mengangguk. 


" Sungguh?" Ibu Fatimah kembali mengangguk.


 


"Terimakasih bu. " Ucap Launa memeluk tubuh ibu Fatimah. 


" Jika boleh tahu, kenapa semua wajah dia ditutup bu? " Tanya Launa sambil menunjuk ke bingkai foto. 


Ibu Fatimah tersenyum lalu ikut duduk diatas tempat tidur. 


" Begitulah kak, ibu Fatimah sangat baik, dia mau kita menjadi putrinya kak. Karena kak Anisa sudah pergi seperti mama." Ucap Launa. 


Laura masih terdiam mendengarkan cerita Launa yang sangat semangat. 


" Ibu ingin kau Launa bukan aku." Ucap Laura tiba-tiba. 


Launa membulatkan matanya. " Maksud kaka Laura apa sih? Kita itu kembar. Ibu pasti juga anggap kakak anak kok."


" Nggak Launa, aku tidak bisa tinggal disini, Launa tetap disini ya, aku harus segera pergi. Aku akan cari uang untuk kebutuhanmu disini Loun."


" Gak, gak boleh, kak Laura jangan pergi ya. Disini saja, aku akan minta ijin sama ibu untuk kak Laura juga tinggal disini. " Mohon Launa sambil menggenggam tangan Laura erat. 


Laura menggelengkan kepalanya, dia tak enak hati jika harus ikut merepotkan ibu Fatimah. Biarlah Launa yang ikut tinggal bersamanya karena Launa butuh semua itu diatas kondisi fisik serta batinnya. 


Sedangkan di balik pohon besar dua manusia sedang berdiri memperhatikan mereka berdua sedari tadi. 


" Ternyata mereka berada disini..! " Ucapnya sambil menyungingkan senyum. 


" Bagaimana boss, apa langsung kita eksekusi? " Tanya anak buahnya. 


" Jangan, kau awasi terus pergerakan mereka disini. Lapor padaku secuil informasi apapun ! "


" Siap bos… ! "


______


Daniel yang berada di paviliun itu pun sedang memperhatikan para anak buahnya sedang berlatih. Sedangkan Ryan yang baru sampai menyusulnya pun menghadap ke bossnya. 


" Tuan..! "


" Kau sudah kembali. Bagaimana ? apa kau sudah menemukan teman David? " 


" Sudah Tuan..! Tuan Muda pun juga sudah menemuinya." Jawab Ryan datar. 


" Bagus, kau memang ajudan ku yang paling bisa diandalkan Ryan." Ucap Daniel menepuk pundak Ryan. 


Ryan mengangguk. " Terimakasih tuan."

__ADS_1


" Tuan masih ada hal yang ingin saya laporkan." 


" Katakan… !"


" Itu tua….." Belum sempat Ryan menyelesaikan perkataannya tapi sudah terpotong dengan kedatangan Antony. 


" Ini tuan minuman segar diminum panas-panas begini pasti mantap." Ucap Antony sambil menyerahkan satu gelas jus Alpukat pada Daniel. 


Ryan melirik nya sekilas lalu menggelengkan kepalanya. Dia menghela nafas memperhatikan gaya centil rekan kerjanya itu. 


" Bagaimana  tuan, minuman buatan Tony pasti top markotop dong."


" Nih, kau habiskan sisanya." Ucap Daniel menyodorkan gelas jus itu tepat dihitung Antony. " Apa gula satu toples kau berikan padaku? " Lanjutnya. 


" Hah? Tuan gulanya cuma dua sendok loh bukan satu toples. "


" Lebih baik kau suruh istrinya Panjo daripada dirimu sendiri yang bikin. Cepat kau habiskan itu… ! "


" Baik tuan. " Ucap Antony sambil meneguk jus Alpukat buatannya sendiri. 


" Ampun tuan,hehehehe… . Ternyata ini memang sangat manis seperti diriku. "


Daniel menatap tajam ke arah Antony. " Hehehe… sebentar tuan, saya ambilkan air putih. " Ucapnya berlalu pergi. 


" Ryan kau panggil Dony dan kawan-kawan nya, Apakah mereka sudah pulih? "


" Baik tuan. " Jawab Ryan berlalu mencari Dony. 


Dony sedikit gemetar berhadapan dengan boss besarnya. 


" Permisi tuan, ada apa memanggil kami? " Tanya Dony mewakili mereka. 


Daniel yang sedang duduk santai sambil melihat pemandangan anak buahnya berlatih itu pun menoleh seketika. Di Sisi kiri Daniel ada ajudan tangguhnya Ryan dan di sisi kanan ajudan Daniel yang kuat Antony. Walaupun sifat Tony kadang melawak tak membuat dirinya lemah. Dia tetap menjadi ajudan terkuat buat Daniel. 


" Bagaimana keadaan kalian? Apa belum pulih sepenuhnya? " Tanya Daniel basa-basi. 


" Sudah hampir pulih tuan. Dua hari lagi mungkin kami bisa ikut berlatih bersama mereka. Terimakasih banyak tuan sudah mau mengampuni kami."


Daniel mengangguk. Kini dia menanyakan  sesuatu hal penting pada mereka. 


Sedangkan ditempat lain David yang sudah mendapatkan alamat Laura dari Ryan itu, dia memarkirkan mobilnya di depan pagar taman bunga yang indah. 


Setelah turun dari mobil dia menuju pintu rumah itu dan mengetuk nya. 


Tok tok tok! 


Krieettt… ! 


" David..! " 


" Hai..! "


Launa tersenyum, bingung harus bagaimana? Akhirnya dia menyuruh David untuk masuk ke dalam. 


" Emm… masuk dulu. Maaf kamu kesini cari siapa ya? " Tanya Launa penasaran. 


" Gue.. Emm.. Gue cari kalian Loun. " Jawab David kikuk. 


" Duduk dulu lah, gue ambilin minum ya? "


David tersenyum, lalu Launa menuju dapur. Disana ada Laura dan ibu Fatimah yang sedang masak. 


" Siapa nak? "Tanya ibu Fatimah. 


" Teman Launa sama kak Laura bu. " Jawab Launa sambil membuat secangkir teh. 


" Teman? Siapa? Maya sama Gladis? "Tanya Laura penasaran. 


" Bukan kak? "


" Terus? "


" Sudah kalian temuin saja dulu. Ini biar ibu yang lanjut masak. "


" Beneran tidak apa bu? " Tanya Laura tidak enak hati. 


" Tidak apa. Sudah sana ditemui dulu temannya. "


Setelah selesai membuat minuman Launa membawanya keluar dan Laura mengekor di belakang Launa. Dia penasaran siapa yang datang dan kenapa bisa tahu jika mereka tinggal di rumah ini. 

__ADS_1


*****


__ADS_2