
Takdir Laura dan Launa
Bab 15
Setelah seminggu berlalu libur panjang juga telah usai. Si kembar bersiap-siap untuk pergi ke kampus guna melihat kampus barunya dan mengisi formulir serta kenalan.
Mereka berdua begitu semangat, berharap kelak akan dapat meraih cita-cita mereka sesuai yang mereka inginkan.
" Ma, Launa berangkat ke kampus ya. " Ucap Launa ceria sambil mencium punggung tangan mamanya.
" Iya sayang, hati-hati! Ini buat naik angkot. " Jawab Kirana merogoh uang dikantong dasternya.
Laura dengan cepat mencegahnya. " Tidak usah ma, Laura masih ada uang kok buat naik angkot. "
" Iya ma, kak Laura masih pegang uang kok, cukup buat beli jajan juga nanti, iya kan kak? "
" He- em. " Laura mengangguk.
" Laura pamit ma, ingat ya mama jangan capek-capek, akhir-akhir ini Laura lihat mama sering memegang kepala, apa mama merasakan sakit lagi? "
" Gak sayang, sudah sana pergi,entar telat. Belajar yang baik ya kalian."
" Beneran kan ma, kalau gitu Laura pamit ma, jaga kesehatan ya ma. "
Laura dan Launa keluar setelah mencium punggung tangan mama nya. Mereka jalan kaki menuju jalan besar untuk menunggu sebuah angkot.
Sedangkan dirumah Kirana yang sedang berkutat dengan tepung untuk membuat adonan kue, kini terdengar ada seseorang yang mengucapkan salam di luar.
" Assalamu'alaikum…
" Dek, dek Kirana..
Kirana mencuci tangannya dan berjalan menuju depan. Saat melihat siapa yang bertamu, Kirana sedikit kaget karena sang pemilik tanah yang ditempati untuk berteduh ini sudah lama tidak berkunjung.
" Eh, Mas Basri. Apa kabar mas? Lama gak ke sini. Silahkan masuk mas."
" Kabarku baik, gimana kabar dirimu? "
" Baik juga mas, duduk dulu mas saya ambilkan minum. "
Pria yang dipanggil mas Basri itu masuk dan duduk ditikar usang. Dia melihat sekeliling rumah yang dulu dia tempati bersama istrinya sebelum dia pindah tinggal bersama anaknya dikota.
Rumah yang selama ini ditempati Kirana dan si kembar adalah tempat tinggal pak Basri dahulu, tanahnya pun juga tanah pak Basri. Jika tak ada pak Basri dan istrinya entah bagaimana Kirana waktu itu.
Cuaca malam yang dingin, Kirana membawa dua bayi kembar di gendongan kiri dan kanan, dibelakang tubuhnya mengendong satu tas keperluan bayinya.
Saat itu Kirana hanya berjalan entah kemana akan pergi. Dirinya yang dibesarkan dari panti asuhan itu tidak memiliki siapa-siapa untuk mengadu.
Dia terus berjalan hingga dia menemukan sebuah gubuk, dia mencoba mengetuk pintu gubuk itu berharap mendapatkan tumpangan.
__ADS_1
Tok tok tok!
" Permisi, buk, pak, apakah ada orang? "
Krieet…
Seorang wanita keluar sambil mengucek mata. " Iya, cari siapa ya? "
" Bu, bolehkah saya berteduh sebentar disini, kasihan kedua putri saya bu, dia kedinginan. "
Wanita itu melihat dua bayi yang digendong oleh Kirana. Dia merasa kasihan tapi juga kwatir jika Kirana komplotan orang jahat. Tapi dia berpikir, orang jahat ngapain ke rumah gubuk jelek kayak gini mau cari apa juga, padahal didepan sana banyak rumah-rumah mewah yang pasti banyak uangnya yang bisa mereka bawa.
" Ibu darimana, kenapa malam-malam membawa bayi keluar rumah, memang suami ibu ada dimana? "
Kirana bingung harus menjawab apa, air bening itu jatuh ke pipinya ketika mengingat ibu mertua serta suaminya tega mengusirnya dari rumah hanya karena dia tidak bisa memberikan bayi laki-laki.
" Siapa buk? "
Muncul seorang laki-laki yang menguap, sepertinya dia juga terganggu tidurnya karena kedatangan Kirana tengah malam.
" Gak tahu bang, ada ibu-ibu bawa anak bayi, dua bang malahan. "
"Hah? " Laki-laki itu menghampiri istrinya dan melihat Kirana yang mengendong kedua bayi mungil yang lucu membuat dia ingin mengendong nya juga.
" Loh pak, gak takut apa? Nanti dia komplotan orang jahat lagi, kok disuruh masuk? " Bisik sang istri.
Suaminya menggeleng. " Tidak buk, kasihan sepertinya dia orang baik kok, lihat buk bayinya lucu kasihan nanti kalau masuk angin. "
" Ya udah, mari bu masuk, kasihan bayinya. " Ucap istrinya mempersilahkan masuk.
Kirana duduk di sebuah tikar, disana tida ada kursi ataupun sofa. Kirana menidurkan kedua bayinya ditikar. Wanita yang punya rumah pun mengambilkan sebuah bantal untuk kedua bayi mungil itu.
" Ibu namanya siapa? Dan asalnya darimana? " Tanya laki-laki yang punya rumah.
" Saya Kirana pak, buk. Maaf saya menganggu malam-malam , entah saya harus kemana lagi tidak tahu saya tidak punya tujuan, bolehkah saya menumpang semalam saja disini. " Jawab Kirana memohon.
Mereka berdua saling pandang, lalu melihat pada dua bayi yang tertidur pulas.
" Kenalkan bu saya Astri, ini suami saya Bhasri. " Ucap wanita yang mengaku Astri itu.
Kirana tersenyum. " Salam kenal bu. "
" Panggil mbak saja, hem sepertinya kamu lebih cocok jadi adikku jadi aku panggil kamu dek Kiran aja ya. "
" Iya mbak Astri, terimakasih. "
" Kamu tinggal disini saja sampai kapan pun kau mau, sampai suami kau menjemput, " Ucap Bhasri.
__ADS_1
Kirana menunduk, dia tidak tahu harus cerita atau diam saja.
" Dek ada apa? " Astri mendekat ke arah Kiran dan di peluknya.
Entah padahal mereka baru bertemu dan juga baru mengenal tapi Astri merasa kasihan melihat Kirana.
" Ceritalah pada kami dek,siapa tahu kami bisa membantu. Anggaplah kita keluargamu, tapi jika kamu belum mau cerita tidak apa. Mungkin kamu belum begitu percaya sama kami karena baru saja kenal. Lalu begitu istirahatlah, tinggallah disini sampai kau dapat tempat tinggal." Ucapn Astri dengan senyum tulus.
Kirana tersenyum dan memegang tangan Astri, matanya berkaca-kaca tak tau harus membalas dengan apa kebaikan mereka.
" Terimakasih mbak, mas, terimakasih banyak. "
Begitulah awal pertemuan mereka dan awal Kirana menempati rumah mereka.
" Ini minumnya mas. " Ucap Kirana sambil meletakan secangkir teh hangat.
" Anak-anak mana dek Kirana? "
" Kuliah mas, oh iya bagaimana kabar mbak Astri mas? Tumben juga mas ke sini sendirian, mbak Astri tidak ikut? "
" Sudah besar ya sikembar, sudah berapa tahun aku tidak bertemu dengannya. Kabar mbakmu baik, cuman usaha putraku yang tidak baik dek. "
" Ada apa mas? "
" Dek! Mas dan mbak minta maaf jika harus mengusirmu dari rumah ini, usaha putraku hampir bangkrut hanya tanah ini harapan satu-satunya keluarga saya. "
Deg!
Jantung Kirana hampir tidak berdetak mendengarnya, dia harus pergi, iya karena disini dia hanya numpang, sudah diperbolehkan tinggal selama hampir 19 th adalah kebaikan yang sangat baik.
Bahkan Kirana tak bisa membalas kebaikan mas Basri dan mbak Astri.
" Tidak apa mas, karena sudah bertahun-tahun juga aku tinggal disini, tanah ini hak mas karena milik mas, aku yang harus tahu diri mas tak bisa membalas kebaikan mas dan mbak. Terimakasih selama ini sudah memberiku tumpangan mas ,tanpa harus menyewa nya."
" Maafkan aku dek Kiran. "
" Gak apa mas. " Kirana berusaha tegar, dia juga berusaha tersenyum.
" Nanti dek Kiran sama anak-anak mau tinggal dimana? Karena hari ini juga harus pindah dek, rumah tua ini mau digusur untuk dijadikan persawahan karena terdapat sumber air yang melimpah. "
"Iya mas gak apa kok, nanti aku dan anak-anak akan cari kontrakan murah. "
Kepala Kirana terasa berat, dia merasakan sakit sekali kepalanya.
" Apa dek Kiran tak mencoba kembali pada suaminya, kasihan juga anak-anak belum mengenal ayahnya,mereka berhak tahu kalau mereka masih memiliki ayah dek, kalian juga belum bercerai. "
Kirana menatap Basri tajam, dia tak tahu harus bagaimna, dia dan kedua putrinya sudah dibuang mana mungkin suaminya kembali memungutnya.
***
__ADS_1