
Bab 26 Takdir Laura & Launa
# instagram : Titien2178
Seorang pria dengan penuh luka ditubuhnya turun dari mobil taksi, dengan sempoyongan dia berjalan menuju gerbang sebuah rumah yang begitu megah.
Dia tertegun sebentar saat mengetahui jika orang yang mengampuni nyawanya bukanlah orang sembarang, dilihat dari rumahnya yang sangat besar. Padahal rumah sebesar itu adalah rumah berkumpulnya para anak buah Daniel bersama keluarga mereka masing-masing.
Daniel sangat mensejahterahkan semua pengawal dan karyawannya, dibalik pagar menjulang tinggi itu terdapat begitu banyak bangunan pavilium untuk setiap keluarga.
Sebelum pria itu memencet bell, sudah ada orang yang membukanya dan ada seorang wanita cantik yang menantinya.
" Apa kau Doni? "
Doni terkesiap, cewek cantik ini mengetahui namanya. Iya dia adalah Angelina sang sekertaris Daniel.
" I-iya mbak. " Dony sangat gugup.
" Pengawal, antar dia ke ruang perawatan. "
" Baik non. "
Salah satu pengawal kenapah Dony menuju ruang perawatan. Disana dirinya bertemu dengan ketiga temannya.
Iya setelah kepergian Dony tadi Daniel memberi kabar pada Angelina untuk menghubungi dokter Lily agar segera datang ke rumah dan akan ada pasien empat orang pengawal baru.
" Eh? Kalian? " Tanya Dony kaget melihat ketiga temannya pun juga babak belur dan dirawat dirumah ini.
" Eh, Dony! kamu kenapa? " Tanya Sapto.
" Yaelah, lo tau sendiri kan, gak usah tanya! "
" Sudah, kau berbaring biar aku obati lukamu. " Sela dokter Lily tak mau mendengar perdebatan mereka.
Kini Dony naik ke atas brankar dan mulai diobati oleh dokter Lily.
Sedangkan di jalanan, para asisten Daniel sedang kalang kabut menemukan tuannya. Karena kondisi gelap sehingga mereka tak bisa melihat dengan jelas.
" Ryan, coba kau lihat, bukankah itu tuan Daniel? "
Ryan menoleh ke arah mana jari telunjuk Antony mengarah.
" Tapi ngapain tuan berdiri disana? "
" Haish, tak penting itu lebih baik kita samperin. "
Antony segera berlari sambil menarik kemeja Ryan.
" Sialan lo, lepas, gue bisa lari sendiri. "
Mereka berdua akhirnya menghampiri Daniel yang mematung seorang diri.
" Tuan, kita cari ke mana-mana ternyata disini. " Ucap Antony dengan nafas ngos-ngosan.
" Tuan, anda baik-baik saja kan? " Ryan terlihat khawatir melihat tuannya yang hanya diam saja.
" Mobil sudah siap? "
" Sudah tuan. "
" Baiklah, ayo segera kita kembali, aku ada janji dengan David. "
" Baik ,silahkan tuan. "
Antony menepuk bahu Ryan, karena rekan kerjanya ini melupakan sesuatu.
" Ada apa? "
" Tolol, bannya yang satu belum dipasang, kenapa lo bilang siap. "
" Iya? "
" Lah, pikun ni anak. "
__ADS_1
" Ayo, kita harus lari cepat. "
Kini gantian Ryan yang menarik kemeja Antony, menyeret nya dengan cepat.
" Tuan, kita duluan, ada yang harus diselesaikan. "
" Hei, kalian! "
Mereka tak memperdulikan teriak tuannya. Akhirnya mereka sampai di mobil lebih dulu dan dengan cepat memasang ban mobilnya.
Ketika Daniel sudah dekat dengan mobilnya, Ryan bersiap membuka pintunya.
Daniel menatap tajam keduanya. " Kenapa tadi meninggalkanku. "
" Em, anu tuan anu.. " Jawab Antony gugup.
" Haish, kau itu anu-anu mulu, " Ryan menjitak kepala Antony, lalu menatap kembali tuannya.
" Maaf tuan, kami menyelesaikan ban mobil dulu. " Lanjutnya menjelaskan.
" Aku tak mau mengulur waktu, cepat masuk. "
" Baik tuan. " Jawab mereka kompak.
Daniel yang berada di kabin tengah itu hanya termenung.
"Kenapa? Ada apa dengan hatiku? Kenapa aku tak merasakan apa-apa saat bertemu dengannya? Padahal hatiku sangat menginginkan nya tapi kenapa aku terasa asing dengannya? " Batin Daniel.
Iya setelah Dony pergi, Daniel menghampiri Launa yang sedang meringkuk ketakutan di balik semak-semak.
" Hai.. !" Daniel menyentuh lengan Launa.
" Aku mohon ampuni aku, jangan sentuh aku,hiks.." Ucap Launa terisak.
" Tenang, kau sudah aman, penjahat itu sudah pergi. "
Launa yang mendengar jika Dony sudah pergi dia mendongak dan melihat dengan jelas wajah tampan Daniel.
" Terimakasih kak, sudah menolongku, sekali lagi terimakasih, aku harus segera pergi. " Ucap Launa sambil mengagumkan tangannya ke dada.
Lalu di pergi meninggalkan Daniel yang masih mematung dan bungkam.
" Laura! Ah, kenapa aku membiarkan dia pergi. " Ucap Daniel dalam hati.
" Apakah dia Laura, tapi hati, hati ini tak merasakan apapun, tapi wajahnya benar-benar Laura. "
" Aahhh, bodoh kau Daniel, kenapa tidak membawanya pergi bersamamu, kau sudah berbulan-bulan mencarinya tapi apa? setelah kau bertemu kau membiarkannya pergi. " Daniel terus menyalahkan dirinya sendiri.
Baginya ini adalah kesempatan, dia sudah bertemu tapi malah melepaskannya.
" Tapi , aku tak merasakan apapun, terus aku juga tak menginginkan dia, apakah memang obsesi ku memilikinya sudah pupus? Entahlah, tapi aku benar-benar masih ingin mengungkungnya, arghhh.. "
" Tuan! " Daniel terjengkat kaget, panggilan Ryan membuyarkan semua lamunannya. .
" Ada apa? " Jawab Daniel dingin.
" Tuan baik-baik saja, kau fokus saja lihat ke depan. "
" Maaf tuan. "
Antony melirik ke arah Ryan, dan rekannya itu hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.
Laura yang masih terus mencari sang adiknya itu tak kenal lelah, dia terus menyusuri jalan, hingga dia melihat mobil yang baru saja melaju.
" Hei berhenti, tunggu, aku mau bertanya! " Laura terus berlari mengejar mobil itu, tapi sayang mobilnya tidak berhenti mungkin penumpangnya tidak dengar teriakan Laura.
" Huh, aku harus cari kemana lagi, Launa..! "
" Lebih baik aku balik ke taman saja, mungkin Launa kembali ke taman. " Akhirnya Laura memutuskan kembali ke taman, dia menanti Launa disana, di kursi biasa Launa dan Laura waktu kecil duduk di sana.
Sedangkan Launa yang berlari kecil karena takut itu pun akhirnya berhenti di sebuah pagar rumah seseorang yang penuh dengan tanaman bunga.
Dia istirahat disana, karena tenaganya benar-benar sudah habis, Bahkan Launa tertidur disana.
__ADS_1
Seorang wanita paruh baya, ketika keluar untuk membuang sampah dekat pagar, dia terkejut melihat orang yang tergelak.
Wanita itu menyipitkan matanya lalu mencoba membangunkan nya.
" Hei, bangun! Kenapa tidur disini? "
Launa menggeliat. " Emmhh… "
" Hah? "Launa langsung duduk seketika. " Maaf Bu, saya ketiduran disini, maaf bunganya tidak ada yang rusak kan? " Launa melihat-lihat, takut ada yang rusak.
" Sudah bunga tidak apa, ayo masuk ke dalam saja."
" Em, gak usah bu, gak apa, aku bisa langsung pergi, tadi cuma numpang istirahat sebentar. "
" Toh, anak gadis gak boleh keluyuran malam-malam, gak baik, ayo masuk. "
Launa terpaksa mengikuti wanita paruh baya itu menuju dalam rumahnya.
Wanita itu pun terkejut ketika melihat wajah Launa, karena tadi di luar gelap sehingga dia tidak bisa memperhatikan wajah Launa.
" Loh kamu? Terus muka kamu itu kenapa? Jadi mau bunuh diri? "
Iya wanita ini adalah ibu Fatimah yang tadi sore bertemu dengan Laura.
" Hah?" Launa bingung, kenapa ibu ini tiba-tiba membahas bunuh diri.
" Aduh, anak muda jaman sekarang dikit-dikit mau bunuh diri, dikit-dikit berantem, heran deh? " Ucap Ibu itu berlalu pergi dan kembali dengan membawa kotak p3k.
" Sini, duduk, aku kompres dan obati lukamu. "
Launa menurut, walaupun dia bingung dengan ibu ini seolah dia dan Launa sudah pernah bersapa.
" Aooww…aduh duh..! " Launa meringis sakit ketika pipinya yang lebam ditempeli dengan handuk hangat.
" Tahan, berantem aja kagak cengeng kok,baru sakit gini sudah sambat. "
Launa hanya bisa menahan sakit dan tersenyum kikuk.
" Kamu berantem sama siapa? Tadi waktu dijembatan kan ibu sudah bilang, semua masalah akan ada jalannya. Jangan pakai kekerasan. "
Launa semakin tak paham kemana arah pembicaraan ibu yang mengobati lukanya ini.
" Maaf ibu, maksud ibu apa ya? "
" Lah, pura-pura lupa, belum pikun kan? Sore tadii kan kita sudah bertemu, kau bahkan mau lompat dari jembatan, kalau tak ada ibu mungkin kau tinggal nyawa. "
" Lompat dari jembatan? Maaf ibu tapi saya tidak mau lompat dari jembatan, bahkan sore tadi saya sedang ditaman. "
Ibu Fatimah mengerutkan keningnya.
" Mungkin ibu bertemu dengan saudara kembar saya, kak Laura, saya Launa ibu. "
" Oh jadi kalian kembar, penyesalan kau tidak ingat denganku. "
" Eh tunggu! Apa yang ibu bilang tadi, mau terjun ke sungai, maksud ibu kak Laura mau bunuh diri? "
" Iya, tapi gak jadi, terus sekarang ada dimana kakakmu? "
Launa menunduk mendengar pertanyaan dari ibu Fatimah.
" Aku gak tahu, mungkin kak Laura sedang mencariku. "
" Kalian terpisah? "
" Emm, tepatnya aku kabur darinya, karena aku kecewa dengan kak Laura, dia sudah berbohong padaku. "
" Mungkin ada alasannya kakakmu berbohong, dia tidak ingin membuatmu sedih, berbohong demi kebaikan itu tidak apa sayang, sudah sekarang kamu tidur disini saja, kalau mau pulang ini sudah larut malam, besok pagi saja. "
" Terimakasih bu. "
Ibu Fatimah tersenyum, lalu membelai lembut rambut Launa.
****
__ADS_1