
Takdirku ini ku lalui sesusai jalannya.
Aku berharap mampu melewatinya.
Aku hanya meminta kepada Tuhan
untuk diberi kebahagian sekali saja.
***
Saat melewati jalan becek Maya selalu mengeluh dan protes, Gladis sampai bosen mendengar ocehannya.
"Ya ampun dis, jalanan ini kumuh sekali.
" Kemarin kan habis hujan jadi becek, sudahlah may jangan ngoceh mulu,kita harus segera ketemu Laura.
"Oh.., apakah Laura tadi bener lewat sini dis, gue rasa gak deh. Lihat nih sepatu gue jadi kotor.
" Manja bener lo may, lama lama gue lakban tu mulut biar gak bisa protes.
"Kok lo samaan sih mulut pedas kayak Laura, dis.
" Bodo..
"Tega amat lo dis.
Maya mendengus kesal,tapi gladis tak mengubrisnya lagi karena saat ini Gladis melihat Laura masuk kesalah satu rumah paling terpencil dari warga, karena hanya rumah itu yang paling belakang, jarak dengan rumah warga pun juga sangat jauh, gladis seketika berhenti mendadak dan Maya yang jalan dibelakang gladis, dia langsung menabrak tubuh gladis.
"Baak..., aduuh....! Gladis kalau nge rem tu bilang dong.
" Husssttt...., lihat tu may.. Laura..
Seketika mata Maya ikut melihat dimana telunjuk tangan Gladis mengarah.
"OMG... , sahabat gue.., " teriak Maya syok melihat keadaan rumah Laura.
"Hais.., jangan teriak-teriak may, " Ucap Gladis menepuk pundak Maya pelan.
"Sorry dis, gue kan kaget, sungguh kasihan selama ini sahabat gue tinggal ditempat gak layak gitu, hampir roboh lo tu rumah.
" Iya may, walaupun gue sering usil ma Laura tapi dia itu sahabat gue yang paling pinter, kalau gue lupa ngerjain PR kan bisa nyontek ke dia.
"Lo mah cuma manfaatin Laura doang dis.
" Kayak lo juga kagak, "ucap Gladis sambil menoyor kepala Maya.
" Hehehehe...., Maya cengengesan sambil mengusap kepalanya.
"Kita samperin apa gimana ini may.
" Samperin yuk, rasanya aku ingin peluk mereka, mungkin ini yang membuat Laura selalu cuek, suka ngelamun, suka menyendiri.
"Iya, Laura dan Launa tak pernah mau berbagi sedih sama kita, hiks...
" Kok, lo nangis dis ,biasanya lo pecicilan.
"Sialan lo may..
Tok tok tok..
Krieett... , pintu yang sudah usang itu selalu berbunyi jika ingin dibuka atau ditutup.
" Kalian...,
"Launa..., panggil mereka bersamaan dan langsung berhampur memeluk tubuh Launa.
__ADS_1
" Hiks... hiks..., Launa,jadi ini alasan kita tak pernah boleh main kerumah kalian,"ucap Gladis.ingin
"Iya Launa, kenapa kalian tak pernah cerita tentang kehidupan lo ma kita, hiks..., " Timpal Maya.
Laura yang diam diam memperhatikan kedatangan kedua sahabatnya itu, mata Laura berembun, air bening di kelopak matanya menetes perlahan ke pipinya dan segera disekanya karena dia tak pernah memperlihatkan kesedihan didepan kedua sahabatnya.
"Ehem..., kalian ngikutin gue ya..kok bisa sampai sini..
" Laura, sini kita pelukan teletubies dulu, sedih-sedihan dulu kita, "ujar Maya.
" Maya gimana sih, kita lagi sedih kok malah bercanda, "ucap Gladis mengomentari kekocakan Maya.
" Lah emang ada yang salah ya sama omongan gue, "sanggah Maya bingung.
" Kalian itu kenapa sih, dimanapun selalu berdebat. Bisa gak sehari saja kalian kompak, "ucap Laura yang gemas pada sahabatnya.
" Ya sudah sini kita pelukan teletubies, "kata Laura sambil merentangkan kedua tangannya dan disambut kedua sahabatnya.
" Hiks..., hiks..., Laura..., "panggil keduanya sambil berlari menerima pelukan dari Laura.
Kini mereka semua ikut berpelukan teletubies persahabatan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
"Ini minum ya, maaf cuma ada air putih, " Ucap Launa sambil membawa dua cangkir teh.
" Gak apa Loun, nyantai saja sama kita, "kata Gladis.
"Iya Loun, eh.., ini mah air putih berwarna Loun, orang gak bening gini, " Oceh Maya.
"Hais...!, Gladis menyenggol tangan Maya dengan sikutnya.
" Apaan sih dis? Aku benar kan?
"Terserah lo.
" Oh iya loun,laura boleh kan kita jenguk nyokap lo, "tanya Maya.
"Boleh, ayo ikut gue, " Jawab Laura.
Gladis dan Maya mengikuti Laura dan Launa yang jalan didepan.
Srekk...
Gorden yang terbuat dari kain jarik itu dibuka Laura pelan, dan didalam terlihat wanita paruhbaya sedang terbaring lemah diatas kasur lantai yang sudah tak layak pakai, karena sudah begitu usang.
"Mah.., sahabat Laura dan Launa dateng, " Ucap Laura yang mendekati kasur lantai yang ditempati untuk berbaring sang mama.
Kerana membuka matanya dan melihat kedua sahabat putrinya dengan tersenyum. Gladis dan Maya tak dapat menyembunyikan kesedihan mereka,mata mereka berdua berkaca-kaca dan air bening itu seketika merembes mili ke pipi masing-masing.
"Tante.., " Sapa gladis mengusap air matanya dan ikut duduk dibawah dekat Kirana yang masih terbaring.
Laura dan launa menggeser tubuhnya supaya kedua sahabatnya bisa duduk didekat mama mereka.
__ADS_1
"Hay tante.., saya Maya, teman sekaligus sahabat Launa dan Laura yang paling imut dan lucu," Ucap Maya yang mendapat cebikan dari semua sahabatnya.
"Dan dia Gladis tante sahabat kami yang paling suka jahil, " Sambung Maya sekalian memperkenalkan Gladis.
"Dasar Maya ,tukang ember, " Batin Gladis.
"Yee.., lo tu ya May,diri sendiri dipuji giliran gue lo jelek-jelekin,"kata Gladis gemas.
" Bukan gitu dis, hehehehe...
Kirana tersenyum melihat putrinya memiliki sahabat yang baik dan menyenangkan seperti mereka.
" Terimakasih sudah mau jenguk tante, terimakasih juga sudah mau berteman dengan putri tante yang tidak punya apa apa ini, "ucap Kirana lirih.
" Sama-sama tante, tante cepet sembuh ya, maaf kita belom bawa apa-apa tante ,soalnya tadi mendadak kesininya, "ucap Gladis sungkan.
"Oh iya ya, kita belom bawa hadiah untuk jenguk tante, ya sudah besok aku bawain bunga dan buah ya tante, " Ujar Maya yang sudah heboh.
"Tidak usah, terimakasih.., kalian ternyata anak-anak baik, do'ain tante supaya cepat pulih ya.
" Iya tante kita akan selalu doain kesembuhan tante,"ucap Gladis.
"Terimakasih tante pujiannya", oceh Gladis cengengesan. Gladis memutar bola matanya malas mendengar ocehan Maya.
Kirana hanya tersenyum, " Tuh dis, tante aja tau gue orang baik.
"Yaelah may, lo emang baik,baik sekali malahan tapi otak lo tu kadang masih ganjil belom genap.
" Semprol lo dis..
"Hahaha....
Yang ada di rumah itu semua tertawa bersama , menertawakan kekonyolan Gladis dan Maya.
Setelah kepulangan Maya dan Gladis. Laura membersihkan tubuh Kirana dengan handuk kecil sedangkan Launa membersihkan gelas gelas bekas minumĀ sahabat sahabatnya tadi.
"Kak, sudah selesai mandiin mama, " Tanya Launa.
"Sudah, ada apa?, " Jawab Laura sambil membawa baskom isi air hangat keluar kamar Kirana.
"Kak, apa masih punya uang sedikit buat beli beras supaya bisa bikin bubur buat mama besok, " Kata Launa.
"Bentar, aku masih punya simpenan, ku ambil dulu, " Ucap Laura sambil berjalan menuju kamarnya dan keluar dengan membawa sebuah kaleng susu.
"Apa itu kak?
" Sudah ayo kita buka.
Setelah dibuka ternyata uang simpanan Laura hanya ada empat puluh ribu rupiah.
"Alhamdulillah Launa, nih uangnya besok buat belanja ya, " Ucap Laura menyodorkan uangnya pada Launa setelah dihitung.
"Terimakasih kak, tapi kakak bisa punya celengan, sepertinya aku juga harus bisa nabung. Aku terlalu boros ya kak. Hem..
" Gak Launa. Kita kan memang jarang dikasih uang jajan.
"Tapi waktu mama masih jualan kue kan kita sering dapat uang jajan kak,mungkin aku nya ya kak yang boros karena suka jajan es krim, mulai sekarang aku juga bakal nabung kak.
" Iya Launa. Semangat ya, memang kita hidup harus bisa sedikit hemat apalagi kehidupan kita tidak seperti orang lain yang berlimang uang dan bisa makan enak, "kata Laura
"Hem kak, walaupun tak bisa makan enak, makan seadanya saja aku sudah bersyukur apalagi ada mama disamping kita, " Ucap Launa sambil bersandar dibahu Laura.
"Mama kekuatan kita, " Sambung Laura merangkul bahu Launa.
Kehidupan dan didikan kirana yang mengajarkan mereka tumbuh menjadi gadis yang kuat dan pandai bersyukur.
__ADS_1
****