
Bab 22
Launa yang masih dalam mode diam, duduk termenung di kursi taman, bahkan hari pun sudah mulai gelap tapi Launa tidak beranjak sama sekali dari kursi itu sedari pagi.
Bahkan perutnya belum ter-isi apapun, air matanya masih terus menetes membasahi pipi nya tanpa henti. Begitu kehilangannya dia dengan sosok seorang ibu.
Disela termenung nya Launa merasakan kepalanya dibelai oleh seseorang, dia mendongak dan berapa terkejutnya dia melihatnya, dia langsung memeluk sosok orang yang sudah membelai kepalanya.
" Mama! Hiks.. Hiks… jangan tinggalin Launa disini sendiri ma! "
" Launa..! "
" Aku gak mau lepasin mama, aku gak mau ditinggal lagi oleh mama. "
" Sayang, jangan bersedih lagi, mana anak mama yang selalu ceria, Launa harus selalu ceria ya, mama ingin selalu melihat senyum Launa setiap hari."
" Jika mama ada disamping Launa, setiap hari Launa pasti akan tersenyum. "
" Ada mama dan tidak ada mama, Launa harus selalu tersenyum sayang, bangkitlah buatlah duniamu berwarna sayang. "
" Iya ma, pasti Launa akan selalu bangkit, bahagia jika mama selalu disampingku. "
" Sayang janji sama mama, selalu bahagia jangan buat kakak kamu khawatir setiap hari, salinglah menyayangi dan saling mensupport, jangan pernah bertengkar ya sayang, mama mencintai kalian selamanya, jika merindukan mama lihatlah bintang diatas sana, mama akan selalu tersenyum jika melihat kalian selalu bahagia. Jaga diri kalian baik-baik. "
Sosok Kirana tiba-tiba hilang dari pelukan Launa, saat membuka mata Launa menoleh kiri, kanan ,belakang mencari keberadaan mamanya.
" Ma? Mama! "
Hiks hiks hiks!
" Mama, kenapa ninggalin Launa sendirian disini ma, kenapa? "
Launa berteriak seorang diri, hingga ada seorang perempuan yang memperhatikannya. Perempuan itupun menghampiri Launa lebih dekat.
" Laura..! "
Launa menoleh ke arah sumber suara, dia mengernyitkan dahi karena tidak mengenal dengan perempuan ini.
" Laura, akhirnya kakak menemukanmu, kakak mencarimu kemana-mana, nomer kamu pun juga tidak aktif. "
Perempuan tadi memeluk Launa erat, sedangkan Launa bingung, dia mendorong tubuh perempuan tadi.
" Kamu siapa? "
" Laura? Lama tidak bertemu kakak, kau melupakanku? Aku kak Reni, apa kau lupa denganku? "
Reni bingung dengan sifat Launa yang dianggapnya Laura.
" Ra, kau sedang sedih? Ada apa? Oh iya bagaimana kabar mama kamu? Sudah sembuh kan? "
__ADS_1
Launa yang mendapatkan pertanyaan tentang mamanya kini dia kembali menangis.
" Loh ra, ada apa? Kenapa menangis? Cerita sama kakak. "
" Mama, mama sudah pergi meninggalkan aku sendirian didunia ini, hiks hiks hiks!"
Reni menutup mulutnya dengan tangannya. " Ya Tuhan ra, kakak turut berdukacita ya. "
Reni kembali memeluk tubuh Launa yang terisak karena menangis.
" Sudah makan? " Launa menggeleng.
" Bentar ya, kakak beliin sesuatu untuk kamu makan. " Reni meninggalkan Launa sendiri, dia menuju warung kecil yang ada di taman itu untuk membeli makanan.
Setelah mendapatkan makanan, Reni kembali menuju kursi dimana Launa berada tadi.
" Nih ra, makan dulu ya, biar kamu gak sakit, kakak tahu perasaan kamu kehilangan mama kamu, tapi kamu juga gak boleh sedih berlanjut, tetap jaga kesehatan, jangan sampai tidak makan juga. "
Reni menasehati Launa sambil menyuapi makanan untuk Launa.
" Kakak sudah anggap kamu seperti adik kak Reni sendiri, jadi carilah kakak jika kamu ingin bercerita."
Launa hanya diam membisu tapi dia selalu menerima makanan suapan dari tangan Reni.
" Sudah, sekarang minum ini, lalu kakak mau cerita sesuatu. "
Launa menurut, setelah selesai makan dan minum, Reni membuang sampah bekas bungkus nasi ke dalam tempat sampah. Setelah itu kembali duduk disamping Launa.
Launa menyipitkan matanya mendengar perkataan Reni, tapi dia tidak menyela sama sekali apa yang dibicarakan Reni.
" Bos Daniel itu, jika sudah membeli seorang perawan dia akan membuangnya tapi ini sama kamu tidak lo, dia malah mencari mu, seperti nya bos Daniel menyukaimu ra, ini kesempatan emas ra, kapan lagi jadi kekasih orang kaya dan tampan, siapa tahu nanti kau bakal dinikahin, lagian keperawananmu juga dia yang ambil jadi kau tidak rugi sama sekali kalau jadi istrinya, kapan lagi kesempatan itu datang ra, pikirkan baik-baik ra, temui bos Daniel. "
Saat Reni berbalik menoleh ke arah Launa, ternyata dia mendapatkan tatapan tajam olehnya.
" Daniel? Keperawanan? Apa maksud kau? Laura sudah tidak perawan, hah? "
Reni sangat panik melihat Launa sangat marah padanya. " Ra, kenapa marah sama kakak, kamu sendiri dulu yang menjual keperawananmu untuk biaya operasi mamah kamu. "
Launa tertegun mendengar kenyataan yang didengarnya.
"Jual? Operasi mama? "
" Iya ra, kamu sendiri yang menjualnya, apa kamu sudah lupa dengan itu? "
Launa menatap tajam kembali ke arah Reni.
"Loun, aku bawa mak…. Kak Reni! "
Reni menoleh ke arah Laura, dia terkejut lalu dia menoleh ke arah Launa, dia menutup mulutnya karena syok.
__ADS_1
" Kak Reni ada disini, bagaimana kabar kakak? "
Laura menghampiri keduanya, sedang Launa masih begitu marah, dia benar-benar butuh penjelasan.
" Jadi kalian, apa kalian kembar?"
" Oh iya kak Reni, ini Launa kembaran ku, ya adik aku yang waktu itu aku ceritain ke kakak. "
Laura meraih pundak Launa dan melingkarkan tangannya disana.
" Tidak, maafkan kakak ra, kakak benar-benar tidak tahu. "
" Loh, ada apa sih, emangnya kakak salah apa sama aku? "
Laura bingung tapi dia juga tidak tahu permasalahan nya.
" Kak Laura pembohong! " Teriak Launa menepis tangan Laura dan berlari pergi.
" Loh? Loun..! "
Laura bingung dia harus mengejar Launa atau menanyakan sesuatu yang terjadi pada Reni.
" Kak Reni, aku boleh tanya! "
Reni mengangguk. " Maafin kakak ra, kakak gak tau kalau dia bukan kamu. "
" Iya kak Reni gak salah kok, karena Laura juga belum ngenalin Launa sama kakak, apalagi kakak juga belum pernah bertemu dengan Launa. "
" Makasih ra, kau benar-benar anak baik, kakak senang bisa bertemu dengan mu. "
" Iya kak, bukan itu yang mau aku tanyakan, kakak selama sama Launa tadi bicara apa saja kak? "
Reni bingung menjelaskannya, dia takut Laura juga akan marah padanya seperti Launa tadi.
" Kak, jawab aku! "
" Eh? Itu-itu ra, hanya bilang kamu dicariin bos Daniel yang membeli keperawananmu dulu. "
" Apa? "
Laura terkejut, dia langsung berbalik badan untuk mengejar Launa.
" Pantas saja Launa marah, kak Reni aku harus seger kejar Launa, kita cerita lain waktu saja ya kak. "
Reni mengangguk melihat kepergian Laura, dia menghela nafas, ternyata Laura lebih dewasa menyikapi masalah dibandingkan saudara kembarnya.
***
selamat membaca, jangan lupa kasih dukungannya ya.
__ADS_1
terimaksih, salam sayang dari saya author remahan 😍