Takdir Laura Dan Launa

Takdir Laura Dan Launa
Bab 11


__ADS_3

Dirumah gadis cantik yang bernama Maya Putri Mahendara kini sedang santai diruang keluarga mereka ,seperti biasanya mereka jika setelah makan malam akan berdiskusi bersama anak semata wayangnya,entah itu perihal disekolah ataupun apa saja kegiatan sang putri. Maya adalah anak tunggal dia tidak mempunyai adik ataupun kakak, dia begitu dimanja oleh kedua orang tuanya.


Saat Maya menolak untuk di sekolahkan- disekolah mahal, kedua orang tuanya tak memaksa. Mereka hanya ingin melihat anaknya tumbuh sesuai bakatnya bukan untuk memaksa, mereka juga tak pernah pandang status sosial teman yang dekat dengan Maya. Maka dari itu Sahabat- sahabat Maya selalu diterima dengan baik jika bermain dirumahnya.


Papinya yang bernama Frans Mahendra seorang pengusaha sukses yang mempunyai yayasan kampus ter-elit dijakarta dan beberapa sekolahan SD juga, dan maminya yang bernama Selina Ambar Wati itu menekuni bisnis berlian dengan para gruop sosialita-nya. Walaupun berasal dari keluarga Sultan tak membuat Maya sombong ataupun riya.


Maya selalu membantu orang-orang yang sekiranya membutuhkan bantuannya, apalagi jika menyangkut para sahabatnya Maya selalu yang terdepan.


"Papi.., mami..., "


Maya menghampiri kedua orang tuanya dan duduk di tengah-tengah keduanya. Lantas Frans mengembangkan senyum dan Selina membelai rambut sang putri.


"Kenapa, my Princess..


" Aihh..., papi, Maya dah gede, gak mau ah princess lagi.


Frans terkekeh, "iya, ada apa ini? Pasti mau minta sesuatu bau-bau nya.


Frans bicara sambil mengendus-endus bau badan putrinya.


" iihhh..., mi. Papi tu..


Maya merengek pada maminya, Frans dan Selina hanya tersenyum senang,Frans selalu menganggap putrinya masih kecil yang bisa selalu dia godain tanpa pernah mau melihat jika sang putri sekarang sudah beranjak begitu dewasa.


"Pi, udah jangan digodain terus, udah gede sekarang dia, " ucap Selina yang masih berusaha menahan senyumnya.


"Sudah gede ya mi, " Ucap Frans yang diberi anggukan Maya, berarti sudah bisa kita jodohin ya mi, "sambungnya.


" gak mau, aku gak mau dijodohin", ucap Maya cemberut, tapi ganteng kan pi, mi? " Sambungnya.


Frans dan Selina semakin gemas melihat tingkah lucu putrinya, gak mau dijodohin tapi menanyakan ganteng gaknya.


"Kok malah pada ketawa sih, sudah ah. Aku kan mau serius ini.


" Hem, udah ini papi serius. Mau bilang apa princes.


Maya memutar bola matanya malas dipanggil lagi dengan princes, sewaktu kecil dia bahagia dipanggil princes oleh kedua orang tuanya. Tapi setelah beranjak remaja dia sedikit malu dengan sebutan nama itu. Maya pikir sudah tidak pantas saja dirinya yang sudah gede gini masih dipanggil princes.


" Papi, Hem.., Maya minta tolong boleh.


"Minta tolong apa sayang, tumben kelihatan nya kamu begitu serius.


" Begini pi sahabat Maya ada yang tak bisa kuliah pi, Maya mohon pi kasih dia beasiswa di kampus milik papi.


"Gak bisa sayang, kan beasiswa untuk murid yang berprestasi.


" Bukannya sahabat kamu, siapa itu sayang yang kembar, mereka kan sudah dapat beasiswa, di yayasan papi kamu sayang, "timpal Selina.


" Oh Laura dan Launa mi, hemm. .., iya mereka mendapatkannya kok.


"Lha terus buat siapa lagi?


" Buat Gladis Pi. Maya mohon pi.


"Gak bisa sayang, papi gak bisa kasih beasiswa begitu saja, kan ada aturannya sayang harus lulus seleksi murid berprestasi loh yang bisa dapatkan beasiswa di yayasan kampus.


"Kan papi ,pemiliknya.


" Walaupun milik papi. Tapi papi juga gak boleh semena-mena. Gak boleh asal, harus ngikutin prosedur sayang.emang orang tua sahabat kamu kemana?


"Mereka hanya penjual bubur ayam, ayahnya cuman tukang kuli pi.


" Kedua orang tuanya juga masih lengkap itu.


"Tapi pi, kasihan Gladis pi, orang tuanya gak mampu biayain kuliahnya.

__ADS_1


Frans berpikir sejenak, Selina mengenggam tangan putrinya erat guna menenangkan kegelisahan yang dirasakan putrinya menanti jawaban suaminya.


" Ya sudah,orang tua mereka separuh saja biayanya, nanti separuhnya papi yang nanggung.


"Loh kok separuh pi?


" Iya sayang, teman kamu kan masih punya orang tua, biarkan separuhnya menjadi tanggung jawab orang tuanya sayang.


"Oh begitu ya pi, hemm..., makasih ya pi, kalau begitu Maya ke kamar dulu mau kasih tau Gladis.


Maya beranjak dan pergi ke kamarnya dengan berlari girang.


" Ck.., anak mami tuh.


"Lah, anak papi juga tuh, kalau bukan cebong papi, mami juga gak bakal tu bronjolin dia.


" Hehe..., ngomong-ngomong cebong ayo mi bikin dedek buat Maya.


"Mesum papi ah, lagian kan sudah beberapa tahun ini juga gak jadi-jadi.


" Kan usaha lagi mi, ayok...


Frans mengajak istrinya masuk kekamar mereka, entah apa yang pasutri itu lakukan, mungkin memang mereka lagi ngadon adik buat Maya.


****


Gladis yang duduk diteras rumahnya itu terlonjak mendengar dering ponselnya sendiri yang ditaruh diatas meja.


"Duh, lo itu ngagetin orang lagi asyik ngalamu saja, " Gerutunya sambil mengambil ponselnya, Maya, ngapain ni anak telpon gue malam-malam, "sambungnya terus menggulir tombol hijau dilayar ponsel androidnya.


" Halo may. "


"Gladis... "


Gladis sampai menjauhkan ponselnya dari telinganya karena dia tak ingin gendang telinganya pecah saking kerasnya teriakan Maya.


"Apaan sih may, lo sih teriak begitu, bisa budek entar kuping gue. "


"Sory dis, gue ada kabar gembira nih. "


"Apaan?. "


"Hem, tapi maap kamu gak bisa dapat beasiswa kayak Launa dan Laura. Tapi tenang dis, bokap gue bilang lo bisa bayar setengah aja dis. "


"Aku sadar may, aku kan bukan murid berprestasi, tapi makasih loh nanti aku bilang ke nyokap bokap gue, semoga mereka mau kuliahin gue, berkurang setengah kan tetep saja mahal may, kan itu kampus favorit. "


"Iya juga ya.Ya sudah nanti gue tanya bokap gue lagi. "


"Eh.., jangan may. Setengah itu aja sudah senang kok gue, makasih ya may lo sahabat terbaik. "


"Oke deh, ya sudah ketemu besok ya disekolah. "


"Oke, bye.."


setelah ponsel dia matikan kini Gladis termenung lagi.


"Kak Gladis, ngalamun saja, ayo mau ikut latihan gak?, " Seru Nino kepenokan Gladis.walaupun Nino usianya lebih tua dari Gladis, dia tetap menghormati Gladis sebagai kakak sepupunya. Karena ibu Nino adik dari ibu Gladis.Nino pun sudah bekerja tapi belom menikah dia juga dikenal sebagai guru silat yang baik hati dikampungnya.


"Gak no, gue ikut kan malam minggu saja, besok mau sekolah gue.


" Yaelah, besok gue juga masuk kerja kak.


"Gak ah lo sana, sama anak-anak. Gue mau tidur.


Nino akhirnya meninggalkan Gladis sendiri dan berjalan menuju lapangan bersama anak didik bela diri nya. Gladis memang gadis yang sedikit bar-bar jadi dia setiap malam minggu bukannya jalan dengan pacar tapi ikut latihan Nino karate.

__ADS_1


"Gladis, masuk nak diluar dingin, cepat tidur juga sudah malam, " Ucap ayu ibu galdis.


"Iya buk, kok ayah belum pulang ya bu.


" Ayah lembur sayang, sudah kita tidur duluan sayang, katanya besok mau ada acara wisuda disekolah, ntar kesiangan loh bangunnya.


"Hem.., iya ayok buk, Gladis pingin tidur bereng ibu, boleh kan sebelum ayah pulang.


" Ya boleh dong, ibu juga lama sudah gak tidur bareng kamu, sekarang kamu sudah gede sayang.


"Kan dikasih makan sama ibu.


" Bisa aja kamu ngelesnya.


Mereka berdua masuk kedalam rumah minimialis itu, tidak mewah dan tidak jelek, tapi sederhana dan nyaman.


****


Seperti biasa Kirana selalu mengajak putri kembarnya melihat bintang dihalaman rumahnya.


"Launa, kau harus pakai jaket tebal ini, aku gak mau nanti alergi kau kumat lagi. Pingin lihat bintang kan?


Launa tersenyum mengangguk, " Iyak kak Laura yang bawel.


Launa memakai jaketnya dan bersiap keluar menemui kirana yang sudah lebih dulu menikmati indahnya bintang.


"Kak mau kemana, kok masuk lagi.


" Mau ambil kebaya mama, yang dikasih Maya tadi siang, kau duluan saja.


"Oh iya lupa kalau besok wisuda. Ya udah aku duluan ya kak.


Launa keluar dan melihat mama nya menatap bintang yang berkelip di langit, tapi ada sesuatu yang membasahi pipinya.


" Mah..


Kirana dengan cepat menghapus air matanya.


"Launa, loh mana kakakmu.


" Ada didalam mah, kenapa. Mamah nangis kan.


"Gak sayang, tadi mamah kelilipan.


Launa menelisik wajah Kirana, dia belum yakin dengan alasan mamahnya.


" Sudah jangan pikirkan, ayo kita lihat bintang, itu indah kan.


"Iya mah, indah sekali.


"Mamah, Launa, lihat nih..


Laura keluar rumah sambil menenteng kantong kresek hitam.


" Apa itu Laura, "tanya Kirana penasaran.


Laura duduk di samping kirana, " Lihat ini mah, buat mamah dari maminya Maya.


"Ya Ampun.., bagus sekali ini sayang, pasti harganya mahal, " Kirana bahagia melihat kebaya yang sangat simpel dan elegan itu, sudah lama dia tidak memakai baju-baju branded.


"Mungkin mah, tapi kata Maya baju maminya daripada gak kepake buat mamah, besok kan kita wisuda mah, wali harus dateng, " Ucap Launa.


"Oh iya sayang, mamah akan pakai kebaya ini, ucapkan terimakasih mamah ya sama teman dan mami teman kalian.


" Iya mah, "ucap mereka bersamaan.

__ADS_1


Kini mereka bertiga kembali menatap bintang dilangit, sesekali mereka juga bersendau gurau.


***


__ADS_2