Takdir Laura Dan Launa

Takdir Laura Dan Launa
Bab 18


__ADS_3

" Buka pintunya mbak..!"


Dok dok dok  ! 


" Mbak, aku cuma mau ngasih tahu! Buka dulu mbak! Aku orang baik loh., "


Pria itu terus mengedor pintu rumah Laura. Tanpa henti dia berteriak tapi tak digubris oleh Laura. 


" Siapa sih kak? "


" Gak tau, udah gak usah dibukain, kita lanjut berkemas. "


Laura menarik tangan Launa menuju kamar mama nya kembali, tapi belum juga sampai dalam, Kirana sudah keluar. 


" Ada apa sih ribut-ribut, itu ada tamu kenapa tidak dibukain pintu? " 


Laura dan Launa hanya menggeleng. " Hais, sudahlah biar mama yang bukain. "


Kirana berjalan pelan menuju pintu, Laura memperhatikan mamanya yang semakin dekat ke pintu luar. 


" Siapa pria tadi ya, apa dia mau bermaksud jahat ke sini, kenapa menatapku seperti tadi. " Batin Laura. 


" Mama… 


Krieett… 


Saat Laura berteriak memanggil mamanya, sayang ternyata sang mama sudah membuka pintunya. Laura terpaksa menghampiri mamanya, dia tak ingin terjadi sesuatu dengan mamanya. 


" Kak, ada apa? " 


Pertanyaan Launa tidak digubris oleh Laura. Akhirnya Launa mengekor dibelakang tubuh saudari kembarnya. 


" His, Loun, kau masuk ke dalam sana. "


" Gak ah, mau ikut juga. "


" Hais, ya sudahlah, ayuk kita beberes saja. "


Akhirnya Laura tudak jadi ke luar menemani mamanya, kini dia dan Launa masuk ke kamar dan membereskan semua barangnya. 


" Sayang, sudah selesai kan, ayok kita pergi. " Ucap Kirana, Laura dan Launa menoleh seketika lalu menghampiri mamanya. 


" Mah, orang tadi gak apa-apain mama kan? " Tanya Laura panik, sedangkan Kirana mengerutkan kening tanda tak mengerti apa yang dimaksud putrinya. 


" Memangnya ada apa sih kak, sama orang tadi? " Tanya Launa penasaran. 


" Emm… . 


" Gak ada apa-apa, lagian juga mau ngapain mama, dia cuma mau bilang kalau dia sudah siap buat bongkar rumah ini, dia adalah suruhan pak Haji yang membeli tanah ini untuk dijadikan petak sawah. Ya sudah ayo kita segera pergi dari sini. "

__ADS_1


" Jadi kita beneran harus pergi dari sini ya mah? " Kirana memeluk Launa dan membelai lembut rambut putrinya itu. 


" Sayang, kita sudah banyak berutang budi sama om Basri dan bibi Astri, saat ini kita hanya bisa membalas kebaikannya dengan kita rela pergi dari rumah ini. Inget sayang disini kita cuma numpang. "


Laura sedih mendengarnya, tapi dia berusaha tegar agar mama dan adiknya juga bisa lebih semangat. 


" Ma, mama sakit. " Tiba-tiba Kirana merasakan sakit dikepalanya. 


" Obat mama mana?" Tanya Launa panik, sedangkan Laura berlari ke belakang dan mencari air putih hangat. 


" Minum dulu ma! "


Kirana meneguk sedikit, lalu tersenyum kepada kedua putri nya. 


" Mama gak apa, ini sudah baikan, tadi cuma sedikit pusing saja. Ayok kita segera keluar dari sini. "


" Ma, obat mama mana? Mama minum obat dulu. " Launa mengingat kan kembali. 


" Iya, mama minum obat dulu saja. " Timpal Laura juga mengkhawatirkan keadaan sang mama. 


" Mama baik-baik saja kok, sudah minum tadi, ayok bawa tas kalian masing-masing,jangan sampai ada yang ketinggalan ya! "


" Beneran ma? "


" Iya, percayalah sama mama. "


" Oke deh. " Mereka kompak tersenyum. Lalu segera keluar dari rumah itu. 


" Maafkan mama sayang, mama berbohong tentang obat mama yang sudah lama tidak minum, mama tak ingin membenani kalian. " Ucap Kirana dalam hati. 


Air bening di kelopak matanya jatuh membasahi pipi, Kirana merasa tidak sempurna menjadi seorang ibu. Dia tak tahu harus membawa kedua putrinya entah kemana. 


" Mama nangis? " Tanya Launa polos. 


Kirana tergelak, dia langsung menghapus air matanya dengan tangan, sedangkan Laura tiba-tiba menoleh ke arah mama nya dan menyipitkan matanya. 


" Gak sayang, mama tadi kelilipan. " Elak Kirana, dan Launa percaya begitu saja. 


" Sudah selesai kan, ayo kita segera pergi dari sini. "


" Ma, om Basri gak ke sini lagi? "


Kirana berhenti melangkah dan menoleh ke arah Laura. " Mungkin om Basri sibuk sayang, mereka sedang banyak masalah."


Setelah itu mereka melanjutkan berjalan keluar rumah, hanya dengan membawa satu tas besar untuk semua barang mereka bertiga. Karena mereka memang tak memiliki baju banyak.


Saat mereka berjalan melewati lorong dan sampai di jalan raya ternyata sudah ada alat berat yang benar-benar sudah siap mengusur rumah itu dan dijadikan petak sawah-sawah. 


Laura mengamatj sekeliling dan didekat kendaraan alat berat itu dia melihat pria yang tadi berkunjung di rumahnya. Laura melototkan mata saat pandangan matanya bertemu dengan pria tadi. 

__ADS_1


Kini mereka bertiga berjalan entah kemana karena tanpa tujuan. Kirana sudah tak kuat kepalanya semakin sakit. 


" A-anak-anak ber-berhenti untuk istirahat dulu ya, kalian pasti juga capek. " Ucap Kirana terbata-bata. 


Launa pun hanya menngangguk karena dia sebenarnya juga sudah lelah, apalgi hari sudah mulai gelap, mungkin sudah sekitar pukul tujuh malam. 


Mereka berhenti di kolong jembatan untuk istirahat.


" Kak, ma kita harus tidur dimana malam ini, haciu-haciu… 


Alergi Launa sudah mulai kambuh, tubuh Launa memang sangat ringkih dari kecil, maka dari itu Laura selalu menjaganya. 


" Kau pasti alergi kumat, bentar kakak cari sesuatu buat alas duduk supaya tidak kedinginan. "


Laura mencari sesuatu didalam tas, dia menemukan dua selimut tebal. Satu selimut dia berikan pada Launa dan satunya dia berikan pada mamanya. 


" Loun, kau pakai selimut ini biar hangat. " Setelah itu Laura menghampiri mamanya dan menyelimuti nya. 


Lalu Laura mencari sesuatu di sekitar sana, dan menemukan dua kardus. 


" Lumayan ini bisa buat alas duduk. " Gumamnya seorang diri. 


Setelah itu Laura kembali dengan membawa kotak kardus kosong. 


" Buat apa kotak itu kak? " Tanya Launa penasaran. 


Laura menggelar tikar tersebut lalu menyuruh Launa dan mamanya istirahat diatas kardus itu. 


" Sudah! Kalian istirahat saja dulu disini. " Launa terbentang, sedangkan Laura menghampiri mamanya yang duduk meringkuk dalam  selimut. 


" Ma, ayo istirahat disana supaya tidak kedinginan, " Ucap ny lembut, Kirana tersenyum dan mengangguk. 


Sebenarnya Kirana saat ini hanya sedang menahan rasa sakit yang dideritanya. 


" Uhuk-uhuk… 


" Loun, kau istirahat saja dulu, jangan lupa pakai selimutnya. "


" Iya kak, terimaksih. " Launa berbaring diatas kardus itu. Tubuh Launa juga lagi tidak stabil karena hawa dingin memicu alerginya sehingga membuatnya sedikit lemas. 


" Ma, badan mama panas! " Ucap Laura saat membantu mama nya berbaring di kardus sebelah Launa. 


" Tidak apa sayang, besok mama  pasti sembuh setelah istirahat. Kamu tidur disebelah sini berbagi selimut sama mama. "


" Tidak usah ma, Laura sudah biasa gak pakai selimut kalau tidur. Lebih baik malam ini kita istirahat disini saja dulu sampai pagi nanti baru melanjutkan  cari kontrakan ma. "


Kirana hanya tersenyum kecut. " Ma, badan mama panas begini, beneran tidak apa? Mama minum obat dulu saja ya?"


Kirana hanya menggeleng lalu memejamkan mata. 

__ADS_1


***


selamat membaca, jangan lupa dukungannya untuk cerita ini ya. salam sayang dari saya author remahan. 😍


__ADS_2